
“Jeli mulu yang diurusin, gue nggak!” Gerutu Ridwan saat istrinya membantu Raizel bersiap-siap pagi ini.
“Mas Ridwan kan bisa siap-siap sendiri. Aku urus Jeli dulu nih mau sekolah, takut telat.” Jawab Zoya tanpa mengalihkan perhatiannya dari rambut Raizel. Dia begitu senang mengurus Raizel yang mudah diatur. Gadis kecil itu anteng saat dirinya menguncir rambut.
“Wah kunciran Jeli sekarang bagus kakak.” Raizel memegang rambutnya yang dikuncir dua. “Kalo sama Om Ririd biasanya menceng satu.” Lanjutnya.
“Kakak! Kakak! Tante, Jeli! panggilnya Tante.” Sela Ridwan. “Udah sana turun, ke kamar mama Jeli sana.” Usir Ridwan.
“Nanti Om, bareng-bareng aja turunnya.”
“Turun duluan aja. Om sama Tante Zoya masih lama, nanti Jeli terlambat ke sekolah.” Ucap Ridwan. Pokoknya keponakannya ini harus segera pergi. Bocah itu sudah menguasai istrinya semalaman. Dirinya benar-benar tak bisa memeluk Zoya sedikit pun.
Seolah mengerti suaminya mulai bersikap seperti anak kecil yang tak mau kalah, alhasil Zoya membujuk Raizel supaya mau pergi lebih dulu. Karena tak berhasil, akhirnya Zoya ikut keluar untuk mengantar gadis kecil itu ke ruang makan.
"Kok Cuma berdua, Ridwan mana sayang?” tanya Mami Jesi.
“Masih di kamar, Mi. Aku nganterin Jeli aja dulu kesini.” Jawab Zoya. “Aku panggil Mas Ridwan dulu, Mi.” lanjutnya kemudian berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari mertuanya. Mami Jesi sangat senang karena di pagi pertama dirinya memiliki menantu bisa bersama-sama menyiapkan sarapan. Berbeda jauh dengan dirinya yang dulu malah bangun kesiangan pada hari pertama di rumah mertuanya.
Sampai di kamar, Zoya kira Ridwan sudah siap dengan baju kerjanya karena tadi saat ia keluar suaminya tinggal memasang dasi dan menggenakan jas. Tapi ternyata salah, lelaki itu malah sedang rebahan santai di ranjang.
Zoya menghampiri Ridwan. “Kok malah tidur lagi sih, Mas? yang lain udah nunggu buat sarapan loh.”
Ridwan tak menjawab. Ia hanya menatap sekilas kemudian menariknya ke ranjang. Mendekap erat-erat tubuh istrinya.
“Baju aku bisa kusut kalo kayak gini, Mas.” protes Zoya.
“Biarin aja! Kalo nggak lepas aja bajunya biar nggak kusut.”
“Mas! jangan aneh-aneh deh! Cepatan bangun, kita ke kantor. Kemaren aku udah nggak masuk, masa hari ini telat. Bisa-bisa aku dipanggil Mba Rika nanti.” Zoya bersusah payah melepaskan diri.
“Nggak bakal. Perusahaannya aja punya gue. Udah mending kita tidur aja nggak usah kemana-kemana. Kesel gue malam pertama ada yang ngungsi, udah gitu lo lebih ngurus Jeli dari pada gue.”
“Mas Ridwan jangan kayak anak kecil deh. Masa sama ponakan sendiri aja cemburu.” Ucap Zoya. “Kalo Mas Ridwan mau tidur ya udah silahkan, tapi aku mau kerja.” Ketus Zoya kemudian beranjak merapikan pakaiannya dan pergi meninggalkan kamar.
“KinderZoy tungguin! Iya gue kerja! Kerja nih!” Ridwan pergi menyusul istrinya.
Sampai di ruang makan hanya tinggal Mami Jesi yang sedang membereskan piring sisa sarapan. “Mami kira kalian lanjut tidur. Pindah jadwal gitu yang semalem diganti jadi pagi, soalnya semalem kan ada Jeli ngungsi.” Ledeknya.
“Nggak usah ngeledek deh, Mi. Bilang aja Mami seneng kan malam pertama aku gagal? Pada nggak peka banget, ada bocil ngungsi dibiarin.” Cibir Ridwan.
“Mas!” Zoya menyenggol kaki suaminya.
“Apa! Lo juga nggak peka banget dah. Suruh nggak usah masuk kerja malah mau kerja aja. Kerja, kerja, kerja aja terus.” Ketusnya.
“Kan emang sekarang waktunya kerja, Mas.” Zoya mengerjap bingung, salahnya apa coba? Sepagi ini sudah kena semprot suami? Padahal menurutnya ia sudah menjalankan kiat-kiat istri kesayangan seperti bangun pagi, membantu masak, menyayangi keponakannya juga. Kurang apa lagi? Apa gara-gara urusan ranjang? Kan bukan salahnya. Semalaman ada Raizel mana mungkin ia menunaikan tugasnya. Lagi pula jujur dirinya belum siap, segalanya terlalu mendadak.
“Masih pagi nggak usah ngedumel gitu, Ririd. Kemarin kan kalian ngamer seharian masa masih kurang? Wajar lah kalo malam istirahat dulu. Bukannya nggak peka, tapi mau tau kalian udah main siang-siang jadi malem nggak masalah ada Jeli ngungsi, justru bagus biar Zoya nggak kecapean.” Jelas Mami Jesi.
Ridwan menghela nafas Panjang. Kemaren udah main seharian? Tidak tau saja mami nya jika mereka hanya tidur tanpa melakukan apa pun.
“Udah lah, kesel nggak pada peka. Aku berangkat dulu.” Pamit Ridwan. Disusul Zoya yang membawa bekal dan pergi setelah menyalami mertuanya.
Di perjalanan Zoya sibuk dengan ponselnya. Ia sibuk menjawab puluhan pesan masuk dari rekan kerjanya. Ada Sisil dan Romi yang mengirim pesan terkait pekerjaan serta Gilang yang khawatir dirinya sakit karena tak masuk kerja tanpa keterangan dan disusul ke kontrakan sepulang kerja taka da siapa-siapa.
“Mas Ridwan, makasih yah udah nganterin.” Zoya buru-buru melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun jika Ridwan tak menarik tangannya.
“Nggak salim dulu sama suami hm?”
Zoya tersenyum, ia belum terbiasa dengan status barunya. “Lupa, Mas.” jawabnya seraya menyalami Ridwan dan mencium punggung tangan lelaki itu.
Zoya tercengan kaget saat Ridwan mengecup keningnya. Ia hanya bisa menatap dalam diam setiap diperlakukan seperti ini. Seluruh tubuhnya terasa membeku menerimanya.
“Kalo lo kayak gini terus kita bisa gagal kerja. Apa puter balik aja nih? Atau cari hotel terdekat aja hm?” ledek Ridwan.
“Apaan sih, Mas! kerja lah.” Jawab Zoya sambil tersipu. Ia turun lebih dulu meninggalkan Ridwan. Namun lelaki itu menyusulnya bahkan mengantakan dirinya hingga depan ruangan.
Kedatangan mereka tentu menyita banyak perhatian. Bahkan saat Zoya baru mendudukan diri, teman-temannya sudah langsung berkumpul menanyainya dengan super kepo. Zoya hanya tersenyum dan menanggapi mereka sekenanya, ia juga meminta maaf karena kemarin tak masuk kerja tanpa keterangan.
Berbeda dengan Zoya dan tim nya yang sibuk kesana kemari dengan pekerjaan, Ridwan justru ketar-ketir karena istrinya pergi dengan Gilang. Bahkan mereka saja tak bisa makan siang bersama, karena Zoya dan tim nya pergi untuk riset pasar dan makan di luar. Lebih parah dari itu, selepas kerja Zoya langsung pulang ke kontrakan diantar oleh Gilang. Mengetahui hal itu, Ridwan yang semula menunggu di perusahaan supaya bisa pulang bersama langsung bertolak pergi ke kontrakan Zoya.
“Takut ngerepotin Mas Ridwan.” Jawab Zoya.
“Nggak ada istilah ngerepotin kalo buat istri sendiri.” Jawab Ridwan seraya mencubit gemas pipi Zoya. ia sengaja mengatakannya dengan keras supaya di notice Gilang.
Sementara Gilang hanya tertunduk lesu, menyadari dirinya benar-benar sudah kalah. Sang kakak sudah memberitahu dirinya jika alasan Zoya tak masuk kemarin karena menikah namun dirinya sempat tak percaya. Hingga akhirnya menanyakannya langsung pada Zoya dalam perjalan pulang tadi.
“Aku pamit pulang, Zoy. Pak Ridwan saya permisi.” Ucap Gilang.
“Iya. Makasih udah nganterin istri gue. Lain kali nggak perlu.” Jawab Ridwan.
Gilang tak menimpali ucapan Ridwan, ia hanya melangkah lurus ke luar gerbang. Bahkan saat perpapasan dengan teh Ismi dan Bang Ahmad saja dirinya tak menjawab sapaan perempuan berperut besar itu.
“Kenapa yah Bang itu anak kayak ayam kena flu burung? Lunglai gitu.” Ucap Teh Ismi.
“Mana gue tau. Udah cepetan masuk bentar lagi maghrib.” Jawab Bang Ahmad.
Sebelum masuk ke dalam kontrakan mereka menyapa Zoya dan Ridwan yang masih duduk di teras. “Abis dari mana lo berdua kemaren nggak ada yang pulang? Lampu pada nggak dinyalain.” Tanya Bang Ahmad.
Teh Ismi menarik suaminya untuk segera masuk, “udah lah Bang, nggak usah kepo. Cepetan masuk, aku pengen teh manis. Mules lagi nih perut.” Keluh Teh Ismi.
“Iya-iya, bentar.” Jawab Bang Ahmad. “Bini gue udah mau lahiran kayaknya dari tadi mules-mules mulu. ntar kalo mau brojol anterin ke rumah sakit yah. Kan dulu udah janji mau nganterin pake mobil bagus punya majikan lo.” Lanjutnya pada Ridwan.
“Siap, Bang.” Jawab Ridwan. Mereka lantas masuk ke dalam kontrakan. Keduanya kembali berbagi tugas yang biasa mereka kerjakan setelah selesai menunaikan shalat isya. Hanya saja ada yang berbeda kali ini, jika biasanya Ridwan hanya berdiri di samping Zoya sambil mengamati cara gadis itu memasak, kini ia malah nemplok manja di belakang punggung Zoya.
“Mas jangan kayak gini lah, jadi nggak focus aku nya. Bisa-bisa makan malam kita jadi gosong.” Ucap Zoya terbata-bata, sumpah demi apa pun diperlakukan seperti ini membuatnya gugup.
Ridwan tak menggubris, ia malah memutar knop kompor, mematikannya.
“Kok malah dimatiin sih, Mas!” protes Zoya. Kedua tangannya dipengang Ridwan hingga tak bisa berkutik.
“Mas, Aku harus selesein masak terus dibawa ke rumah. Mami udah nungguin loh.”
“Malam ini tidur disini aja. Males pulang, ntar aja Jeli ngungsi lagi.” Jawab Ridwan. Seperti kemarin tanpa aba-aba ia membopong tubuh Zoya dan merebahkannya di kasur.
“Pengen berduaan aja, kayak gini.” Ucapnya seraya memeluk erat. Bibirnya berulang kali mengecupi puncak kepala Zoya.
“I I iya, tapi seenggaknya biarin aku selesein masak du ..du lu.” Selalu saja dia mendadak gagap setiap kali disentuh Ridwan. Tubuhnya seperti tersengat listrik tak karuan.
“Nggak usah. Makan lo aja udah cukup buat gue.” Ridwan langsung mencium sekilas bibir Zoya. Gadis itu mengerjap kaget. Wajahnya kagetnya kian membuat Ridwan gemas untuk merasai bibir mungil yang selalu mendadak bisu setiap kali dicium.
“Suka hm?” Zoya tak menjawab. Ia hanya bisa mengikuti nalurinya dan menerima setiap ciuman yang makin lama terasa kian dalam. Belum lagi tangan Ridwan yang mulai tak terkondisikan, meraba punggung hingga bukit kembar miliknya, menghadirkan gelenyar-gelenyar yang membuatnya merasa melayang.
“Mm Ma.. M As..” Zoya bahkan tak sadar mulai me ra cau tak jelas.
Ridwan memberi jeda, membelas sayang wajah istrinya yang terengah padahal belum ia apa-apakan. Pemanasan saja baru setengah jalan. Saat dirinya tengah menatap sayang wajah malu-malu Zoya yang menggemaskan tiba-tiba pintu kontrakan mereka di gedor.
“Ridwan anterin! Bini gue mau lahiran!”
“Cepetan woy!”
Berusaha bersikap masa bodoh, Ridwan kembali mencumbu wajah Zoya tapi gadis itu malah menjauhkan wajahnya. Dengan panik ia bangun dan mengancingkan baju tidurnya yang sudah terbuka. “Mas, Teh Ismi mau lahiran.” Ucapnya seraya mengatur nafas yang terengah.
“Biarin aja lah. Ada suaminya ini.” Ridwan kembali meraup bibir Zoya.
“Mas!”
“Huh! Iya-iya kita anterin.” jawab Ridwan dengan kesal. “Di rumah diganggu Jeli, disini diganggu tetangga!" gerutunya seraya mencari-cari kunci mobil.
.
.
.
Banyakin sabar Mas, tetangga emang suka gitu wkwkwkwk
Ini udah Panjang pake banget gaes. Jangan lupa like sama komennya.