MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Mules



“Kara, Mami serius. Kamu malah bercanda.” Sentak Mami Jesi, seketika Kara jadi bungkam.


“Biarin aja lah Mi, Ridwan suruh diluar dulu. Dia pasti baik-baik aja, mungkin sekarang dia lagi nyari calon istri pilihannya sendiri.” Lerai Papi Rama.


“Papi ini kayak nggak tau anaknya aja! Bukannya nyari calon istri dia pasti sibuk main game terus. Emang mau dapat calon istri dari game? Nggak, Papi!” cerocos Mami Jesi.


“Calon istri udah ada Lea, kurang apa lagi dia coba? Udah perfect calon mantu pilihan Mami.”


“Pokoknya gini deh, nikah nggak nikah yang penting Ridwan harus pulang dulu.”


“Tugas Papi, Kara sama Dirga buat bawa Ridwan pulang. Kalo perlu bikin laporan orang ilang ke kantor polisi!”


“Tapi kan Ridwan minggat dari rumah, Mami. Kalo orang hilang kan biasanya yang punya kekurangan gitu kayak anak kecil yang belum tau arah atau lansia yang udah pikun. Lah ini si Ririd masuk daftar orang hilang? Ntar deskripsinya menghilang karena menolak nikah gitu?” membayangkannya saja sudah membuat Kara tertawa.


“Mami nggak mau tau pokoknya harus ketemu!”


“Mami udah cape, nggak tau harus alasan apalagi ke calon besan yang ngajak nentuin tanggal pernikahan.” Ucap Mami Jesi dengan lirih. Beberapa kali ia sudah berasalan ini itu demi menutupi kaburnya Ridwan dari orang tua Lea. Untung gadis itu mau diajak kerja sama untuk menutupi hilangnya calon suami yang kini entah ada dimana.


“Kalian pikirin cara nyari si Ririd, Mami mau nyiram bunga main sama Jeli dan Razia ke taman.” Pungkasnya dan berlalu keluar tanpa menunggu respon suami dan anaknya.


Papi Rama menghela nafas dalam-dalam, “Mami kamu tuh… udah ngusir, marah-marah, ujung-ujungnya malah kelimpungan nyariin.”


“Istrinya Papi tuh…” balas Kara.


Berbeda dengan seisi rumah yang sedang pusing memikirkan keberadaannya, Ridwan justru sedang beres-beres kontrakan sambil sesekali memperhatikan Zoya yang sedang memasak. Dirinya sudah mulai terbiasa menjalani kehidupan sehari-hari dengan gadis yang mengajarinya banyak hal baru.


“Mas Ridwan, kalo udah selesai kita makan, terus bukan stand di taman lagi.” Teriak Zoya dari dapur.


Ridwan hanya tersenyum kecil tanpa menjawab, toh ia setuju maupun tidak tetap harus mengikuti si cerewet itu kemana pun, secara kan dia babunya Zoya. Ridwan menyiapkan produk-produk yang akan mereka bawa. Dari mulai katalog, buku list, kartu nama hingga alat tulis tak ketinggalan. Just info, dua hari lalu karena Zoya membuat kartu nama untuk mempermudah orang-orang yang mencari produknya. Love Zoya, member resmi LoveWare, solusi peralatan dapur anda. Begitu kira-kira tulisan pada kartu namanya, dibubuhi dengan nomor ponsel yang bisa dihubungi.


“Tapi tamannya pindah, nggak di tempat kemaren. Mau cari taman baru kali, aja prospeknya lebih bagus.” Ucap Zoya seraya memberikan piring yang sudah ia isi pada Ridwan.


“Terserah lo aja.” Balasnya irit.


Pagi ini keduanya tidak naik angkot melainkan memesan taksi online karena barang bawaannya lebih banyak. Sepanjang jalan Ridwan mulai gelisah karena jalan yang mereka lewati semakin searah dengan komplek tempat tinggalnya.


“Katanya tadi terserah eh sekarang kepo.” Sindir Zoya.


“Taman deket komplek depan, Mas. Kompleknya orang-orang elit, kata Mba Rika yang punya LoveWare juga tinggal di komplek sana. Mba Rika tuh kakaknya A Gilang, dia kepala marketing LoveWare. Aku sengaja mau jualan disana kali aja kita ketemu sama yang punya LoveWare terus langsung diangkat jadi karyawan.” Jelas Zoya dengan semangat.


“What?”


“Nggak bisa! Nggak bisa! Puter balik sekarang!” protes Ridwan.


“Lah kenapa? Bentar lagi juga sampe.” Tanya Zoya.


Ridwan mulai panik, pokoknya dia tidak boleh sampai kesana, bahaya. Si Jeli dan Razia pasti akan berada disana lengkap dengan Oma nya. Bisa-bisa dia akan bertemu Mami Jesi.


“Gue mules, sakit perut. Puter balik aja kita pulang!” Ridwan beralasan sambil memegangi perutnya supaya lebih meyakinkan.


“Gitu doang, di taman ntar ada WC nya Mas. Lurus terus Pak dikit lagi nyampe.” Ucap Zoya pada pak supir.


“Zoya!!” sentak Ridwan.


“Tahan bentar ngapa, Mas!” Jawab Zoya.


“Pak supir cepetan dikit temen aku pengen ke WC.” Imbuhnya.


.


.


.


Oke tahan dulu sampe sini yah. Tinggalin jejak like, komen sama tap tap love yah. Hadiah kopi, bunga nya juga boleh banget.


jangan lupa tekan tombol minta update dibawah biar aku makin ngegasssss🏃🏃🏃