MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Diusir



“Om, kok dibiarin sih Ririd kayak gitu? Ketahuan tante Jesi bisa ngamuk nanti.”


“Jangan sampai tante Jesi tau. Kamu tutup mulut, pura-pura nggak tau aja.” Tegas Papi Rama. Bukan tanpa alasan ia mendukung apa yang dilakukan putranya, beberapa hari lalu ia sudah mendapat laporan dari anak buahnya terkait calon mantu yang hanya manis di depan mereka saja. Gadis seperti Lea benar-benar tak cocok untuk putranya.


Pulang dari kantor Om nya, Ridwan segera menuju kontrakan Zoya. Dia menemui Om Ardi untuk sekedar menyapa sekalian menjelaskan kemungkinan dirinya akan resign dari dunia game dan focus ke perusahaan papinya, tapi pria itu belum mengizinkannya berhenti. Menurut Ardi game adalah passion Ridwan, lagi pula perusahaannya belum siap kehilangan player yang mumpuni dalam membuat strategi seperti Ridwan.


“Ya udah Om nanti aku pikir-pikir lagi kalo gitu.” Ucapnya sebelum pamit.


Karena hari ini dia sudah ketahuan maka tak perlu repot-repot lagi ganti pakaian dan menitipkan mobilnya di parkiran indoapril. Baru membuka gerbang saja dia sudah disambut heboh oleh Bang Ahmad yang seperti biasa sedang ngadem di depan kontrakan dengan sarung andalannya.


“Mobil dapat minjem itu Bang. Sekarang kan gue dapat kerjaan baru, jadi supir. Kalo malem mobilnya boleh di bawa pulang.” Jelas Ridwan asal saat tetangganya itu kepo.


“Wah mantap. Bisa dong nanti kalo teh Ismi lahiran dianterin ke rumah sakit yah? Mana mobilnya bagus banget lagi.” Ucap Bang Ahmad, kagum.


“Bisa diatur Bang.” Jawab Ridwan, “gue masuk dulu yah, Bang. Ngantuk.” Pamitnya.


Ridwan tak mengetuk pintu, ia langsung membuka kunci dengan kunci cadangan miliknya yang sebelumnya diberikan Zoya.


“Mas Ridwan?” Zoya yang baru keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk berulang kali mengedipkan matanya, ia bahkan sampai mengucek matanya.


Ridwan yang sedang rebahan santai di kasur Zoya beranjak bangun dan berdiri di depan gadis itu. “Lo kenapa kedip-kedip gitu? Cacingan?”


“Lah beneran Mas Ridwan?” Zoya balas menatap, “Eh Pak Ridwan.” Ralatnya cepat begitu ingat jika Ridwan adalah anak bosnya.


“Apan sih Pak Pak Pak! Gue bukan bapak lo!”


“Kok ngapain? Ya gue pulang lah, mau tidur, kinderZoy!” sewot Ridwan yang tak suka di panggil dengan sebutan bapak.


“Gini Mas, Eh Pak Ridwan. Sekarang kan pak Ridwan sudah kembali ke kehidupan normal, sudah kerja juga, jadi dengan penuh rasa hormat silahkan bapak pulang ke rumah bapak saja.” Ucap Zoya pelan.


“Saya minta maaf selama ini sudah meminta bapak mengerjakan banyak hal. Benar-benar minta maaf banget, Pak. Tolong saya jangan di pecat yah, Pak.” Lanjutnya.


“Lo ngomong apaan sih! Udah tidur yuk, malem!” sela Ridwan.


“Iya, bapak. Saya akan tidur setelah bapak pulang.”


“Lo ngusir gue, Zoy?”


“Iya, Mas. Eh Bapak! Ah susah banget sih!” sudah ditahan-tahan supaya bersikap sesopan mungkin pada Ridwan nyatanya tak bisa.


“Mas Ridwan kan udah mulai kerja lagi, anak bos pula. Jadi sekarang Mas udah nggak perlu lagi tidur di kontrakan aku, dan soal utang yang HP jatuh nanti aku cicil. Syaratnya jangan sampe aku dipecat dari kantor yah, Mas. sejahat-jahatnya aku yang udah nyuruh Mas Ridwan ini itu, tapi inget lah kebaikan aku yang udah nampung Mas Ridwan, Eh Pak Ridwan selama ini.” Ucapnya seraya menarik Ridwan hingga keluar dan segera mengunci pintu.


Ridwan terus menggendor pintu kontrakan Zoya. “KinderZoy, buka! Gue mau tidur!”


“Kalo lo nggak buka pintu malah gue pecat lo besok!”


“Zoya!”


“Arrgh bener-bener dah!” Ridwan menendang pintu kontrakan Zoya kemudian duduk di depan pintu.