MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Dibatalkan



“Kesayangan Om lagi apa?” Ridwan yang baru saja pulang langsung mencium gemas kedua ponakannya. Raizel tentu langsung nemplok dan balas mencium seluruh wajah Om Malaikat kesayangannya, berbeda dengan Razia yang acuh dan terus menulis pada kartu undangan.


“Ini Om, Jeli lagi bikin undangan. Dibantuin sama Kak Razia.” Raizel mengambil satu kartu undangan lucu berwarna pink dan memamerkannya pada Ridwan.


“Hari senin kan Jeli ulang tahun, kata mama suruh belajar nulis undangan sendiri. Karena Jeli nulisnya masih lama jadinya minta tolong Kak Razia.”


“Kakak, tolong buatin satu buat Om Ririd. Mau Jeli kasih sekarang.”


“Om Ridwan nggak usah pake undangan, Dek. Pasti datang, iya kan Om?” balas Razia.


“Iya, Om pasti datang dong.” Balas Ridwan. “Jeli mau hadiah apa hm?”


“Hm apa yah, Om?” gadis kecil yang kini masih berada di pelukan Ridwan tampak berfikir.


“Jeli nggak mau hadiah apa-apa ah takut ngerepotin Om Ririd. Tapi kalo di kasih crayon sama boneka yang besar Jeli mau.” Lanjutnya.


“Dasar anak Santen! Nggak mau ngerepotin tapi hadiahnya pake request.” Cibir Ridwan dalam hati.


“Yang warna pink yah, Om.” Gadis di pelukannya kembali berceloteh.


“Iya, nanti Om beliin dua.” Balas Ridwan. Suasana hatinya sedang happy, ia terus menggusak gemas rambut Raizel hingga sang mama protes.


“Udah gue dandanin malah lo ancurin.” Gerutu Kara yang baru bergabung setelah kembali dari dapur bersama mami Jesi.


“Biarin ah gemes. Ntar gue bantu iket lagi.”


“Nggak usah! Lo suka menceng kalo ngiket rambut Jeli.” tolak Kara, “Jeli sayang, sini mama benerin kunciran kamu. Jangan deket-deket Om Ririd, dia belum mandi.” Lanjutnya.


“Ya namanya juga baru pulang, Kaleng!” balas Ridwan.


“Kalo gitu mandi sana, abis magrib kita ke rumah Lea. Karena dulu pertunangan kalian dilakukan baik-baik maka harus diakhiri dengan baik pula.” Ucap Mami Jesi.


“Meskipun sikap Lea di belakang kita tidak baik, Mami harap kamu bisa bersikap sopan nanti. Lea yang melakukan tindakan tidak terpuji, bukan orang tuanya. Mereka bahkan mungkin tak tau sama sekali tentang kelakuan Lea di belakang. Kita pura-pura tidak tau saja. Papi sama mami sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini karena Lea berhak dapat yang lebih baik dari kamu. Yang lebih perhatian dan selalu ada untuk dirinya.” Jelas Mami Jesi. Ia hanya menyampaikan apa yang diucapkan suaminya tadi. Percayalah Jesi tetaplah Jesi yang dulu, yang hanya ingin meluapkan kekecewaannya. Tapi berkat kesabaran suaminya, dia bisa menurut dan mengikuti keputusan suaminya. Bukan tanpa alasan, Papi Rama tak ingin kedua orang tua Lea kecewa jika tau kelakuan putri semata wayang mereka. Apalagi mengingat ibu Lea yang memiliki Riwayat penyakit jantung, tentu akan sangat berpengaruh jika mendengar kebenaran dibalik putri lugu yang selalu mereka banggakan.


“Ya ampun Mami kocak banget sih! Yang salah tuh dia, kenapa aku yang dikorbanin sih?” kesal Ridwan. “Kalo gitu aku nggak usah ikut aja, biar makin meyakinkan betapa nggak pedulinya aku sama dia. Lanjutnya sebelum berlalu pergi.


Karena Ridwan tak goyah dengan keputusannya, Mami Jesi dan Papi Rama hanya pergi berdua. Ridwan malah menghabiskan waktu di kamar bersama bersama Jeli. Gadis kecil itu asik melanjutkan menulis nama di undangan sementara Ridwan sibuk memilah perhiasaan dari katalog online toko perhiasaan langganan sang mami.


Sementara itu di perjalanan menuju rumah Lea, papi Rama berulang kali menegaskan pada istrinya untuk tidak memperlihatkan emosinya. Ia ingin hubungan dengan kedua orang tua Lea sebagai rekan bisnis tetap berjalan seperti biasa.


“Iya, Karam. Aku paham kok. Nanti aku Cuma diem deh, Karam aja yang ngomong.” Ucap Mami Jesi.


Sampai di rumah Lea, keduanya disambut hangat oleh Ria dan Kohar. Keduanya tak terkejut karena sejak siang tadi Papi Rama sudah mengabari akan kesana. Ibu Lea bahkan menyiapkan makan malam untuk mereka, namun ditolak dengan sopan oleh Papi Rama.


“Nak Ridwan tidak ikut bu Jesi?” tanya Ria.


“Tidak, bu. Ridwan sedang sibuk dengan game nya seperti biasa.” Jawab Mami Jesi.


“Oh iya tidak apa-apa bu.” Jawab Mami Jesi ramah.


Setelah cukup lama basa-basi, Papi Rama langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka untuk membatalkan pertunangan. Alasannya sudah tentu karena merasa kasihan Lea kurang mendapat perhatian dari putranya. Selain itu juga karena melihat progress hubungan Lea dan Ridwan yang tak ada kemajuan selama ini.


“Lea pantas dapat yang lebih baik dari putra saya, Pak Kohar.” Pungkas Papi Rama.


“Tapi kenapa?” Bu Ria terlihat heran. “Apa putri kami melakukan kesalahan?” lanjutnya.


Mami Jesi tersenyum sebiasa mungkin meski dalam hatinya sudah mengumpat ratusan kali pada mantan claon mantunya.


“Tidak, bu. Lea tak melakukan kesalahan apa pun, dia gadis yang baik. Hanya saja mungkin kesalahan saya terlalu egois dan buru-buru menjodohkan mereka. Saya tidak ingin memaksa baik Ridwan maupun Lea. Jika mereka memang berjodoh mungkin tak akan kemana.” Jelas Mami Jesi Panjang lebar, meskipun dalam hatinya selalu berkata amit-amit, amit-amit, najis tralalala.


Ria dan Kohar terdiam cukup lama, namun pada akhirnya mereka bisa menerima keputusan Papi Rama dan Mami Jesi.


“Saya rasa ini bukan keputusan yang buruk, jika mereka berjodoh pasti akan ada jalannya.” Ucap Pak Kohar. “Hubungan yang dibangun secara natural memang lebih baik dari pada pertunangan yang dipaksakan. Saya harap hal ini tidak mempengaruhi hubungan kita, Pak Darmawan.”


“Tentu tidak, Pak. Kita tetap rekan bisnis.” Balas Papi Rama.


Tindakannya setuju dengan keputusan Papi Rama memang begitu tulus. Kedua orang tua Lea tak mempermasalahkan pertunangan dibatalkan, toh mereka tetap bisa menjadi rekan bisnis. Tapi tetap saja keduanya penasaran akan penyebab pembatalan pertunangan. Jika perkara sikap Ridwan yang kurang perhatian bukannya dari awal dia memang seperti itu?


“Bu, coba telpon Lea. Tanyakan apa dia ribut dengan Ridwan sampai pertunangan dibatalkan?” ucap Kohar.


Ria segera menghubungi putrinya, hanya berdering tanpa diangkat meskipun sudah beberapa kali dihubungi. “Lagi sibuk mungkin, yah.”


“Hubungi terus, ini jam sembilan malam masa masih kerja.” Balas Kohar, hingga Ria terus menghubungi putrinya tanpa henti.


Di tempat lain Lea terpaksa mengangkat ponselnya dari pada terus berisik dan menganggu aktivitasnya. “Hm apa bu?”


“Hm ibu ngomong apa sih? Nggak jelas ini sinyalnya jelek hm.” Lea beralasan dan langsung menutup panggilan, bahkan mematikan ponselnya.


“Emh.. hm.. ahhh terus sayang… kamu nakal banget. I like it!” Lea me le guh sambil menjambak kepala Refan yang berada di bagian inti tubuhnya.


"One more please..." racaunya lagi dengan tubuh yang bergelinjang menikmati sapuan hangat lidah Refan di lembah miliknya.


.


.


.


Ya ampun nulis apa aku ini🙈


Pokoknya aku nggak tau apa-apa, ini murni kesalahan jari-jariku yang nakal.


Jangan lupa like sama komennya sebelum lanjut.