MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Terserah



Zoya sedang beradu otak dengan tugas-tugas kuliahnya yang seabreg saat suara yang sangat ia kenali terdengar di depan sana sambil mengetuk pintu. Zoya menghela nafas Panjang, mengikat rambut panjangnya asal, kemudian dengan mulut menggerutu berjalan menghampiri pintu dan membukanya tanpa sepatah kata pun. Sesuai dugaannya, si mantan patner kontrakan tersenyum senang dan langsung nyelonong masuk.


“Gue bawain sate, martabak, roti bakar, cimin, cimol, sama jus troberi kesukaan lo.” Ridwan membongkar semua makanan yang ia bawa dan menatanya di lantai.


“Gue lagi happy jadi silahkan abisin semuanya. Lo paling suka kan jajanan pinggir jalan? Ini gue beli di tempat biasa lo ngajak gue makan.” Lanjutnya.


Zoya menatap banyak makanan di depannya tanpa minat, ia tak lapar sama sekali saat ini. Meskipun sejak pulang dari Mall sore tadi ia belum makan, tapi banyaknya tugas kuliah membuat rasa laparnya hilang begitu saja. Yang ia inginkan saat ini hanya menyelesaikan semua tugasnya. Kuliah di kelas karyawan tenyata sangat melelahkan, hanya dua hari dalam seminggu tapi semua materi dipadatkan, ditambah lagi ia harus memulai mempersiapkan data untuk proposal skripsi sejak dini supaya memudahkannya saat penyusunan tugas akhir nanti. Zoya kira dirinya akan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan secepat mungkin, namun nyatanya hampir sebulan berjalan dirinya masih ketar-ketir mengatur waktu.


“Makan heh! Udah gue bawain malah cuma diliatin doang.” Ridwan menyodorkan sepotong martabak cokelat kismis pada Zoya yang langsung di tepis oleh gadis itu.


“Aku nggak lapar, Mas. Kalo sekiranya Mas Ridwan nggak ada keperluan mending pulang aja, aku sibuk.”


“Kan ini gue udah pulang, KinderZoy!”


“Terserah Mas Ridwan aja deh.” Jawab Zoya lirih kemudian kembali focus pada laptopnya.


“Lo nyuekin gue?”


“Nggak, Mas.”


“Tapi lo diem aja! Ngomel coba kalo nggak marah-marah! Aneh gue liat lo diem kayak gitu.”


“KinderZoy!”


“Zoya!”


Zoya mengacak rambutnya geram. Dirinya benar-benar tak bisa berkonsentrasi gara-gara Ridwan. Perhitungan laporan keuangannya jadi tak balance sejak tadi, membuatnya mengulang dan mengulang lagi dari awal. Zoya mendelik galak pada lelaki yang sedang santai di kasurnya. “Apa sih, Mas!”


“Nikah yuk!”


Zoya tak menanggapi, ia hanya mendengus kesal kemudian kembali ke laptopnya.


“KinderZoy!” lagi-lagi Ridwan memanggilnya.


“Apa lagi sih, Mas?” kesal Zoya. “Mau ngajakin nikah lagi? Ya udah ayo ke KUA aja sekalian sekarang!” Lanjutnya dengan asal karena kesal terus menerus diledek soal menikah. Tadi di kantor sudah bolak balik ngajak nikah, eh sekarang ngajakin nikah lagi.


Ridwan tersenyum gemas. Ia beranjak dari tempat tidur dan berpindah rebahan di samping laptop Zoya, menatap lekat-lekat gadis yang sedang manyun itu.


“Besok yah, sekarang KUA udah tutup. Mau mas kawin apa buat nikahan kita hm?”


“Terserah.”


“Seperangkat alat shalat aja mau?”


“Terserah.”


“Terserah.” Jawab Zoya tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop. Ia focus mencari angka yang menjadi sumber kesalahan laporan keuangannya tak seimbang.


“Kalo gitu bagi alamat rumah lo!”


“Terserah Mas Ridwan aja.”


“Kok terserah mulu sih, Zoy! Alamat lo alamat Zoy! Gimana bisa jawabannya terserah?” Ridwan jadi sewot.


“Ya terserah Mas Ridwan aja! Mas Ridwan nggak liat apa aku lagi ngapain? Ini tugas mesti aku kumpulin malam ini, batasnya jam dua belas.” Teriak Zoya.


“Stres lama-lama aku kalo kayak gini!” ketusnya.


“Makanya nikah sama gue biar nggak stress!” ledek Ridwan.


“Mas Ridwan!” Zoya melotot kesal.


“Biasa aja! jangan melotot kayak gitu, ntar bola mata lo keluar.” Ledeknya lagi. “Sini gue liat! Lo ngerjain apa sih?” Ridwan menarik laptop Zoya dan melihat apa yang sedang dikerjakan gadis yang sudah diklaim menjadi calon istrinya.


“Ini yang bikin stress? Gara-gara nggak sama nilainya makanya pusing hm?” Ridwan menunjuk sisi debit dan kredit laporan neraca yang selisih dua milyar.


“Gue kerjain ulang dari awal, kalo hasilnya balance kita nikah. Deal?”


“Mana bisa kayak gitu Mas!” ketus Zoya.


“Deal nggak?”


“Terserah Mas Ridwan aja lah!”


“Oke. Calon istri gue silahkan tidur, biar tugasnya sekalian gue upload nanti. Ke link ini kan?” Ridwan menunjuk google form yang sudah terbuka dan Zoya mengangguk mengiyakan.


“Awas ngerjainnya jangan asal, pelajaran itu jumlah SKS nya paling banyak.” Ucap Zoya memperingatkan.


“Tenang aja, kayak gini buat gue kecil. Lo tidur aja!” Ridwan mendorong gadis itu supaya berbaring di kasur dan menyelimutinya hingga ke leher.


Ridwan menempelkan ibu jari serta telunjuknya ke bibirnya kemudian memindahkan kedua jari itu ke bibir Zoya. “Tidur yang nyenyak.”


Bukannya memejamkan mata, Zoya justru kian terjaga. Ia malah menatap wajah Ridwan yang begitu rupawan.


“Apa? Mau cium langsung ke bibir hm?” ledek Ridwan. “Nanti kalo udah sah yah.” Lanjutnya seraya mengusap sayang kepala Zoya.


“Apaan sih! Dasar mesum!” jawab Zoya yang langsung menaikan selimut hingga menutupi kepalanya dan berbalik memunggungi Ridwan.


Ridwan hanya menahan tawa seraya menepuk-nepuk pelan punggung Zoya seperti saat dia menepuk-nepuk Raizel ketika akan tidur. Gadis itu malah makin meringkuk di bawah selimutnya. “Gemesin banget sih calon istri gue.” Batinnya.