MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
double date



“Aku salut loh ngeliat Mba Lea, Mas. Dia tegar yah? Kalo aku jadi dia kayaknya nggak bakalan kuat deh.” Ucap Zoya disela-sela perjalanan mereka ke kantor setelah menghadiri pernikahan Lea pagi ini.


“Jangan kayaknya! Kayaknya! Aku bukan cowok breng sek kayak Refan yang nggak ngakuin anaknya.”


“Kan aku bilangnya juga kayaknya, Mas. seandainya gitu.” Ucap Zoya lirih.


“Nggak ada seandainya kayaknya gitu. Ibu nya anak aku mesti bahagia terus. Kalo kamu berandai-andai kayak gitu berarti kamu nyamain aku sama Refan. Sorry aja!”


“Nggak gitu, Mas. Maksud aku tuh Cuma muji ketegaran Mba Lea aja, kok Mas Ridwan yang sensi. Perasaan aku yang hamil deh harusnya aku yang sensitive, ini kok malah Mas Ridwan.” Jelas Zoya.


“Iya-iya aku salah deh.” Ucap Zoya sebelum suaminya berbicara panjang lebar. Akhir-akhir ini si ayah memang gampang banget kesinggung.


“Iya, dimaafin. Jangan berandai-andai yang jelek-jelek yah takutnya anak kita disini jadi baper.” Ridwan mengelus perut Zoya.


“Iya, Mas.” Jawab Zoya. “padahal yang baperan ayahnya.” Lanjutnya dalam hati.


“Nah kalo nurut gini kan jadi makin sayang. Nanti pulang ngantor kita jalan-jalan malam yah, kasihan anak kita belum pernah di ajak kulineran. Kamu kan dulu suka banget makan makanan pinggir jalan. Nanti dia ngiler loh kalo kita nggak kulineran.”


Zoya hanya mengangguk pasrah, ia sudah sangat-sangat terbiasa menghadapi si calon ayah yang terlalu preventif. Dia nggak ngidam apa pun tapi suaminya selalu menyiapkan segalanya. Kalo nggak diturutin ntar ngambek.


Malam itu tak hanya berdua saja, Zoya juga mengajak Sisil dan Gilang. Tentu saja karena permintaan Sisil, dengan dalih ngidamnya Zoya, untuk kesekian kalinya Gilang jalan-jalan dengan Sisil. Meski Gilang tau ngidam seperti itu tak masuk akal, tapi dirinya tetap di paksa karena Ridwan yang bersikeras apa pun keinginan istrinya harus dituruti.


“Bulan depan lo gue kasih bonus deh karena udah nurutin ngidamnya Zoya.” ucap Ridwan. Sekarang ia sudah tak sesinis dulu pada Gilang. Mereka tengah duduk di tikar pinggir jalan sementara Zoya dan Sisil memesan makanan.


“Minimal naik gaji lah. Kena mental lahir bathin gue nurutin bini lo!” jawab Gilang.


“Gaji lain urusan, dinilai sesuai kinerja professional. Kalo tambahan bonus dari gue pribadi. Lagian Sisil juga asik kok, jadi lo nggak rugi-rugi amat nurutin ngidamnya Zoya. Bisa deket cewek cantik.” Ucap Ridwan. “Tapi tetep cantikan ibu dari anak gue sih.” Lanjutnya.


“Cih! Dasar!” cibir Gilang. Meski tak ia pungkiri Sisil memang cukup cantik, tapi gadis itu terlalu agresif dan menyebalkan baginya. Terakhir saja ia dicium tanpa persiapan di depan mantan Sisil. Padahal sebelum pergi, kesepakatannya hanya makan siang bareng di café yang sama dengan tujuan pamer kalo dia juga sudah punya pacar baru. Siapa sangka saat si mantan menghampiri, Sisil malah menciumnya secara mendadak. Gilang benar-benar kesal, ciuman pertamanya diamil gadis seperti Sisil. Ditambah lagi semalaman setelah itu dirinya sulit tidur dan terbayang ciuman lembut gadis menyebalkan itu.


“Gue mau bonusnya satu kali gaji, kalo perlu double. Deket sama Sisil kena mental lahir batin gue.” Ucap Gilang.


“Enjoy dari mana! Kesiksa gue!” balas Gilang.


“Kesiksa tapi kalo itu anak ngajak jalan nggak pernah nolak.” Ledek Gilang.


“Mau nolak takut di pecat, ujung-ujungnya bawaan orok Zoya.” cibir Gilang.


“Nikmati aja lah, ntar lama-lama lo juga demen.”


“Nggak bakal!”


“Wah kalo ngomong kayak gitu malah bakal sampe pelaminan kayaknya.”


“Na jis dah.” Balas Gilang.


“Apaan yang na jis?” timpal Zoya yang baru bergabung. “Aku pesenin sate maranggi, Mas Ridwan suka kan?” lanjutnya.


“Suka dong. Pasti anak kita yang pengen yah?”


“Iya.” Jawab Zoya supaya masalah langsung clear tak berkepanjangan. “Mas Ridwan sama A Gilang pada ngomongin apa sih? Tadi aku liat dari kejauhan kayaknya seru banget.” Lanjutnya.


“Ini si Gilang pengen berduaan aja sama Sisil katanya, sayang. Dia minta kita jalannya masing-masing aja.” Jawab Ridwan yang langsung mendapat tatapan kesal dari Gilang.


“Oh gitu? Kenapa nggak bilang aja dari tadi sih. Ya udah kita pindah meja aja, Mas. Nanti suapin noh A Gilang, Sil. Biar so sweet.” Ledek Zoya kemudian pergi menjauh.


Gilang terpaksa menerima suapan demi suapan yang diberikan Sisil karena dari kejauhan Ridwan dan Zoya mengamati mereka.


“Cepetan buka mulutnya deh! Ntar gantian lo yang nyuapin gue, jangan sampe kita berdua dipecat gara-gara nggak nurutin ngidamnya bu bos.” Ucap Sisil. Dalam hati ia bersorak senang karena Zoya sangat mendukung permintaannya.