MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Biar cepet jadi



Zoya cemberut menatap pantulan wajahnya dalam cermin. Wajah polos itu kini mulai diolesi berbagai produk oleh wanita yang terus mengobrol dengan ibunya. Zoya tak peduli apa yang sedang mereka bahas, yang jelas ia masih kesal kenapa semua serba dadakan.


“Buka bibirnya dikit sayang, tante mau pakein lipstick ini.” Pinta Raya.


Zoya menghela nafas Panjang kemudian membuka bibirnya. Wajahnya benar-benar tak terlihat antusias di hari pernikahannya.


“Udah. Cantik banget mantunya Jesi.” Puji Raya. “Senyum dong cantik! Kamu beruntung banget bisa jadi menantu keluarga Jesi. Diluar sana banyak yang antri pengen jadi mantunya loh. Udah jangan cemberut terus. Tante tinggal dulu yah. Nanti kamu keluarnya kalo udah sah.” Ucapnya kemudian berpamitan pada Ibu Iis.


“Saya permisi dulu Bu.”


Tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibir Zoya. wajahnya begitu cantik dengan siger khas sunda dan aneka pernak perniknya. Kebaya putih modern yang ia kenakan juga membuatnya terlihat jauh lebih anggun dan mempesona. Ia bahkan tak pernah mengira jika dirinya bisa berubah jadi seperti ini.


Ibu Iis yang semula duduk di ranjang dan melihat putrinya selama dirias tadi beranjak menghampiri. Ia berdiri di belakang Zoya seraya menatap wajah keduanya di dalam cermin.


“Putri ibu cantik banget hari ini.” Pujinya. Kedua tangan bu Iis diletakan di bahu Zoya, memberikan tepukan-tepukan pelan disana.


“Hari ini kamu bakal jadi milik Ridwan, lepas dari tanggung jawab bapak sama ibu.”


“Bu…”


“Kenapa? Sedih yah udah mau nikah?” tebak Bu Iis.


“Dulu juga ibu gitu, rasanya bahagia campur sedih pas mau nikah. Disatu sisi seneng karena bisa menjadi satu dengan orang yang kita cintai. Tapi di sisi lain sedih karena bakal pisah dari orang tua.”


“Meskipun nanti kamu jadi tanggung jawab Nak Ridwan sepenuhnya, bukan berati Bapak sama Ibu nggak akan peduli lagi. Kamu tetep putri kesayangan Bapak sama Ibu.”


Zoya kian menghela nafas Panjang mendengarnya. Kenapa ibunya tak juga paham jika alasannya terdiam sejak tadi bukan karena merasa sedih ataupun terharu gara-gara mau nikah dan pisah dengan orang tua. Lagi pula pisah dengan orang tua bukan hal baru untuknya, sejak SMA saja dia sudah jadi anak kost. Kuliah juga ngontrak, jadi jauh dari orang tua bukan masalah.


“Bukan itu masalahnya, Bu!”


“Terus kenapa? Cerita sama ibu.” Jawab Bu Iis.


Zoya menghembuskan nafasnya kasar. Huft!


“Masalahnya ini pernikahan, Bu. Serius, sekali seumur hidup.” Kesal Zoya.


“Lah terus kenapa?”


“Ya kayak nggak ada sakral-sakralnya, Bu. Ini tuh hidup aku bu, masa depan aku. Nikah kok dadakan, kayak bercanda bu. Aku tuh bukan tahu bulat yang digoreng dadakan, lima ratusan, enak. Ini pernikahan loh bu, pernikahan.” Tegas Zoya.


“Emangnya yang kurang sakral dari pernikahan kamu apa sayang? Apa saat ini terlihat main-main?” Zoya tak bisa menjawab.


“Ibu sama Bapak juga tadi malem kaget pas temen calon suami kamu datang ke rumah tengah malam. Ibu sama Bapak sempat ngira maling loh.”


“Tapi mendengar permintaan tulus Ridwan, Ibu sama Bapak tidak bisa menolak. Niatnya begitu tulus langsung meminta izin sama Ibu dan Bapak.”


“Mau cari kemana lagi laki-laki seperti Ridwan? Apa kamu nggak belajar dari sepupu kamu yang bunuh diri loncat ke kali gara-gara ditinggal nikah pacarnya?” Zoya semakin terdiam mendengarnya.


Bu Iis beralih menggengam kedua tangan putrinya yang begitu dingin, “Kurang apalagi Ridwan, Neng?” tanya Bu Iis.


“Sopan, tanggung jawab, punya kerjaan, kaya juga. Sebenarnya kaya bukan patokan Ibu dan Bapak dalam mencari menantu, harta bisa dicari asal mau usaha. Tapi keberaniannya meminta langsung kepada Ibu dan Bapak untuk merestui hubungan kalian yang membuat Ibu sama Bapak ngasih nilai plus.”


“Tapi kalo emang kamu nggak mau pernikahan ini berlanjut kita bisa batalkan sekarang mumpung belum ijab Kabul.” Pungkas Ibu Iis.


Zoya menggeleng pelan.


“Terus kamu maunya gimana? Senyum kalo gitu, masa pengantin cemberut. Ntar disangka nikah paksa lagi.” Ledek Bu Iis.


Zoya kian mengerucutkan bibirnya, “Kesel bu. Tadi malem nggak bilang apa-apa loh, masa sekarang langsung nikah.”


Zoya membulatkan mata mendengarnya. Mendadak nikah saja sudah membuatnya shock, belum apa-apa ibunya sudah menuntut cucu. Sama sekali belum ada di list nya saat ini. Yang ada diotaknya sekarang hanya bagaimana caranya menjadi tim pemasaran yang diakui oleh perusahaan.


“Sayang, ayo turun! Kamu udah sah jadi mantu Mami.” Belum selesai Zoya dengan segala pikirannya tiba-tiba Mami Jesi masuk bersama seorang gadis yang super heboh.


“Ini istrinya Ririd, Mi?” tanya Sasa dengan hebohnya. Ia memang datang sedikit terlambat karena suaminya muntah-muntah pagi tadi. Maklum lah dirinya kini sedang mengandung anak kedua mereka.


“Cantik bener istrinya Ririd. Kenalin, Sasa.” Sasa mengulurkan tangannya.


“Zoya.” balas Zoya menerima uluran tangan Sasa.


“Adik iparnya Kara. Dulu satu sekolah sama Ridwan.” Jelas Mami Jesi dan Zoya hanya mengangguk paham.


“Yuk ke bawah, laki lo udah nggak sabaran. Kalo kita kelamaan bisa-bisa dia yang nyusulin kesini.” Sasa langsung menarik tangan Zoya dan menuntunnya untuk turun.


Selama Zoya dan Sasa menapaki satu persatu anak tangga tatapan Ridwan sama sekali tak lepas dari wajah Zoya. Lelaki itu terus tersenyum menatapnya hingga membuat Zoya malu sendiri.


“Cantik banget bidadarinya Mas.” ucap Ridwan lirih begitu Zoya duduk di sampingnya.


Sasa yang masih bisa mendengar kalimat itu mendadak ingin muntah. “gombalan kang main game nggak banget. Nggak mutu, kayak bapak-bapak.” Ejek Sasa. Ridwan hanya membalasnya dengan tatapan kesal.


“Jangan didengerin, syirik si Micin tuh.” Bisik Ridwan pada Zoya.


“Micin?” konyolnya Zoya malah balas berbisik pada Ridwan.


“Sasa. Penyedap masakan, micin.” Ridwan kembali berbisik.


“Bisik-bisiknya dilanjut nanti saja. Ini dokumennya ditanda tangani dulu, saya masih harus menikahkan mempelai yang lain.” Sela penghulu.


“Siap, Pak.” Jawab Ridwan. Ia dan Zoya dengan cepat menandatangani dokumen yang diperlukan.


Papi Rama dan Mami Jesi mengantar penghulu hingga halaman rumah mereka. Acara ijab Kabul tadi terbilang sangat lancar, karena Ridwan bisa mengucapkan ijab kabulnya hanya dalam satu kali percobaan. Benar-benar tak sia-sia dirinya bergadang semalaman untuk menghafalnya.


“Berhubung sekarang Ridwan dan Zoya udah resmi jadi suami istri kita makan-makan dulu bareng abis itu foto-foto. Mami mau foto keluarga yang banyak.” Ucap Mami Jesi.


“Iya-iya Jeli juga mau foto sama kakak botol. Hari ini kakak botol cantik banget.” Seru Raizel.


“Iya, nanti sayang. Sekarang makan dulu yah.” Jawab Mami Jesi.


Raizel yang sejak tadi berada di dekat Zoya mengangguk patuh. “nanti foto sama Jeli yah kakak botol.” Ucapnya sebelum pergi menghampiri sang mama.


“Ridwan sama Zoya duduk disitu aja biar Mami ambilin makanannya.” Ucap Mami Jesi.


“Nggak usah, Mi. Biar aku ambil sendiri.” Jawab Zoya seraya berdiri dari duduknya.


Ridwan juga ikut berdiri dan merangkul istrinya, “Mami nggak usah repot-repot. Kita mau langsung ke kamar aja.” Ucapnya seraya mengangkat Zoya dalam gendongannya.


“Mas!” Teriak Zoya karena kaget.


“Kenapa sayang? Udah nggak sabar yah? Tenang Mas bakal langsung sat set.” Ucap Ridwan sambil tersenyum. Zoya reflek menutup wajahnya karena malu.


“Ridwan! Jangan gila kamu! Ini masih pagi.” Teriak Mami Jesi.


“Nggak apa-apa, Mi. Biar cepet jadi!” jawabnya seraya membawa Zoya ke kamar.


“Ridwan!” teriak Mami Jesi lagi.


“Pi, Mami bisa stress ini. Kenapa anak kita nggak sabaran banget sih!” gerutu Mami Jesi.