
“Zoy, beneran si benalu itu anaknya Pak Darmawan?” Gilang masih tak bisa mempercayainya.
“Mas Ridwan, A. Eh Pak Ridwan maksud aku.” Ralat Zoya. Dirinya juga belum bisa menerima kebenaran tersebut, terlalu mendadak untuknya yang sama sekali tak pernah terpikirkan jika semua yang dikatakan Ridwan pada dirinya selama ini benar adanya, padahal baginya hanya candaan semata.
“Iya lah maksud gue itu.” Timpal Gilang.
“Ya pokoknya gitu lah, A. Aku aja baru tau tadi, mana aku usir-usir suruh pulang juga, kirain dia kesini nyusulin aku.” Zoya menghela nafas Panjang. “Mending kita siap-siap minta maaf sama Mas Ridwan, eh pak Ridwan. Mana salah aku banyak banget lagi, A. Nyuruh jualan, masak, beres-beres rumah.” Zoya mulai mengabsen semua pekerjaan yang ia limpahkan pada Ridwan.
“Apalagi A Gilang tuh suka ngatain Mas Ridwan benalu.” Sindirnya tapi ternyata Gilang sudah pergi dari tadi, sejak dirinya mulai sibuk sendiri mengabsen semua pekerjaan.
Gilang menemui kakaknya yang sedang bekerja di ruangan. Ia segera masuk tanpa mengetuk pintu. Kakaknya menatapnya dengan sengit. “Gilang, berapa kali Kakak mesti bilang kalo masuk ruangan harus ketuk pintu. Meskipun ini ruangan kakak kamu sendiri tapi etika nomor satu, bagaimana kalo jadinya kamu kebiasaan masuk ruangan orang tanpa ketuk pintu?”
“Iya, Kak. Maaf, aku buru-buru barusan.”
“Lain kali jangan diulangi. Ingat you make habbit, habbit make you. Jadi lakukan hal-hal yang baik supaya jadi kebiasaan!”
“Iya, kak. Aku kan udah minta maaf.” Jawab Gilang. “Aku butuh penjelasan nih kak. Barusan di lobi aku ketemu temen Zoya dan dia ngaku-ngaku anaknya Pak Darmawan. Tadi disamperin sama sekretaris pak Darmawan juga sih, tapi aku masih belum yakin. Beneran anaknya apa Cuma saudara gitu?” lanjutnya.
“Pak Ridwan?” mendengar namanya saja sudah membuat Gilang lesu.
“Emang anaknya pak Darmawan kok, yang tempo hari kakak ceritain. Udah satu minggu kerja, besok baru mau dikenalin secara resmi, tapi kayaknya nggak perlu perkenalan lagi soalnya Sisil udah bikin heboh duluan.
“Kenapa jadi lesu gitu?” tanya Rika.
“Nggak apa-apa, Kak.”
“Kalo gitu kembali ke tempat kamu. Ini masih jam kerja harus professional.”
“Iya, Kak.” Jawabnya dengan langkah lunglai meninggalkan ruangan.
Gilang meninggalkan ruangan kakaknya dan kembali ke kubikelnya. Dirinya dan Zoya hari itu sama-sama tak focus bekerja. Gilang dengan ketakutannya sendiri gara-gara sering menghina Ridwan dan Zoya dengan sejuta kekhawatiran akan nasibnya karena sering menyuruh-nyuruh anak bos tanpa kenal lelah.
Sementara itu orang yang membuat mereka ketar ketir justru sedang duduk santai bersama ayah serta saudara sepupu yang menjabat sebagai sekretaris direktur, Mikayla. Mereka baru saja selesai menjamu patner bisnis yang kebetulan singgah di kota kembang.
“Abis ini udah nggak ada acara penting lagi Om. Jadwal Om udah free, paling tinggal tanda tangan berkas masuk aja.” Kayla memeriksa jadwal atasannya.
“Kalo jadwal gue gimana, Mikay?” tanya Ridwan.
“Suka-suka gue lah, Mikay. Lo aja manggil gue nggak sopan, panggil kakak dong! Inget yah Om lo tuh nikah sama adeknya papi gue.”
“Males banget dah, lo sama gue aja tuaan gue.” Ketus Mikayla. Saat tak ada klien mereka memang layaknya keluarga, begitu santai.
“Sudah-sudah jangan ribut.” Lerai Papi Rama, semenjak Ridwan masuk kerja hidupnya di kantor jadi tak tenang. Putra dan keponakannya itu selalu ribut.
“Ridwan, papi butuh penjelasan! Perempuan yang di lobi tadi siapa?”
“Zoya.” jawabnya singkat.
“Papi nggak nanya namanya, Rid. Tanpa kamu kasih tau juga papi tau kalo dia Zoya dari tim marketing. Pas wawancara jawabannya lumayan membekas, sales yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk perusahaan.” Jelas Papi Rama. “yang papi tanyain hubungan kamu sama dia!”
“Calon mantu Papi.” Jawab Ridwan enteng. “gimana menurut papi?” lanjutnya.
Mikayla yang sedang minum reflek menyemburkan jus jeruknya, “gebleg lo yah, Rid! Si Lea mau dikemanain?"
"Om, nggak bener nih anaknya. Nakal.” Lanjutnya pada Papi Rama.
“Gue kagak nakal, si Lea tuh yang nakal. Pokoknya lo nggak boleh ember yah, Mikay! Awas aja kalo sampe mami tau!” ancam Ridwan. “Papi juga pasti setuju kan kalo aku sama Zoya? dia bukan orang kaya Pi, tapi hatinya kaya raya.”
“Om… kok Om Rama diem aja sih. Anaknya selingkuh itu, Om.” Ucap Mikayla.
“Papi no comment, yang jelas nggak boleh hubungan sama dua perempuan sekaligus. Kalo kamu mau cari calon istri sendiri silahkan, itu hak kamu. Tapi akhiri dulu hubungan kamu dengan Lea.” ucap Papi Rama.
“Siap, Pi. Aku duluan kalo gitu, mau ke kantor Om Ardi dulu.” Pamit Ridwan.
Mikayla melongo, baru kali ini ia melihat atasan sekaligus Om nya mendukung hal tercela. Bagi Mikayla Ridwan sedang selingkuh dari tunangannya, eh bisa-bisanya malah didukung oleh sang papi.
.
.
.
aku double up... like sama komen dulu sebelum lanut gaes!