MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Calon Pilihan



Selepas shalat magrib Zoya masih menemani Raizel di kamar. Katanya gadis itu mau ganti baju dulu sebelum tiup lilin. Zoya tersenyum gemas melihat Raizel yang berusaha melepas bajunya sendiri meski masih kesulitan.


“Sini biar kakak bantu.” Panggil Zoya seraya beranjak dari sofa besar namun terasa sempit karena penuh dengan boneka.


“Biarin aja, Botol! Jeli udah biasa sendiri, biar dia belajar.” Sahut Kara yang baru saja masuk ke kamar putrinya.


“Zoya, Kak.”


“Iya maksud aku itu, maaf suka susah manggil pake sebutan yang bener kalo dari pertama aja dengernya botol. Si Jeli ini sering banget cerita kakak botolnya, aku jadi kebawa.” Jawab Kara seraya mengambil gaun baru dari lemari untuk putrinya.


“Jeli sayang, bajunya mama taruh sini yah. Nanti Mama bantu pasang kancing belakanganya.” Lanjutnya pada Raizel yang mengangguk paham.


Zoya cukup takjud dengan bagaimana Lengkara mendidik Raizel. Baru kelas dua SD tapi anak itu sudah lumayan mandiri dan tak manja.


“Jangan kesinggung yah, aku emang orangnya gini. Nggak ada maksud ngejek atau gimana tapi yah mau gimana lagi udah kebiasaan.”


“Adikku aja manggil aku Kaleng.” Kara masih saja membahas soal panggilan. Ia mengira diamnya Zoya karena tersinggung


“Kaleng?” Zoya sedikit heran mengetahuinya. Adik macam apa yang memanggil kakak secantik Lengkara menjadi Kaleng? Apa mungkin karena wanita di depannya terlalu berisik seperti Kaleng kosong yang jatuh makanya dipanggil Kaleng.


“Iya, Kaleng. Katanya singkatan dari Kakak Lengkara.” Zoya kini mengangguk paham, cukup bisa diterima oleh akal sehatnya meskipun harusnya nggak gitu juga sih.


“Ada satu lagi yah lebih parah, Om Raka suaminya tante Alya kalo manggil aku Santen sachetan.”


“Kok bisa Kak?”


“Kamu tau kan produk Santen sachetan yang namanya persis sama nama aku? Kara!”


“Ya ampun aku baru sadar lah. Kok bisa pas gitu yah Kak?” Zoya jadi terkekeh sendiri.


“Ya gitu lah. Di keluarga ini nama sebagus apa pun bakal berakhir ambyar. Anak aku yang pertama Graziano Argantara harusnya dipanggil Ziano malah berakhir jadi Razia. Terus adeknya si Jeli” Kara yang melihat putrinya hampir selesai mengenakan baju menghampirinya dan membantu mengancingkan kancing belakang.


“Namanya Raizel Queenara malah jadi Jeli. Padahal aku maunya dia dipanggil Queen, tapi yah udah lah.” Lanjutnya.


“Tapi Jeli seneng dipanggil Jeli, Mama.” Gadis kecil yang aslinya tak diajak ngombol itu ikut menimpali.


“Iya-iya kamu Jeli nutrijel rasa jambu yah.” Ledek Kara.


“Rasa vanilla, Mama.” Jawab Jeli.


“Iya-iya deh rasa vanilla.” Ucap Kara. “Lihat, sampe Jeli aja udah ketularan eror kan? Di keluarga aku yang punya panggilan paling waras Cuma Ririd. Enak banget dia namanya Ridwan eh dipanggilnya jadi Om Malaikat.”


“Lucu-lucu kak panggilannya.” Jawab Zoya lirih. Mendengar nama Ridwan disebut ia jadi ingat Mas Ridwan nya.


“Kalo kamu gabung sama keluarga kita juga pasti dapat panggilan baru. Apa yah yang cocok buat kamu panggilannya hm…” sambil mengikat rambut putrinya Kara memikirkan panggilan ter the best menurutnya.


“Kakak botol, Mama.” Sambung Jeli.


“Nggak! Masa jadi botol sih sayang.” Jawab Kara. Zoya hanya pasrah mendengar perdebatan lucu ibu dan anak di depannya.


“Apa yah? KinderZoy. Iya KinderZoy lebih cocok. Jajanan bentuk telur yang bikin gigi Jeli ompong.” Ucap Kara.


“Kenapa ketawa? Nggak suka?” lanjutnya.


“Bukan, Kak. Mirip sama panggilan seseorang. Dia biasa manggil aku pake sebutan itu.” Jawab Zoya.


“Orang special?” tanya Kara.


Zoya mengangguk, malu. “iya, Kak.”


“Pacar?” tanya Kara lagi. Ia sedikit kecewa, sepertinya niatan sang mami untuk menjodohkan gadis imut di depannya dengan Ridwan akan gagal.


Zoya menggeleng, “bukan, Kak. Tapi dia selalu ngaku-ngaku calon suami aku.”


Kara memicingkan matanya. “bukan pacar tapi ngaku-ngaku calon suami? Fix itu orang nggak waras sih. Udah mending sama adek aku aja!”


“Iya Kakak botol nikah sama Om Malaikat aja. Nanti kita bisa bobo bertiga, Jeli kan kalo malem minggu nginep di rumah Oma Jesi.” Si Jeli main nyambung.


“Tuh dengerin anak aku aja udah setuju.” Ucap Kara meledek.


“Udah cantik anak mama, yuk kita tiup lilinnya sekarang.” Lanjutnya seraya menggandeng Raizel keluar, Zoya mengikuti mereka dari belakang.


Teman-teman Raizel sudah berkumpul di dekat kue ulang tahun dan menyanyikan lagu sambil tepuk tangan saat Raizel datang. Acara tiup lilin hingga potong kue berjalan dengan meriah hingga satu persatu teman-teman Raizel memberikan ucapan selamat serta hadiah. Gadis itu terlihat sangat senang menerima setiap ucapan dan kado aneka ukuran. Zoya memilih bergabung dengan orang tua teman-teman Raizel saat gadis kecil itu sibuk dengan teman-teman dan keluarga besarnya.


“Pasti bukan sembarang keluarga nih sampe Pak Darmawan aja hadir di ulang tahun Raizel, mana akrab banget sama Bu Jesi. Aku sapa dulu aja kali yah.” Ucap Zoya lirih yang kemudian pamit dari kelompok para ibu.


Zoya menghampiri keluarga Raizel, Berniat menyapa Papi Rama sekaligus memberikan kado dan kemudian berpamitan.


“Jeli, ini hadiah dari kakak, semoga suka yah.” Zoya berjongkok di depan Raizel supaya tinggi mereka sama, “kakak do’ain Jeli Panjang umur, makin rajin sekolah, jadi anak pinter sama bahagia selalu. Pokoknya do’a yang baik-baik buat Jeli semua deh.” Lanjutnya kemudian berdiri setelah memeluk gadis itu.


“Bu Jesi, saya permisi mau pulang.” Ucapnya pada Mami Jesi.


“Pak Darmawan selamat malam.” Lanjutnya menyapa Papi Rama dengan sopan.


“Bos aku di kantor, bu.” Ucapnya pada Mami Jesi, “Ibu kenal juga?”


Mami menahan tawa, “Ya kenal lah dia ini kan-


“KinderZoy!” belum selesai Mami Jesi bicara putranya sudah datang merangkul gadis yang berdiri di depannya.


“Ya ampun ternyata beneran lo!” Ridwan tersenyum girang.


“Gue kira dari tadi salah liat!”


“Mas Ridwan ngapain disini? Eh Pak Ridwan maksud saya.” Ralatnya cepat, merasa tak enak jika memanggil dengan sebutan Mas di depan atasannya, Pak Darmawan.


“Nemenin Pak Darmawan ke pesta patner bisnis yah?” tebak Zoya.


Ridwan tertawa, semua isi otaknya yang kacau balau seketika menghilang. Perempuan yang sejak tadi membuatnya pusing kini ada di hadapannya dengan wajah polos.


“Patner bisnis apaan.” Jawabnya sambil tergelak.


“Om Malaikat, mana kado buat Jeli? katanya dua.” gadis kecil yang tadi sibuk dengan teman-temannya menarik ujung jas Ridwan.


Yang dipanggil Ridwan tapi Zoya ikut menoleh ke arah suara yang menyebut Om Malaikat, “Ini Om Malaikatnya Jeli?” tanya Zoya dengan tatapan tak percaya.


“Iya kakak botol, ini Om Ririd. Om Malaikatnya Jeli.” tegas gadis kecil itu.


“Kado nya masih di mobil, nanti Om ambil. Jeli main dulu sana.” Jawab Ridwan.


“Nggak mau! Mau sama Om Ririd aja.” Tolak Jeli, “Om Ririd, kenalin ini temen Jeli namanya Kakak botol.” Lanjutnya sambil menunjuk Zoya yang sudah menjadi patung tanpa bisa berkata-kata sejak tadi.


“Oh ini kakak botol… hai kakak botol…” ledek Ridwan. “Lo kenapa sih KinderZoy diem aja? Sapa calon mertua dong.” Lanjutnya.


“Kalian kenal?” berbeda dengan Zoya yang tak bisa berkata-kata Mami Jesi justru senang campur aduk mendengar putranya mengenalkan Zoya sebagai calon mantu.


“Kenal lah, Mi. Mereka satu kantor, Zoya kerja di perusahaan kita.” Bukan Ridwan yang menjawab, melainkan Papi Rama. Ridwan masih sibuk meledek Zoya yang mendadak jadi patung.


“Ya ampun! Tau gitu mami nggak usah repot-repot ngeborong daganganya dia. Mami kira dia cuma member yang jualan nggak kerja di kantor, soalnya dia bilang masih kuliah.” Ucap Mami Jesi.


“Emang nggak salah nih mami pilih kamu jadi calon mantu, masih kuliah aja mau sembari kerja, nggak malu juga jualan kesana kemari. Mami bangga sama kamu.” Mami Jesi langsung memeluk Zoya yang masih diam.


“Jelas bikin bangga lah kan calon istri aku, Mi.” timpal Ridwan. “Pilihan aku emang nggak pernah salah, emangnya pilihan mami cuma kelihatan lugu eh taunya suhu.” Ejek Ridwan.


“Apaan pilihan kamu? Si botol ini pilihan mami kok.” Mami Jesi tak mau kalah. “Tadi katanya nggak mau sama calon baru pilihan mami?” ejeknya kemudian.


“Tadi kan nggak tau, Mi.” jawab Ridwan. “Berhubung Mami udah klop sama Zoya, Papi juga dari awal nggak keberatan. Jadi kita langsung gas KUA aja yah, KinderZoy?”


“Mami setuju!” Ucap Mami Jesi dengan semangat, sementara yang ditanya masih mematung mencerna keadaan.


.


.


.


.


Aku juga setuju sih.


Kalian setuju nggak?


Jangan lupa like komen sama vote nya gaes, udah senin nih😘