MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Mual



Selama resepsi pernikahan Ridwan dan Zoya berlangsung Lea benar-benar bersikap baik. Gadis itu sebisa mungkin menunjukan jika ia sudah menerima pertunangannya yang gagal. Toh mau tak menerima pun ia tak bisa melakukan apa-apa. Ridwan, calon suami sultan yang selama ini selalu ia pertahankan nyatanya sudah menjadi milik orang lain. Kesal? Tentu saja. Bukan sakit hati karena lelaki itu lebih memilih perempuan lain, tapi lebih ke kecewa karena harus kehilangan puing-puing kekayaan yang runtuh seketika. Soal perasaan ia benar-benar tak peduli, sebab sedari awal pun ia tak memilikinya. Bagi Lea, Refan tentu seribu persen lebih baik ketimbang Ridwan, kecuali soal harta tentunya.


Meski berat, Lea memberikan ucapan selamatnya dengan begitu tulus. Entah benar-benar tulus atau sekedar formalitas demi mengamankan diri dari ancaman Ridwan. Gadis itu lantas menyendiri di pojokan. Apalagi saat melihat Ridwan, Zoya dan si kecil menyebalkan pergi meninggalkan aula dengan gembira membuatnya begitu kesal. Tak ada yang bisa ia lakukan selain meneguk habis jus di tangannya.


Wajahnya baru mulai terlihat semringah saat mendapati Refan dan rekan-rekan kerjanya datang ke pesta. Tak ingin menyendiri terlalu lama, Lea bergabung ikut bergabung. Di depan teman kerja Ridwan yang lama Lea bisa langsung membaur. Gadis itu memang sudah lumayan sering ikut menemani Ridwan bermain game, bahkan hampir semua orang disana tau jika Lea adalah tunangan Ridwan dulu.


“Salut gue sama lo, Lea. Bisa-bisanya datang ke nikahan mantan. Kalo gue sih nggak kuat mental.” Ledek salah satu dari mereka.


“Yang penting Ridwan bahagia. Udah itu aja sih yang penting buat gue. Toh cinta nggak harus memiliki kan?” balas Lea.


“Wih keren! Keren!” mereka bertepuk tangan memuji Lea.


“Iya keren banget dah topeng lo!” sindir Davin yang baru saja menghampiri mereka. “Nikmatin aja makanan yang ada yah, nggak usah nyariin pengantinnya. Si Ridwan masih siang udah ngamer aja.” Lanjutnya terbahak.


Setelah kedatangan Davin mereka semua jadi sibuk sendiri, bukannya menikmati pesta malah lanjut main bareng itung-itung Latihan menjelang pertandingan beberapa hari ke depan. Sesame gamers memang tak kenal tempat. Dimana pun asal ngumpul layar HP auto miring. Andai Ridwan ada disana, lelaki itu pun pasti melalukan hal yang sama.


Lea ikut berpamitan saat kedua orang tuanya mengajak pulang. Ia memeluk Mami Jesi dengan sesegukan dan mengucapkan penyesalannya karena tak biasa menjadi menantunya.


Jujur Mami Jesi tak peduli, tapi karena di depan kedua orang tua Lea, ia membalas pelukan Lea dan mendo’akan yang terbaik untuk gadis itu.


“Nggak apa-apa nggak jadi menantu tante, masih banyak calon mertua baik di luar sana. Tante do’ain kamu dapat jodoh yang terbaik.” Ucap Mami Jesi.


“Jodoh yang sesuai dengan sifat dan sikap kamu. Karena perempuan yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik dan begitu pun sebaliknya.” Imbuhnya penuh penekanan. Lea hanya mengangguk lesu. Ia paham betul kalimat yang diucapkan Mami Jesi. Wanita itu tak sepenuhnya mendo’akan tapi juga malah menyindirnya.


Baru sampai rumah, Lea hanya berganti pakaian kemudian kembali pergi. “Ibu, aku nggak mau diganggu. Malam ini aku tidur di butik.” Pamitnya.


“Sekarang boleh pergi tapi nanti malam pulang, tidur di rumah saja.” Jawab Bu Ria.


“Aku lagi butuh sendiri, Bu. Aku mohon, ibu sama ayah ngertiin keadaan aku sekarang.” Rengek Lea.


“Ya sudah kamu boleh pergi. Kami tidak akan menganggu. Jangan lupa makan sama kunci butik sebelum tidur.” Ayah Kohar memberinya izin. Tanpa bicara Lea langsung pergi begitu saja. Bu Ria tampak khawatir dengan keadaan putrinya saat ini. Dua hari ini Lea jadi aneh karena bersikap baik, menghadirkan banyak tanda tanya di kepala sang ibu.


“Sudah biarin aja, Bu. Anak kita sudah dewasa, dia butuh waktu nenangin diri sendiri. Nerima kenyataan ini pasti berat banget buat Lea. Kita kasih waktu saja dia buat sendiri.”


Bu Ria mengangguk setuju meski gelisah. Pikirnya kasihan sekali putri semata wayangnya harus mengalihkan kesedihannya dengan bekerja di butik seorang diri. Namun alih-alih pergi ke butik dan berkerja demi menghalihkan kesedihan gadis itu justru sedang berpesta de sa han di ruang kerjanya. Ruang kerja yang tadinya rapi dan estetik kini sudah berubah layaknya kapal pecah. Mereka bermain berulang kali di berbagai sudut ruang. Dari mulai sofa hingga meja kerja tak luput dari sasaran aksi panas mereka.


“Uuh gue suka kalo lo kayak gini baby!” Refan yang terlentang di sofa begitu menikmati goyangan Lea. Tangannya me re mas buah dada yang menggantung di depannya dengan buas hingga ritme yang diberikan Lea semakin cepat diiringi de sa han merdu gadis itu.


“Permainan lo kalo lagi kesel emang perfect. Memuaskan!” Lea hanya tersenyum bangga mendengarnya.


“Gue bener-bener muak hari ini!” ucap Lea.


“Gara-gara di tinggal nikah hm ah…” bahkan di sela-sela permainan panas mereka masih sempat-sempatnya menggobrol.


“Nggak! Gue nggak peduli soal itu. Kesel aja nggak bisa dapetin asset yang udah dijanjiin nyokap Ridwan. Arrgh!” semakin emosi Lea semakin menggila. Gadis itu selalu menyalurkan emosinya dengan bermain panas. sebab, hanya dengan berhubungan intim bersama Refan yang bisa membuatnya merasa lega.


“Ahh terus baby! Lo bener-bener!” Refan me re mas kedua bo kong sintal Lea supaya gadis itu memacu temponya lebih cepat lagi karena ia akan segera mencapai puncak.


“Huekkk!” belum sampai puncak kenikmatan tiba-tiba Lea merasa mual. Ia menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi meninggalkan Refan begitu saja.


Lea berusaha memuntahkan isi perutnya tapi tak ada yang keluar sama sekali. Ia membasuh wajahnya dan menatap pantulan dirinya dengan rambut yang acak-acakan di dalam cermin. Refan yang kepalang tanggung menyusul Lea dan memeluk gadis itu dari belakang. Me re mas buah dada Lea dengan nakal dan memalingkan wajah gadis itu padanya kemudian mengecupnya kilas. “Kita Cuma minum dikit masak lo udah mabuk?”


“Sorry, kayaknya badan gue lagi nggak fit.” Jawab Lea.


“No problem baby!” Refan mengelus lembut paha Lea hingga membuat gadis itu kembali meremang.


“Uhh!” Lea tersentak saat kaki kirinya diangkat tiba-tiba dan inti dari tubuhnya mendapat hujaman kenikmatan. Mereka melakukannya lagi dan lagi hingga akhirnya Refan terlelap setelah puas dengan pelapasannya berulang kali. Sementara Lea, ia tak bisa terlelap justru berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi dan kembali muntah.


“Wine yang gue minum tadi kadaluarsa kali yah? Bawaannya enek mulu. sial!” gerutunya.