MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Calon Mantu



Kirim CV sama KTP staf marketing atas nama Vivantie Zoya. sekarang!


Pagi buta atau malah masih bisa dikatakan malam menjelang pagi karena pukul tiga lebih tiga puluh menit Ridwan sudah mengirim pesan pada sekretaris papi nya, Mikayla. Ridwan membenarkan selimut Zoya sebelum beranjak ke dapur untuk memasak. Sebelum adzan subuh berkumandang ia sudah selesai dengan masakan sederhananya. Ia segera bergegas pergi sebelum gadis itu terbangun setelah mendaratkan ciuman via jari di kedua pipi Zoya.


Bukan ke rumah, Ridwan memacu kendaraannya ke kosan Davin. Sekitar jam lima tiga puluh dia tiba di sana dan langsung menggedor pintu kamar Davin. Pemilik kamar membuka pintu dalam keadaan mata masih setengah terpejam.


“Besok lo duplikat aja lah kunci kosan gue, Rid!” gerutu Davin seraya kembali meringkuk di kasurnya.


Ridwan menarik selimut sahabatnya, “bangun gue butuh bantuan!”


“Libur, gue pengen tidur seharian. Malem gue push rank sampe subuh. Skip dulu lah minta bantuannya!”


“Lo kira iklan bisa diskip! Ikut gue, lanjut tidur di mobil aja!”


“Nggak cukup lo Menuhin kamar gue pake botol sama misting sekarang lo juga merambah ganggu jam tidur gue!” gerutu Davin.


“Sekarang udah bukan waktunya tidur! Buruan otw!” tak sabar Ridwan menarik paksa sahabatnya. Davin yang masih dalam mode ngantuk bahkan membawa serta selimut dan bantalnya ke mobil.


“Turun!” Ridwan membuka pintu belakang, Davin masih meringkuk nyaman disana.


Dengan malas Davin membuka matanya, “padahal tinggal bilang kalo mau pulang. Kirain otw kemana.” Tanpa menunggu Ridwan, Davin nyelonong lebih dulu. Sudah lumayan lama ia tak menginjakan kaki di rumah sultan, terakhir mungkin dua bulan lalu sebelum sahabatnya itu minggat.


“Pagi agar-agar, lagi ngapain kamu?” Davin menyapa Raizel yang sedang menghitung kaktus milik oma nya. Kali ini ia tak menyiramnya, terakhir ia kena omel sang Oma gara-gara memandikan kaktus-kastus mahalnya. Di tangan kana gadis itu ada crayon dan buku gambar, sepertinya yang Oma sengaja memberikan buku supaya cucunya tak lagi menggambar di ruang tamu.


“Jeli, Om. Bukan agar-agar!” gadis kecil dengan rambut Panjang terurai itu manyun, protes.


“Sama aja lah, lagi ngapain kamu?” gemas, Davin mencubit ponakan sahabatnya.


“Jeli lagi ngitung bunganya Oma, Om. Ada banyak loh, abis ini mau Jeli gambar bunganya. Om mau bantuin Jeli ngitung?”


“Om Davin nggak bisa ngitung sayang, soalnya main HP terus.” Timpal Ridwan yang baru saja tiba, ia memeluk gemas keponakannya.


Jeli termenung sebentar, ditatapnya kedua pria dewasa yang ada di depannya kemudian berlama-lama menatap Om kesayangannya dengan heran.


“Kenapa?” tanya Ridwan.


“Berarti Om Ririd juga nggak bisa ngitung yah? Kan Om juga main HP terus.” Ucapnya begitu polos.


“Mam pus!” ejek Davin.


“Heh? Mam pus itu apa, Om?” Raizel kembali bertanya.


Ck! Ridwan melotot kesal pada sahabatnya. Laki-laki itu benar-benar tak bisa menyaring kalimat di depan anak kecil.


“Jangan dengerin Om Davin! Dia ngawur. Jeli di sekolah udah belajar ngitung kan? Coba Om tes, satu tambah satu berapa hm?” Ridwan langsung mencoba mengalihkan focus keponakannya.


“Dua, Om.”


“Anak pinter.” Ridwan mengusap sayang kepala Raizel. “Jeli lanjutin ngitung bunganya, Om sama Om Davin mau masuk dulu bentar terus berangkat kerja.” Lanjutnya.


“Kerja? Sekarang kan hari sabtu Om, libur. Papa Dirga aja nggak kerja, Opa juga. Mending Om temenin Jeli main disini, nanti Jeli juga mau ke rumah kakak botol, Om Ririd anterin Jeli kesana yah?”


“Lain kali aja yah, sayang.”


Meski sudah ditolak, Raizel terus aja mengikuti Om nya kesana kemari, hingga ia berulang kali menghela nafas Panjang.


“Kaleng, Please lah anak lo nih! Gue mau pergi, kagak tega gue kalo dia ngintilin gue mulu.” protes Ridwan, sedang kakaknya asik memasak dengan sang mami.


“Ajak aja lah, kangen dia udah lama kagak main bareng lo. Mumpung libur juga.” Jawab Kara tanpa berbalik.


“Iya ajak aja, sekalian bawa Razia.” Imbuh mami Jesi.


“Mi, aku tuh mau nganter Davin ke rumah calon mertuanya. Masa bawa Jeli sama Razia sih? Ntar dikira si Davin duda.”


“Heh!” Davin menginjak kaki sahabatnya. “siapa juga yang mau ke rumah calon mertua? Gue jomblo.” Ucapnya lirih.


“Diem!”


“Wah beneran itu Davin? Selamat kalo gitu. Nanti tante diundang yah kalo nikah.” Ucap Mami Jesi.


“Pa-pasti tante.” Jawab Davin tergagap, boro-boro nikah pacar saja ia tak punya.


“Ya udah sana anterin Davin, biar Jeli sama Mami. Nganterin orang lamaran biar cepet ketularan kamu.” Ucap Mami Jesi.


Ridwan buru-buru pergi saat Raizel di bawa mami nya memberi makan ikan-ikan di kolam belakang, bukan apa-apa ia selalu tak tega jika tidak menuruti keinginan Raizel. Meskipun sering merepotkan tapi Raizel dan Razia sudah seperti anaknya sendiri.


“Jadi, dimana rumah calon mertua gue?” tanya Davin saat Ridwan sudah melajukan mobilnya ke luar rumah.


“Calon mertua gue sih sebenernya.” Jawabnya enteng seraya mengentikan mobilnya untuk menelpon Mikayla, karena sejak menjelang subuh hingga kini sudah jam delapan belum ada balasan dari gadis itu.


“Kasih waktu gue sepuluh menit!” sentak Mikayla setelah puas mencaci maki Ridwan.


“Kalo bukan saudara udah gue pecat dah! Nggak ada sopan-sopannya sama bos.” Ucap Ridwan setelah mengakhiri panggilan.


“Mikayla?” tanya Davin. Ridwan hanya mengangguk.


“Tapi dia cantik.”


“Lo demen? Ambil.” Ucap Ridwan.


“Nggak ah, dia jutek.” Jawab Davin sambil terkekeh. Mikayla memang cantik tapi kesan pertama bertemu dengannya kemarin benar-benar tak friendly.


Tak sampai sepuluh menit, CV dan softfile KTP Zoya sudah berada di ponsel Ridwan. “Oke kita otw sekarang.”


Sepanjang perjalanan Ridwan mulai menata kata-kata untuk diucapkan pada calon mertuanya nanti, pokoknya sekali ketemu harus deal dapat restu, soalnya Zoya kan sudah menjawab terserah, artinya semua terserah dirinya dan gadis itu akan menurut. Memang calon istri yang tak merepotkan. Begitu lah kira-kira isi otak Ridwan saat ini.


Di sisi lain, seorang gadis terus memandangi ponselnya. Berulang kali menghidupkan dan mematikan data internet guna memeriksa apakah koneksi ponselnya buruk? Atau bahkan mungkin ponselnya yang sudah minta ganti? Ia merasa aneh karena sejak pagi tadi Ridwan tak mengirim pesan apa pun padanya, terakhir chat masuk sekitar jam setengah lima itu pun hanya memberitahu jika dirinya sudah menyiapkan sarapan.


“Kenapa sih? HP kamu rusak?” tanya Gilang, mereka memang tengah bersama saat ini. Biasa sepulang ngampus belajar bersama. Modus belajar bersama padahal hanya alasan guna bisa terus dekat dengan Zoya.


“Kayaknya iya, A. masa dari tadi nggak ada chat masuk. Apa jaringannya lagi jelek kali yah?”


“Biar aku coba chat kamu.” Gilang mengirim chat singkat pada Zoya dan pesan itu langsung sampai. Membuat raut wajah Zoya seketika kecewa.


Sedari tadi ia sadar jika ponselnya baik-baik saja, tapi hatinya menolak sadar, justru mencari-cari alasan karena tak ada satu pun pesan masuk dari orang yang ia nantikan. Ingin mengirim pesan lebih dulu tapi ia tak punya alasan untuk melakukan hal itu. Masa iya mau nanya orderan misting ke Ridwan? Kan sekarang dia bukan lagi patner jualannya.


“Kayaknya kamu lagi nggak focus, istirahat aja. Kita lanjut belajarnya besok.” Pamit Gilang, ia lumayan kecewa kini gadisnya kian menjauh. Bahkan saat bicara pun ia sadar jika hanya raga Zoya yang ada di depannya sementara jiwanya entah kemana.


“Iya, A. Maaf yah.”


“Nggak apa-apa.” Balas Gilang sebelum pergi.


Setelah mengantar Gilang keluar dan menutup kembali gerbang kontrakan, Zoya begitu semangat mengambil ponsel dari sakunya ketika benda itu berbunyi, berharap Ridwan yang menghubunginya. Namun sedetik kemudian ia lagi-lagi memasang wajah lesu karena yang terpampang dilayar bukan kontak Ridwan, melainkan Oma Jeli.


"Oh ibu sudah di depan kampus? Maju dikit bu, ntar nemu gang terus belon kiri, lurus aja. Dari sana nggak jauh, saya juga ada di depan kok.” Jawabnya sopan.


Zoya jadi kembali membuka pintu gerbang kontrakannya, tak lama sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di depannya.


“Kakak botol…” teriak gadis kecil dari dalam sana.


“Hai Jeli…” balas Zoya sambil melambaikan tangan membalas lambaian tangan Jeli. melihat gadis kecil yang ceria itu membuatnya ikut senang. Jeli seperti moodboster yang bisa merubah suasana hatinya, riang dan menggemaskan.


“Silahkan masuk, bu. Maaf yah berantakan, sempit juga.” Ucap Zoya mempersilahkan.


“Silahkan duduk, bu. Maaf yah di lantai, segini adanya kontrakan saya tapi tetep alhamdulillah, nyaman.” Ucap Zoya sedikit sungkan.


Mami Jesi mengamati kontrakan Zoya sekilas. Ia kira alamat yang diberikan padanya tempo hari adalah alamat rumah, tenyata kontrakan. Tapi cukup rapi dan sangat bersih meski tumpukan produk loveware hampir memenuhinya.


“Berantakan yah bu? Belum sempet aku rapihin soalnya belum keburu, baru pulang kuliah. Kalo ibu mau lihat-lihat atau pilih-pilih produknya boleh. Aku buatin minuman dulu.” Ucap Zoya, dalam kondisi apa pun jiwa marketingnya tetep jalan.


“Tidak usah repot-repot, kakak botol.” Mami Jesi jadi ikut-ikutan menggunakan panggilan itu.


“Iya, kakak botol nggak usah repot-repot.” Timpal Raizel yang sibuk mengeluarkan jajanan yang ia bawa. “Tapi kalo ada susu vanilla dingin Jeli mau.” Lanjutnya.


“Susu vanilla kakak nggak punya. Gimana kalo es teh aja, mau? nanti kakak bikinin pisang goreng juga.”


Jeli mengangguk, “mau kakak.”


“Bentar yah, kakak buatin dulu.”


“Jeli ikut…” gadis kecil itu membuntuti Zoya.


Merasa Jeli dan Zoya lumayan lama tak kembali membuat Mami Jesi kepo. Ia beranjak dan pergi ke dapur yang hanya bersekat dinding. Suara cerewet dan tawa cucunya sejak tadi tak henti-henti terdengar.


Mami Jesi tersenyum kagum melihat Zoya yang tengah membuat pisang goreng meski direcoki Jeli di sampingnya. Gadis kecil itu bahkan minta gendong Zoya supaya bisa melihat pisang yang sedang di goreng.


“Kayaknya Ridwan cocok kalo punya istri si botol. Mandiri, masih kuliah aja sambil kerja. Bisa ngurus rumah, bisa masak, sayang sama anak kecil juga. Harus jadi calon mantu ini.” Batinnya.


.


.


.


Udah Panjang banget ini gaes!


Jangan lupa vote nya buat kakak botol.