NADYA

NADYA
KAGET



"Assalamualaikum!" Sapa suara lembut Mas Res yang benar-benar membuat Nadya kaget setengah mati.


"Walaikum salam!" Jawab Bunda Maya seraya bangkit dari duduknya untuk menemui tamu yang mendadak datang ke rumahnya tersebut.


Sementara Nadya sudah ngacir pergi ke dapur dan membawa serta piringnya.


"Siang, Bu!" Sapa Reza hangat pada Bunda Maya.


"Siang! Cari siapa, Mas?" Tanya Bunda Maya ramah.


"Ini benar rumah Nadya Wulandari?" Tanya Reza lagi yang langsung membuat Bunda Maya menautkan kedua alisnya.


"Iya, benar. Kamu siapa?" Tanya Bunda Maya menyelidik.


"Saya Reza, Bu! Temannya Nadya," jawan Reza sopan seraya menganggukkan kepalanya pada Bunda Maya.


"Reza? Reza yang nomor nyasar dan suka telepon-telepon Nadya itu?" Sekarang nada bicara Bunda Maya sudah berubah tegas dan wanita paruh baya itu juga bersedekap pada Reza.


"Iya, yang itu, Bu!" Jawab Reza seraya tertawa kecil.


"Mau apa kesini? Nadya sedang sibuk belajar, jadi kamu jangan mengganggu Nadya atau mengajaknya pacaran, keluyuran," cecar Bunda Maya sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Saya ingin bertemu dengan Bunda-"


"Eh, maaf! Saya ingin bertemu dengan Ibu dan sedikit bersilaturahmi." Reza mengoreksi kalimatnya.


"Saya bawakan buah untuk Ibu," lanjut Reza seraya mengangsurkan sekeranjang buah pada Bunda Maya yang terlihat bingung dengan sikap serta tutur kata Reza yang begitu sopan, santun, dan grapyak.


"Masuk dulu!" Bunda Maya akhirnya mempersilahkan Reza untuk masuk, dan pria itu tetap menjaga kesopanan serta tidak celingukan mencari Nadya. Sepertinya Reza benar-benar berniat bertemu dengan Bunda Maya saja dan tidak sedang mencari Nadya.


"Silahkan duduk!" Bunda Maya lanjut mempersilahkan Reza untuk duduk.


"Maaf jika saya lancang datang ke rumah ini, Bu!" Ucap Reza sopan yang membuat Bunda Maya tak jadi marah.


"Jadi sebenarnya kesini ada urusan apa? Mau bertemu Nadya?" Cecar Bunda Maya sekali lagi menatap tajam ke arah Reza.


"Sebenarnya..." wajah Reza mendadak terlihat tegang.


Bunda Maya menautkan kedua alisnya dan sedikit heran.


"Sebenarnya saya kesini mau melamar Nadya, Bu!" Ucap Reza akhirnya setelah pria itu diam beberapa saat.


"Apa?" Bunda Maya langsung shock, dan dari arah dapur langsung terdengar suara Nadya yang sedang terbatuk-batuk seperti tersedak sesuatu.


"Jangan bercanda kamu, Reza! Nadya itu masih SMK kelas sebelas!" Tegas Bunda Maya menatap tajam pada Reza.


"Saya akan menunggu sampai Nadya lulus, Bu!" Ucap Reza penuh kesungguhan.


"Nadya akan kuliah setelah lulus, lalu mengejar mimpi dan cita-citanya! Nadya tidak akan menikah setelah lulus SMK!" Ucap Bunda Maya sekali lagi tetap dengan nada tegas.


"Saya tidak akan menghalangi mimpi dan cita-cita Nadya, Bu! Saya akan mendukungnya secara penuh dan membiayainya kalau perlu. Tapi izinkan saya menikahi Nadya setelah dia lulus SMK, Bu!" Mohon Reza yang tetap penuh kesungguhan.


"Tidak!" Tolak Bunda Maya tegas.


"Kamu dan Nadya hanya saling mengenal lewat telepon dan sms. Saya dan Nadya bahkan tidak tahu asal-usul kamu, status, latar belakang."


"Kenapa tiba-tiba datang ke rumah dan melamar Nadya?" Cecar Bunda Maya berapi-api.


"Saya lajang, Bu!" Ucap Reza seraya menunjukkan KTP-nya pada Bunda Maya.


"Dan Saya akan membawa orang tua saya kesini, jika Ibu sudah merestui hubungan saya dan Nadya," lanjut Reza masih dengan nada dan tatapan penuh kesungguhan.


"Dan soal pekerjaan, saya seorang wirausaha. Saya punya toko kain kecil-kecilan di BTC, tapi Insyaa Allah saya sanggup menafkahi Nadya dan membiayai kuliahnya kelak."


"Dan saya akan menyayangi dan selalu menjaga Nadya," janji Reza penuh kesungguhan.


Bunda Maya benar-benar tertegun dengan kesungguhan pemuda di depannya tersebut.


"Nadya itu baru tujuh belas tahun, Reza! Dia itu masih labil!" Bunda Maya memperingatkan Reza.


"Nanti saya yang akan membimbingnya, Bu!" Janji Reza penuh kesungguhan.


Bunda Maya bisa melihat semua kesungguhan Reza dari sorot mata pemuda itu.


Tapi kenapa sorot mata Reza justru mengingatkan Bunda Maya pada sorot mata seseorang yang sudah begitu lama meninggalkannya?


"Nadya baru akan naik ke kelas dua belas Juni nanti! Apa kau akan sabar menunggunya hingga lulus SMK?" Tanya Bunda Maya akhirnya.


"Saya akan sabar, Bu!" Jawab Reza sungguh-sungguh.


"Dan saya akan menjaga Nadya serta tak akan melakukan hal buruk pada Nadya sampai Nadya lulus SMK," lanjut Reza yang kembali berjanji pada Bunda Maya.


"Bunda pegang janji kamu!" Bunda Maya akhirnya mebyerah dengan keteguhan dan kesungguhan Reza.


Sedikit konyol memang, tapi mungkin ini yang terbaik ketimbang Bunda Maya menghalangi, lalu Nadya dan Reza malah melakukan sebuah tindakan nekat seperti masalalu Bunda Maya.


"Tapi bukan berarti kamu bebas membawa Nadya keluyuran saat pulang sekolah!" Bunda Maya menuding ke arah Reza dan kembali memperingatkan pemuda itu.


"Saya akan minta izin dulu pada Bunda sebelum menjemput atau mengantar Nadya ke sekolah," janji Reza pada Bunda Maya.


Eh, Panggilnya sudah Bunda malahan.


Tapi sudah dapat restu juga.


Jadi sepertinya tidak masalah.


"Saya pamit pulang kalau begitu, Bund!" Reza bangkit berdiri dan meraih tangan Bunda Maya lalu menciumnya dengan takzim.


"Tidak mau ketemu Nadya dulu?" Tanya Bunda Maya bingung.


"Eh, memang boleh ya, Bund?" Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Bunda Maya sontak tertawa kecil.


"Nad!" Panggil Bunda Maya pada sang putri yang ia yakini sedang menguping sejak tadi dari balik tirai yang mengarah ke dapur.


"Nadya!" Panggil Bunda Maya sekali lagi, sebelum akhirnya Nadya muncul seraya menundukkan wajahnya.


Nadya langsung bersembunyi di belakang punggung Bunda Maya.


"Dicariin Reza itu!" Ujar Bunda Maya pada Nadya yang merengut dan tetap bersembunyi di balik punggungnya.


"Silahkan ngobrol! Tapi disini saja dan jangan mengajak Nadya keluyuran!" Titah Bunda Maya pada Reza.


"Siap, Bunda!" Jawab Reza mengangguk patuh.


"Buatkan minum untuk Mas Reza, Nad!" Bunda Maya ganti bertitah pada Nadya yang masih menunduk malu.


Nadya tak menjawab dan langsung berbalik ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk Reza.


Reza sudah kembali duduk di kursi ruang tamu dan Bunda Maya kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ini motong sendiri atau ambil dari konveksi, Bund?" Tanya Reza membuka obrolan sekaligus berbasa-basi pada Bunda Maya.


"Ambil dari konveksi, Za! Tinggal jahit saja," jawab Bunda Maya sambil terus menginjak pedal mesin jahit.


"Kamu sudah lama, punya toko kain di BTC?" Gantian Bunda Maya yang bertanya oada Reza.


"Baru hitungan bulan, Bund! Belum genap satu tahun. Tapi omzetnya alhamdulillah sudah banyak," jawab Reza sedikit menjelaskan.


Bunda Maya mengangguk bersamaan dengan Nadya yang sudah kembali membawa secangkir teh hangat untuk Reza.


"Silahkan, Mas!" Ucap Nadya mempersilahkan seraya meletakkan cangkir teh ke atas meja.


"Terima kasih," ujar Reza tersenyum pada Nadya yang masih menunduk malu.


Reza langsung mengangkat cangkir teh yang tadi diletakkan Nadya dan menyesap isinya tanpa meniupnya.


"Panas!" Ringis Reza yang tak menyadari kalau teh yang disajikan Nadya ternyata masih panas mongah-mongah.


"Nggak kamu campur air dingin tehnya, Nad?" Tegur Bunda Maya saat melihat Reza yang kepanasan karena menyesap teh buatan Nadya.


Mungkin lidah Reza sudah melepuh sekarang.


"Udah, kok, Bund! Udah Nadya tes juga tadi," kilah Nadya mencari pembenaran.


"Cuma panas sedikit, kok, Bund!" Ucap Reza yang sudah lanjut menyesap tehnya setelah terlebih dulu meniupnya.


"Duduk!" Titah Reza meminta Nadya duduk di kursi, karena sejak tadi gadis itu hanya berdiri seraya memegang nampan.


Nadya menurut dan segera duduk di kursi yang terpisah dari Reza, mereka lanjut mengobrol hal-hal seputar sekolah, dan tak lama kemudian, Reza akhirnya pamit pulang.


.


.


.


Gimana, gimana?


Ini sebenarnya cover buat Friska dan Gabriel 🤭


Tapi buat Nadya sama Mas Res kayaknya cucok juga 🤣



Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.