
"Mbak!" Bisik Vika seraya menunjukkan pesan di ponselnya pada Nadya.
Nadya membaca pesan dari sebuah kontak bernama Mas Zikri di ponsel Vika dan sedikit mengernyit.
"Mas Zikri minta nomornya mbak Nadya," ucap Vika yang masih berbisik-bisik pada Nadya.
"Boleh, nggak?" Tanya Vika lagi meminta persetujuan Nadya.
Nadya tak langsung menjawab dan tampak berpikir beberapa saat.
"Mau buat apa memangnya?" Tanya Nadya menyelidik.
Sejak mendengar cerita bunda Maya tentang masa lalu Bunda Maya yang tak begitu menyenangkan, Nadya memang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak akan gampang memberikan nomor ponselnya terutama pada kaum pria.
Bukan mau menjadi sok alim. Tapi Nadya tidak mau mengecewakan Bunda Maya maupun Papa Teddy. Nadya harus bisa menjaga diri, sekalipun Mas Reza juga selalu menjaga Nadya sejauh ini. Nadya juga sudah bertekad untuk membuat kedua orangtuanya bangga dan tidak mau mengecewakan mereka.
"Mau ngobrol aja katanya," jawab Vika seraya mengendikkan bahu.
"Kan bisa ngobrol aja di sini." Jawab Nadya yang sudah kembali melanjutkan pekerjaan memayetnya.
Nadya mengambil satu benang warna magenta, lalu memasukkannya ke dalam lubang jarum payet, dan memulai lagi memasang manik-manik payet ke atas kebaya yang ada di pangkuannya.
Mbak Riska akan libur satu minggu sebelum dan sesudah menikah. Jadi pekerjaan Mbak Riska mau tak mau dialihkan pada Nadya dan Sinta selama calon mbak ipar Nadya itu mengambil cuti.
"Ye! Mas Zikri udah nggak tinggal disini. Kemarin hari Minggu dia udah pindahan ke kostnya yang baru dekat kampus," jelas Vika pada Nadya.
"Emang rumahnya mana, sih? Kok nggak dilaju pulang pergi saja?" Tamya Nadya kepo.
"Ciyee! Kepo!" Ledek Vika pada Nadya.
"Rumahnya daerah Wonogiri, Mbak! Makanya nge-kost."
"Tadinya sama Mama disuruh tinggal aja di rumah disini, tapi katanya capek kalau tiap hari motoran ke kampus di Pabelan sana. Yaudah, akhirnya ngekost saja di dekat kampus," cerita Vika panjang lebar.
"Oh!" Nadya hanya membulatkan bibirnya.
"Jadi boleh nggak ini, Vika kasih nomornya mbak Nadya ke Mas Zikri?" Tanya Vika sekali lagi meminta izin.
"Yaudah terserah kamu aja. Tapi suruh jangan telepon, karena aku nggak bakal angkat," jawab Nadya seraya menyelipkan poninya ke belakang telinga.
"Ciyee! Boleh berarti, ya!" Vika langsung mengirimkan nomor Nadya kepada Zikri.
"Mbak Nadya mau minta nomornya Mas Zikri juga, nggak?" Tawar Vika yang langsung dijawab Nadya dengan gelengan kepala.
"Lagi mau jodohin orang, Mbak! Kali aja cepet nyusul Mbak Riska yang mau naik pelaminan bentar lagi," jawab Vika seraya terkikik.
"Vika!" Cebik Nadya yang hanya membuat Vika kembali terkikik.
"Minta izin dulu sama Mas kamu kalau mau pacaran, Nad!" Celetuk Mbak Riska yang ikut-ikutan menggoda Nadya.
"Pasti nggak boleh," sahut Nadya yang seolah sudah Bisa menebak tanggapan Reza kalau Nadya cerita tentang pacar.
"Belum dicoba udah suudzon!" Tukas Mbak Riska yang masih tersenyum ke arah Nadya.
"Mbak Riska nanti langsung resign setelah menikah?" Tanya Vika merasa kepo.
"Enggak, Vik! Masih kerja, kok," jawab Mbak Riska santai.
"Mas Reza nggak nyuruh resign, ya, Mbak?" Gantian Nadya yang melontarkan pertanyaan.
"Enggak! Kata Mas Reza senyamannya aku aja," jawab Mbak Riska menjelaskan pada Nadya.
"Diantar jemput terus nanti. Gantian Nadya yang disuruh belajar naik motor," celetuk Nadya sedikit curhat.
"Udah jadi dibeliin berarti, Nad?" Tanya Mbak Riska seraya menaik turunkan alisnya.
"Alhamdulillah baru datang kemarin sore, Mbak! Tapi Nadya masih takut mau belajar," jawab Nadya seraya begidik ngeri.
"Takut kecebur got, ya?" Goda Mbak Riska yang langsung membuat Nadya tergelak.
"Mau diajarin dulu sama Papa mulai sore ini," cerita Nadya selanjutnya pada Mbak Riska.
"Mudah-mudahan cepat bisa, ya! Kamu kan mudah belajar anaknya, Nad," sahut Mbak Riska penuh harap.
"Aamiin!" Jawab Nadya penuh semangat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.