MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Iya, mau.



“Lepasin, Mas!”


Setelah dijambak, Ridwan tak mengeluh sakit sedikit pun. Ia malah memejamkan matanya sambil memeluk Zoya yang masih berdiri. Bibirnya masih terus berucap lirih, “nikah yuk! Nikah yuk! Kalo nggak jawab artinya setuju.”


“Ngawur aja terus!” karena jambakan tak berefek, Zoya melepaskan pelukan Ridwan dengan paksa.


“Aku periksa dulu, katanya Mas Ridwan sakit.” Ucapnya seraya menempelkan punggung telapak tangannya di kening Ridwan.


“Tapi kok nggak panas yah?” tanyanya kemudian.


Ridwan buru-buru berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Hm, nggak semua penyakit harus panas kan KinderZoy!” gerutunya.


“Gue tuh pusing, mual, terus dingin banget ini.” Lanjutnya dibarengi acting menggigil yang kurang meyakinkan.


Zoya menatap curiga pada Ridwan, “tapi biasanya kalo orang sakit kedinginan suka panas badannya, Mas.”


“Nggak usah disamain sama orang lain, gue beda. Kalo sakit badannya nggak panas.” elak Ridwan.


“Tapi waktu di kontrakan pas Mas Ridwan sakit badannya panas kok.” Jawab Zoya. Ia ingat betul saat Ridwan sakit gara-gara tidur di luar.


“Bawel dah! Terserah lo deh. Sekarang pijitin kepala gue, pusing banget ini. Rasanya kayak mau pecah.” Ridwan menarik tangan Zoya dan meletaknnya di kepala.


Zoya jadi duduk di tepi ranjang Ridwan sambil memijat kepala lelaki itu perlahan, “kalo terlalu keras bilang yah.”


“hm.”


“Udah minum obat, Mas?”


“Belum. Jangan bawel ah! Pijitin aja.” Jawab Ridwan.


“Kalo makan?” tanya Zoya lagi. “pasti belum juga yah? Pak Darmawan bilang Mas Ridwan nggak mau makan sama sekali.” Lanjutnya menjawab sendiri.


“Iya, kagak enak makan gue. Mikirin lo ngambek susah banget dibujuknya.” Jawab Ridwan, berbohong. Padahal dia makan seperti biasa, hanya memang rasanya tak enak karena hatinya sedang tak baik-baik saja tadi.


“Mas…” panggil Zoya. Bibirnya tersenyum tipis melihat kamar Ridwan. Dia baru sadar jika kamar patner kontrakannya berbeda dengan kamar laki-laki pada umumnya karena sejak tadi focus hanya pada Ridwan. Dinding kamar Ridwan sangat full color ditambah lagi ada beberapa boneka di ranjang lelaki itu.


“Apa?”


“Mas Ridwan tidurnya sama boneka? Dindingnya juga gimana yah…” belum selesai berucap si pembuat mahakarya sudah datang dengan mamanya.


“Om Ririd… kata Oma ada kakak botol yah…” teriak Raizel dari luar.


“Eh beneran ada kakak botol.” Raizel berlari menghampiri Zoya, dan memeluknya.


“Mentang-mentang ada kakak botol, Om dicuekin.” Sindir Ridwan.


“Noh yang punya boneka, yang nyorat nyoret kamar juga.” Lanjutnya seraya menujuk Raizel.


“Jeli nggak corat coret Om Ririd. Jeli kan menggambar.” Jawab gadis kecil itu setelah melepas pelukan Zoya. Ia lantas naik ke ranjang Ridwan dan duduk di samping Om nya.


“Om Ririd kenapa pake selimut? Om mau tidur yah? Kata Oma disuruh makan dulu.” Lanjutnya.


“Iya, makan dulu yuk! Ditunggu mami sama papi di bawah.” Imbuh Lengkara.


“Nggak mau! Gue mau sama KinderZoy aja disini. Lo bawa deh si Jeli turun. Ganggu aja!” tolak Ridwan.


“Heh nggak boleh berduaan Ririd. Ntar ada set an nyamperin.” Sindir Kara.


“Ya kan lo sama Jeli se tan nya.” Balas Ridwan.


“Mas!” sela Zoya.


“Apa sayang?” jawab Ridwan lirih.


Kara menunjukan wajah kesalnya, “lebay lo pake sayang sayangan!” ejeknya.


“Jeli, Zoya, kita makan yuk. Tinggalin aja Ridwan disini.” Lanjutnya.


“Mas Ridwan nggak mau makan? Gimana kalo aku masakin buat Mas Ridwan? Menu yang waktu itu, Mas Ridwan suka kan?” lanjutnya pada Ridwan.


“Iya. Gue mau makan kalo masakan lo.” Jawab Ridwan.


“Kalo gitu aku ke bawah dulu, Mas. Mau masak buat Mas Ridwan.” Pamit Zoya, kemudian berlalu pergi bersama Lengkara dan Raizel.


Berbeda dengan Kara yang langsung bergabung di meja makan untuk menyantap hidangan, Zoya justru meminta izin pada Mami Jesi untuk memasak. Meski awalnya berat membiarkan mantunya masak dari pada makan malam tapi pada akhirnya ia memberikan izin. Bahkan dirinya malah menemani Zoya di dapur karena cucu cantiknya terus menempel pada gadis itu. Alhasil Mami Jesi menggendong Jeli yang super kepo supaya Zoya tetap bisa masak tanpa direcoki cucunya.


“Masakannya mirip sama yang dibikin Ridwan waktu itu.” Komentar Mami Jesi saat Zoya sedang mengaduk sayur beningnya.


“Oh yah?”


“Iya. Persis loh sayang. Sayuran yang Dipake juga sama.” Jawab Mami Jesi. “Itu sambelnya Cuma cabe rawit sama garam aja kan?” tebaknya kemudian saat Zoya mulai meracik sambal.


“Iya. Kok Tante tau?” tanya Zoya.


“Mami! Panggil Mami!”


“I-iya Mam mami.” Jawab Zoya sedikit gugup.


“Ridwan pernah masak itu. Rasanya enak, seger. Apalagi kalo ditambah sama tempe mendoan. Pasti lebih mantap.” Ucap Mami Jesi.


“Mami sempet aneh loh, abis minggat dia jadi serba bisa. Bahkan sampe sapu-sapu rumah aja dilakuin.” Mami Jesi menggelengkan kepala mengingatnya.


“Padahal dulu taunya Cuma HP, HP, sama HP aja terus.”


“Eh kok mami malah jadi ngomong mulu. Kalo udah selesai langsung anterin aja ke kamarnya.”


“Iya, Tan. Eh Mami maksud aku.” Ralat Zoya cepat. Ia lantas kembali ke kamar Ridwan dengan membawa masakannya.


Ridwan benar-benar memanfaatkan keadaan, makan saja sampai minta disuapi. Dan parahnya Zoya begitu menurut.


Sedang senang-senangnya menikmati perhatian dari Zoya, tiba-tiba keponakannya kembali datang. Bukan dengan mamanya kali ini gadis kecil itu bersama Opa dan Oma nya.


“Oma, lihat! Om Ririd makannya disuapin kayak Jeli.” teriaknya begitu masuk. Zoya langsung mundur menjauh.


“Bilang aja Jeli iri kan? Pengen disuapin sama kakak botol juga?” ledek Ridwan tanpa beban sama sekali meski kedua orang tuanya sudah ada disana.


“Papi sama Mami ngapain kesini? Ganggu aja.” Lanjutnya.


“Ridwan!” Mami Jesi melotot kesal, “nggak baik laki-laki sama perempuan berduaan di kamar. Kalo udah nikah sih nggak apa-apa.”


“Makanya nikahin, Mi.” jawab Ridwan.


“Urusan nikah sih gampang. Zoya nya tanya dulu mau apa nggak?” tanya Mami Jesi.


“Pasti mau lah, Mi. Iya kan, KinderZoy? Kemaren udah aku lamar kok di kantor.” jawab Ridwan.


“Kita tanya ke Zoya, bukan kamu.” Sela Papi Rama. “gimana jawaban kamu, Zoya? mau?” tanya Papi Rama tanpa basa basi.


Zoya terdiam. Perasaannya pada Ridwan sudah dipastikan, cinta. Tapi untuk menikah? No, dirinya belum siap. Kuliah belum selesai, orang tua juga belum sempat ia bahagiakan. Masih banyak keinginan yang belum ia wujudkan.


“Aku nggak tau, Pak. Eh Papi.” Ralatnya. Zoya benar-benar belum terbiasa dengan panggilan itu. “Nanti aku tanya sama bapak dan ibu dulu di kampung. Boleh apa nggak kalo aku nikah padahal belum lulus kuliah.” Jawab Zoya.


“Kalo bokap sama nyokap lo ngijinin berarti kita nikah yah?” tanya Ridwan penuh semangat.


Meski bingung, Zoya mengangguk. “Iya, mau.” Jawabnya mantap, toh kedua orang tuanya tak akan membiarkan anak tunggalnya nikah muda, jadi bisa dipastikan Ridwan tak akan mendapat ijin menikahinya. Ia ingat betul mereka bahkan melarang Zoya pacaran sebelum lulus dan menitipkannya pada pemilik kontrakan.


.


.


.


Diizinin nggak coba Om Malaikat sama ortunya Zoya?


Jangan lupa vote nya!