
“A Gilang makasih yah buat semuanya, maaf udah bikin A Gilang repot.” Ucap Zoya, sungkan. Dirinya benar-benar tak enak karena sudah membuat Gilang keluar uang banyak, padahal biasanya dia tak pernah pesan banyak makanan, bahkan pesanannya pun memilih menu yang murah sebab ia tahu betul jika mencari uang itu tak mudah. Tapi sayang si patner kontrakan yang ikut bersama mereka tak tau diri, seperti aji mumpung Ridwan malah memesan banyak makanan dan mirisnya semua makanan yang dipesan lelaki itu adalah menu-menu termahal yang ada di cafe. Jadilah malam ini Gilang menguras ATM yang berisi jatah jajannya selama satu bulan dari sang kakak. Tak hanya itu Zoya pun jadi ikut mengeluarkan uang untuk membayar kekurangan uang Gilang.
“Nggak apa-apa santai aja. Sorry kamu jadi ikutan keluar uang.” Jawab Gilang.
“Makanya kalo belum bisa cari uang sendiri nggak usah so!” sindir Ridwan, “Ngatain gue beban eh taunya lo sendiri juga jadi beban buat Zoya.”
“Mas Ridwan!” sentak Zoya.
“Udah A Gilang nggak usah dengerin Mas Ridwan. Aa pulang aja sekarang, besok kita urus-urus pindah kelas karyawan bareng-bareng.” Lanjutnya pada Gilang. Lelaki itu tak banyak bicara, dia langsung pulang tanpa menggubris ejekan Ridwan.
Begitu Gilang menjauh, Zoya membuka pagar kontrakan dan masuk, Ridwan mengikutinya dan menutup kembali pagar itu. Sampai di depan kontrakan Zoya berdiri di pintu dan menghalangi Ridwan supaya tak masuk.
“Minggir, Zoy. Haus nih!” ucap Ridwan seraya berusaha menyingkirkan lengan Zoya yang menghalangi pintu.
“Lo maunya apa sih? Gue pengen minum ini!” Zoya tak bergeser sedikit pun.
“Mas Ridwan keterlaluan! Malam ini Mas Ridwan tidur di luar aja!” ketus Zoya.
“What? Tidur di luar? Jangan bercanda Kinderzoy! Gue bisa masuk angin kalo tidur di luar!”
“Aku nggak bercanda! Biar Mas Ridwan bisa instropeksi diri. Apa yang Mas Ridwan lakuin hari ini tuh keterlaluan banget. Nyari uang tuh nggak mudah Mas, bisa-bisanya Mas Ridwan ngabisin uang A Gilang. Ternyata bener yah umur nggak jamin orang bisa bersikap dewasa.”
“Nggak usah bawa-bawa umur nggak sopan! Gue lebih tua dari lo dan semua yang gue lakuin juga udah gue pertimbangin baik-baik. Lo kira gue asal-asalan pesen gitu? Gue Cuma mau ngasih pelajaran sama teman lo itu supaya nggak belagu!” jelas Ridwan.
“Lo nggak tau kan apa yang dia bilang ke gue pas sampe cafe tadi?”
“Dia nawarin gue duit berapa pun asal mau jauhin lo!”
“Gue jadi nggak yakin kalo dia tuh sebaik yang lo kira, Zoy.”
“Aku nggak peduli apa pun alasannya sikap Mas Ridwan tadi bener-bener keterlaluan. Pokoknya malam ini Mas Ridwan tidur di luar. Nggak apa-apa kedinginan biar otaknya ikut dingin, biar mikirnya bener. Kalo nggak semua perbuatan tidak menyenangkan yang kita terima itu harus dibalas dengan hal yang sama.” Ketus Zoya kemudian menutup pintu dengan keras.
“Zoya!” teriaknya lagi namun tak ada respon sama sekali.
“Suatu saat lo pasti nyesel udah bersikap kayak gini ke gue!” kesal, Ridwan menendang pintu kontrakan.
“Jangan ditendangin terus itu pintu, ntar rusak di denda!” ucap Bang Ahmad. Tetangganya yang bersandar di tiang kontrakan sebelah sambil menghisap rokok.
Ck! Ridwan hanya berdecak sambil menyugar rambutnya.
Bang Ahmad menghampiri Ridwan, ia memperbaiki sarungnya yang sedikit melorot sebelum duduk. “Ribut lo sama Neng Zoya?” tebaknya.
“Jangan bilang kalo kalian berdua ribut gara-gara rebutan Gilang?” ledeknya.
“Meskipun lo jeruk makan jeruk tapi seenggaknya mengalah lah sama Zoya. Jangan demen sama Gilang, kasihan sepupu lo, mereka udah lama bareng-bareng loh.” Lanjutnya yang mengira Zoya dan Ridwan rebutan Gilang karena samar-samar ia mendengar nama Gilang disebut saat mereka cek cok tadi. Meski hanya sekilas dan tak jelas karena dirinya sibuk menengok calon anak tadi. Maklumlah sudah dekat waktu lahiran katanya harus sering-sering ditengok supaya lancar.
Huft! Ridwan menghembuskan nafas kasar. Tetangganya ini membuat mood nya makin kacau. Demen sama Gilang? Gila aja sekalian gue. Batin Ridwan.
Sementara itu di rumahnya Gilang sedang merengek pada sang kakak supaya bisa memastikan Zoya di terima di perusahaan LoveWare.
“Bisa kan Kak bikin Zoya di terima? Aku sama Zoya udah apply lamaran tadi.”
“Kakak nggak bisa jamin, Lang. Seleksinya ketat.” Jawab Rika.
“Please, kakak pasti bisa. Kakak kan kepala tim marketing pasti bisa bantu lah, seenggaknya bisa pake kekuasaan kakak buat lolosin aku sama Zoya.”
“Kakak nggak bisa janji. Paling Cuma bisa ngerekomendasiin aja tapi nggak jamin bikin kalian berdua diterima, keputusan kan bukan hanya ditangan kakak. Kalo kalian lamaran kalian lolos pun biasanya dilanjut wawancara dan yang ngewawancara tuh bukan hanya kakak tapi tiga orang. Perwakilan HRD, tim marketing sama dari top manajemen kalo lagi senggang. Kadang Pak Darmawan yang ngasih pertanyaan langsung.”
“Pokoknya harus bisa bantu kita, Kak. Zoya itu tipe aku banget Kak. Kakak tau sendiri kan aku ngejar dia dari dulu sampe sekarang belum dapat juga. Mungkin kalo semakin banyak aku berjasa buat dia bisa bikin hati dia luluh.” Ucap Gilang.
“Ditambah sekarang ada orang yang nebeng hidup sama dia, ngeselin. Aku mau Zoya diterima supaya bisa setiap hari kita bareng-bareng lagi. Biar dia jauh-jauh dari si benalu nggak tau diri.” Lanjutnya.