
Ridwan duduk di depan ruang IGD sambil berulang kali menghela nafas panjang, sementara Zoya malah mondar mandir di sekitarnya, panik. Ia khawatir apakah tetangganya akan baik-baik saja karena baru kali ini ia melihat orang yang mau melahirkan.
“KinderZoy, duduk!” Ridwan berdiri dan menarik Zoya untuk duduk di sampingnya.
“Aku takut teh Ismi kenapa-kenapa, Mas. Tadi keliatannya sakit banget loh.” Zoya mengigit bibir bawahnya cemas. Ingin ikut masuk ke IGD tapi dokter jaga hanya mengizinkan satu orang saja untuk menemani pasien.
“Tenang aja, nggak apa-apa. Orang yang mau ngelahirin emang kayak gitu kok.” Jawab Ridwan dengan tenang. Berbeda dengan Zoya, sejak SMA ia sudah tau bagaimana orang yang mau melahirkan, secara kakaknya sendiri melahirkan Raizel diusia yang terhitung masih sangat muda.
“Gitu yah, Mas?”
“Hm iya.” Jawab Ridwan. Tangannya terulur melepas ikat rambut Zoya. “Supaya nggak keliatan.” Ucapanya seraya menata rambut panjang Zoya ke depan untuk menutupi leher gadis itu.
“Emang aku kenapa, Mas?”
Ridwan mengeluarkan ponselnya, membuka kamera depan dan menghadapkannya pada Zoya. Seketika Zoya menyentuh lehernya yang penuh dengan bercak merah, “Ini?”
“Ya ampun Mas Ridwan! Bisa-bisanya!”
“Nggak apa-apa ntar juga lama-lama ilang.”
“Tapi kan malu kalo dilihat orang, Mas!”
“Makanya gue buka rambut kesayangan gue ini, supaya nggak keliatan orang.” Ridwan membelai rambut panjang Zoya.
“Tapi kan tetep aja! Kesel dah!”
“Ya udah kalo gitu nanti gantian lo yang bikin di leher gue, biar adil.” Ledeknya.
“Mas!” Protes Zoya. Antara kesal campur malu karena hal seperti itu saja dibahas oleh Ridwan.
“Apa sayang? Jangan teriak-teriak. Jangan cemberut gitu, nanti kalo anak Bang Ahmad udah lahir kita lanjutin yang tadi." ledeknya.
"Males ah Mas Ridwan ngeselin. Aku mau lihat Teh Ismi dulu.” Baru saja Zoya hendak masuk ke IGD, Bang Ahmad sudah keluar bersama Teh Ismi. Keduanya berjalan santai. Teh Ismi bahkan terlihat sudah tak kesakitan lagi.
Zoya begitu heran melihatnya, “nggak jadi lahiran, Teh?”
“Bukan nggak jadi Neng, tapi kata dokternya ini baru pembukaan satu. Mesti nunggu dulu sampe pembukaan lengkap. Sekarang mau ke ruang rawat dulu, nunggu bukaan lengkap.” Jelas Bang Ahmad.
Ridwan sesungguhnya sudah ingin pulang, tapi apa daya jika istrinya malah mengikuti mereka ke ruang rawat makan tak ada pilihan lain, ia pun melakukan hal yang sama.
“Pulang aja yuk! Ini lahirannya paling besok, beru bukaan satu kan? Biasanya masih lama.” Ucap Ridwan.
“Nggak mau, Mas. Kita disini aja nemenin Bang Ahmad sama Teh Ismi barang kali nanti mereka butuh bantuan.” Jawab Zoya mengingat tetangganya itu begitu baik pada dirinya selama ini.
“Tuh kan Teh Ismi kesakitan lagi.” Ucap Zoya saat melihat Teh Ismi kembali berteriak. Bahkan Bang Ahmad jadi sasaran jambakan hingga dibentak-bentak karena kesakitan.
“Aku panggilin dokter yah, Bang. Kayaknya dede bayi udah mau keluar yah.” Zoya berinisiatif memanggil dokter.
Bukan dokter kandungan yang datang, melainkan perawat yang membawa fetal doppler. Alat yang digunakan untuk mendetekdi detak jantung janin di dalam kandungan secara digital. Saat alat tersebut di tempelkan pada perut Teh Ismi, mereka semua bisa mendengar cepatnya detak jantung si bayi. Selai itu, perawat juga memeriksa kemajuan bukaan teh Ismi. Hasilnya suah bukaan satu, belum nambah. Zoya yang baru mendengarnya bingung. Ia yang semula berdiri di dekat Teh Ismi beralih ke sofa tunggu tempat suaminya duduk.
“Dug dug dug, keras sama cepet banget detak jantungya Mas. Itu normal nggak sih? Aku baru denger soalnya.” Bisik Zoya.
“Mana gue tau. Suami lo ini bukan dokter. Tapi kayaknya normal, dulu juga Jeli kayak gitu.” Jawab Ridwan. Malam kian larut tapi Zoya tak mau pulang. Istrinya malah ikut-ikutan melakuan apa pun yang dilakukan teh Ismi. Dari mulai duduk diatas balon khusus bumil hingga Latihan pernafasan yang diajarkan perawat, membuatnya menggelengkan kepala.
“Kopi.” Tawar Bang Ahmad yang datang membawa dua cangkir kopi hitam. Beruntung ada Zoya yang menemani istrinya hingga dia bisa istirahat sejenak.
“Makasih, Bang.”
“Sorry yah udah ngerepotin. Kata doter, Ismi perkiraan lahiran besok. Gue nya tadi panik banget, maklum lah anak pertama. Harusnya gue nunggu dia mules beneran bukan mules mules palsu. Padahal udah baca-baca di internet tapi pas liat istri kesakitan nggak tega.”
“Nggak apa-apa, Bang. Santai aja, lagian keliatan Zoya seneng ada disini.” Jawab Ridwan.
Malam itu mereka nyaris tak tidur, karena saat tengah malam tiba-tiba Teh Ismi merasakan sakit yang tak tertahan. Seperti sebelumya, Zoya selalu memanggilkan perawat. Bersyukur karena untuk kali ini pembukaannya sudah lengkap dan Teh Ismi segera dilarikan ke ruang Tindakan. Tak sampai tiga puluh menit, Zoya sudah bisa mendengar tangis bayi dari depan ruang tindakan.
“Mas, bayinya udah lahir.” Zoya benar-benar ikut senang, padahal hanya anak tetangganya.
“Selamat yah, Teh. Dedenya lucu banget mirip Teteh.” Ucap Zoya. “Nggak ada mirip-miripnya sama Bang Ahmad nih, ngeborong wajah mamanya semua.” Lanjutnya.
Setelah mengobrol sebentar akhirnya Zoya setuju diajak pulang. Sepanjang perjalanan ia terus menceritakan anak tetangganya yang menggemaskan. Ridwan hanya tersenyum gemas. Istrinya begitu lucu, padahal tadi ia juga ada di sana tapi gadis itu tak henti-hentinya bercerita.
“Tangannya Mas, tadi Mas lihat sendiri kan tangannya kecil banget. Pipinya halus banget. Pengen aku gigit sumpah. Gemes.”
“Mas, kok malah kesini sih?” tanya Zoya saat Ridwan membelokan mobilnya ke sebuah hotel.
“Gue udah nggak kuat, disini aja lah.” Jawab Ridwan yang kemudian keluar dari mobil dan lebih dulu pergi ke resepsionis untuk memesan kamar.
Zoya mengikutinya sambil mengangguk, “sama sih aku juga nggak kuat, Mas. Ngantuk.”
“Iya.” Ridwan tersenyum, merangkul istrinya pergi ke kamar yang sudah ia peroleh.
Tiba di kamar Zoya dibuat takjub dengan ruangan yang super mewah. Seumur-umur ia baru kali ini tidur di hotel semewah ini. Terakhir saja ia tidur di hotel dengan fasilitas standar, itu pun karena acara study banding dari kampus saat dirinya semester empat dulu. Ingin memuji kamar pilihan Ridwan, tapi matanya sudah tak kuat, ia memilih segera merebahkan diri di ranjang super besar itu. Menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya dan memejamkan mata dengan nyaman. “Aku tidur duluan, Mas.” ucapnya pada Ridwan dengan suara yang parau, matanya benar-benar sudah tak terkondisikan.
Belum terlelap dengan benar Zoya merasa tubuhnya disentuh dengan begitu lembut, membuat tidurnya terasa semakin hangat dan nyaman. “Ternyata gini rasanya tidur di hotel mewah, pantesan mahal.” Batin Zoya.
Semakin lama Zoya merasa aneh, kenapa sentuhannya terasa sangat nyata hingga akhirnya ia membuka mata. “Ma Mas… Mas Ridwan ngapain. Katanya tadi nggak tahan.”
“Iya, gue udah nggak tahan. Dari kemaren gagal terus, sekarang nggak ada yang ganggu kita.” Ridwan mulai membuka satu persatu kancing piama Zoya tanpa melepas pelukannya.
“Bu bukannya nggak tahan mau tidur? Aku ngantuk loh Mas.”
“Lo tidur aja kalo ngantuk sayang, biar gue yang main hm?” lanjutnya seraya menyentuh dengan lembut kedua bukit yang sudah kehilangan kaca matanya.
“Tapi aku emhh…” Zoya tak lagi bisa berkata-kata saat Ridwan membukam bibir mungil itu dengan ciuman lembut. Zoya reflek memejamkan kedua matanya. Ia tak lihai melakukan ciuman, ini kali kedua setelah kegagalan di petang tadi.
Ciuman yang awalnya begitu lembut kian lama kian menuntut dan semakin dalam. Sentuhan di bukitnya juga kian tak terkontrol. Ridwan tak lagi menyentuhnya dengan lembut, ia me mi lin dengan gemas. Bahkan sesekali melepas ciumannya dan beralih men ye sap dalam-dalam bukit kenyal yang membuat Zoya membusungkan da da nya seirama dengan se sa pan yang ia lakukan.
“Mmm Mas…” tak dapat lagi mengontrol apa yang ia ucapkan, Zoya sudah men de sah tak karuan. Kedua tangannya menjambak rambut Ridwan setiap kali suaminya memberikan gelenyar baru yang membuatnya melayang.
Sapuan-sapuan lembut di bukit kini mulai ditinggalkan, Ridwan mengakhirinya dengan memberikan kecupan sayang pada keduanya. Seolah meminta izin, Ridwan mengecup bibir, pipi, dan kedua mata Zoya sebelum melepas seluruh pakaian mereka. Tak ada lagi rasa malu karena tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka, keduanya sudah larut dalam gairah. Mata Zoya yang awalnya berat dan ingin terlelap kini malah terjaga dan menikmati setiap sentuhan yang memabukan.
Ridwan menyeka kening Zoya yang basah, gadis itu terengah dibawah kungkungannya. Ditatapnya lekat wajah istrinya, tetap cantik meski rambutnya sudah berantakan dan wajahnya penuh peluh yang justru membuatnya kian seksi di mata Ridwan.
Ridwan mengambil tangan kanan Zoya dan menciumnya kemudian memegang erat-erat tangan itu di samping kepala, begitu pun dengan tangan kiri gadis itu, hingga kini kedua tangan meraka saling tertaut.
“Zoya Vivanti, love you.” Ridwan lantas mencium lembut bibir istrinya seraya menyatukan tubuh mereka dibawah disana.
“Arrh Mas…”
Ridwan tak membiarkan bibir Zoya terlepas, ia segera me lu mat nya kembali untuk membuatnya nyaman. “Maaf, sayang.”
Ridwan melambatkan tempo hujamannya hingga lama kelamaan Zoya mulai menikmati kembali kebersamaan mereka.
"Mmm Mas..."
"Sebentar lagi sayang…” Ridwan menyeka kening basah Zoya dengan ciuman.
“Mas, aku… Aaah Emmh…” Ridwan mempercepat tempo hujamannya hingga mereka meledak dalam kenikmatan bersama.
Ridwan mengambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Memeluk erat istrinya yang masih saja terengah lantas mengecupi seluruh wajah Zoya. “Sekali lagi yah, Yang?”
.
.
.
Udah lah Mas, aku capek mau bobo wkwkwk
Like sama komennya jangan ketinggalan gaes. Hah heh hoh ini aku nulisnya.