MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Tetangga



Hai apa kabar semua?


Selamat idul fitri mohon maaf lahir bathin.


Libur lebaran udah kemana aja nih?


Aku belum berasa libur eh udah mulai masuk kerja aja wkwkwk


.


.


.


“Sekali lagi oke?” Meski Lea sudah terengah dengan wajah penuh keringat tapi Refan belum ingin berhenti. Entah kenapa, setelah hamil patner ranjangnya itu semakin membuatnya bergairah. Meskipun awalnya Lea selalu nampak terpaksa melakukannya, tetap saja saat permainan berlangsung wanita itu jauh lebih aktif dibanding sebelum mengandung.


Keduanya melanjutkan permainan, tak peduli dokter melarangnya sering berhubungan karena bisa membahayakan janin yang ada di perut Lea. Tapi bagi mereka larangan seperti sebuah perintah yang harus dilaksanakan. Dalam pikiran Lea justru akan lebih baik jika mereka terus berhubungan dan berakhir keguguran toh itu yang ia harapkan selama ini. Namun lagi-lagi keberuntungan tak berpihak padanya, meski sering berhubungan badan nampaknya janinnya tak terganggu. Pagi tadi saja ia cukup senang karena mendapati sedikit darah di pakaian dalamnya, ia kira sebuah tanda keguguran ternyata bukan. Dokter bilang janinnya cukup kuat dan malah memberinya vitamin. Lea tentu tak meminumnya sama sekali.


“Tadi jadi ke dokter?” tanya Refan setelah menyelesaikan ronde ketiganya.


“Jadi.” Jawab Lea.


Rafan mengangguk berulang, “gimana kata dokter? Keguguran nggak?”


Lea menggelengkan kepala, “dia masih ada. Baik-baik aja.” Ia kemudian beranjak dan mengenakan pakaiannya kembali. Refan menyusulnya dan duduk tepat di samping Lea yang baru saja mengisi gelasnya hingga penuh dengan wine.


“Lo bilang tadi pagi keguguran?”


“Bercak darah dikit doang, gue kira bakal keguguran makanya ke dokter. Ngarepnya langsung kuretase atau paling nggak dikasih obat supaya dia keluar, eh malah dikasih vitamin.” Lea menghela nafas panjang.


“Lo nggak mau besarin anak kita bareng-bareng?” tanya Lea lirih. Pergi ke dokter kandungan pagi tadi memberinya banyak pertimbangan. Ia benci ada janin yang tak diharapkan di perutnya tapi ia terenyuh juga mendengar pasangan suami istri yang terisak di sampingnya saat antri tadi. Di saat dirinya susah payah berusaha menggugurkan kandungan, disisi lain ada orang yang mati-matian berusaha untuk hamil. Perempuan yang menangis di pelukan seorang lelaki itu berkata sepertinya hamil di luar nikah akan lebih baik dari pada sudah bertahun-tahun menikah tapi belum diberi momongan. Zaman sekarang nampaknya sudah menikah tapi belum punya anak sudah seperti aib. Wanita itu kian terisak saat mengingat perkataan orang yang selalu merendahkannya, bahkan terkesan bertanya basa-basi belum punya anak yah? Kapan isi? Udah isi belum? Si A yang baru nikah aja udah isi, masa kamu udah lama belum ngisi juga? Sementara si suami dengan sabarnya memberi pengertian untuk ikhtiar semampunya. Lea hanya menghela nafas panjang mendengarnya. Ditambah lagi melihat Ridwan dan Zoya yang begitu bahagia setelah memeriksa calon anak mereka membuatnya kian nano-nano.


“Anak kita? Jangan mimpi! Nggak ada jaminan dia anak gue. Gugurin seperti rencana awal!”


“Harus gimana lagi? Gue udah minum obat, miras, kita main nggak pake aturan tetep aja dia nggak mau keluar.”


“Gue nggak mau tau. Itu urusan lo!” Refan mengambil ponselnya dan mengirim kontak ke Lea. “Tempat aborsi, lo bisa hubungin buat bikin reservasi. Gue mau keluar dulu, transfer lima juta aja gue butuh.”


“Baru tadi pagi gue kirim lo duit, sekarang lagi?”


Refan tak menggubris ucapan Lea. Ia mengambil jaket dan kunci mobilnya, “nggak pake lama!” pungkasnya sebelum pergi.


Lea mengepalkan kedua tangannya, kesal. Ia benar-benar merasa diperas selama ini. “Si al!” umpatnya setelah mengirim uang sesuai dengan nominal yang Refan minta.


Tak mau buang-buang waktu, setelahnya Lea menghubungi kontak tempat aborsi yang diberikan Refan. Ia langsung membuat reservasi sebelum perutnya semakin besar. Meski tau yang dilakukannya merupakan kejahatan tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya solusi. Jika tidak digugurkan maka mungkin selamanya ia akan selalu ada dalam bayang-bayang ancaman Refan.


Lea bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaiannya karena sang ibu menghubunginya dan meminta dirinya untuk menemani belanja bulanan. Kurang dari satu jam ia harus sudah berada di butik karena ibunya akan menjemputnya disana.


“Ibu udah lama? Maaf yah aku dari luar sebentar, ambil kain nih.” Lea yang baru datang menunjuk kain yang baru saja di keluarkan pegawainya dari dalam mobil. Tak sia-sia ia selalu membawa setidaknya satu gulung kain setiap pergi untuk keadaan darurat seperti ini.


“Kita berangkat sekarang, bu?” tanya Lea.


“Kalo kamu nggak cape.”


“Nggak, bu. Ayo berangkat!” Lea menggandeng tangan ibunya dengan manja seperti biasa.


Tiba di Mall Lea mengambil troli dan berjalan di belakang ibunya. Seperti kebanyakan ibu-ibu pada umumnya, Ria membeli aneka kebutuhan sehari-hari dari mulai persabunan hingga keperluan dapur lainnya.


"Kita beli lemon lebih banyak yah kan setiap pagi kamu mesti minum air lemon.” Ucap Ria seraya memasukan banyak buah lemon ke dalam plastic. Sejak hamil Lea memang selalu mengkonsumsi air putih yang dicampur perasan lemon tanpa gula. Asam tapi menyegarkan, membuatnya perutnya terasa nyaman. Sang ibu tentu tak tau, ia berdalih mengkonsumsi air lemon untuk diet.


“Iya, bu. Pilih yang bagus yah lemonnya.” Lea ikut memilih. “Aku angkat telepon sebentar yah, bu.” Lanjutnya seraya menjauh saat melihat kontak tempat aborsi yang menghubunginya.


Lea cukup lega karena jadwal aborsinya sudah di tetapkan, dua hari lagi. Lea kembali menghampiri ibunya. langkahnya tertahan sebentar kala melihat ibunya sedang berbincang dengan Ridwan dan Zoya. Ibunya bahkan mengelus perut rata Zoya.


“Udah nelponnya? Lihat ibu ketemu siapa? Nak Ridwan udah mau jadi ayah.” Ucap Ria.


“Oh, selamat kalo gitu.” Ucap Lea seolah baru tau terkait kehamilan Zoya.


“Tante do’ain Zoya sama calon anak kalian sehat-sehat terus. Nanti kalo empat bulanan Tante diundang yah? Nanti biar Tante yang bikinin rujaknya.” Ria berucap begitu tulus.


“Aamiin, makasih Tante. Nggak usah repot-repot bikin rujak, asal Tante datang aja aku udah seneng.” Jawab Zoya.


“Iya bener itu Tan. Nanti kalo saudaranya Lea empat bulanan kabarin kita juga yah, Tan. Kita usahain hadir. Mami juga bakalan ikut hadir kalo diundang. Seperti kata Tante meskipun nggak jadi keluarga tapi tali silahturahmi nggak boleh putus kan?” Ridwan berucap bijak, sementara Lea tampak acuh tak peduli.


“Yang mana yah? Keluarga Tante nggak ada yang lagi hamil.”


“Coba tanya Lea, Tan. Tadi pagi kita ketemu Lea di klinik kandungan, dia ngambil resep buat saudaranya yang muntah-muntah terus katanya.” Jawab Ridwan. “Kita pamit dulu Tante.” Lanjutnya.


Ria menatap putrinya sekilas. Ia bingung saudara mana yang dimaksud Ridwan sementara keluarga besarnya saat ini tak ada yang tengah mengandung.


“Buat temen Lea, Bu.” Ucapnya dengan tenang.


“Oh, kirain buat siapa. Kan keluarga kita nggak ada yang lagi hamil.” Jawab Ria. “Temen kamu yang mana sih? Kok bisa kamu yang ngambilin resepnya? Biasanya kan harus yang bersangkutan soalnya mesti diperiksa dulu. Apa kamu nganterin dia ke klinik?”


“Temen SMA dulu, Bu. Dia suaminya di luar kota jadi aku yang ambilin resepnya.”


“Aneh! Lain kali kalo ke klinik dibawa temen kamunya. Jangan Cuma kamu sendiri, orang yang lihat kan jadi mikir yang nggak-nggak.”


“Iya, bu.” Jawab Lea.


“Untung yang ketemu kamu di klinik itu Ridwan, coba kalo tetangga kita? Bisa abis kamu dikira hamil di luar nikah. Pulang malem aja disangka klayaban nggak jelas apalagi ketemu di dokter kandungan!”


“Iya, bu.”


“Meskipun ibu tau kalo anak ibu itu nggak mungkin hamil di luar nikah karena pulang malem pun ngurusin kerjaan. Tapi inget tetangga kita julid jadi harus bener-bener jaga diri jangan sampai disalah pahami. Jangan sampe kamu kayak anaknya Bu Teni yang hamil di luar nikah, amit-amit. Mau ditaruh dimana muka ibu kalo kamu sampe kayak dia. Bu Teni aja sampe depresi mikirin anaknya. Dia nggak nyangka anak SMA nya yang setiap hari belajar bahkan les tiap pulang sekolah malah dikuarin dari sekolah sebelum ujian gara-gara hamil.” Ria menggelengkan kepalanya.


“Ibu kalo sampe kamu kayak dia kayaknya juga bukan cuma depresi, mungkin bisa mati berdiri.” Lanjutnya sambil bergidig ngeri.