
“Ya ampun Zoya! lo ngapain duduk di situ?” Sisil, teman satu tim nya menghampiri. “Pantesan lama banget gue tunggu di ruangan kagak balik-balik lo.” Lanjutnya.
“Bangun! Sini gue bantu.” Sisil berusaha membangunkan Zoya. “Lo jatuh apa gimana sih? Ngambil cemilan kok malah lesehan disini!”
“Tamat udah pokoknya aku, Sil. Tamat udah tamat, end.” Gumam Zoya.
“Kenapa sih Zoy? Kesambet penunggu kantin apa gimana sih lo jadi ngawur gini.” Ledek Sisil. Rekannya itu tadi pamit ke kantin untuk membeli minuman dingin.
“Lebih parah dari penunggu kantin, Sil.” Jawab Zoya. Ia berulang kali menghela nafas Panjang guna berusaha menenangkan diri.
“Tau ah gue nggak paham, sekarang balik kandang ayo! Proposal buat acara minggu depan udah hampir selesai, lo tinggal cek lagi sama koreksi kalo ada yang kurang.” Ucap Sisil seraya menarik Zoya yang masih saja bengong.
Tiba di ruangan, Zoya menatap layar komputernya yang lumayan lebar. Matanya berusaha membaca uraian kalimat demi kalimat yang telah mereka susun bersama tapi pikirannya melanglang jauh, menerka-nerka nasibnya nanti.
“Zoy, gimana? Ih kok malah bengong sih!” Sisil mulai kesal.
“Zoya!”
“Ah iya iya. Sorry.” Zoya mengerjapkan matanya, berusaha kembali focus pada proposal mereka. Proposal kali ini adalah pekerjaan perdana mereka berdua. Empat orang baru bagian pemasaran masing-masing diberi tugas Menyusun proposal yang nantinya akan dibandingkan oleh ketua tim, yang terbaik akan mendapat proyek lebih dulu.
“Fokus dong, Zoy! Gilang sama Romi udah selesai ngerjain tugas mereka, malah udah mau survei lokasi buat referensi.”
“Iya-iya. Sorry lagi banyak pikiran. Gue minum dulu kali yah biar focus.” Jawab Zoya. Ia membuka air mineral dingin yang ia beli tadi, meskipun sekarang sudah tak dingin lagi gara-gara kelamaan lesehan di loby tadi.
“Zoya stop!” Sisil mengambil botol air mineral dari tangan Zoya dan memberikan air mineral miliknya, “biar focus lo minum a qua dulu, jangan le mi ne ra le!”
Ck! Ck! Zoya menggelengkan kepala namun tetap meminum air mineral dari rekannya. “yang penting minum lah.”
Susah payah Zoya berusaha focus hingga akhirnya mereka berdua bisa menyelesaikan tugas bertepatan dengan kembalinya ketua tim mereka.
“Mba Rika, kita udah selesai ngerjain proposalnya nih. Cek yah mba.” Sisil dengan penuh semangat menunjukan hasil kerja keras mereka.
“Iya, bawa sini. Biar mba lihat.” Jawab Rika. Ketua tim mereka memang sehumble itu, tak seperti ketua tim lain yang melulu harus dipanggil dengan sebutan formal, ketua tim pemasaran malah menjunjung tinggi kekeluargaan, menganggap semua yang ada di timnya adalah saudara dan tak mempermasalahkan panggilan. Baginya kenyamanan lingkungan kerja lebih utama, jika anak buahnya nyaman maka pekerjaan pun akan bisa diselesaikan dengan lebih efektif dan efisien. Namun meski begitu mba Rika tetap memiliki waktu-waktu tersendiri dimana dia menempatkan diri untuk serius ataupun santai.
Mba Rika memeriksa proposal Zoya dan Sisil dengan cukup detail, hingga beberapa kesalahan ketik pun bisa ia temui. “Over all bagus, kalian bisa lanjut.”
“Yes.” Seru Sisil senang.
“Zoya kenapa kelihatan tidak senang? Kesalahan kalian hanya sedikit sekali, mba bisa maklum kok.” Ucap Mba Rika.
“Iya kenapa sih Zoy?” tanya Sisil, “aneh banget tau mba, Zoya semenjak dari kantin tadi jadi sering diem gini, kayak orang linglung gitu.” Lanjutnya.
Mba Rika tertawa, “Oh… mungkin efek terpesona sama Pak Ridwan tadi.”
“Pak Ridwan? Lo ketemu Pak Ridwan, Zoy?” tanya Sisil. “gimana orangnya? Ganteng banget kah? Ya ampun kok bisa sih lo ketemu Pak Ridwan? Gue aja yang tadi pagi sampe ngumpet di deket lift khusus direktur sama anak-anak lain demi bisa liat wajah Pak Ridwan malah nggak ketemu sama sekali. Sampe siang dia nggak nongol, padahal katanya biasanya lewat sana.” Cerocos Sisil.
Zoya tak menjawab, ia malah merebahkan kepalanya ke meja, membentur-benturkan keningnya dengan pelan.
“Heh malah sawan ini anak. Zoy, jawab lah! Cakep banget kah?” tanya Sisil.
“Iya cakep banget, Sisil. Mba aja kalo belum nikah mau lah jadi istrinya.” Jawab Mba Rika.
“Ih… jadi penasaran pengen lihat, secakep apa sih?”
“Sabar. Tadi pak Darmawan bilang besok bakal ngenalin putranya secara resmi. Besok berangkat pagi, semua karyawan boleh ikut nyambut.” Jawab Mba Rika.
“Kalian bisa revisi yang udah mba kasih tanda tadi.” Lanjutnya.
“Oh iya Zoya, mba baru inget. Ketitipan pesan dari Pak Ridwan, suruh ngecek HP.” Ucapnya sebelum pergi.
Zoya langsung mencari ponselnya dengan buru-buru. Seisi meja ia geledah demi mencari beda pipih itu.
“Saku, Zoy!” Sisil menunjuk saku kemeja Zoya.
“Oh iya, lupa.” Jawabnya panik seraya membuka pesan. Terdapat beberapa pesan masuk dari patner kontrakannya, eh ralat bosnya mulai saat ini.
Lagi-lagi Zoya menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Ridwan meminta bertemu, seketika Zoya jadi gelisah campur takut.
“Lo kenapa sih, Zoy? Dikejar dept collector? Cerita sama gue.” Tanya Sisil.
Zoya melihat ke sekitar, sepi hanya ada mereka berdua yang lain sedang tugas luar sementara Mba Rika ada di ruangannya sendiri.
Sisil mengangguk, “iya inget. Kenapa? Dia ngilangin dagangan lo lagi?”
Zoya menggeleng, “bukan. Ini lebih parah.”
“Terus apa? Dia kabur bawa dagangan lo terus nggak setor?” tebak Sisil.
“Bukan, Sil. Patner kontrakan gue ternyata anaknya Pak Darmawan.”
“What?” Bola mata sisil membulat sempurna, “Kok bisa?”
Zoya mengacak rambutnya, “nggak tau, gue aja nggak ngerti. Gue aja baru tau tadi, kirain dia kesini nyusulin gue. Ternyata….” Belum selesai berucap Zoya mendadak diam seraya menatap pintu masuk ruangan mereka.
“Mas Ridwan…” ucapnya lirih.
“Allahuakbar… ganteng banget woy.” Sisil heboh sendiri melihatnya.
Ridwan berjalan santai ke arah Zoya. “Chat gue Cuma dibaca doang kagak di bales. Ayo makan, gue lapar.” Tanpa menunggu jawaban, Ridwan mengambil tas bekal di meja Zoya yang membawa gadis cerewet yang kini tak bisa berkata-kata itu ke luar ruangan. Sementara Sisil sibuk dengan ponselnya, menyebar luas gambar rupawan itu ke grup ciwi-ciwi.
“Lo ngapa mendadak jadi patung sih, Kinderzoy!” tanya Ridwan karena sedari tadi Zoya tak bicara.
“Ini Mas… aku tuh bingung juga mesti ngomong apa.” Jawab Zoya lirih.
“Lah dia bingung, biasanya juga full gas non stop lo.” Ejek Ridwan. Mereka kini duduk di lobi dan menghabiskan bekal yang Ridwan buat pagi tadi.
“Kan aku nggak tau kalo Mas Ridwan itu…” Zoya tak bisa berkata-kata.
“Kan gue udah bilang dari dulu. Dah lah nggak usah dibahas lagi, makan. Aaa!” Ridwan menyodorkan sendok hingga Zoya yang sungkan pun menerima suapannya.
Zoya bersusah payah mengunyah makanannya saat Gilang dan Romi menghampiri mereka. “Bagus yah sekarang udah berani nyusul ke perusahaan.” Ejek Gilang.
“Pake jas juga, maksudnya apa? Pengen kayak gue gitu kerja kantoran? Benalu yah benalu aja, bukannya jualan malah nyusulin kesini.” Lanjutnya.
Zoya yang mulutnya penuh hanya bisa memberi kode dengan kedipan-kedipan sambil menggelengkan kepala.
“Apa Zoy? Minum dulu.” Gilang menyodorkan air mineral.
“A Gilang nggak boleh kayak gitu. Minta maaf sekarang.” Ucap Zoya.
“Ngapain juga gue minta maaf sama benalu, nggak banget.” Jawab Gilang. “Makan ke kantin aja yuk sama gue, nggak usah makan masakan buatan dia.” Lanjutnya.
“Lo kalo mau ke kantin pergi aja sendiri, nggak usah bawa Zoya.” sela Ridwan.
“Orang luar nggak usah banyak bicara, mending lo pergi sekarang sebelum gue panggil satpam.” Usir Gilang.
“Eh Bu Kayla. Selamat siang Bu.” Sapa Gilang begitu melihat sekretaris direktur menghampiri mereka.
“Siang.” Jawab Kayla, ramah. Ia lantas berdiri di samping Ridwan, “Ikut cepetan ditungguin bokap lo!” serunya seranya menunjuk Papi Rama yang berdiri lumayan jauh dari mereka. Zoya, Gilang, dan Romi reflek mengikuti telunjuk Kayla.
“Gue duluan, sampe ketemu ntar.” Pamit Ridwan.
Sebelum berlalu ia menengok ke arah Gilang dengan tatapan mengejek, “lo mau pergi sendiri apa nunggu gue usir?”
Gilang melihat sosok benalu yang kini pergi dengan bos nya. “Zoy, si benalu?”
“Anaknya Pak Darmawan.” Jawab Zoya lirih.
“Wah!!” Romi yang tau cukup banyak soal sosok benalu yang selama ini sering dikeluhkan Gilang karena menganggu proses PDKT nya hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ini sih plot twist banget, Lang. Mending mundur alon-alon deh.” Sarannya seraya menepuk bahu Gilang. Sementara Gilang hanya bisa diam dengan kedua tangan mengepal kesal. Kok bisa seperti ini? Sosok yang selalu ia remehkan ternyata berbanding terbalik, kini ia tak ada apa-apanya jika dibandingan dengan Ridwan.
.
.
.
Vote nya gaes vote jangan lupa!