NADYA

NADYA
JUJUR



Nadya yang sudah selesai gosok gigi serta mencuci kaki dan tangan, segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap tidur. Gadis itu memeriksa ponselnya yang sejak tadi memang ia tinggal di kamar dan tidak ia bawa pergi.


"Hah?" Nadya langsung mengucek matanya saat melihat ada notif beberapa panggilan tak terjawab dari Mas Zikri dan juga beberapa pesan.


[Assalamualaikum. Nad, lagi sibuk, ya? Kok nggak angkat telepon] -Zikri-


[Ngomong-ngomong,makasih buat semangatnya, ya! Maaf kalau jarang balas pesan kamu. Ini pas longgar dan mau telepon kamu, tapi kayaknya kamu masih sibuk. Yaudah kapan-kapan saja kita teleponan] -Zikri-


[Oh, ya. Semangat buat kamu yang lagi ngerjain skripsi, ya! Mudah-mudahan lancar semua dan cepat lulus, cepat wisuda] -Zikri-


Nadya membaca deretan pesan yang di kirim oleh Zikri. Semuanya sekitar satu jam yang lalu.


Nadya melirik jam di kamarnya yang sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Nggak sopan kayaknya kalau Nadya telepon. Bisa saja Mas Zikri sudah istirahat lagi. Nadya kirim.pesan saja.


[Walaikum salam, Mas! Maaf baru balas. Tadi pergi sama Mas Reza dan Mbak Riska, lupa nggak bawa hape. Hehehe.] -Nadya-


Pesan terkirim.


Nadya meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur dan segera menarik selimut,lalu berbaring seraya menatap langit-langit kamar. Sesaat ada sedikit penyesalan di hati Nadya karena tadi tidak membawa ponsel. Jadi tidak bisa ngobrol sama Mas Zikri. Padahal Nadya sidah kangen dengan suara Mas Zikri.


"Ish!" Nadya berdecak sendiri dan segera membenamkan kepalanya di bawah bantal saat tiba-tiba ponsel Nadya berbunyi.


Hah?


Yakin itu suara ponsel Nadya?


Nadya buru-buru bangun dan melihat ke ponselnya yang memang sedang berbunyi. Ada nama Mas Zikri yang terpampang di layar ponsel.


Nadya tersenyum sendiri, sebelum kemudian gadis itu mengangkat telepon dari Zikri.


"Assalamualaikum!" Salam Nadya dan Zikri berbarengan.


"Eh, Walaikum salam, Mas!" Zikri dan Nadya menjawab salam berbarengan juga dan mereka tertawa bersama.


"Belum bobok, Nad?" Tanya Mas Zikri terlebih dahulu.


"Mmm, baru mau mapan, Mas. Eh, Mas Zikri telepon," jawab Nadya yang sudah kembali berbaring masih sambil menempelkan telepon di telinganya.


"Aku ganggu berarti, ya? Yaudah aku tutup aja teleponnya."


"Eh, jangan, Mas!" Cegah Nadya cepat.


Zikri langsung tertawa kecil di seberang telepon.


"Tadi kemana sama Mas Reza dan Mbak Riska?"


"Ke Marlioboro. Disuruh momong Rendra karena Mbak Riska dan Mas Reza sibuk pacaran," jawab Nadya seraya merengut.


"Wah, jalan-jalan, ya? Padahal belum malam minggu."


"Iya, kan Mbak Riska lagi ngidam apa tadi nggak tahu. Makanya ngajakin ke sana," Jelas Nadya.


"Oh, begitu!"


"Skripsi lancar?" Tanya Zikri lagi.


"Alhamdulillah masih dalam tahap pusing, Mas," jawab Nadya seraya tertawa kecil.


"Pusing kenapa? Santaikan dulu pikirannya. Kalau jenuh refreshing dulu lihat-lihat pantai."


"Katanya rumah Eyang Putri kamu dekat pantai?"


"Iya, dekat pantai." Jawab Nadya cepat.


"Nah itu! Jangan terlalu sepaneng mikirinnya, Nad!"


"Iya, tadi Mbak Riska juga bilang begitu. Katanya Nadya terlalu banyak ngerem di kamar makanya pusing dan stress sendiri." Ujar Nadya menanggapi nasehat Zikri.


"Tapi tadi habis diajak ke Marlioboro udah lumayan seger pikirannya Nadya. Idah dapat beberapa inspirasi juga," sambung Nadya bercerita pada Zikri.


"Alhamdulillah! Besok udah bisa lancar ngerjain berarti."


"Aamiin! Semoga saja, Mas! Nadya juga udah pengen-pengen cepat lulus,dapat gelar, hehe," Nadya tertawa sendiri.


"Mas Zikri sendiri gimana? Udah selesai UKMPPD-nya?" Gantian Nadya yang bertanya.


"Udah selesai hari ini tadi. Alhamdulillah, tinggal nunggu hasilnya saja."


"Oh, pantesan udah bisa telepon." Kikik Nadya yang ikut-ikutan bernafas lega.


"Iya, kemarin itu nggak sempat lagi pegang ponsel. Makan aja sampai nggak ada rasanya, tidur juga nggak nyenyak, nggak tahu deh pokoknya."


Terdengar gelak tawa Zikri dari seberang telepon.


"Semoga lulus, ya, Mas! Nanti trus bisa wisuda, lanjut magang. Bener nggak, sih?" Ujar Nadya sedikit bertanya.


"Iya, kalau udah lulus tinggal nunggu wisuda sama STR turun aja, baru bisa magang."


"Semoga dilancarkan semuanya, Mas!"


"Aamiin."


"Nanti pas wisuda kamu datang, ya!" Pinta Zikri dari seberang telepon.


"Hah? Kira-kira kapan, Mas?" Tanya Nadya yang langsung salah tingkah.


"Akhir tahun mungkin. Nanti kan gantian, kamu datang di wisuda aku, trus aku datang di wisuda kamu," kekeh Zikri yang langsung membuat Nadya tersipu sendiri.


"Ngomong-ngomong, emang Mas Zikri udah yakin?" Tanya Nadya sedikit ragu.


"Yakin soal apa? Soal mau melamar kamu? Iya yang itu aku udah yakin."


Ucapan Zikri dari seberang telepon terdengar bersungguh-sungguh.


"Tapi, Mas-" Nadya sesaat merasa ragu untuk berkata jujur pada Zikri.


Kalaupun akhirnya Zikri merasa keberatan dengan status Nadya, setidaknya Nadya belum terlalu banyak berharap juga.


"Tapi kenapa, Nad?"


"Mmm, Nadya mau jujur tentang sesuatu ke Mas Zikri." Ucap Nadya yang sedang sekuat tenaga menyingkirkan perasaan ragunya.


Anak di luar pernikahan seperti Nadya, apa iya tidak boleh hidup bahagia dan menikah dengan pria baik-baik?


"Sesuatu apa?"


"Nadya...."


"Nadya anak haram, Mas!" Ucap Nadya sedikit merendahkan suaranya.


Tunggu!


Memang ada istilah anak haram?


Bukankah semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah?


"Apa kamu bilang tadi, Nad?"


"Nadya anak yang lahir di luar pernikahan, Mas! Di akta Nadya itu nggak ada nama bapaknya Nadya. Dan Papa Teddy itu bukan Papa kandung Nadya. Papa Teddy hanya papa sambungnya Nadya," tutur Nadya panjang lebar pada akhirnya.


Tak ada suara dari seberang telepon. Mungkin Zikri sedang shock mendengar pengakuan Nadya. Atau mungkin Zikri sedang menyusun kata-kata untuk membatalkan rencana lamarannya pada Nadya.


Ah, seharusnya Zikri tak usah repot-repot.


Karena Nadya juga tak mau lagi berharap kalau Zikri bakal menerima kondisi Nadya yang seperti ini.


"Mas, Nadya nggak memaksa Mas Zikri buat menerima kondisi Nadya, kok! Kita bisa berteman aja seperti selama ini. Mas Zikri pantas mendapatkan gadis lain yang lebih baik-"


"Kok ngomongnya begitu?" Zikri menyela kalimat Nadya yang belum selesai.


Suara pemuda itu masih terdengar tenang.


"Kan masih ada wali hakim yang bisa menikahkan kamu nanti, Nad?"


Ucapan Zikri sesaat membuat hati Nadya meleleh dan Nadya ingin menangis sekarang.


"Dan jangan pernah menyebut dirimu sebagai anak haram, Nad! Nggak ada yang namanya anak haram!"


"Iya, Mas!" Nadya menyeka butir bening yang mengenang di pelupuk matanya.


"Terima kasih karena kamu udah jujur, Nad! Aku salut banget sama keberanian kamu."


"Jarang-jarang ada gadis yang seberani dirimu, dan mau jujur di awal begini."


Mas Zikri terus melontarkan pujian atas keberanian Nadya untuk berkata jujur.


"Berarti kita tetap temenan, ya, Mas?" Tanya Nadya memastikan.


Nadya hanya tak mau banyak berharap.


"Iya sekarang masih temenan. Tapi nanti setelah wisuda kalau nggak ada halangan, mungkin bisa langsung sah, Nad!"


"Niat aku buat menjadikan kamu halal bagiku, tetap nggak goyah, kok!"


"Malah aku semakin yakin sekarang karena kamu gadis yang jujur dan berani,"


Jawaban Zikri benar-benar membuat Nadya ingin menangis sekarang. Ternyata masih ada cowok sebaik Zikri yang mau menerima status Nadya yang tak sempurna ini.


"Nad!" Panggil Zikri lembut karena Nadya yang tak kunjung buka suara.


"Iya, Mas!" Jawab Nadya yang buru-buru menghapus air matanya.


"Udah hampir tengah malam ini. Kamu istirahat, ya! Kerjain skripsinya besok lagi."


"Iya, Mas!"


"Tetap rajin sholat-nya, ya! Jangan telat makan juga, dan berdoa dulu kalau mau ngerjain skripsinya, biar diberi kelancaran."


"Iya, Mas. Iya." Jawab Nadya seraya mengangguk-angguk.


"Aku tutup teleponnya, ya! Langsung bobok!" Pesan Zikri sekali lagi.


"Iya."


"Assalamualaikum!"


"Walaikum salam, Mas Zikri," jawab Nadya seraya tersenyum lega.


Mood Nadya seolah langsung terisi penuh sekarang setelah mendengar kata-kata manis serta nasehat menyejukkan dari Zikri.


Nadya meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dan gadis itu segera memejamkan matanya untuk mengistirahatkan otak serta tubuhnya.


.


.


.


Cerita kok nggak ada konfliknya begini 😅😅


Pantesan sepi.


Tetep ku tamatin meskipun sepi 💪💪


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.