
Zoya masuk ke ruangannya lebih dulu, tak lama Sarah berjalan dibelakangnya. Wanita itu melirik sinis ke kubikel tim Zoya. sejak awal masuk ruangan tim marketing memang memisahkan tempat duduk mereka secara berkelompok guna memudahkan komunikasi dan mengerjakan proyek pemasaran masing-masing. Meskipun pada waktu tertentu akan dilakukan job rotation supaya semua anggota tim marketing bisa saling bekerjasama.
“Lo ke toilet lama banget, Zoy. Ke toilet apa nyasar ke ruangan Pak Ridwan sih?” tanya Sisil.
“Tiolet lah, ngapain juga ke ruangan Pak Ridwan. Ntar dikira main belakang lagi.” Jawabnya keras seraya melirik pada Sarah yang mejanya cukup jauh.
“Cuma tadi di toilet nemu orang ngeselin sih. Ngakunya sih professional tapi lah gimana yah, kayaknya Cuma di bibir doang itu professional tanpa pengaplikasian.” Lanjutnya.
Sarah beranjak menghampiri meja Zoya, “lo nyindir gue?”
“Nggak, mba. Tapi kalo mba kesindir yah maaf.”
“Lo! Bener-bener yah! Mentang-mentang bakingannya anak direktur jadi makin nggak sopan sama senior hah?” bentaknya seraya menggebrak meja, anggota timnya lantas menghampiri dan berusaha menenangkan Sarah. Mereka bisa maklum akan sikap Sarah saat ini, ketua tim nya itu pasti merasa kesal karena baru pertama kali gagal mendapatkan proyek peluncuran produk baru. Sebelumnya tim mereka selalu nomor satu.
“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” Rika keluar dari ruangannya.
“Lo ajarin itu anak baru, Ka. Nggak ada adabnya sama senior!” jawab Sarah.
“Kasih paham kalo pemasaran produk tuh nggak main-main, jangan mentang-mentang deket sama anak direktur bisa sesuka hati. Gue yakin dia main belakang!” lanjutnya.
“Stop! Jangan dilanjutin.” Tegas Rika. “semuanya masuk ruang rapat sekarang. Aku nggak mau ada crush di tim kita.”
Semua anggota tim marketing masuk ke ruang rapat internal. Tempat yang selalu mereka gunakan untuk membahas proyek secara umum. Seperti biasa Zoya dan teman-temannya yang masih anak baru duduk di kursi paling ujung, berbeda dengan para senior yang duduk di dekat Rika.
“Zoya, kamu pindah kesini.” Panggil Rika, “Ani pindah ke tempat Zoya dulu yah.”
“Siap, Mba.” Jawab Ani seraya beranjak.
“Ka!” protes Sarah yang tak suka si anak baru duduk di sampingnya.
“Meskipun kamu temen deket aku, tapi disini aku atasan kamu.” Tegas Rika.
“Zoya, Sarah! Aku minta kalian pegangan tangan selama rapat berlangsung.” Lanjutnya.
“Nggak! Apa-apaan sih, Ka!” tolak Sarah.
“Tuh mba… lihat! mba Sarah yang nggak mau bukan aku.” Ucap Zoya.
Rika mengambil tangan Sarah dan memberikannya pada Zoya, “pegang!”
Meski tak suka Sarah membiarkannya. Rika jika sedang jadi mode atasan sulit dibantah.
“Dengar! Ini berlaku untuk semua. Tidak hanya untuk Sarah. Bagi saya tak ada yang namanya senior dan junior jika sudah terkait pekerjaan. Setiap pekerjaan diberikan pada orang atau pun tim yang sekiranya mampu menghandle. Sebutan senior dan junior bagi saya hanya berlaku untuk sikap saling menghormati dan menghargai, bukan terkait pembagian kerja, hal itu tak berpengaruh sama sekali.”
“Seperti yang kalian ketahui, saya bahkan bisa mengubah tim yang menangani proyek sekalipun sudah ditunjuk langsung oleh direktur jika menurut saya tim yang ditunjuk itu tak kompeten.”
“Bukan karena membela Zoya yang akhir-akhir ini dikabarkan dekat dengan putra direktur kita, bukan pula karena saya ingin cari muka dengan membiarkan tim Zoya mendapat proyek padahal masih terbilang baru. Disini saya benar-benar melihat potensi dia dan anggota tim nya. Meskipun mereka baru tapi pengalamannya tak bisa dianggap enteng.”
“Dia selama ini sudah menjual sangat banyak produk kita. Dan Sarah, saya akui kemampuan pemasaran kamu sangat bagus, tapi tak salahnya kita membiarkan tim baru menangani proyek ini. Lagi pula tim mana pun yang menangani bukankah jika berhasil kita semua ikut bangga? Ikut mendapat pujian juga?”
“Kita sebagai senior harus mendukung bibit-bibit baru supaya lebih potensial, bukan justru mematikan langkah mereka.”
“Saya tidak mau mendengar ada perselisihan di tim kita. Kalo kamu atau siapa pun merasa senior, silahkan ajari mereka yang baru. Rangkul mereka dengan pengalaman kalian sehingga kita bisa menjadi tim yang solid dan memajukan perusahaan.”
“Udah cukup, Ka! Telinga gue udah panas.” sela Sarah. “Gue Cuma emosi aja tadi ini bocah langsung nyolot aja nggak ada sopan-sopannya.”
“Aku minta maaf mba, abisnya tadi mba Sarah ngomong aku main belakang.” Ucap Zoya. “Aku tau kok tadi aku tuh sedikit nggak sopan. Maaf banget tapi aku nggak bisa ngebiarin orang yang ngatain aku sembarangan.”
“Baikan kalian berdua. Saya nggak mau tim marketing ribut-ribut dan nggak kompak. Pelukan!” perintah Rika.
Meski sedikit gengsi tapi Sarah memeluk Zoya, “gue minta maaf soal yang tadi.”
“Aku juga mba, maaf.” Ucap Zoya.
“Gue tunggu keberhasilan tim lo. Buktiin kalo lo emang nggak main belakang.” Pungkasnya kemudian pergi lebih dulu.
Dari dalam ruangan Rika, Sarah melihat Zoya dan teman-temannya bekerja. “Mereka keliatan serius.”
“Namanya kerja harus serius lah. Kamu kira aku milih mereka waktu wawancara ngasal apa?” jawab Rika. “Asal kamu tau aja, Sar. Yang milih Zoya waktu itu tuh pak Darmawan langsung.” Lanjutnya.
“Wah berarti itu anak emang main belakang yah. Sia-sia gue minta maaf tadi.” Sarah menggelengkan kepala, “nggak Cuma main belakang sama anaknya, bapaknya juga diembat.” Lanjutnya.
“Hus! Sembarang kamu kalo ngomong.” Sela Rika lantas menceritakan soal hubungan Zoya yang awalnya tak tau sama sekali jika Ridwan adalah putra pemilik perusahaan, bahkan meminta lelaki itu jualan dan beres-beres kontrakan.
Sedang asik-asiknya membicarakan soal Ridwan, Gilang dan Zoya eh yang dibahas malah nongol di ruangan sembari membawa berkas.
“Panjang umur nih anak.” Gumam Sarah.
“Eh ada mba Sarah.” Sapa Zoya.
“Mba Rika, aku bawa berkas finalnya nih. Kan tadi udah acc mau pake pemasaran dari tim aku? Ini tinggal tanda tangan berkasnya.” Lanjutnya pada Rika.
“Biar mba lihat sebentar yah.” Ucap Rika sebelum menandatangani berkas yang Zoya bawa. Tak lama wanita itu menandatanganinya dan memberikannya kembali pada Zoya.
“Udah oke tinggal minta tanda tangan pak Darmawan aja, eh Pak Ridwan soalnya ditangani langsung oleh beliau.”
“Aku yang minta tanda tangannya, mba?”
“Iya lah kamu.”
“Mba Rika aja lah, aku takut ntar dikira main belakang.” Jawab Zoya.
“Heh! Lo nyindir lagi.” Seru Sarah, “Sana minta tanda tangan. Kerja harus professional. Ingat minta tanda tangan aja, jangan malah pacarana.” Ledeknya kemudian.
“Mba Sarah ih! Siapa juga yang pacaran.” Jawab Zoya.
“Eh iya calon istri yah? Gue lupa.” Ralat Sarah. “kan tadi udah beredar foto jari manis pake cincin cantik.” Lanjutnya seraya menujuk tangan Zoya dengan lirikan matanya.
Zoya langsung menutup tangan kirinya, “Apaan sih mba! Ini cincin murah beli di pasar malam.” Elaknya. “aku pamit mba, mau minta tanda tangan.” Lanjutnya kemudian berlalu pergi.
Zoya menuju ruangan Ridwan. Sampai sana dia diperbolehkan masuk tanpa ditanya keperluan. Mikayla sudah diperingatkan untuk membiarkan Zoya masuk kapan pun gadis itu mau.
“Selamat sore Pak.” Ucap Zoya.
“Pak! Pak! Pak! Udah gue bilang jangan panggil bapak!”
“Kan lagi kerja Pak.” Jawab Zoya.
“Panggil sayang atau gue pecat!” ancam Ridwan.
“Mas!”
“Bener-bener lo! Mending keluar aja sana kalo nggak mau manggil sayang.”
“Ya udah kalo emang disuruh keluar aku mau keluar, biar nanti anggota yang lain balik kesini mainta tanda tangan. A Gilang misalnya.” Jawab Zoya.
“Heh! Ya udah siniin berkasnya! Gue baca dulu.” Ridwan mengambil berkas dari tangan Zoya. Senyum gadis itu langsung merekah. Dia memperhatikan Ridwan yang sedang membaca berkas dengan seksama. Ternyata jika sedang serius ketampanan bosnya meningkat seribu persen, batin Zoya.
“Sayang…” Ridwan tersenyum mendengarnya, akhirnya dirinya dipanggil sayang. Tapi kok suaranya berbeda, bukan suara Zoya.
“Sekali lagi.” Ucap Ridwan seraya menatap Zoya yang bingung. Disusul seorang gadis yang tiba-tiba masuk ruangan Ridwan dengan membawa banyak paper bag di tangannya.
“Kak Ridwan sayang, aku udah pulang. Dari Surabaya langsung kesini, aku bawain banyak oleh-oleh nih.”
“Lea? Ngapain kamu disini?”
“Ngapain? Ngasih kejutan buat calon suami dong. Kakak emang nggak kangen seminggu nggak ketemu aku?” ucap Lea dengan manja. Ia terus menempel pada Ridwan meski lelaki itu mencoba melepaskan diri.
“Kamu ngapain masih disini? Kalo udah selesai silahkan keluar!” usirnya pada Zoya.
Zoya menahan tangis sebisa mungkin, mencoba berekspresi datar tanpa menunjukan rasa sedih maupun kecewa meski di hatinya carut marut tak karuan. Baru pagi tadi di lamar kilat tapi sekarang ada wanita yang mengaku calon istri Ridwan.
Zoya melepas cincin yang bahkan belum dua puluh empat jam melingkar di jarinya dan meletakannya di meja. “Baik, saya permisi.” Ucapnya kemudian berlalu pergi tak peduli Ridwan memanggilnya berulang kali.
.
.
.
Baik saya juga permisi mau lanjut bikin soal PTS.
Jangan lupa like sama komennya buat calon istri Kak Ridwan wkwkwk