NADYA

NADYA
AKHIRNYA SAH



"Apa Reza tetap nggak bisa jadi walinya Nadya, Pa? Nadya dan Reza kan saudara satu bapak." Tanua Reza sekali lagi pada Pak Teddy.


"Nggak bisa, Za!" Jawab Pak Teddy tegas.


"Meskipun kamu dan Nadya itu saudara satu bapak, tapi kalian sama-sama lahir di luar pernikahan yang sah. Jadi kamu tidak bisa menjadi wali nikahnya Nadya," terang Pak Teddy selanjutnya seraya menepuk punggung Reza.


Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah Reza, sebelum kemudian bapak satu anak tersebut menarik nafas panjang dan cepat-cepat mengusir rasa kecewa di hatinya.


"Reza boleh menemui Nadya sebentar, Pa!" Izin Reza pada Pak Teddy.


"Boleh!" Jawab Pak Teddy seraya menepuk punggung putranya tersebut.


Reza mengetuk pintu kamar rias, sebelum mendorong pintu tersebut perlahan, lalu menyelinap masuk.


Reza kembali minta izin pada Bunda Maya dan Riska yang sejak tadi memang menemani Nadya di dalam, sembari menunggu acara ijab qabul yang akan dilaksanakan sebentar lagi.


"Nggak ke depan, Mas?" Tanya Riska menyelidik.


"Mau ngomong bentar sama Nadya," jawab Reza seraya mengusap perut Riska.


"Yaudah! Tapi jangan bikin Nadya nangis, lho! Rusak nanti make up nya," pesan Riska pada sang suami.


"Inggih, Mamanya Rendra!" Jawab Reza sedikit lebay.


Riska hanya geleng-geleng kepala dan segera menyusul bunda Maya sekaligus memberikan ruang untuk Reza dan Nadya.


****


Reza menghampiri Nadya yang duduk sendirian dan terlihat grogi.


"Nad," tegur Reza yang langsung membuat Nadya menoleh ke arah masnya tersebut.


"Mas Reza," jawab Nadya seraya mengulas senyum.


"Grogi?" Tanya Reza yang sudah duduk di samping Nadya.


"Iya." Jawab Nadya yang sesekali akan menundukkan wajahnya, lalu kadang juga mer*mas kedua tangannya.


Reza menatap lekat pada wajah sang adik yang dulu pernah membuatnya kesengsem tersebut. Lalu Reza yang akhirnya harus patah hati saat tahu kenyataan kalau ternyata Nadya dan Reza adalah saudara satu bapak.


"Mas nggak ke depan?" Pertanyaan Nadya menyentak lamunan Reza.


"Iya ini mau ke depan. Cuma mau ngomong sesuatu dulu sama kamu," jawab Reza seraya meraih tanhan Nadya yang sudah penuh dengan coretan henna


"Ngomong apa?" Tanya Nadya penasaran.


"Begini," Reza menarik nafas panjang karena mendadak, malah ia yang merasa grogi.


"Nanti setelah sah jadi istrinya Zikri, kamu kurang-kurangi sifat lebay kamu-"


"Sifat lebay apa maksudnya, Mas? Sela Nadya antara bingung dan tak paham.


Reza garuk-garuk kepala sebentar.


"Yang kamu suka teriak-teriak itu, trus gampang ngambek, kalau ngambek kakinya dihentak-hentakkan ke lantai yang-"


"Nadya udah nggak kayak gitu, Mas!" Sela Nadya lagi seraya merengut. Teza langsung tertawa kecil.


"Iya, iya!" Reza sudah ganti bersimpuh dibdepan Nadya yang pagi ini mengenakan gaun pengantin muslim warna putih dengan jilbab cantik yang menghiasi kepalanya. Sudah seperti bidadari atau tuan putri.


"Jadi istri yang baik untuk Zikri, ya! Yang berbakti, nurut apa kata suami, kalau ada masalah diselesaikan berdua dan tak perlu diumbar kemana-mana."


"Lalu omongan juga dijaga. Nggak usah segala sesuatu tentang rumah tangga apalagi kalau sedang ada masalah, diceritakan kesana kemari."


"Intinya, sama-sama belajar menjadi dewasa bersama Zikri, ya! Pernikahan dan rumah tangga itu bukan untuk main-main!" Nasehat Reza panjang lebar memberikan wejangan untuk Nadya yang hanya mengangguk-angguk.


"Iya, Mas! Nadya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Zikri," jawab Nadya penuh kesungguhan. Mata gadis itu juga sudah berkaca-kaca.


"Udah jangan nangis! Nanti Mas diomeli mbakmu karena bikin kamu menangis."


Reza meraih tisue di atas meja rias dan memberikannya pada Nadya.


Salam pembukaan sudah terdengar dari lokasi ijab qabul. Reza segera bangkit berdiri dan mencium kening Nadya beberapa saat.


"Mas ke depan dulu, ya!"


"Ingat pesan-pesan Mas tadi." Ujar Reza sekali lagi beroesan pada Nadya.


"Iya, Mas!"


"Za, sudah belum? Itu acara sudah dimulai," tanya Bunda Maya yang sudah kembali masuk ke dalam kamar rias.


"Iya,sudah, Bund! Ini Reza baru mau kesana." Jawab Reza seraya tersenyum pada Bunda Maya.


Reza menghentikan langkahnya sejenak saat berpapasan dengan Riska, sang istri.


"Duduk saja! Nanti kalau adiknya Rendra mbrojol bagaimana?" Titah Reza seraya mengusap perut Riska yang pagi ini tertutup gamis brokat warna pink muda.


"Mana ada! HPL-nya masih bulan depan, Mas!" Jawab Riska seraya merengut.


Reza hanya tertawa kecil.


"Ya sudah! Nanti duduk saja dan jangan wira-wiri!" Pesan Reza seraya mengecup kening Riska.


"Iya, Mas! Sana ke depan!" Jawab Riska seraya mengusap lengan Reza yang hanya tersenyum dan mengangguk. Reza segera meninggalkan kamar rias dan menuju ke lokasi berlangsungnya ijab qabul.


****


"Saya terima nikahnya Nadya Wulandari binti Mayasari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram dibayar tunai."


Zikri mengucapkan ikrar ijab qabul dengan lancar dan lantang.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!"


"Alhamdulillah!" Ucap semua tamu yang hadir pagi ini di acara ijab qabul Nadya dan Zikri.


Setelah dinyatakan sah sebagai suami istri, Nadya akhirnya dibawa keluar untuk menemui Zikri. Nadya yang berjalan seraya digandeng oleh Bunda Maya dan Mbak Riska terlihat malu-malu menatap pada Zikri yang sudah menunggunya.


Nadya langsung meraih tangan Zikri dan mengecup punggung tangan pria yang telah menjadi suaminya tersebut dengan takzim. Lalu setelahnya, Zikri juga mengecup kening Nadya.


"Alhamdulillah," Zikri masih tak berhenti berucap syukur karena kini ia dan Nadya sudah sah menjadi suami istri.


.


.


.


Dibonusin MP Nadya-Zikri, nggak?


Atau udah sampai disini saja 😅😅


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like, karena othor mau ke walimahannya Nadya-Zikri dulu 🙈