NADYA

NADYA
AKHIRNYA....



"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna."


Riska menirukan doa yang baru saja dibaca oleh Reza.


"Sudah?" Tanya Riska polos.


"Apanya? Belum juga mulai," kekeh Reza seraya membuka kausnya yang baru saja dikenakan setelah drama kerokan tadi.


"Nanti masuk angin lagi, Mas! Kok malah buka baju, sih?" Komentar Riska yang sontak membuat Reza menjadi tergelak.


"Katanya lebih enak kalau nggak pakai baju," ucap Reza seraya mengerling nakal pada Riska.


"Katanya siapa?" Tanya Riska menatap Reza penuh selidik pada sang suami.


"Katanya yang sudah pengalaman. Aku juga nggak tahu," Reza mengendikkan kedua bahunya.


"Baru mau nyoba malam ini sama kamu," lanjut Reza lagi seraya tertawa kecil.


Selesai membuka bajunya, Reza ganti membuka kancing celana jeansnya dan menurunkan ritsleting.


"Eh!" Riska buru-buru menutup kedua matanya karena malu melihat Reza yang bersiap menurunkan celananya.


"Kenapa, Ris?" Tanya Reza yang masih tertawa kecil. Suami Riska itu santai sekali melepas celananya hingga kini hanya tinggal sebuah underwear yang melekat di tubuhnya.


Ya ampun!


"Ris!" Reza sudah naik lagi ke atas tempat tidur dan memaksa untuk membuka kedua telapak tangan Riska yang masih menutupi wajah istrinya tersebut.


"Kenapa?" Tanya Reza sok polos.


"Malu," cicit Riska yang kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Buka, dong!" Paksa Reza yang kembali berusaha untuk menyingkirkan kedua telapak tangan dari wajah Riska.


"Mas!" Riska memekik dan berusaha mempertahankan tangannya saat Reza tiba-tiba sudah mendorongnya hingga tubuhnya terkungkung oleh tubuh Reza.


Riska membeku menatap wajah Reza yang malam ini terlihat begitu bersih dan tampan.


"Jangan lama-lama lihatnya! Nanti kesengsem!" Goda Reza seraya mencolek hidung Riska.


"Kesengsem sama suami sendiri emang dilarang juga, Mas?" Tanya Riska pada Reza yang langsung tertawa kecil.


"Enggak, kok!" Jawab Reza seraya menyusuri wajah Riska menggunakan jemari tangannya. Sementara Risa hanya diam dan memejamkan mata.


"Buka," bisik Reza lembut seraya mencium kedua kelopak mata Riska yang masih terpejam.


"Buka apanya, Mas?" Tanya Riska masih sambil memejamkan mata.


"Buka matanya, Sayang!" Jawab Reza gemas.


Riska yang baru saja dipanggil sayang oleh Reza mendadak hatinya jadi berbunga-bunga dan senyuman langsung terulas di bibir gadis dua puluh lima tahun tersebut.


"Manisnya!" Puji Reza yang sudah ganti mencium pipi Riska yang terdapat lesung pipi di pipi sebelah kanan. Sementara tangan Reza juga tak tinggal diam dan sudah bergerilya menarik ujung baju tidur tanpa kancing yang dikenakan oleh Riska malam ini.


Reza meloloskan baju berbahan rayon tersebut melalui kepala Riska, menyisakan sebuah bra dan tanktop warna hitam.


Hah?


"Kok masih ada **********, Ris?" Tanya Reza sedikit berdecak kecewa.


"Hehe, suka risih kalau nggak pakai dalaman, Mas," jawab Riska mencari alasan.


"Yang bawah juga dobel-dobel jangan-jangan?" Tebak Reza menerka-nerka.


"Enggak, yo!" Jawab Riska sedikit berbisik.


Reza ganti meraba dada Riska tepat di bagian yang menonjol dan membentuk dua gundukan bukit kembar.


"Mana masih pakai bra juga-"


"Mas Reza!" Pekik Riska yang merasa kaget dengan tindakan tak terduga dari Reza.


"Apa? Mau dipijit lagi?" Goda Reza yang kembali mengulangi perbuatannya yang tadi.


"Mas!" Pekik Riska sekali lagi yang wajahnya kembali memerah.


"Apa, hmmm?" Reza menjawab dengan santai sebelum pria itu menyingkap tanktop Riska dan memeriksa dua gundukan kenyal milik istrinya tersebut.


"Udah, lepas semuanya saja sekalian," gumam Reza yang langsung melucuti sisa baju yang masih melekat di tubuh Riska. Terang saja hal itu langsung membuat Riska bergerak dengan gelisah.


"Kenapa, hmm?" Reza yang sudah selesai melucuti semua baju Riska, kembali mengungkung tubuh polos istrinya tersebut. Riska langsung menarik nafas dengan berat, karena kini Riska tahu kalau Reza juga sudah tak mengenakan apapun di tubuhnya.


Reza dan Riska saling menatap, sebelum wajah keduanya semakin saling mendekat. Nafas Reza dan Riska sama-sama terengah dan mereka berdua saling manautkan bibir. Tangan Reza mulai bergerilya dengan nakal, menangkup dan merem*s gundukan kenyal milik Riska yang masih begitu ranum.


"Mas," Riska mendorong dada Reza yang terus menciuminya hingga Riska nyaris kehabisan nafas. Kini nafas mereka berdua semakin memburu.


"Sudah basah," bisik Reza yang ternyata tangannya sudah mencapai pangkal paha Riska. Wajah istri Reza itu kembali bersemu merah, saat Reza membimbing tangan gadis itu ke atas miliknya yang juga sudah menegang sempurna.


Bola mata Riska membulat, membayangkan milik Reza yang ukurannya lumayan ini, yang sebentar lagi akan merobek selaput daranya.


"Ada apa?" Tanya Reza yanng merasa gemas dengan ekspresi wajah Riska.


Istri Reza itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tangannya masih mengusap-usap milik Reza di bawah sana.


"Sekarang?" Reza meminta izin pada Riska yang hanya mengangguk pasrah.


Reza menekuk kedua lutut Riska dan mulai membuka kedua pangkal paha istrinya tersebut.


"Aku akan melakukannya perlahan."


"Tegur aku jika menurutmu aku terlalu kasar," pesan Reza seraya menatap pada Riska yang hanya mengangguk-angguk. Sepertinya Riska sangat grogi hingga tak mampu untuk berkata-kata.


Reza tak mengalihkan tatapannya dari wajah Riska saat pria itu mulai menyentak masuk ke dalam milik Riska yang begitu....


Sempit!


"Mas!" Riska mencengkeram lengan Reza dan wajah sanita itu meringis beberapa kali seakan sedang menahan sakit.


"Sakit?" Tanya Reza masih menatap ke arah Riska yang meringis.


"Iya," jawab Riska jujur.


"Maaf, tapi-" Reza mendorong miliknya semakin ke dalam, saat cengkeraman tangan Riska di lengannya terasa semakin menguat.


"Tahan dulu, oke!" Bisik Reza seraya mengecup kening Riska.


Riska mengangguk-angguk dan menarik nafs panjang berulang kali.


Reza mulai bergerak perlahan turun dan naik, sambul sesekali mencium wajah Riska yang kini tak lagi terlihat kesakitan.


Ah,


Riska sudah mulai menikmatinya ternyata. Membuat Reza semakin bersemangat.


"Kawin enak, ya, Ris!" Celetuk Reza yang sontak langsung membuat Riska membulatkan kedua bola matanya.


"Mas bilang apa barusan?" Tanya Riska pura-pura polos.


"Kawin enak! Bisa olahraga dan bikin aku rajin push up," kekeh Reza yang hanya ditanggapi Riska dengan cebikan di bibir.


"Tahu begini, udah dari dulu aku ajakin kamu nikah dan kawin," lanjut Reza lagi yang malah berkelakar.


"Ketemunya aja baru beberapa bulan yang lalu, masa iya, tiba-tiba mau ngajak nikah?" Komentar Riska yang hanya membuat Reza tergelak.


Reza yang merasakan miliknya semakin mengeras, langsung mempercepat gerakannya hingga membuat nafas Riska sedikit tersengal.


"Mas, pelan-" Riska tiba-tiba merasakan gelenyar aneh merambati saraf-saraf tubuhnya bersaman dengan sesuatu yang terasa hangat yang kini memenuhi miliknya di bawah sana.


"Enak?" Tanya Reza seraya berbisik di telinga Riska.


Wajah istri Reza itu lagi-lagi memerah karena malu.


"Capek," jawab Riska malu-malu.


"Ngantuk juga," sambung Riska seraya menguap.


"Yaudah," Reza meraih underwear-nya untuk ia kenakan, serta kausnya untuk ia pakaikan ke tubuh polos Riska. Pria itu lanjut membentangkan selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Riska.


"Bobok dulu, nanti aku bangunin lagi buat lembur," bisik Reza seraya mendekap tubuh Riska yang kini hanya tertutup kaus longgar milik Reza. Tanpa baju dalam apapun!


"Memangnya Mas Reza nggak capek?" Tanya Riska yang akhirnya berani mengusap dada Reza yang kini sedang mendekapnya.


"Rasanya enak. Jadi ya nggak capek," jawab Reza seraya mengecup puncak kepala Riska.


Riska hanya tertawa kecil dan tak butuh lama, wanita yang memang sudah ngantuk berat tersebut langsung terlelap di dalam dekapan hangat Reza.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.