
“Bawa mobilnya jangan ngebut, Mas. Aku takut.” Protes Zoya ketika suaminya memacu kendaraan yang mereka tumpangi dengan kecepatan tinggi.
“Maaf, sayang. Kebawa emosi tadi, jadi pengennya cepet-cepet pergi dari kampus kamu. Males liat wajah dia di spion.” Jawab Ridwan seraya mengurangi kecepatan.
“Mas Ridwan tuh kalo ada masalah selesein dulu baik-baik, supaya bener-bener beres.” Ucap Zoya lirih.
“Aku udah nggak ada urusan sama dia. Dia nya aja yang nggak waras.” Jawab Ridwan. “Udah nggak usah dipikiran soal Lea itu urusan aku.”
“Tapi tadi dia bilang aku ayam kampus, Mas. Rasanya pengen banget aku pukul mulutnya pake sepatu.”
“Kenapa tadi nggak turun aja terus lakuin apa yang kamu mau hm?”
“Aku masih waras, Mas. Males, kalo tadi aku turun pasti malah jambak-jambakan terus jadi tontonan banyak orang.”
“Istri aku emang paling the best.” Ridwan mengelus sayang kepala Zoya. “Cukup duduk manis aja, biar aku yang beresin urusan Lea. Kita jadi narik kredit nya?” Ridwan mencoba mengalihkan pembicaraan yang sekiranya bisa membuat Zoya kembali happy.
“Jadi dong, Mas.” jawab Zoya begitu semangat.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk menarik kreditan produk loveware. Selain karena konsumen Zoya yang lumayan banyak, cara berjalan Zoya yang super pelan juga menjadi salah satu alasan mereka.
“Nanti kalo semua kreditan udah lunas nggak usah nyebar lagi. Kamu jadi kecapean gini kan pulang sampe sore.” Gerutu Ridwan.
“Nggak cape sama sekali, Mas. Dari dulu aku udah biasa kayak gini kok. Kan Mas Ridwan tau sendiri.” Jawab Zoya. “Yang bikin hari ini narik kredit nya lama tuh kan gara-gara kelakuan Mas Ridwan semalem.”
“Makanya nanti malem lagi yah? Biar nggak sakit lagi.”
“Nggak janji deh, Mas.” balas Zoya seraya turun dan meninggalkan Ridwan masuk ke rumah lebih dulu.
Zoya segera pergi ke dapur, bergabung dengan mertua dan ibunya yang sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti.
“Baru pulang kuliah istirahat dulu aja sayang. Mami bisa masak bareng ibu kamu ini.” Ucap Mami Jesi. Ia mengambil sayuran yang sedang dipetik Zoya.
“Nggak apa-apa, Mi. Aku mau bantuin biar cepet selesai. Lagian jarang-jarang aku bisa masak bareng sama ibu sama mami juga.” Kali ini Zoya memilih mengupas bawang putih karena semua sayuran sudah diamankan mami Jesi.
“Nggak bisa dibilangin nih Bu anaknya.” Ucap Mami Jesi pada bu Iis. “Padahal kan kita lebih senang kalo Zoya bikin cucu aja dari pada bantuin masak yah.” Ledeknya kemudian.
“Saya setuju, Bu. Udah nggak sabar pengen punya cucu.” Balas Bu Iis.
“Ibu ih! Bukannya dulu ibu nggak pengen aku buru-buru nikah? Sekarang malah ngebet cucu.” Protes Zoya.
“Abis ibu liat Jeli gemes banget. Jadi pengen cepet punya cucu, biar bisa diajak main. Kayak bu Jesi kemana-mana sama Jeli. lucu.”
“Oh iya tadi kita selesei ngurus persiapan resepsi mampir ke apotik. Nih Mami beliin vitamin biar badan kamu tetep vit. Jangan lupa nanti diminum yah. Karena biasanya laki-laki tuh kalo udah dapat sekali maunya nambah terus.” Imbuh mami Jesi yang seketika membuat Zoya terbatuk dadakan.
“Wah kayaknya bener tebakan mami nih.” Ledeknya lagi.
“Nggak, Mi. Apaan sih bikin aku malu aja.” Jawab Zoya.
“Nggak usah malu-malu. Mami sama ibu kamu udah pengalaman.” Ucap Mami Jesi, “Kalo badan kamu pegal-pegal atau berasa remuk bisa mami panggilin layanan pijit plus spa, mau?”
“Nggak perlu, Mi. Makasih.”
“Oh pasti udah dipijit sama Ridwan sendiri yah?”
Saat Zoya masuk ke kamar, Ridwan sedang sibuk berbicara lewat telepon. Suaminya terlihat begitu serius. Zoya memilih pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Lumayan lama ia di kamar mandi tapi begitu keluar Ridwan masih saja dengan teleponnya. Awalnya tak peduli lama-lama jadi curiga. Sambil mengeringkan rambut, Zoya duduk di samping Ridwan. Lelaki itu langsung mengakhiri panggilannya. “Nanti aku hubungi kalo udah ada keputusan.”
Ridwan meletakan ponselnya asal kemudian beralih mengambil handuk kecil dari tangan Zoya dan membantunya mengeringkan rambut. “Biar aku bantuin.”
“Aku bisa sendiri, Mas. Kenapa tiba-tiba telponnya udahan? Gara-gara ada aku yah?”
“Iya.” Jawab Ridwan singkat.
Zoya cemberut, “ya udah lanjutin aja telponnya, biar aku yang pindah. Maaf udah ganggu Mas Ridwan.”
“Hei, Mana kemana sih! Siapa juga yang ganggu? Kamu nggak ganggu sama sekali sayang. Justru karena kamu nyamperin masa aku telponan terus hm? Ada istri masa main HP? Mending juga mainin istri.” Ridwan mengecup singkat pipi Zoya.
“Mas!”
“Barusan aku telponan sama Om Ardi, mertuanya Kaleng.” Ridwan merasa perlu menjelaskan supaya tak terjadi salah paham diantara mereka. Karena sejak tadi wajah Zoya terlihat begitu curiga.
“Aku nggak nanya tuh.” Jawab Zoya.
“Karena istri aku nggak nanya, makanya aku kasih tau langsung. Takut salah paham, wajahnya udah cemberut aja dari tadi. Baca-baca di internet sebelum nikah, katanya banyak perceraian akibat kurangnya komunikasi yang baik. Makanya kita harus selalu saling terbuka.”
“Nanti aku mau nemuin rekan kerja lama waktu masih main game, mau ikut?” Tanya Ridwan. Ia akan menemui Refan karena sejak siang tadi lelaki itu terus menghubunginya. Katanya ada yang perlu ia bicarakan secara empat mata. Dan setelah menerima telpon dari Om Ardi tadi, ia semakin yakin jika pertemuannya dengan Refan nanti pasti ada hubungannya dengan perhelatan e-sport yang akan segera digelar. Pasalnya barusan Om Ardi menghubunginya untuk kembali bergabung dengan perusahaan. Meski bukan sebagai karyawan aktif yang masuk setiap hari tapi Ardi tak keberatan jika dirinya hanya berpartisipasi saat event berlangsung, mengingat adik dari menantunya itu sangat berbakat dan berulang kali membuat tim dari perusahaannya memenangkan berbagai event.
“Nggak, Mas. Aku mau nganter ibu sama bapak ke stasiun, kan mau pulang.” Jawab Zoya.
“Ya udah kalo gitu nanti aku izin keluar sebentar yah. Janji pulangnya nggak kemaleman.”
“Iya, Mas.”
Setelah selesai makan malam, Ridwan menyempatkan mengantarkan Zoya dan mertuanya dulu ke stasiun. Tak hanya mereka saja, Mami dan Papi Rama juga ikut bertolak ke stasiun. Niatnya ingin mengantar besannya hingga rumah menggukan mobil tapi orang tua Zoya menolak, tak mau merepotkan.
“Pulangnya bareng Papi sama Mami yah.” Pamit Ridwan sebelum meninggalkan istrinya. Tak lupa ia juga berpamitan pada kedua mertuanya dan menitipkan Zoya pada sang mami.
Ridwan menemui Refan di tempat pilihan lelaki itu. “Sorry, gue telat. Barusan ada urusan dulu.”
“Nggak apa-apa. Gue juga belum lama.” Jawab Refan.
“Gue langsung aja yah nggak pake basa-basi.” Refan melempar sebuah USB ke arah Ridwan.
“Jangan ambil tawaran dari Pak Ardi. Sebagai imbalan gue kasih apa yang lo mau.” Lanjutnya. Mengetahui pertunangan Lea dan Ridwan dibatalkan, lelaki itu langsung putar otak mencari cara lain untuk menyingkirkan Ridwan dari perusahaan. Selama ada lelaki itu posisinya benar-benar tak aman, kemampuan bermain lelaki itu jauh di atasnya. Beruntung ia pernah tak sengaja memergoki Davin yang sedang bersusah payah mendapatkan CCTV hotel tempat dirinya dan Lea menginap. Seperti mendapat angin segar, dikesempatan berikutnya ia malah dengan sengaja merekam hubungan intim mereka tanpa sepengetahuan Lea.
Ridwan mengambil USB di depannya, “kenapa? Kalo gue ambil tawaran dari Om Ardi, lo nggak bakal masuk formasi yah?” ledeknya sambil tersenyum sinis.
“Jadi lo nggak mau terima tawaran gue?”
“Tergantung isi USB ini. Besok gue kabarin.” Ridwan berlalu pergi membawa USB pemberian Refan.
Di dalam mobil, Ridwan mengambil tab yang biasa ia gunakan untuk bekerja dan memasang USB yang ia bawa. Belum sampai lima detik Ridwan langsung menutup video itu, “bener-bener gila mereka!”
Jika dulu ia hanya bisa melihat secara langsung dengan lampu kamar hotel yang remang-remang dan hanya bisa mendengar suara menjijikan Lea, video yang ia peroleh dari Refan benar-benar berkualitas HD, dengan pencahayaan full dan gambar yang super jelas. Benar-benar bisa menambah bukti kebobrokan mantan tunangannya itu. “Tante Ria bisa langsung masuk ICU kalo liat video ini.” Batin Ridwan.