
“Lengkara Ayudhia, I always loving you from the past until now.” Satu kalimat yang berhasil membuat heboh satu sekolah siang tadi terus berputar di kepala Deeva. Bagaimana tak heboh jika ketua OSIS super tampan dan pintar idaman semua kaum hawa yang biasa bersikap cuek dan seperlunya itu tak ada angin apalagi hujan tiba-tiba menyatakan perasaan di depan umum. Sementara dirinya yang sejak awal masuk sudah mati-matian berusaha malah tak mendapat respon sedikit pun ternyata hanya dianggap sebagai teman.
Deeva mengangkat tangannya di tengah-tengah pelajaran hingga guru matematika di depan sana melihat ke arahnya. “Iya, Deva. Ada yang mau kamu tanyakan?”
“Tidak, Bu. Saya mau izin pulang duluan, boleh? Kepala saya pusing.” Tanya Deeva. Dia memijit pelipisnya guna meyakinkan jika kondisinya saat ini sedang tak baik-baik saja.
“Boleh yah, Bu? Sejak istirahat kedua tadi Deeva kleyengan terus. Biar saya bantu anterin dia pulang.” Sambung Elisa, teman sebangku Deeva.
“Iya, boleh. Minta surat izin keluar dulu ke guru piket. Setelah itu kalian boleh pulang lebih lebih awal.” Jawab guru.
“Siap, Bu.” Gerak cepat Elisa langsung pergi menemui guru piket dan meminta surat izin. Setelah kembali dengan dua lembar surat izin untuk dirinya dan Deeva, mereka lantas berpamitan dan meninggalkan kelas.
Berjalan seperti tak menginjak bumi, badan terasa tak bertenaga, bahkan untuk bernafas pun rasanya sangat berat. Deeva berulang kali menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Jalan dari kelas menuju parkiran pun terasa sangat lama dan melelahkan. Semua yang ia lakukan selama ini ternyata mentah. Mulai dari ikut aneka esktrakulikuler, aktif dalam kegiatan OSIS sampai jadi komite disiplin siswa hingga dia harus berangkat lebih awal tiap hari, semuanya sia-sia.
“Kita nggak lagi Latihan yoga, Deev! Dari tadi lo tarik nafas buang nafas, tarik nafas buang nafas. Gitu aja terus sampe gue ikutan cape liatnya.” Ucap Elisa.
Tak menjawab, Deeva hanya kembali menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
Elisa jadi ikut-ikutan menghela nafas panjang, “nyerah gue kalo kayak gini caranya. Cowok nggak Cuma Dirga, Deev! Masih banyak yang lain.”
Lagi-lagi hanya helaan nafas panjang yang Elisa dapatkan, sahabatnya benar-benar mendadak bisu sejak kejadian di kantin tadi. Yang bisa ia lakukan saat ini nampaknya hanya diam dan mengikuti kemana pun Deeva pergi.
Ani menyusul Deeva ke kamarnya. Sejak datang tadi ia merasa jika ada yang tak beres dengan putri tunggalnya. Ani menghampiri Deeva yang tidur tengkurap dengan kepala yang ditutupi bantal.
Duduk di tepi ranjang, Ani mengelus pelan punggung putrinya seraya berusaha menarik bantal yang menutupi kepala Deeva. “Gimana sekolahnya hari ini? Menyenangkan? Cerita sama Mama.”
“Udah kelas sebelas, bentar lagi penilaian akhir tahun. Kalo ada apa-apa cerita sama Mama. Mama nggak mau gara-gara punya masalah kamu jadi nggak focus belajar buat ujian nanti.” Bujuk Ani.
“Nggak usah so perhatian, biasanya juga Mama nggak peduli.” Ketus Deeva. Selama ini ia sudah seperti hidup sebatang kara. Serumah dengan ibunya tapi sangat jarang bertemu dengan sosok yang melahirkannya itu. Semenjak suaminya meninggal, Ani mengambil alih perusahaan dan mulai sibuk dengan dunia kerja.
“Deeva, kamu tau sendiri Mama sibuk demi siapa hm? Demi masa depan kamu!” ucap Ani. “Mama tau kamu pasti kesel sama Mama karena Mama sering nggak punya waktu buat kamu. Tapi siapa yang pengen? Kalo bisa Mama juga pengen seperti ibu-ibu yang lain, setiap hari di rumah. Masak, jalan-jalan, nganterin anak sekolah, kumpul-kumpul arisan. Punya banyak waktu buat anak. Tapi kamu tau sendiri Mama nggak bisa kayak gitu.” Ani mencoba memberi pengertian pada putrinya. Usaha kue yang dulu hampir bangkrut saat suaminya meninggal kini tumbuh pesat dibawah kepemimpinannya hingga menyita waktunya.
Membalikkan badan, Deeva langsung bangun dan memeluk ibunya. Suaranya terisak dengan pipi basah oleh air mata. Ia cukup dewasa untuk memahami keadaan ibunya. Bersikap kasar seperti tadi bukan karena ia benci pada sang ibu yang tak punya waktu untuknya, saat ini ia hanya butuh pelampiasan kekesalan akibat cintanya kandas.
cus meluncur kisah sabun batangan di DESTINED FOR YOU
terus buat give away my lovely boss. no 1 sampe 5 silahkan follow terus chat aku. ada sedikit hadiah. aku tunggu sampe hari jum'at besok yah.