MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
ICU



Melihat ibunya tak sadarkan diri, Lea yang panik langsung meminta tolong pada petugas dan membawa sang ibu ke rumah sakit. Masa bodoh dengan jadwal aborsi yang tinggal menghitung menit. Ia juga tak berfikir kenapa ibunya sampai bisa datang ke klinik illegal itu. Yang ada di otaknya saat ini adalah secepatnya sampai rumah sakit supaya ibunya mendapat pertolongan. Ia tau betul penyakit sang ibu, akan sangat berbahaya jika tak langsung ditangani.


Sampai rumah sakit dirinya langsung menuju IGD. Pihak rumah sakit begitu sigap menangani Ria. Banyak alat Kesehatan menempel di tubuh wanita tua itu. Setelah penangan awal selesai, Lea dipanggil pihak administasi untuk melengkapi data-data serta penjelasan hasil pemeriksaan sang ibu. Ia tak lupa memberitahu Riwayat penyakit ibunya pada dokter.


Saat dokter menanyakan kronologi Lea tak bisa menjawab banyak. Ia hanya menjelaskan ibunya datang dan tiba-tiba tak sadarkan diri. Dokter memperkirakan sang ibu shock hingga mengakibatkan tak sadarkan diri. Untuk memastikan diagnosis lebih lanjut Ria akan menjalani pemeriksaan lainnya.


Lea terduduk sendiri di ruang observasi IGD sambil memegang tangan ibunya yang tak sadarkan diri. “Ibu…” ucapnya lirih seraya menghela nafas panjang. Ia kian menghela nafas panjang saat berusaha menghubungi ayahnya tapi tak terhubung.


“Ayah pasti sibuk banget.” Lea kembali memasukan ponselnya ke saku. Ia hampir lupa jika sang ayah sedang perjalanan bisnis ke luar kota sejak dua hari lalu.


“Ibu pasti nggak apa-apa.” Lea mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Saat dokter datang Lea mendengarkan penjelasan yang diberikan secara seksama. Ia cukup lega karena hasil pemeriksaan baik saraf maupun jantung sang ibu semua hasilnya normal. Ia disarankan untuk tak membebani banyak pikiran dan menghindari hal-hal yang dapat memacu shock, karena meskipun hasilnya cukup baik tapi tensi darahnya cukup tinggi, akan berbahaya jika pasien mengalami shock dengan tekanan darah tinggi.


“Baik, Dok. Terimakasih.” Ucap Lea.


Berhubung sanak saudaranya tak ada yang satu kota dengannya, Lea menunggui ibunya seorang diri. Ia juga sudah memberi kabar pada sang ayah meskipun belum dibaca, tapi tak masalah yang penting kondisi ibunya stabil.


“Duit aja terus!” Lea menggerutu begitu membaca chat masuk dari Refan.


“Nemenin aborsi nggak mau tapi minta duit terus. Lo kira gue ATM pribadi lo apa!” Lea membalas pesan Refan dengan kasar. Merasa sangat dipermainkan selama ini, ia langsung memblokir kontak Refan.


“Gue udah nggak mau punya urusan sama lo lagi. Besok gue beresin semuanya, setelah aborsi selesai maka hidup gue bakal balik kayak dulu lagi.” Batin Lea. Ia lantas menghubungi pihak klinik aborsi dan meminta jadwal ulang.


“Lea…” panggilan dari ibunya membuat Lea segera menyimpan ponselnya.


“Ibu udah sadar? Aku panggil dokter yah.” Saat Lea hendak beranjak, Ria menahan tangan tangan putrinya.


“Sebentar, Bu.”


“Disini aja. Ibu udah enakan kok.” Ria mengubah posisinya menjadi duduk.


“Aku bantuin.” Lea mengatur posisi tempat tidur supaya nyaman untuk duduk. “Ibu minum dulu.” Setelahnya ia memberikan air mineral.


“Makasih, sayang.”


“Sama-sama, Bu.” Jawab Lea seraya mengembalikan gelas ke meja di samping ranjang. “Ibu ngapain tadi di klinik?” lanjutnya.


“Harusnya ibu yang nanya, kamu ngapain ada di klinik?”


“Itu, aku…” sebelum melanjutkan Lea mencoba mencari alasan yang masuk akal.


“Itu klinik aborsi illegal, sayang. Kenapa putri kesayangan ibu bisa ada di tempat seperti itu?” wajah Ria berubah sedih.


“Aku… aku nganter temen bu.” Jawab Lea.


Ria menghembuskan nafasnya lega. “Udah ibu duga. Nggak mungkin kalo anak ibu yang mau aborsi. Tapi ibu kaget banget lihat kamu disana. Pikiran ibu langsung kemana-mana, ditambah dari pagi tadi ada yang neror ibu, katanya kamu nggak sepolos yang ibu kira. Katanya ibu nggak kenal anak sendiri dengan baik.”


“Orang iseng bu, nggak usah dianggap. Tapi kok ibu bisa sampe klinik?”


“Ibu janjian sama tetangga kita yang mau gugurin kandungan gara-gara kebobolan tapi nggak mau punya anak lagi. Huh, untung aja dia belum datang. Kalo tetangga kita lihat kamu disana bisa ambyar.”


“Ya ampun ibu! Lain kali ibu nggak usah datang ke tempat kayak gitu, bahaya.” Ucap Lea. Dalam hati ia langsung memikirkan tempat aborsi lain karena disana sudah tak aman.


“Iya, sayang. Kita pulang sekarang yah. Ibu nggak betah lama-lama di rumah sakit.” Jawab Ria.


“Ibu tunggu dulu disini, aku panggil dokter. Supaya ibu diperiksa dulu sebelum pulang.” Ria mengangguk setuju. Bertepatan dengan kepergian Lea suaminya menelpon.


“Tumben ayah video call?” Ucapnya seraya menggeser ikon hijau.


“Iya, aku di rumah sakit.” Jawab Ria. Wajah suaminya terlihat begitu khawatir.


“Lea? Dia nggak bikin masalah apa pun. Tapi Cuma pingsan biasa terus dibawa kesini.” Jelas Ria. Ia tak tau kenapa wajah suaminya begitu tegang. Antara khawatir campur emosi, tapi saat ia tanya kenapa lelaki itu tak menjawab. Dia hanya bilang akan membahasnya ketika pulang nanti.


“Aneh banget.” Ucap Ria lirih setelah mengakhiri panggilan.


Ria beranjak turun dari ranjang dan mulai merapikan penampilannya. Belum sempat mengikat rambut, satu pesan dari Ridwan terlihat di layar ponsel.


“Ridwan? Ada apa yah tumbenan banget.” Heran Ria. Mantan calon suami anaknya itu baru kali ini mengiriminya pesan. Sejak masih jadi calon mantu saja tak pernah mengirim pesan sama sekali.


Ria membuka pesan dari Ridwan. Sebuah video dengan durasi lumayan panjang. Ria mengerjapkan matanya berulang kali, ia bahkan menguceknya untuk memastikan tak salah melihat. Bibirnya gemetar, matanya berkaca-kaca, tubuhnya terasa kehilangan tenaga. Ponsel digenggamannya terjatuh disusul dengan tubuhnya yang ikut ambruk.


“Ibu!” Lea yang datang bersama dokter langsung panik melihat ibunya tak sadarkan diri.


“Ibu! Ya ampun kenapa bisa begini? Tadi ibu saya baik-baik saja, Dok.”


Dokter langsung melakukan pemeriksaan. “Kita SC scan dulu. Detak jantungan lemah, karena jatuh takutnya ada benturan yang mengakibatkan luka dalam.”


“Iya, Dok.” Lea mengambil tas dan ponsel ibunya.


Lea termenung sendiri di depan ruang ICU. Ia tak habis pikir kenapa keadaan ibunya tiba-tiba memburuk. Karena ada panggilan masuk dari ponsel ibunya, Lea mengangkatnya tenyata sang ayah. Tak banyak bicara, ayahnya hanya bilang akan segera pulang besok. Sebelum memasukan kembali ponsel ibunya, Lea membuka WA. Ia kepo juga siapa yang meneror ibunya.


“Ridwan? Breng sek!” Lea hanya membuka satu chat teratas dari Ridwan. Satu chat yang berisi video panasnya bersama Refan.


“Si a lan! Gue udah nggak pernah ganggu hidup lo tapi lo malah cari masalah.” Lea mengepalkan tangannya kesal.


“Lo udah bikin orang yang gue sayang masuk rumah sakit, jadi tunggu aja balasannya. Gue bakal balas lebih dari ini. Bukan cuma masukin orang yang lo sayang ke rumah sakit tapi bakal gue buat dia menderita bahkan gila karena kehilangan anaknya!”