
Zoya dan Raizel sama-sama menyedot susu kotak rasa vanilla dingin di dinginnya pagi ini. Dua wanita beda usia itu terlihat sangat menikmatinya. Raizel sangat senang mendapati tantenya meminum minuman yang sama dengan dirinya.
“Enak, Tan?” Zoya hanya mengangguk mengiyakan.
“Om Ririd mau nggak? Enak loh, dingin.” Lanjutnya pada Ridwan yang tak menghiraukan pertanyaannya. Lelaki itu sibuk mengobrak-abrik laci meja kerjanya.
“Kalo Tante Zoya suka kita bagi dua aja. Jeli kasih izin Tante minum susu Jeli yang di kulkas. Di rumah Jeli juga punya banyak, macem-macem rasa. Papa Dirga yang biasa beliin, tapi Jeli paling suka rasa vanilla. Besok kalo Jeli kesini Jeli bawain yang banyak deh.” Cerocos gadis kecil itu.
“Makasih, sayang.” Jawab Zoya seraya mengelus puncak kepala ponakannya.
“Sama-sama Tante.” Jeli balas memeluk Zoya.
Saat gadis itu sedang bermanja di pelukan tantenya, Ridwan menghampiri Zoya dengan membawa thermometer dan meletakannya di ketiak Zoya. “Jeli awas dulu, tantenya sakit!”
“Apaan sih Mas? aku nggak sakit. Badan nggak panas kok. Buat apa dipakein thermometer segala?” Zoya mengambil benda itu dan meletakannya di nakas samping ranjang.
“Aku Cuma lemes Mas, bukan demam. Nggak usah pake thermometer. Nanti abis sarapan juga biasa lagi.” Jawab Zoya.
“Tapi tetep aja aku takut kamu kenapa-kenapa. Nanti abis sarapan kita langsung ke dokter.” Tegas Ridwan tak ingin di bantah.
“Nggak mau. Kita tuh jangan dikit-dikit dokter, Mas. Nanti badan kita kebiasaan sakit dikit obat, sakit dikit obat lagi. Tubuh kita tuh punya kemampuan menyembuhkan diri jadi selama masih biasa aja nggak usah ke dokter lah. Lagian aku tuh jarang banget sakit. Ini Cuma lemes kecapean, nggak apa-apa.”
“Beneran?”
Zoya mengangguk, “Iya Mas. Aku tidur bentar lagi boleh yah? Rasanya lemes banget.”
“Iya, boleh. Biar Jeli aku yang urus. Nanti aku bangunin kalo semuanya udah siap.” Jawab Ridwan seraya membenarkan selimut Zoya. Gadis itu kembali terlelap dengan cepat sementara dirinya menyuruh Raizel mandi dan menyiapkan segala keperluan bocah itu.
Baik Raizel maupun Ridwan sudah siap dengan setelan masing-masing. Raizel lebih dulu pergi meninggalkan kamar sementara Ridwan masih menatap istrinya yang terlelap. Ingin membangunkannya tapi tak tega, alhasil dia pergi sarapan seorang diri.
“Menantu kesayangan mami mana?” tanya Mami Jesi.
“Masih tidur, Mi. Dia nggak enak badan, lemes katanya. Tapi aku ajak ke dokter nggak mau. Katanya nggak apa-apa. Kayaknya kecapean.”
“Ya udah kalo dia nggak mau ke dokter biar nanti Mami panggil dokternya ke rumah.”
“Iya, Mi. Titip Zoya yah. Kalo nggak banyak kerjaan juga hari ini aku males ngantor, mending nemenin istri aja.”
“Heh! Kamu itu udah nggak masuk terlalu lama. Jangan mentang-mentang perusahaan punya sendiri bisa seenaknya.” Sela Papi Rama. “Zoya nanti diurus sama Mami.” Lanjutnya.
“Iya, Pi. Sama anak sendiri aja nggak bisa ngasih kelonggaran dikit aja.”
“Kerja harus professional. Pimpinan itu contoh untuk karyawan. Kalo mau karyawan kita diisiplin maka pimpinannya juga harus lebih disiplin.” Terang Papi Rama.
“Udah tenang aja, nanti Mami panggilin dokter buat Zoya. Kamu focus kerja aja.” Imbuh Mami Jesi.
Sebelum berangkat kerja, Ridwan pergi ke kamar untuk melihat Zoya lebih dulu. Dikecupnya kening, pipi hingga bibir istrinya kilas.
“Katanya nggak apa-apa tapi keluar keringat dingin terus.” Ridwan menyeka kening basah Zoya. “Aku pergi kerja dulu yah.” Pamitnya lirih.
Sekitar pukul delapan Mami Jesi masuk ke kamar Ridwan bersama dokter keluarga.
“Loh kata Ridwan kamu sakit sayang? Kok malah udah rapi sih?” Mami Jesi menghampiri menantunya yang tengah mengikat rambut.
“Sakit? Nggak kok, Mi. Tadi Cuma lemes aja pas bangun tidur. Tapi setelah aku bawa tidur lagi sekarang rasanya udah enakan. Masih lemes dikit tapi nggak apa-apa.” Jawab Zoya.
“Aku ke kantor dulu yah, Mi. kesiangan nih, bisa-bisanya Mas Ridwan nggak bangunin aku. Padahal tadi udah pesen minta dibangunin.” Gerutu Zoya seraya menyalami mertuanya.
“Tunggu bentar! Beneran nggak apa-apa?”
Zoya menggeleng, “nggak apa-apa Mi.” jawabnya meski kepalanya sedikit pusing tapi sebisa mungkin ia sembunyikan. Ia benar-benar tak ingin membuat siapa pun khawatir. Pikirnya mungkin pusing disebabkan pagi tadi bukannya langsung bangun malah tidur lagi.
“Aku berangkat yah, Mi?” pamitnya kemudian.
“Oke boleh berangkat ke kantor tapi makan dulu. Kamu belum sarapan. Ayo! Udah Mami siapin sayur bening kesukaan kamu. Tadi Ridwan yang minta bikinin buat kamu.”
“Tapi aku udah terlambat, Mi.”
“Makan atau nggak usah pergi ke kantor!”
“Mami ambilin yah.” Mami Jesi menyiapkan sarapan untuk menantunya dan meletakan satu piring nasi lengkap dengan sayur bening serta ikan asin di depan Zoya.
Melihat nasi tepat di depan mata, perutnya terasa di aduk-aduk. Belum satu suapan pun masuk ke dalam mulut ia sudah berlari ke wastafel dan muntah di sana. Mami Jesi langsung menghampiri menantunya.
“Aku nggak apa-apa, Mi. Masuk angin kayaknya.”
“Kalo gitu makan dulu terus minum obat yah? Sekalian di periksa aja mumpung dokternya masih disini.”
“Nggak apa-apa, Mi. Nanti aku beli obat masuk angina ja yang biasa. Mami jangan khawatir aku nggak apa-apa.” Zoya kembali ke meja makan dan mengambil dual embar roti tawar kemudian mengoleskan selai cokelat.
“Aku makan di mobil aja nanti, Mi.” ucapnya seraya menyalami Mami Jesi.
Sebelum pergi Zoya membuka kulkas dan mengambil dua kotak susu vanilla milik Raizel. “Aku minta susunya Jeli yah Mi.”
Mami Jesi menghela nafas panjang melihat kepergian Zoya. “siap-siap kena marah si Ririd kalo kayak gini caranya.” Batinnya.
Sampai kantor Zoya langsung berjalan dengan buru-buru ke ruanganya. Begitu tiba disana ia langsung disambut oleh anggota tim nya.
“Katanya sakit kok masuk?” tanya Sisil.
“Kata siapa? Nggak kok.”
“Tadi Pak Ridwan yang bilang.” Jawab Sisil. “Tapi wajah lo emang rada pucat, Zoy.” Lanjutnya.
“Masa sih?” Zoya menyentuh wajahnya sendiri. “Kecapean kali aku. Kemaren pulang dari Surabaya langsung bimbingan.” Lanjutnya.
“Bukan kecapean abis bulan madu? Kecapean kejar setoran bikin bayi kali lo.” Ledek Romi.
“Apaan sih A Romi, ngaco. Mending kita bahas kejar setoran pemarasan nih udah sampe mana?” Zoya mengalihkan pembicaraan.
“Bisa aja ngelesnya. Dasar!” Cibir Romi. Mereka kemudian focus dengan bahasan pekerjaan dan tugas masing-masing.
Saat jam makan siang tiba, Sisil mengajak Zoya ke kantin. “Pokoknya hari ini lo milik gue. Kita makan siang bareng. Banyak banget yang pengen gue ceritain. Gue udah putus nih sama cowok gue, selingkuh dia.” Ucapnya dengan wajah sedih.
“Yah makan siang bareng gue, kalo sama Pak Ridwan kan nanti lo ketemu di rumah.” Lanjutnya memohon.
"Iya-iya." jawab Zoya.
Tak hanya mereka berdua yang makan bersama, Romi dan Gilang pun berada di satu meja dengan mereka.
“Lo semua hari ini harus jadi pendengar yang baik. Gue telaktir.” Ucap Sisil.
“Soto sapi pake nasi empat, Bi. Minumnya teh tawar anget satu, sisanya es jeruk.” Lanjutnya memesan.
Sambil menunggu pesanannya datang, Sisil mulai bercurhat ria. Bahkan di sela-sela makan pun gadis itu tak berhenti cerita, diiringi air mata dan kadang wajah kesal yang ingin balas dendam, hingga kepergian Zoya yang beberapa kali bolak balik toilet membuatnya berhenti bicara dan mulai mengkhawatirkan kondisi temannya. Pasalnya Zoya baru memakan sotonya satu sendok malah berlalu Lalang ke toilet.
“Lo nggak apa-apa? Wajah lo makin pucat.” Tanya Sisil seraya memberikan tisu karena wajah Zoya dipenuhi keringat.
“Nggak apa-apa, Sil.” Jawab Zoya. “Masuk angin nih aku, bawaannya mual mulu dari pagi.” Lanjutnya.
“Kasih air anget. Diminum teh nya.” Gilang menyodorkan gelas Zoya.
Baru menghirup aroma teh kesukaannya tiba-tiba ia kembali mual dan pergi ke toilet. Sisil ikut menyusul dan membantu memijit tekuk leher Zoya. Karena Zoya dan Sisil pergi ke toilet begitu lama, membuat Gilang dan Romi jadi khawatir. Mereka pun pergi menyusul ke toilet, beruntung keadaan toilet siang itu sedang kosong.
“Kenapa Zoya?” tanya Romi.
“Nggak tau. Muntah-muntah mulu, keracunan kali yah?” jawab Sisil asal. “Eh tapi kalo keracunan masa Cuma Zoya yang mual-mual? Kan kita berempat pesen menu yang sama.” Lanjutnya.
“Tapi buat jaga-jaga lo berdua amanin makanan sama minuman sisa Zoya deh. Kali aja kayak di TV itu loh, seseorang masukin racun ke makanan. Secara Zoya kan istri pewaris perusahaan.” Imbuhnya lagi.
“Sil…” panggil Zoya lirih. “Susu vanilla-“ belum selesai berucap Zoya sudah lebih dulu ambruk dan tak sadarkan diri.
“Woy ini kenapa malah ambruk! Zoya… Zoy bangun! Lo kenapa?” Sisil mulai panik.
“Jangan-jangan ini beneran ada yang naro racun di makanan Zoya.”
“Gilang, lo panggil ambulance! Romi, lo telepon polisi. Cepat!”