MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Manfaat



“Alhamdulillah laris manis.” Zoya mengipaskan lima lembar uang kertas berwarna merah yang baru saja diterimanya dari dua perempuan yang membeli tumbler. Senyumnya merekah senang tak peduli Ridwan yang harus menuruti permintaan konsumen untuk berfoto.


Mendapati hal itu Zoya kian semangat menjadikannya sebagai kesempatan. “Yuk loveware nya kakak-kakak, bunda-bunda, bonus foto mas ganteng mana jomblo pula siapa tau jodoh.” Teriaknya.


“Loveware nya! Loveware nya mari…”


“Beneran Mas nya jomblo, Kak? Kirain suami kakak gitu.” Tanya gadis yang baru saja mampir.


“Bukan, Mba. Saudara saya ini, jomblo loh.” Jawab Zoya yang mendapat tatapan kesal dari Ridwan.


“Wah kenalan boleh dong?”


“Boleh banget, Mba. Tapi harus beli dulu.” Zoya semakin sumringah, penjualannya naik pesat. Biasanya jualan di taman seperti ini hanya laku paling banyak lima buah hari ini daganganya disapu bersih. yang biasanya hanya dibeli oleh kalangan ibu-ibu, hari ini banyak dibeli oleh cewek-cewek yang bisa Zoya pastikan hanya tertarik pada Ridwan, bukan produk yang ia jual. Tapi bodo amat lah yang penting laku banyak.


Zoya membeli es jeruk lima ribuan di pinggir tempatnya menggelar dagangan dan memberikannya pada Ridwan. “Minumnya Mas. Hari ini laris banget alhamdulillah.”


“Laris manis tapi gue cuma dibeliin es gocengan gini.” Meski protes Ridwan tetap menandaskan es jeruk miliknya. “Minimal starbuckk lah.” Lanjutnya.


“Oh Mas Ridwan mau kopi yang mahal itu?” tanya Zoya sambil menahan senyum. “Bisa diatur, tapi ikut aku dulu narik setoran kredit loveware. Aku tuh kan hari ada jadwal narik kredit, jadi banyak aku tuh ngreditin barang.” Lanjutnya menjelaskan panjang lebar. Otak Zoya otomatis manjadi kalkulator, membayangkan para ibu-ibu pasti makin semangat menambah kreditan darinya jika tau mulai sekarang ia datang bersama Ridwan. Dipikir-pikir selain sisi apes ternyata kedatangan Ridwan juga membawa berkah.


Alih-alih focus pada ocehan Zoya, Ridwan malah terpaku pada bibir mungil tebal berbentuk love yang sedang cuap-cuap, terlihat menggemaskan.


“Gimana Mas? Nggak keberatan kan?” tanya Zoya.


“Hm iya.” Jawabnya asal kemudian menghabiskan sisa es jeruknya untuk mengembalikan focus. Bisa-bisanya dirinya berlama-lama melihat bibir polos Zoya sementara bibir Lea yang selalu mengenakan lipstik saja tak menarik di matanya.


“Oke sip deh, kalo gitu sekarang kita pulang dulu. Ambil strok barang buat dibawa nanti, lumayan kan sambil narik kredit sambil prospek lagi.” Ucapnya sambil menaik turunkan alis.


“Terserah lo deh yang penting gue beliin baju dulu. Gila dari kemaren kagak ganti baju ini, untung parfum gue mahal jadi tetep wangi.” Gerutu Ridwan.


“Kalem, Mas. Soal baju ntar aku beliin di tok tok shop deh, sama celananya juga. Banyak kok yang promo-promo seratus ribu tiga, bahkan ada yang seratus ribu dapat enam.” Jawab Zoya. “Tapi kagak tau kualitasnya kayak gimana kalo baju cowok soalnya belum pernah beli sih.” Lanjutnya sambil tersenyum.


“Kelamaan beli online lah, sini aja!” Ridwan menarik Zoya masuk ke toko pakaian.


Tak perlu lama, Ridwan langsung sat set mengambil beberapa pakaian dan aneka kebutuhannya. “Dua juta, Zoy.” Ucapnya enteng begitu belanjaannya selesai dihitung oleh kasir.


“Kinderjoyy!” Ridwan menyikut Zoya yang tak kunjung mengeluarkan uang. “Ntar tinggal potong utang. Buruan bayar tadi kan lo dapat duit banyak tuh, itu juga kan hasil kerja keras gue.” Lanjutnya.


“Tapi kan nggak sebanyak ini juga Mas! Bisa bangkrut aku.” Zoya cemberut. “Ambil satu setel aja Kak, yang lain cancel. Bisa kan?” tanya Zoya pada kasir.


Ridwan menggelengkan kepala pada kasir, orang itu super peka dan langsung menjawab jika barang yang sudah masuk struk tak bisa di cancel lagi. Dengan terpaksa Zoya membayarnya dan langsung mencatat di memo ponsel supaya tak lupa. “Aku catat nih.” Ketusnya pada Ridwan yang menenteng belanjaannya.


“Makan siang seratus lima puluh ribu!”


“Mahal amat.” Cibir Ridwan seraya menerima piring berisi lauk oseng pokcoy sisa pagi tadi ditambah tempe goreng. “tapi potong aja deh nggak apa-apa.” imbuhnya.


“Ya soalnya kan makan siang Mas Ridwan nggak bantu nyiapin!”


“Ya terserah lo aja. Abis ini gue mau tidur siang dulu dua jam, jangan diganggu!” ucap Ridwan disela-sela makannya.


“Enak aja abis makan mau tidur. Abis makan kita otw narik kredit tadi kan Mas Ridwan udah setuju!”


“Nggak bisa! Gue harus tidur siang.” Tegas Ridwan. Dirinya memang harus tidur setidaknya dua jam setiap siang guna mengganti jam tidur malamnya yang biasa ia gunakan untuk main game. Meskipun semalam ia tak main game karena laptop Zoya tak mendukung tapi dirinya tetap tak tidur sampai menjelang subuh meski hanya gulang guling di karpet hingga akhirnya ketiduran dan memeluk gadis itu.


“Pokoknya Mas harus ikut! Bisa-bisanya udah ngabisin uang dua juta terus mau santai-santai tidur siang sedangkan aku harus banting tulang!”


“Mas Ridwan kira ehm-“ Zoya melotot kesal karena mulutnya dibungkam saat sedang bicara.


“Iya, gue ikut. Puas lo!”


“Nah gitu dong.” Zoya tersenyum senang dan segera mengemasi barang dagangan yang akan ia bawa.


Seperti yang diharapkan, Ridwan benar-benar membuat dagangan Zoya disapu bersih ibu-ibu komplek. Padahal lelaki itu tak berbuat apa-apa, hanya diam dan terkesan masa bodoh tapi anehnya ibu-ibu justru rebutan ingin menjadikannya menantu. Tapi kalo dilihat-lihat penghuni baru kontrakannya memang begitu tampan.


“Apa liat-liat! Cape gue digerumut emak-emak mulu.” ketus Ridwan.


“Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma lagi mikir gimana kalo besok Mas Ridwan ikut ke kampus deh, kali aja temen-temen aku pada ngeborong kayak emak-emak tadi.” Ucap Zoya dengan senyum semanis mungkin berharap Ridwan menuruti kemauannya.


“Heh! Sekali diturutin makin ningkah lo yah! Nggak mau gue.” tolak Ridwan.


“Lama-lama berasa dimanfaatin deh gue.” Lanjutnya.


“Ya nggak apa-apa lah Mas dimanfaatin juga. Emang Mas Ridwan nggak pernah denger apa? Kalo sebaik-baiknya orang adalah yang bermafaat bagi orang lain.” Ucap Zoya.


“Mas Ridwan juga manfaatin aku kan supaya dapat tempat tinggal? So nggak ada salahnya aku juga manfaatin Mas Ridwan supaya jualan aku makin laris. Toh kalo jualan aku laris yang untung Mas Ridwan juga kan? Utangnya jadi cepet lunas loh.” Jelasnya Panjang lebar.


“Iya lunas tapi dari hasil kerja gue.”


“Tapi kan yang penting lunas Mas.” Zoya tak mau kalah. “Pokoknya besok ikut ke kampus!”


Ridwan menghela nafas Panjang, gadis yang kini sedang berjalan di sampingnya ini benar-benar seperti kakak dan mami nya, berisik. “Ya terserah lo aja deh.” Pungkas Ridwan tak mau ambil pusing, urusan besok bagaimana besok saja hari ini ia sudah cukup lelah jadi kuli nya Zoya seharian.