MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Calon



Hai apa kabar?


maaf nih lama nggak up, sibuk ngurus nilai anak-anak, biasalah akhir semester pekerjaan suka numpuk.


kerjaanku sisa satu lagi sebelum libur sekolah, mau ada audit keuangan dari inspektorat. Doain badai kerjaan ini cepat berlalu supaya bisa rutin up lagi🤗🤗


“Lo udah pesen taksinya belum? Lama banget dari tadi nggak datang-datang.” Ridwan yang mulai bosan duduk di halte depan indoapril mulai menggerutu.


“Hei! Lo denger gue ngomong nggak?” Karena semenjak ditetapkan harus mencicil utang lima puluh juta, si sales yang tadi super cerewet jadi banyak diam. Ridwan terpaksa harus banyak bicara demi kelangsungan hidupnya beberapa hari ke depan.


“Hei Kinderrjoy!” Tak kunjung mendapat respon, Ridwan menyikut lengan Zoya.


Zoya hanya memberi respon dengan hembusan nafas kasar dibarengi tatapan kesal.


“Kenapa kayak gitu ngeliatin gue?”


Sekali lagi Zoya menghembuskan nafasnya dengan keras. Huh!


“Siapa yang nggak kesel coba nolongin malah tiba-tiba dapat utang?” tanya Zoya.


“Orang lain kalo nolongin tuh dapat imbalan. Kayak semisal kalo cewek dijadiin istri, kalo cowok dijadiin saudara gitu.”


“Ah aku terlalu halu.” Zoya menggelengkan kepala dengan malas sambil menatap Ridwan.


“Aku malah dapetnya utang yang nggak masuk akal. Padahal aku nggak ngarep apa-apa loh, kata makasih pun aku nggak ngarep.” Lanjutnya.


“Nggak ngarep apa-apa tapi tadi pengen jadi istri atau saudara. Tau aja lo kalo yang ditolongin anak orang kayak pake pengen jadi istri segala." sindir Ridwan.


“Kalo Mas Ridwan emang orang kaya ya udah tinggal pulang aja Mas. Nggak usah ribet-ribet ngelimpahin utang ke aku. Disini tuh aku cuma sebatang Kara.”


“Ya elah ribetnya. Nggak usah bawa-bawa si Kara, dia kakak gue.” Ridwan jadi mendadak kangen pada ponakan kesayangannya, Razia. Duo bocil SD dan TK itu pasti saat ini sedang menginap di rumah Mami Jesi. Andai dirinya tak sedang minggat, pasti saat ini ia sedang bermain dengan Razia dan adiknya yang sekarang hobby menggambar di dinding rumah.


“Aku nggak nanya nama kakak nya Mas loh. Mau Kara, Sasa, atau Masako aku nggak peduli.” Ucap Zoya. Entah kenapa mendengar Kara membuatnya seketika ingat pada santan sachet yang biasa digunakan untuk masak.


“Sst! Iyain aja. Ntar kalo gue udah balik jadi kaya lo bakal gue kasih imbalan.” Tegasnya lagi.


Satu jam berlalu keduanya baru saja turun dari angkot. Ridwan sudah membuka dua kancing teratas kemejanya. Lelaki itu kepanasan karena terlalu lama di dalam angkot. Seumur hidupnya baru kali ini ia naik angkot. Semiskin-miskinnya dia terakhir kali masih mampu membayar taksi online.


“Jam segini ngapain ke kampus?” Ia mengamati lingkungan sekitar. Kampus tempat dimana kakaknya pernah mengenyam Pendidikan disana.


“Rumah lo di sekitar sini?” lanjutnya bertanya. Tapi Zoya tak menjawab, ia menyerahkan tas jinjingnya dan meminta Ridwan membawa benda besar itu.


“Jalan ke dalam dikit lagi.” Ucap Zoya sebelum berjalan mendahului Ridwan.


“Masih masuk lagi? Ya ampun! Kaki gue udah pegel.” Protes Ridwan.


Zoya membuka gerbang kontrakannya, bertepatan dengan Bapak Harun dan Ibu Rateni, pemilik kontrakan yang baru saja pulang dari kajian agama.


“Neng Zoya tumben sampe semalem ini pulangnya? Nggak biasanya.” Tanya Ibu pemilik kontrakan dengan ramah. Ia juga ikut menyapa Ridwan dengan senyuman.


Zoya langsung menyalami Pak Harun dan Bu Rateni. Ridwan juga melakukan hal yang sama meski sedikit canggung.


“Siapa? calon pendampingnya Neng Zoya?” tanya Bu Rateni.


“Wah ibu kira Neng Zoya bakal sama Aa Gilang yang biasa kesini.” Lanjutnya.


Zoya tersenyum canggung. Calon? Calon dari Hongkong! Amit-amit! Lelaki di sampingnya ini calon beban hidupnya bukan calon pendamping hidup, batin Zoya.


.


.


.


jan lupa like, komen, favorit, sama votenyaaaaa🤗🤗