
“Lea jam segini kamu belum mandi?” tegur Ria, sang ibu. Ia menggelengkan kepala melihat sikap putrinya yang suka malas-malasan. Sudah hampir tiga bulan sejak dirinya lulus S2 bukannya membantu ayahnya bekerja malah terlihat sibuk sendiri. Bukannya bangun tidur langsung mandi baru saparan, putrinya malah sebaliknya. Lihat saja, rambutnya masih acak-acakan dengan wajah yang sepertinya belum diseka sudah mengambil roti lapis yang ia buat dan memakannya dengan santai.
“Nanti, bu. Kepala Lea sedikit berat, kayaknya kurang tidur. Semalem pulang jam sebelas kayaknya.” Jawabnya yang tak dengan jelas jam berapa dirinya pulang.
“Jangan keseringan pulang terlalu malam Lea. Anak perempuan nggak baik dilihat tetangga kalo tiap hari pulang malem. Nanti kamu dikira keluyuran nggak jelas.” Ria menasehati putrinya dengan lemah lembut. Setiap hari berangkat jam delapan pagi dan pulang jam sepuluh malam, kadang malah tak pulang sama sekali. Setiap kali ditanya kemana selalu menjawab tidur di butiknya yang baru baru selesai satu bulan yang lalu.
“Gimana kalo sampe omongan tetangga yang selalu bilang anak ibu suka keluyuran nggak jelas sampe kedengeran sama calon mertua kamu?”
“Bisa-bisa pertunangan kalian dibatalkan. Ibu nggak mau kalo sampe itu terjadi! Susah pengen besanan sama bu Jesi tuh, temen-temen ibu yang ngajuin jadi besannya banyak, makanya kamu jangan macem-macem diluar sana.”
“Macem-macem apa sih bu? Lea tuh pulang malem yah karena sibuk persiapan buat pembukaan butik Lea. Itu juga kalo Lea nggak pulang karena udah kemalaman yah tidur di butik. Ibu nggak kerja sih jadi nggak tau gimana sibuknya ini itu.” Jawab Lea.
“Lea dengerin kalo ibu kamu lagi ngomong.” Sambung Kohar, ayahnya. “Lagian ngapain juga kamu bikin butik sendiri, mendingan juga kerja di perusahaan calon mertua kamu. Nanti kan Ridwan juga bakal kerja disana, jadi kalian bisa kerja sama-sama supaya makin dekat. Lagian juga itu butik udah sebulan yang lalu selesai kenapa nggak buka-buka?”
“Udah kerja di kantor ayah aja kalo sekiranya nggak mau kerja di kantor calon mertua kamu.” Sambungnya.
Lea hanya mengangguk sambil mengunyah rotinya. Dalam hatinya, jangan kan untuk bekerja bersama-sama, saat ini saja ia tak tau calon suaminya ada dimana. Ditambah lagi dengan sikap Ridwan yang mengutamakan game dari pada dirinya. Huft… Lea menghembuskan nafasnya pelan, tidak tau saja ayah dan ibunya jika calon menantu kesayangan mereka mungkin tak pernah menganggap keberadaannya.
“Lea kan lagi belajar mandiri ayah, kok nggak didukung sih.” Jawabnya.
“Belajar mandiri itu kalo kamu bikin butik dari uang sendiri. Ini bikin butik dari uang ayah sama ibu mana nggak buka-buka. Lebih kerja di loveware aja supaya lebih dekat sama Ridwan.”
“Ya nggak apa-apa pake uang ayah sama ibu, lagian uang ayah sama ibu mau buat apa kalo nggak buat Lea?” jawab Lea enteng.
“Banyak dari mana Lea? Kamu tuh nggak tau aja perusahaan kita hampir tutup kalo nggak dibantu Pak Darmawan. Kamu sering sibuk sendiri sih jadi tidak tau keadaan perusahaan keluarga.” Jelas Kohar.
“Apalagi kalo Lea punya usaha sendiri, Mami Jesi pasti makin sayang punya calon mantu seperti Lea. Anak orang kaya tapi mau kerja sendiri. Urusan laku sama nggak nya yang penting kelihatan uwow aja kan?”
“Lagian nanti kalo udah jadi istri Ridwan juga Lea nggak usah cape-cape kerja, kekayaan mereka banyak banget.” Jawabnya kemudian berlalu pergi.
“Lea mau mandi terus ke butik.”
“Bu, Lea harus pelan-pelan dinasehatin. Ayah kurang setuju kalo kemandirian Lea cuma pura-pura seperti itu. Pak Darmawan dan Bu Jesi sudah sangat baik, kalo Lea seperti itu ayah merasa seperti membohongi mereka.”
“Iya, ayah. Sama ibu juga mikir kesana.”
Saat mereka masih sibuk berbincang, Lea sudah turun dengan pakaian rapi. “Aku ke butik dulu yah, bu.” Pamitnya lalu berlalu pergi.
Sebelum sampai ke butik, Lea membelokan mobilnya dan mampir ke apartemen Refan. Dia bisa leluasa masuk karena sudah mengetahui kode akses untuk masuk kesana. Apartemen Refan sudah seperti rumahnya sendiri, jika ia tak pulang ke rumah berarti dia bermalam di apartemen Refan. Butik hanya alasan supaya dirinya bisa bebas keluar rumah.
“Yang, mulai hari ini kayaknya gue nggak bisa sering-sering ketemu lo deh. Ibu gue mulai ribet ngomong mulu, gue sering pulang malem.”
“Iya nggak apa-apa sayang, lagian gue juga ada turnamen ke luar kota tiga hari. Lumayan, setelah Ridwan nggak muncul di perusahaan, gue jadi kebagian main terus. Bonusnya juga lumayan banyak.” Jawab Refan sambil meremat pan tat Lea yang sekal, gadis itu duduk manja di pangkuan Refan.
“Masih pagi sayang, jangan mincing-mancing. Gue mesti ke rumah calon mertua nih, katanya ada info soal Ridwan.” Lea mengalihkan tangan nakal Refan dari tubuhnya dan berpindah duduk di sebelahnya.
“Ridwan? Itu anak udah balik?” tanyanya. Jujur, selama ini ia hanya memanfaatkan Lea. Pertemuan pertama mereka saat Lea ikut ke acara makan-makan perusahaan bersama Ridwan membuatnya memiliki ide brilian untuk menghancurkan Ridwan dengan merebut tunangannya. Ia merasa benar-benar tersingkirkan pelan-pelan saat anak baru itu bergabung ke perusahaan dan mengambil alih semua list pertandingannya. Jika Ridwan kembali, tujuannya adalah menemui laki-laki itu dan mengatakan jika tunangannya telah menjadi miliknya. Bahkan mungkin Ridwan akan hancur berkali-kali jika tau bukan hanya berhasil merebut Lea tapi ia juga berhasil mengambil mahkota gadis itu. “Bener-bener double bonus.” Batinnya.