
Hai apa kabar? Lama nggak update yah.
Kangen Ririd sama KinderZoy nggak? Aku sih kangen banget.
Maaf lama nggak update karena berduka. Ayah mertuaku meninggal 2 april lalu.
Sedih? Yups, pake banget malahan.
Tapi hidup tetap berjalan dan semua yang terjadi adalah yang terbaik. Meskipun masih nggak percaya kalo bapa udah nggak ada, soalnya bapak nggak sakit apa-apa.
Tahun ini sumpah nano-nano banget.
.
.
.
.
Zoya duduk diantara banyak orang yang menonton pertandingan game secara langsung dari layar besar di depan sana. Dari sekian banyak orang mungkin hanya ia seorang yang tak paham akan seru campur menenangkannya pertandingan yang sedang berlangsung. Selain banyak orang yang saling menyerang dan menghancurkan tiang-tiang, Zoya benar-benar tak mengerti dimana bagian serunya. Meski dua komentator di depan sana terus nyerocos mengomentari pertandingan serta kemungkinan tim mana yang akan menang berikut tips-tips ampuh atau pun cara yang bisa digunakan untuk memutar balikan keadaan supaya bisa menang, Zoya hanya menatap gambar bergerak itu dengan kosong.
Dua gadis di sampingnya yang merupakan pacar dari teman Ridwan terlihat tak kalah heboh dengan komentator, mereka juga sibuk berbicara tentang trik yang sama sekali tak Zoya pahami. Singkatnya Zoya hanya tau jika ingin menang maka tim harus bisa menghancurkan semua tiang milik lawan sejumlah sepuluh. Perkara cara, trik dan strategi yang digunakan ia tak paham sama sekali. Maklum otak Zoya isinya hanya bagaimana jualan mencapai target. Keberadaannya pun sekedar menyemangati suaminya. Baginya, tak apa tak mengerti yang penting kehadirannya bisa memberi dukungan dan selalu ada untuk Ridwan. Meski di sela-sela menonton ia tetap berkomunikasi dengan rekan-rekannya di kantor.
Saat banyak orang tepuk tangan, Zoya mengikutinya. Ia bahkan berdiri seperti kedua gadis di sampingnya saat pertandingan berakhir. Berbeda dengan kedua teman barunya yang langsung menghampiri pacar mereka setelah pertandingan berakhir, Zoya malah diam di tempatnya hingga Ridwan menghampirinya dengan beberapa orang gadis yang mengikutinya.
Begitu tiba di hadapan Zoya, dirangkulnya gadis itu dengan erat, tak lupa mendaratkan kecupan kilas di puncak kepala Zoya yang membuat beberapa gadis yang mengikutinya saling tatap.
“Kenalin istri gue, Zoya.” ucap Ridwan.
“Istri? Beneran istri kak Ridwan?”
“Iya. Mana lagi hamil, dua bulan.” Jawab Ridwan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zoya. apalagi lelaki itu langsung mengelus perutnya dengan lembut. “Anak ayah baik-baik yang disini.”
“Anak? Ya ampun maaf yah. Kita kira Kak Ridwan jomblo. Abisnya cewek yang ngaku tunangannya udah nggak keliatan.” Ucap salah satu gadis.
“Iya, makasih.” Jawab Ridwan sambil mengelus perut Zoya.
Setelah kerumunan para gadis pergi, Ridwan masih terus mengelus perut Zoya. “Anak ayah pengen makan malam pake apa hm?”
“Ish! Apaan sih Mas Ridwan!” Zoya menepis tangan suaminya. “Anak! Anak! Orang hamil juga nggak.”
“Setiap kata adalah do’a sayang. Jadi nggak apa-apa belum hamil juga, itung-itung berdo’a biar kamu cepet hamil.”
“Beda lah, kalo tadi Mas Ridwan bohong.”
“Bohong demi kebaikan dari pada dauber-uber terus. Lagian kalo kamu hamil aku udah siap pake banget. Mau langsung kembar juga nggak apa-apa.” Ucap Ridwan.
“Aku nya yang belum siap, Mas. Pengen nyelesein kuliah dulu, supaya kalo hamil bisa focus sama kandungan, supaya anak kita lahir sehat tanpa kurang apa pun. Soalnya ada temen aku, sama kayak aku sekarang lagi nyusun skripsi, dia lagi hamil tapi keguguran gara-gara stress katanya mikirin tugas.” Jelas Zoya.
“Aku nggak mau kalo sampe kayak gitu. Jadi kita tunda dulu yah sampe aku lulus kuliah, Mas.” lanjutnya.
Ridwan menggelengkan kepala, “nggak mau. Segala hal yang baik nggak boleh ditunda-tunda, sayang. Pokoknya aku jamin kalo kamu hamil nggak bakal stress. Istri aku bakal jadi perempuan paling bahagia, mau apa aja aku turutin. Suami kamu ini udah pengalaman nurutin keinginan orang ngidam. Jangankan orang ngidam, kamu nggak ngidam aja kalo pengen apa pun tinggal sebut pasti aku turutin, apalagi kalo ngidam.”
“Tapi jujur aku belum siap, Mas.”
“Kita jalani aja. Kalo di kasih sekarang atau pun nanti berarti itu udah yang terbaik. Yang penting nanti kita main yah.”
“Ujungnya pasti deh kesana. Libur dulu bisa nggak sih, Mas? bukannya besok masih ada pertandingan? Mending Mas Ridwan tidur yang cukup supaya besok seger. Bukannya malah ngajakin aku gadang terus.”
“Nggak bisa gitu sayang, justru kalo gadang bareng kamu jadi makin seger besoknya.”
Zoya hanya bisa pasrah, meskipun tak dipungkiri ia menikmati detik gadang mereka yang panas tapi tetap saja pagi-pagi ia jadi kurang tidur dan harus tidur siang paling tidak sejam untuk mengatasinya.
Karena Zoya yang tak banyak keinginan, mereka makan malam bersama tim meski harus pergi lebih dulu di saat yang lain masih asik berbincang. “Kita istirahat duluan.” Pamit Ridwan sebelum pergi.
“Istirahat apa istirahat?” ledek anggota tim.
“Istirahat plus-plus lah, biasa pengatin baru.” Timpal Davin. Tapi Ridwan tak ambil pusing, ia hanya tersenyum kilas kemudian pergi bersama Zoya meski teman-teman mereka terus meledek di belakang sana.