MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Formalitas



“Bu, sebaiknya ayah sama ibu nggak usah nemuin Refan. Percuma, aku udah mohon berulang kali tapi dia tetap nggak mau tanggung jawab. Aku nggak mau kalo Ayah sama Ibu sampe harus ngemis-ngemis sama Refan, aku nggak ikhlas.” Jelas Lea.


“Lebih baik aku gugurin aja anak ini. Semuanya beres kalo nggak ada dia.” Lanjutnya.


“Lea, jangan gila kamu! Jangan nambah dosa. Anak itu tidak salah apa-apa.” Ucap Kohar.


“Dari pada malu, Ayah.”


“Jangan mikir aneh-aneh, kita udah terlanjur malu. Kamu tunggu di rumah saja, biar ayah sama ibu yang nemuin Refan. Jangan sekalipun punya pikiran lagi buat ngegugurin anak itu. Dia nggak salah, yang salah kalian, orang tuanya!” terang Kohar.


“Dia mau tanggung jawab atau pun tidak cucu ayah akan tetap lahir.”


“Tenang aja, Ayah akan lakuin semua yang ayah bisa buat ngelindungin kamu sama calon anak kamu.”


Lea mengangguk, “Iya ayah. Maafin Lea. Aku bener-bener nyesel jadi seperti ini. Harusnya aku…”


Kohar mengusap kepala putrinya, “nggak usah berlarut-larut dengan masa lalu. Semua udah terjadi, waktu nggak bisa mundur.” Sela Kohar.


“Sekarang hanya bagaimana caranya kita bisa menerima musibah ini menjadi berkah. Bagaimana caranya kita tetap bisa bersyukur disaat seperti ini.”


“Jadikan semua ini pelajaran, jangan sampai terulang pada keturunan kita dimasa yang akan datang.”


“Keluarga kita bisa ngelewatin ujian ini dengan sabar. Ayah sama Ibu pergi dulu, jangan lupa minum vitamin yang dikasih dokter.” Jelas Kohar panjang lebar sebelum akhirnya pergi untuk menemui Refan.


Posisinya sebagai kepala keluarga dan seorang ayah benar-benar sedang diuji. Selain harus berusaha tegar menerima musibah, ia juga harus menenangkan putrinya yang angin-anginan. Kadang Lea bersikap bisa menerima kenyataan tapi kadang pula gadis itu berfikiran pendek dan ingin menggugurkan bayinya.


Pertemuan dengan Refan berlangsung alot. Laki-laki itu benar-benar menghadapinya tanpa beban sama sekali. Dan jawabnya selalu sama, tidak akan bertanggung jawab.


“Saya beri kesempatan sekali lagi. Kamu harus menikahi putri saya!” tegas Kohar.


“Saya tegaskan sekali lagi, Om. Saya tidak akan pernah menikahi Lea. Tidak ada jaminan anak yang ada diperutnya adalah anak saya.” Jawab Refan.


“Lebih baik Om beli video Lea yang ada di saya, sebelum saya sebar luaskan.” Lanjutnya dengan senyum penuh kemenangan.


“Kamu benar-benar sudah tidak tertolong lagi.” Ucap Kohar.


“Terserah Om mau ngomong apa. Saya tidak peduli.”


Jawaban mutlak Refan yang sama sekali tak berubah malah balik mengancam membuat Ria berkaca-kaca. Ia benar-benar tak menyangka ada orang segila Refan. Dan lebih parahnya ia adalah ayah dari janin yang ada di perut putrinya.


“Tidak apa-apa, tenang aja. Kita sudah punya plan B.” Kohar berusaha menenangkan istrinya.


“Silahkan di pikir-pikir dulu aja Om dan Tante dari pada malu.” Ucap Refan.


“Sepertinya kamu yang butuh mikir. Biar saya kasih tempat paling nyaman supaya kamu bisa mikir dengan baik.” Balas Kohar yang kemudian menghubungi seseorang.


Refan masih bersantai dengan sombongnya sampai seorang dua polisi datang menghampiri meja mereka. “Saudara Refan, anda kami tangkap dengan tuduhan tindakan asusila dan pendistribusian video tindakan asusila, pasal 27 ayat (1) UU ITE. Berikut surat perintah penangkapan, saudara bisa ikut kami ke kantor polisi sekarang juga.”


“Ini pasti salah paham, Pak. Saya bisa jelaskan!”


“Bisa jelaskan di kantor polisi nanti. Anda juga berhak di damping pengacara.” Jawab polisi.


Refan sempat berontak saat kedua polisi membawanya secara paksa, namun karena perhatian semua orang tertuju padanya ia terpaksa setuju dari pada malu.


Empat jam di dalam sel tahanan tak membuat Refan lantas menyerah. Ia hanya bisa diam setelah tau hukuman yang akan di peroleh. Enam tahun penjara atau denda maksimal 1 milyar. “Gila! Satu milyar uang dari mana.” Batinnya.


Malam hari Kohar mengunjungi sel tahanan Refan. Kini lelaki itu sudah tak berwajah sesantai tadi siang. “Bagaimana sudah bisa berfikir dengan baik?”


“Saya setuju dengan permintaan Om siang tadi. Saya akan menikahi Lea.”


“Bagus. Besok pagi kamu akan di bebaskan. Langsung datang ke rumah saja.”


“Biar kamu bisa mikir lebih baik lagi!” ucap Kohar sebelum pergi.


Sampai rumah Kohar sudah ditunggu anak dan istrinya, “gimana, Ayah? Apa Refan mau tanggung jawab?”


“Dia mau tanggung jawab. Besok kalian menikah.” Jawab Kohar. “Pernikahan tanpa tamu, ayah nggak ngabarin keluarga besar kita. Ayah belum siap kalo harus nerima omongan pedes saudara-saudara. Paling keluarga Ridwan aja yang kesini, soalnya mereka yang udah bantu kita.”


“Iya, Ayah. Lea juga nggak mau rame-rame, malu. Apalagi sampe ketahuan tetangga. Lea maunya abis nikah kita pindah aja, soalnya lambat laun tetangga pasti pada tau. Aku nggak kuat kalo mesti ngadepin tetangga.” Ucap Lea lirih.


“Tenang aja, ayah sama ibu udah persiapkan semuanya. Selesai ijab qabul kita langsung pindah.” Jawab Ria.


Semalaman Refan tak bisa tidur di sel tahanan. Pagi hari selepas ia bebas dirinya langsung full senyum. berganti pakaian ke apartemen sebelum pergi ke rumah Lea. “Jalanin aja lah, toh bokap Lea nggak miskin. Tinggal gue kuras hartanya.”


Refan datang tepat waktu ke rumah Lea. Disana sudah ada Ridwan dan keluarganya. Mami Jesi, Ria, Lea dan Zoya duduk mengelilingi Lea yang menjadi pengantin pagi ini. Tak seperti pengantin lainnya, Lea sama sekali tak mempersiapkan diri dengan special, pake kebaya pun tidak. Ia menggunakan gaun santai yang biasa ia kenakan sehari-hari.


“Gue kira lo bakal betah di penjara.” Sindir Ridwan, “cowok itu harus tanggung jawab, jangan Cuma mau enaknya aja!” lanjutnya.


Refan tak peduli. Ia berlalu ke penghulu bersama ayah Lea. Tak ada haru sama sekali di ijab qabul kali ini. Satu kali percobaan Refan langsung berhasil menghalalkan Lea. Setelah penghulu pergi semua orang bubar meninggalkan ruangan. Mami Jesi dan Zoya ikut ke kamar Lea. Sementara Ridwan dan Papi Rama berbincang dengan ayah Lea di depan. Refan sibuk dengan ponselnya, tak peduli ia diasingkan.


Selang beberapa menit Lea turun dengan kopernya. “Kita berangkat sekarang, Ayah.” Ajak Lea.


“Berangkat kemana? Bulan madu? Besok-besok aja, gue ngantuk ini. Semalaman nggak bisa tidur.” Ucap Refan.


Lea hanya menghela nafas panjang dan melewati Refan begitu saja.


“Kita mau pindah luar negri, kamu nggak usah ikut. Terimakasih sudah bertanggung jawab menikahi Lea. Sisanya kamu nggak usah ikut campur.” Ucap Kohar.


“Maksudnya gimana? Anak aku gimana? Aku udah mau tanggung jawab masa malah mau dipisahin?” Refan mulai ketar-ketir, sumber uangnya akan segera lenyap.


“Anak?” Lea tersenyum mengejek. “Bukannya dari kemarin lo bilang ini bukan anak lo?”


“Tapi kan…”


“Gue tau isi otak lo! Jangan harap bisa manfaatin anak gue buat keuntungan lo. Otak lo kan isinya Cuma duit, duit, dan duit. Setelah anak ini lahir gue bakal langsung urus penceraian kita. Jadi kita cukup sampe disini, nggak usah ketemu lagi!”


“Tapi anak kita butuh sosok ayah!”


“Dia nggak butuh sosok ayah yang nggak ngakuin dirinya. Permisi.” Pamit Lea. Ia berlalu pergi dengan kedua orang tuanya.


“Sehat-sehat yah, kalo lahiran kabarin. Semangat yah, kamu ibu hebat.” Ucap Zoya seraya memeluk Lea.


“Makasih. Lo juga sehat terus yah.” Balasnya.


“Aku minta maaf buat semuanya. Makasih Om sama Tante mau bantuin keluarga aku, padahal aku udah bikin kalian kecewa.” Ucap Lea pada orang tua Ridwan.


“Tidak apa-apa, semua orang pernah melakukan kesalahan.” Jawab Papi Rama.


“Kami permisi, semoga bisa kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang berbahagia.” Pamit Kohar.


Refan menghampiri mertuanya sebelum pria tua itu masuk ke dalam mobil. “Om nggak bisa gini dong. Saya sudah tanggung jawab masa malah ditinggalin?”


“Dari awal kan kamu nggak mau tanggungjawab, jadi cukup nikahi anak saya, sisanya biar saya yang urus. Saya hanya tidak mau cucu saya lahir tanpa status. Jangan jadikan pernikahan ini beban, kamu masih bebas. Setelah cucu saya lahir, akan saya kirim berkas perceraiannya.”


“Tapi sekarang saya mau tanggung jawab, Om. Saya udah tanggung jawab, biar saya hidup sama Lea.” Ucap Refan.


“Nggak perlu, makasih. Pernikahan ini hanya formalitas untuk status.” Pungkas Kohar kemudian berlalu pergi.


Arrgh! Refan berteriak kesal. Ia kini benar-benar sudah tak memiliki ladang uang lagi. “Si al!” umpatnya.