MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Tidak terima



Meninggalkan perusahaan, Lea menaiki taksi menuju rumah calon mertuanya. Sepanjang jalan ia menggerutu bahkan membanting ponselnya karena mami Jesi tak juga menjawab panggilan serta pesan yang ia kirimkan. Padahal biasanya wanita ini paling gercep soal komunikasi dengannya.


Sampai di rumah Mami Jesi, Lea langsung turun setelah memberikan ongkos. Gadis itu dengan angkuhnya berucap pada sang sopir untuk tak perlu memberi kembalian, padahal uang yang ia berikan hanya lebih lima ratus rupiah saja.


Di taman halaman rumah Lea melihat Raizel yang sedang sibuk dengan buku gambar. Gadis itu duduk di dekat jajaran kaktus mahal sang nenek.


“Tante Lea…” panggil Raizel. Gadis kecil itu memang selalu menyapa pada siapa pun yang ia temui dengan ramah meski tak terlalu menyukai Lea.


“Tante Lea bawa apa itu? Jajan buat Jeli?” tanyanya penasaran seraya mendekat ke arah Lea karena banyaknya paper bag yang dibawa.


“Kecil-kecil kepo lo. Mami Jesi mana?”


Raizel balas acuh. Ia meninggalkan Lea dan kembali focus pada buku gambar dan kaktus-kaktus.


Kini gantian Lea yang menghampiri Raizel, “gue tanya Mami Jesi kemana? Lo punya mulut buat apa sih!”


“Mulut Jeli buat ngomong, Tante. Tapi yah Jeli ngikutin Tante aja, tadi kan Jeli nanya ke Tante nggak di jawab. Gantian dong.” Jawabnya.


“Kata Mama kalo orang baik ke kita, kita juga harus baik ke mereka. Tapi kan tadi Tante nggak baik sama Jeli yah, jadi Jeli balas. Gitu loh Tante Lea.” Jelas Raizel Panjang lebar.


Cih! Andai bukan di depan rumah Mami Jesi, pasti sudah ia tabok gadis kecil menyebalkan di depannya ini.


“Dasar bocil si a lan!” umpatnya kemudian berlalu pergi ke dalam. Rasanya sia-sia ia menanyai gadis kecil itu. Sejak awal Lea merasa Raizel memang sulit di dekati. Entah memang sulit atau dirinya yang tak tau cara mengambil hati anak kecil.


“Assalamualaikum, Mami…” teriaknya dengan suara serak, seperti orang yang terlalu lama menangis.


Tak mendapati Mami Jesi di ruang tamu Lea lantas pergi ke dapur, salah satu tempat favorit calon mertuanya. Jika tidak ada di dapur pasti ada di taman belakang rumah mengurus bunga-bunga. Dan benar saja, Mami Jesi dan Lengkara sedang memasak di dapur.


“Mami…” tanpa basa basi Lea memeluk mami Jesi dengan wajah sedih.


Mami Jesi dan Lengkara saling tatap, tak lama Mami Jesi berusaha melepaskan pelukan Lea.


“Mami, barusan aku ke perusahaan buat ketemu Kak Ridwan. Tapi mami tau nggak apa yang Kak Ridwan ucapin sama aku? Masa Kak Ridwan bilang kita nggak ada hubungan apa-apa, Mi.” ucap Lea sambil terisak.


“Aku tuh jauh-jauh pulang dari Surabaya langsung ke kantor supaya bisa ketemu Kak Ridwan. Tapi sampe sana malah kayak gitu.” Adunya.


“Mami, Kak Ridwan udah keterlaluan. Masa aku juga di usir dari kantor, Mi.”


“Aku mau Mami ngehukum Kak Ridwan. Masa aku yang calon istrinya diperlakukan kayak gitu, Mi. padahal selama ini aku kurang apa coba, Mi? aku selalu sabar ngadepin Kak Ridwan yang terus-terusan cuek sama aku.” Lanjutnya Panjang lebar. Lengkara yang berada di belakang Lea komat-kamit menirukan ucapan Lea yang penuh dusta. Sementara Mami Jesi berusaha bersikap sebiasa mungkin, tak menunjukan emosi yang berlebihan seperti saran dari suaminya.


“Mi, kalo kayak gini lama-lama aku nggak kuat loh.” Ucap Lea.


“Mami harus bikin Kak Ridwan perhatian sama aku, Mi.” lanjutnya.


Meski malas dan super kesal, Mami Jesi menepuk pelan bahu Lea. “Tante tau, lama-lama kamu pasti nggak kuat sama sikap Ridwan. Makanya Tante sama Om Darmawan sudah datang ke rumah kamu beberapa hari ke belakang dan membatalkan pertunangan kalian. Kamu pantas dapat yang lebih baik dari Ridwan.”


“Maksud Mami?” Lea tampak terkejut mendengarnya.


“Nggak! Nggak bisa kayak gini, Mi. Ini namanya pembatalan sepihak, aku nggak terima!” tolak Lea.


“Bukan masalah terima atau tidak terima, Lea. Dari pihak kami tidak membutuhkan jawaban apa pun.” Jawab Mami Jesi.


“Sejak awal, pertunangan ini memang tak seharusnya ada. Selain karena kami yang kurang mengenal kamu dengan baik toh kedekatan kamu dan Ridwan pun tak berjalan lancar. Jadi berakhirnya pertunangan adalah keputusan yang tepat. Kamu bisa kembali bebas dan tidak perlu berusaha keras untuk mendekati Ridwan.”


“Tapi aku nggak terima, Mi. Orang tua aku juga pasti nggak setuju kan pertunangan aku sama Kak Ridwan dibatalkan?” tanya Lea. Ia yakin orang tuanya tak akan setuju mengingat betapa kayanya keluarga Ridwan. Ditambah lagi banyaknya hadiah yang dijanjikan keluarga Ridwan untuknya saat menikah nanti. Bahkan apartemen untuk kado pernikahan saja sudah dibelikan. Butik juga Sebagian besar di disokong investasi Mami Jesi. Lea tentu tak siap jika harus kehilangan semua itu. Kekayaan yang melimpah sudah di depan mata bagaimana bisa ia melepaskannya begitu saja?


“Tidak, Lea. Ayah dan ibu kamu sudah setuju pertunangan kalian dibatalkan. Mereka menerima keputusan ini dengan baik.” Jawab Mami Jesi.


“Nggak mungkin!” ucap Lea. Ia langsung beranjak pergi tanpa pamitan pada Mami Jesi maupun Lengkara.


“Tante Lea udah ketemu Oma? Tadi Oma ada di dapur lagi masak sama Mama.” Ucap Raizel yang melihat Lea berjalan melewatinya.


“Jeli nggak suka sama Tante Lea, nggak sopan.” Gumamnya karena pertanyaannya diabaikan Lea. “Untung Kakak Botol baik nggak kayak Tante Lea. Jadi nggak sabar pengen main sama Kakak Botol. Mana yah kok Om Ririd lama pulangnya.”


Tinggalkan Raizel yang sedang menunggu Om Malaikat kesayangannya pulang. Disisi lain Lea yang baru saja sampai rumah langsung mencari kedua orang tuanya.


“Bu, jelasin sama Lea! Apa bener pertunangan Lea sama Ridwan batal?”


“Kamu baru pulang, istirahat dulu.” Ucap Ria.


“Nggak, bu. Jawab dulu, bener?”


“Iya, sayang. Itu keputusan terbaik yang kami buat bersama.” Jawab Ria.


“Terbaik? Bersama? Bersama siapa bu kalo orang yang bertunangan saja tidak ada!” bentak Lea, “pokoknya aku nggak terima tunangan dibatalin!” lanjutnya.


“Lea! Jaga sikap kamu sama ibu!” Sentak Kohar yang baru saja pulang.


Lea tak menggubris ucapan ayahnya, ia malah kian menaikan nada bicaranya. “Pokoknya aku nggak terima pertunangan batal!”


“Kalo sampe nggak bisa balikan aku bakal tuntut keluarga Ridwan. Aku mau semua asset yang sebelumnya Mami Jesi janjiin buat aku, toh yang ngebatalin keluarga Ridwan dan aku nggak ngelakuin kesalahan apa pun.” Lanjutnya diakhiri senyum licik.


"Lea! jangan gila kamu!" sentak Kohar. Ia tak pernah mengira putri polosnya bisa berpikir sejauh itu.


"Keluarga Ridwan sudah banyak membantu keluarga kita. Ayah tidak mau gara-gara sikap kamu silaturahmi ayah dan Pak Darmawan jadi rusak."


"Terima keputusan ini dan jangan berulah!" tegasnya kemudian.


“Suka-suka aku.” jawab Lea lalu pergi ke kamar tak peduli ayahnya berteriak di belakang sana.


"Alea! ayah belum selesai bicara!"


"Lea!"