
Pukul satu siang Ridwan baru terbangun dari tidur nyenyaknya. Sudut bibirnya tertarik ke atas kala melihat Zoya masih terlelap dalam pelukannya. Ridwan mengelus sayang kepala Zoya, rambut gadis itu begitu kaku akibat sisa-sisa hair spray yang belum di bersihkan.
“KinderZoy, bangun!” Ridwan mengusap-usap pipi Zoya hingga gadis itu mengeliat bangun.
Mengerjakan matanya perlahan Zoya menatap Ridwan samar-samar kemudian kembali memejamkan matanya.
Ridwan mencubit gemas pipi Zoya, “bangun! Segitu nyamannya tidur di pelukan gue sampe nggak mau bangun.” Ledeknya.
Zoya melotot, “nyaman apanya! Yang ada gerah aku nya. Sampe mau nafas aja susah. Dari tadi tuh aku nggak tidur, Cuma ketiduran.” Ucap Zoya. Sejak tadi ia memang tak tidur karena tak biasa tidur pagi-pagi, tidur siang pun nyaris tak pernah mengingat banyak hal harus ia lakukan. Asli, tadi benar-benar hanya ketiduran karena terlalu lama menatap Ridwan yang terlelap, entah dari jam berapa dirinya ikut terlelap. Yang jelas bukannya merasa segar setelah bangun tidur, Zoya malah merasa pusing dan mual.
“Iya iya deh istri gue ketiduran. Sekarang siap-siap shalat deh, mandi dulu. Siapa yang mau duluan?” tanya Ridwan.
“Apa mau barengan aja biar cepet?” ledeknya kemudian.
“Mas!” sentak Zoya.
“Apa sayang?”
“Aku mandi duluan!” Zoya berlalu pergi ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ia langsung membasuh wajahnya kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Ia berharap rasa pusing dan mualnya segera hilang dan beralih jadi lebih fresh seperti saat ia bangun tidur dan mandi. Namun semua sia-sia selesai mandi ia malah makin kleyengan tak karuan. Menggenakan bathrop yang tergantung di kamar mandi dan keluar dengan rambut yang digulung menggunakan handuk.
“Mas Ridwan jangan lama-lama mandinya. Aku pusing banget ini rasanya mau muntah.” Ucap Zoya begitu tiba di depan Ridwan.
“Lo sakit?” Ridwan menangkup kedua pipi Zoya, memastikan suhu badan gadis itu. Suhunya normal, tapi wajah istrinya memang terlihat lesu.
“Gue mandi bentar. Abis itu kita ke dokter.” Lanjutnya sebelum pergi.
Berhubung tak memiliki baju lain disana, Zoya mengenakan baju kerjanya pagi tadi. Meskipun aneh karena sudah bolos kerja tapi tetap berpakaian formal, tapi setidaknya lumayan dari pada ia harus mengenakan kemeja Ridwan yang kebesaran.
Tak sampai sepuluh menit Ridwan sudah keluar dari kamar mandi. Entah metode mandi macam apa yang ia pakai hingga bisa selesai begitu cepat. Zoya sampai terheran karena biasanya Ridwan menghabiskan waktu lama di kamar mandi.
“Kita ke dokter sekarang. Nanti sekalian mampir ke kontrakan ngambil baju lo.” Ajak Ridwan. Karena panik ia sampai tak menyisir rambutnya yang masih basah.
“Aku nggak apa-apa, Mas. Kayaknya ini pusing efek nggak biasa tidur siang deh, jadi kleyengan gini. Minum teh tawar anget juga nanti sembuh. Sama…” belum selesai berucap perutnya sudah berbunyi.
“Lapar?”
Zoya mengangguk, “kayaknya asam lambung aku naik gara-gara telat makan, makanya mual.”
Ck! Ridwan menjambak rambutnya sendiri, “Sorry. Gue nggak mikirin lo udah makan apa belum.”
“Lagian kenapa tadi nggak bilang kalo belum makan sih? Kan kita bisa makan dulu.” Lanjutnya.
“Emang tadi pagi yang main gendong ke kamar siapa?” kesal Zoya.
“Iya, maaf. Kita makan sekarang yuk!” ajak Ridwan. “Pengen makan apa? Mau makan di luar apa di rumah? Mertuanya Kaleng punya resto yang menunya enak-enak loh. Kesana mau?”
“Keburu mati akunya Mas!”
“Ya udah makan di rumah aja. Ntar malem baru makan di luar rame-rame yah.”
Keduanya lantas pergi meninggalkan kamar. Keadaan rumah siang itu begitu sepi, hanya terdengar suara TV dari ruang keluarga. Mereka melewatinya begitu saja dan pergi ke dapur.
“Lo langsung makan aja, biar gue yang bikin teh anget nya.” Ridwan mengambil kotak teh dari tangan Zoya dan meminta gadis itu duduk di salah satu kursi yang sudah ia tarik.
"Mau gue ambilin?” tawar Ridwan.
“Nggak perlu, Mas. Makasih, aku bisa sendiri. Harusnya aku yang ngambilin Mas Ridwan makan, ini malah kebalik.” Jawab Zoya.
“Gue suami lo, itu udah tugas gue. Ngasih makan istri kalo sampe menyuapkan makanan ke mulutnya kan pahalanya double-double.” Ucap Ridwan.
“Makan duluan aja, gue bikin teh nya bentar.” Lanjutnya kemudian pergi ke belakang.
Zoya tak makan, ia masih menunggu Ridwan kembali. Ia justru melihat punggung suaminya yang sibuk di belakang sana. Ridwan kembali dengan dua cangkir teh tawar hangat dan meletakannya di depan Zoya.
“Nungguin yah? Disuruh makan duluan juga. Minum dulu kalo gitu.” Ridwan mengambil cangir Zoya dan meniupnya sebelum diberikan pada gadis itu.
“Hati-hati panas.” lanjutnya.
“Makasih, Mas.”
“Sama-sama sayang.” Ridwan mengelus puncak kepala Zoya.
“Gue janji bakal jadi suami idaman buat lo. Kayak yang lo ajarin ke gue selama kita tinggal bareng di kontrakan. Gue bakal jadiin lo perempuan paling beruntung karena udah jadi istri gue. Perempuan paling bahagia, paling…”
“Mama ada Om Ririd di sini.” Sedang susah payah mengucapkan kata-kata manis yang ia pelajari dari internet malah dikacaukan oleh teriak Raizel.
“Jeli nggak bobo siang?” tanya Ridwan.
“Belum, Om. Jeli nungguin Kakak Botol, soalnya tadi Jeli denger kakak botol teriak kesakitan. Om Ririd nakal yah ke kakak botol?” tanya Raizel.
“Kakak Botol kalo Om Ririd nakal bilang aja ke Jeli. Nanti Jeli bilangin ke Mama sama Oma biar Om Ririd di hukum. Tadi Jeli mau masuk, mau nyelamatin Kakak Botol tapi pintu kamar Om Ririd nggak bisa dibuka. Jeli udah ngajak Mama sama Oma tapi mereka nggak mau bantuin. Jeli malah dikasih jajan, maaf yah Jeli jadi lupa mau nolongin Kakak botol malah makan jajan. Pokoknya kalo Om Ririd nakal bilang sama Jeli yah.” Cerocosnya begitu cerewet.
“Om nggak nakal sayang. Jeli yang nakal nih jam segini belum bobo siang.” Ridwan mengusak gemas rambut ponakannya.
“Gara-gara lo anak gue jadi nggak mau tidur siang!” sela Kara. Ibu dua anak itu sudah berdiri di dekat meja makan sambil menyilangkan kedua tangannya. Matanya menatap Ridwan dan Zoya bergantian, lantas menggelengkan kepala.
“Ririd, bener-bener lo tuh nggak sabaran banget. Sampe berapa ronde? Si botol keliatan lemes banget.” Zoya yang sedang makan langsung menyemburkan makanannya dan terbatuk-batuk.
“Aku emang lagi nggak enak badan, Kak. Pusing gara-gara nggak biasa tidur siang sama asam lambung kayaknya naik.” Jelas Zoya.
“Bukan asam lambung lo yang naik. Selimut lo kali yang kurang naik makanya sampe masuk angin itu. Gue udah pengalaman, lain kali kalo abis main langsung pake baju, kalo nggak selimutan full badan.” Ucap Kara begitu renyah. Zoya yang mendengarnya malah jadi gugup tak karuan karena ucapan kakak iparnya begitu frontal.
“Lo juga, Rid! Kalo udah finish selimutin lah bini lo! Jangan mau enaknya aja.” Imbuhnya pada Ridwan.
“Jeli kalo main selalu pake baju, Ma. Emangnya ada yah permainan yang nggak pake baju?” tanya Raizel begitu polos. Seperti biasa si kecil itu selalu nimbrung jika ada obrolan.
“Itu…” Kara jadi kelabakan mencari penjelasan yang sekiranya bisa diterima putrinya.
“Rasain!” cibir Ridwan.
Tak mendapat jawaban, Raizel beralih bertanya pada Zoya. “Kakak botol tau permainan yang nggak pake baju?”
“Jeli sayang tanya sama Mama aja sana. Kakak botol nya lagi makan.” Jawab Ridwan.
"Nggak mau! Jeli mau main sama kakak botol aja."
Siang itu Ridwan berusaha keras supaya keponakannya mau menjauh dari Zoya. Tapi naas malah sebaliknya, layaknya agar-agar yang kebanyakan gula, Raizel malah begitu lengket dan tak mau meninggalkan Zoya barang sebentar. Sampai saat makan malam keluarga di resto neneknya saja Raizel pergi satu mobil dengan Zoya dan dirinya, tak mau bersama kedua orang tuanya. Katanya sih mau jagain Zoya takut Om malaikatnya bikin kakak botol teriak kesakitan lagi.
“Om anterin pulang yah? Besok kan Jeli sekolah.” Ucap Ridwan. Saat ini sudah pukul delapan dan ia ingin segera berduaan dengan istrinya.
“Nggak mau. Jeli mau bobo disini aja sama kakak botol sama Om Ririd juga.” Jawabnya sambil meneruskan gambarnya di dinding kamar Ridwan.
“Tapi ini udah malam sayang. Udah waktunya bobo.”
Raizel meletakan krayonnya dan berlari naik ke ranjang Ridwan setelah mengambil salah satu boneka kesayangannya dari sofa. “Jeli di tengah, kakak botol sama Om Ririd di samping Jeli yah.” Gadis kecil itu mengantur tempat.
Ck! Ridwan mengepalkan tangannya gemas.
“Biarin aja lah, Mas. Aku nggak apa-apa kok tidur bertiga. Lagian kata Mas Ridwan juga Jeli sering nginep disini kan?” ucap Zoya.
“Lo nggak apa-apa, gue nya apa-apa banget!” Ridwan pergi meninggalkan kamar.
Tak lama ia kembali bersama Lengkara, “tuh urus lah si Jeli. Masa malam pertama anak lo ngungsi disini sih!” Ridwan menunjuk Raizel yang sudah menguasai ranjang dan istrinya.
Lengkara menghampiri putrinya, “Jeli bobo sama mama papa yah?”
“Nggak mau! Kan biasanya juga kalo lagi nginep disini bobo di kamar Om Ririd.”
“Tapi kan sekarang Om Ririd udah ada temennya, jadi nggak perlu ditemenin sama Jeli.” bujuk Kara.
“Nggak apa-apa, Jeli yang pengen nemenin, kan Jeli anak baik. Lagian Jeli seneng mama, sekarang disini ada kakak botol juga jadi makin rame.” Jawab Raizel yang memeluk erat Zoya.
“Anak pinter yah Jeli.” puji Zoya. “Udah kak, nggak apa-apa Jeli tidur disini juga.” Imbuhnya pada Kara.
“Tuh kata istri lo nggak apa-apa, Rid.” Ucap Kara.
“Nitip Jeli yah, gue mau nemenin papa nya anak-anak mumpung Jeli disini terus Razia tidur sama Mommy Miya.” Lanjutnya seraya menepuk punggung adiknya.
“Kaleng, lo tega yah! Gue yang baru nikah masa lo yang mantap-mantap.” Kesal Ridwan.
“Kan lo udah, tadi pagi sampe siang. Jangan keseringan mantap-mantap, dijeda dulu. Malam ini lo tidur aja, tuh bareng sama Jeli juga.” Jawabnya kemudian berlalu pergi.
“Kaleng!”
“Kaleng!”
“Bener-bener dah punya saudara satu nggak pengertian banget!” gerutunya.
"Om Ririd, cepetan sini naik. Kita bobo, besok kan Jeli sekolah takut kesiangan." panggil Raizel dari atas ranjang.
"Bodo amat lah kesel gue!" gumam Ridwan.