MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Treatmen



“Papa ehmmm.” Raizel yang berteriak memanggil Papa nya seketika bungkam saat Ridwan membungkam bibir cerewetnya.


“Aww! Sakit jeli!” Ridwan menjewer keponakannya.


“Kamu tuh yah kebiasaaan!” Ingin rasanya ia menceramahi si Jeli Panjang lebar, kebiasaan main gigit gadis kecil itu belum hilang. Padahal sejak si Jeli tumbuh gigi dirinya selalu jadi sasaran keganasan gigi baru Raizel. Namun semua ia urungkan karena melihat Dirga yang sudah beranjak dari duduknya dan setengah berlari ke arahnya. Tanpa pikir Panjang Ridwan langsung berlari dan naik ojeg yang mangkal di tekat taman.


“Kemana, Mas?”


“Kemana aja yang penting jalan dulu!” Ribwan menepuk punggung kang ojeg supaya segera tancap gas karena di belakang sana Dirga berjalan cepat ke arahnya.


“Aman… aman…” ucapnya lega saat ojeg yang ditumpanginya menjauh dari taman, terlihat Dirga menatapnya dengan kesal.


“Gitu amat Bang Dirga… pasti gue disangka culik nih.” Batinnya.


“Ke Kampus Persada, Pak.” Ucapnya pada Kang Ojeg.


Kembali ke stand sosis Dirga mendapati putrinya sedang memakan sosis dengan anteng. “Mana Om Malaikat, Pa? nggak kena yah?” tanya Raizel.


“Pokoknya kalo besok ketemu Om Malaikat, Papa harus jewer telinganya. Barusan Jeli juga dijewer, sakit nih.” Gadis itu meletakan sosis bakarnya dan memegang telinga yang tadi dijewer pelan oleh Ridwan.


“Nara sayang, itu bukan Om Malaikat. Lain kali kalo ketemu orang nggak dikenal jangan deket-deket, kalo putri kesayangan papa ini diculik gimana?”


“Tapi tadi itu Om Malaikatnya Jeli, Pa.” jawab Raizel.


“Om Ririd marahan sama Oma yah, Pa?”


“Kasihan Om Ririd sampe jualan sosis bakar.” Celotehnya. “Tapi ini sosisnya enak, Papa mau?” tawarnya sambil mendekatkan sosis pada Dirga.


“Nggak, buat Nara aja biar kenyang.” Jawab Dirga.


“Nanti kalo Om Ririd udah pulang Papa harus jewer Om Ririd yah. Om Ririd nakal sama Jeli.”


“Iya nanti Papa jewer telinganya dua kali.” Jawab Dirga.


“Eh jangan Pa, kasihan nanti sakit. Satu kali aja.” Jawab si bocil plin plan. “harusnya Papa barusan kejar Om Ririd nya yang cepet dong terus bawa pulang biar Oma nggak marah-marah lagi, Pa.”


“Sayang, tadi itu bukan Om Ridwan.” Jawab Dirga. Postur tubuhnya memang mirip adik iparnya tapi pasti bukan Ridwan, ditambah lagi kata putrinya Ridwan jualan sosis? Wah sudah tidak mungkin, sampe kiamat pun dipastikan adik iparnya tak akan pernah jualan. Dia kan mageran, Sukanya main game sampe pagi. Diwarisi perusahaan besar tinggal tanda tangan sama ngecek-ngecek aja lebih memilih jadi gamers meski setiap hari harus ribut dengan mami nya. Jualan? Hal yang mustahil bagi Ridwan, terlebih jualan sosis.


“Nara tadi pasti salah orang. Pulang yuk udah siang.” Ajak Dirga.


“Ih nggak Papa… Jeli nggak salah orang, tadi tuh emang Om Malaikat kok.” Raizel ngeyel.


“Iya deh yang tadi Om Ridwan. Besok kalo Jeli ketemu lagi ajak pulang yah, pasti kangen yah main sama Om Ridwan?” gadis itu mengangguk, membuat Dirga yakin jika putrinya salah orang. Mungkin terlalu kangen pada Ridwan sampai-sampai orang yang badannya mirip Ridwan saja ia anggap Om kesayangannya. Jika kalian ingin tau kenapa Ridwan jadi Om kesayangannya Jeli jawabannya hanya satu, karena lelaki itu paling mendukung Jeli mencorat coret rumah disaat semuo orang memintanya menggambar di buku. Jadilah kamar Ridwan surga bagi Jeli, karena disana ia bebas menggambar tanpa di larang, dimana ia sibuk menggambar dan si Om sibuk main game.


Sementara itu disisi lain, Ridwan baru saja sampai kontrakan. “lima puluh tujuh ribu Mas.” Kang ojeg memberitahukan jumlah yang harus ia bayar.


“Sebentar, Pak.” Ridwan merogoh saku celananya, hanya ada uang dua puluh ribu sisa beli kacamata dan masker tadi.


“Cuma ada dua puluh ribu, Pak. Dua puluh ribu aja yah?”


“Nggak bisa dong, Mas. Tarifnya segitu.”


Ridwan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Uangnya benar-benar hanya itu saja. “Huh gimana ini?”


“Bentar yah Pak, saya ambil uanganya dulu.” Ucapnya begitu melihat teh Ismi keluar dari kontrakan sambil membawa ember hendak menjemur baju.


“Teh Ismi, saya mau minta tolong boleh?” perempuan yang baru menjemur satu pakaian itu langsung mengusap perut sambil berucap amit-amit. Meski tak terdengar tapi Ridwan bsia membaca dari Gerakan bibir teh Ismi.


“Teh, amit-amit nya ntar lagi aja. Pinjem uang lima puluh ribu mau bayar ojeg, ditungguin tuh.” Ridwan menunjuk kang ojeg yang menunggunya di depan pagar.


“Emangnya Zoya kemana? Kok nggak bareng?”


“Masih jualan, ini pulang dulu juga mau ngambil beberapa barang. Kurang soalnya.” Jawabnya asal.


“Oh gitu.. ya udah nih teteh pinjemin tapi Cuma ada tiga puluh ribu sisa beli sayur tadi. Cukup-cukupin aja.” Teh Ismi memberikan tiga lembar uang sepuluh ribuan.


Akhirnya Ridwan bisa membayar ongkos ojegnya meski kurang tujuh ribu, untung si bapak kang ojeg berbaik hati dan tak mempermasalahkan kekurangannya.


Ridwan kira semua kesialannya pagi ini sudah selesai, tapi ternyata ketidakberuntungan baru sudah muncul ke permukaan. kunci kontrakan! tanpa benda itu kini ia hanya duduk lesehan di depan. “apes.” Gerutunya sambil menendang pelan pintu.


“Kenapa? Kok belum masuk?” tanya teh Ismi, tetangga sebelah.


“Kuncinya lupa teh, masih di Zoya.”


“Ya ampun bisa-bisanya kamu itu! Tadi ongkos kurang, sekarang kunci lupa.” Cibir teh Ismi. “Ya udah tunggu disini aja tuh kebetulan suami teteh udah pulang.”


“Iya teh makasih. Nggak apa-apa disini aja nunggu Zoya nya.” Jawab Ridwan.


Ridwan bersandar di dinding dengan santai, ia mengambil ponselnya dan mematikannya, sedari tadi Zoya terus menghubunginya. “Pulang-pulang pasti ngamuk ntar ini anak.” Batinnya seraya menghela nafas Panjang.


“Kusut banget itu wajah? Ngopi dulu nih.” Suami teh Ismi menghampirinya dengan membawa kopi dan rokok. “Rokok?” tawarnya seraya mengeluarkan rokok ke hadapan Ridwan.


“Nggak ngerokok Bang. Makasih.” Jawab Ridwan.


“Biasa dirokok yah.” Ledek Ahmad, suami teh Ismi. Lelaki yang sebentar lagi menjadi ayah itu tersenyum meledek padanya.


“Maksudnya?”


“Jangan main pedang-pedangan terus, lo tuh masih muda. Masih bisa sembuh asal mau aja. Lagian nih yah main sama cewek tuh lebih enak dari pada sama cowok, Rid.”


CK! Ridwan berdecak lirih, kini ia paham kemana arah pembicaraan tetanggannya ini.


“Mau referensi nggak? Kali aja lo bisa sembuh kalo di treatmen pake ini.” Ahmad menunjukan koleksi video plus-plus yang biasa ia jadikan fantasi selama beberapa bulan terakhir karena semenjak istrinya hamil dirinya harus libur berolahraga malam.


“Astagfirullah, Bang!” baru beberapa detik Ridwan langsung menjauhkan HP Ahmad.


“Tonton dulu sampe abis elah pake nyebut segala!”


“Nggak, Bang. Makasih, gue nggak nonton yang begituan. Jijik.” Ridwan mendorong HP Ahmad terlalu keras hingga benda itu terjatuh tepat di dekat kaki Zoya yang baru datang. Saking sibuknya dengan video mereka sampai tak sadar akan kedatangan Zoya. Bola mata Zoya nyaris hampir keluar melihat video yang masih berjalan memenuhi layar benda pipih yang baru saja ia ambil.


Suami Teh Ismi langsung mengambil ponselnya dari tangan Zoya dan berlalu pergi, “jangan bilang ke teteh yah, Neng. Aa cuma lagi bantuin sepupu Neng Zoya biar sembuh gitu yang belok lagi, jadi di kasih treatmen kayak gini.” Ucapnya sebelum pergi.


Zoya menghela nafas Panjang. “Bagus yah! Aku cariin sampe di chat sama telpon malah di matiin ternyata malah asik nonton bo kep!” sentak Zoya.


“Gue…” ucap Ridwan lirih. Ia memilih tak melanjutkan kalimatnya, dilihat dari sisi mana pun si patner kontrakannya sudah terlihat sangat emosi.


“Apa!! Mau bilang apa!!”


“Nggak.” Jawab Ridwan lirih.


“Beresin dagangan terus masak, aku lapar.”


“Siap laksanakan.” Jawab Ridwan, pasrah.


“Bisa-bisanya aku sibuk cari uang Mas Ridwan malah nonton begituan! Aku tuh …” Panjang lebar Zoya terus mengoceh sejak Ridwan mulai memasak hingga selesai ocehannya tak kunjung selesai juga.


“Heran gue… katanya lapar tapi ngocehnya masih full gas aja.” Batin Ridwan. “Semua gara-gara treatmen tentangga nggak jelas!" lanjutnya dalam hati.