MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Malaikat



Ridwan berhenti di stand sosis dan mengamati mereka dari jauh. “Bisa tamat gue kalo ketemu mereka disini.” Batinnya.


“Mba, maaf yah anak saya ganggu mba nya.” Ucap Dirga yang baru saja menghampiri Raizel. “Katanya mau mewarnai sayang, kok malah kesini sih.” Lanjutnya pada Raizel.


“Nggak apa-apa, Mas. Anaknya lucu, pinter juga.” Jawab Zoya.


“Jeli tidak ganggu, Papa. Jeli mau beli ini…” Raizel memamerkan botol di tangannya pada Dirga.


“Nara sayang, di rumah kan udah ada.” Ucap Dirga.


“Mau yang ini Papa.” Raizel memeluk erat botolnya, ia kemudian berusaha melepaskan tas gendong lebahnya guna memasukan botol kesana supaya mau tak mau papa nya harus membayar. Namun gadis kecil itu kesulitan membuka tas nya.


Seolah tau tujuan dari bocil cantik di depannya, Zoya langsung mengambil botol dari tangan Raizel dan memasukannya ke tas. “Sini biar kakak bantu masukin yah cantik.”


“Makasih kakak cantik.” Ucap Raizel. “Bayar Papa…” lanjutnya seraya menadahkan tangan pada Dirga.


“Berapa mba?” tanya Dirga. Ia terpaksa harus membayarnya, padahal di rumah sudah numpuk, gratis pula dari mertuanya.


“Dua ratus ribu Mas.” Jawab Zoya, “Kalo beli dua saya kasih diskon dua puluh ribu mas.” Lanjutnya.


“Nggak mba, makasih satu saja.” Dirga mengeluarkan uang dari dompetnya. Belum sempat diberikan, putrinya sudah menadahkan tangan lebih dulu.


“Papa, biar Jeli yang ngasihin uangnya.” Dirga memberikannya pada Jeli.


“Ini uangnya Kakak.” Ucap Jeli pada Zoya sambil memberikan uang.


“Makasih sayang. Pinter yah kamu, namanya siapa sih?” tanya Zoya basa-basi.


“Jeli, Kak.”


“Raizel, mba.” Ralat Dirga.


“Tapi aku kan dipanggilnya Jeli, Pa.” sahut Raizel.


“Ya udah Raizel Jeli cantik makasih yah udah beli botol kakak.”


“Sama-sama, Kak.” Jawab Raizel. “Pa, sekarang aku mau mewarnai.” Lanjutnya seraya menggandeng tangan Dirga.


Dirga menuntun putrinya ke tempat mewarnai tapi lagi-lagi putrinya kembali merengek padahal belum mulai mewarnai. “Mau itu…” ucap Raizel, menunjuk anak kecil yang baru saja datang dengan sosis bakar jumbo di tangannya.


“Biar Papa beliin, Nara tunggu disini aja yah lanjutin kasih warna gambarnya.” Ucap Dirga.


“No, Papa. Kemarin di sekolah udah diajarin caranya bayar jajan sama bu guru. Jeli minta uangnya aja, Papa liatin dari sini deh Jeli bisa jajan sendiri.” Ucapnya sambil menadahkan tangan.


“Ya udah ini uangnya, papa tunggu disini yah. Belinya di sana aja yang deket jangan jauh-jauh.” Dirga menunjuk stand sosis terdekat. “Tuh yang ada kakak-kakak pake topi.” Lanjutnya.


“Siap, Pa.” Raizel mengangguk kemudian berlalu dengan uang lima puluh ribu di tangannya.


Ridwan yang sengaja berdiam diri lebih lama di depan stand sosis karena memastikan keluarganya pergi dari taman sebelum ia kembali ke stand Zoya jadi ketar ketir, menutup maskernya lebih lebar, kalo bisa sampai wajahnya benar-benar tak kelihatan. “Ck! Ngapain si nutrijel malah jalan kesini sih!”


“Om Sosisnya satu yah yang besar.” Bukan memberikan uangnya pada penjual sosis, Raizel malah memberikannya pada Ridwan.


“Om bukan tukang sosis, Nutrijel! Noh yang itu.” Jawab Ridwan reflek, menerima uang dari ponakannya dan memberikannya pada tukang sosis. “Satu, Bang. Yang besar, pake kecap doang.”


Ridwan menghembuskan nafasnya kasar. Bisa-bisanya ia menjawab, ini semua akibat keseringan mengasuh Nutrijel. Mana pake mesenin pula, pasti curiga ini bocil, batin Ridwan.


Raizel terdiam dan menatap lekat-lekat lelaki yang wajahnya nyaris tertutup rapat. Wajahnya tak terlihat jelas tapi suaranya sangat ia kenali, “Om Malaikat…” ucapnya girang.


“Beneran Om malaikatnya Jeli kan?” Raizel makin menelisik, ia yakin lelaki bermasker itu Ridwan. “Om Ririd kemana aja? Dicariin Oma loh.” Imbuhnya.


"Papa, ada Om malaikat disini!" teriaknya kemudian.


.


.


.


segini dulu, aku cape euy seharian ngasuh bocil TK.


jangan lupa tinggalin like, komen sama awur-awur bunganya yah🤗🤗