MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Mutualisme



Sepulang dari klinik tadi Ridwan dan Zoya pergi ke kantor setelah lebih dulu mengantarkan Mami Jesi pulang. Ridwan mengantarkan Zoya hingga ruangannya. Sudah tak aneh lagi bagi para karyawan disana karena sudah tau jika salah satu anggota tim mereka adalah menantu dari pemilik perusahaan. Jika dulu mereka selalu heboh tiap kali Ridwan datang, kini hanya mengangguk penuh hormat dan menyapa basa-basi.


“Jangan lupa vitaminnya nanti siang di minum. Terus ini camilan, takutnya nanti pengen supaya mudah. Soalnya hari ini aku ada jadwal ketemu klien di luar.” Ridwan memberikan satu paper pag penuh makanan yang ia beli dalam perjalanan tadi. Hampir semua penjual makanan ringan yang di jumpai di jalan selalu dibeli.


“Iya, Mas. Aku udah paham kok. Sehari tiga kali kan? Tadi juga kan udah Mas jelasin waktu di mobil.”


“Sip, pinter banget Kinderzoy kesayangan aku. Anak ayah baik-baik didalam yah, jangan rewel. Soalnya Ayah nggak stay deket ibu.” Ridwan mengelus perut Zoya.


“Siap, Ayah.” Zoya terkekeh geli menjawabnya. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya sangat senang jika dijawab seperti itu.


“Aku pergi dulu. Kalo ada apa-apa telepon aja.”


“Iya, Mas.”


Ridwan mengecup kening dan perut Zoya sebelum pergi. “Malu, Mas.”


“Nggak apa-apa, biar semangat kerjanya.” Ledek Ridwan.


Zoya berjalan menunduk ke mejanya. Ia yakin tak semua orang melihat ke arahnya tadi, tapi tetap saja malu. Akhir-akhir ini rasanya ia terlalu sering membuat malu. Dari mulai pingsan di kantin hingga kini malah terang-terangan dicium di depan ruangan.


“Cie yang masih pagi udah sayang-sayangan aja.” Ledek Sisil.


“Apaan sih! Nggak.”


“Gue liat kali.” Ledeknya lagi. “Masih ada nggak yah stok yang kayak Pak Ridwan? Gue mau satu lah.”


“Nggak ada lah, cuma satu di dunia. Punya aku.” Balas Zoya.


“Cie bucin. Gimana sekarang masih sakit nggak? Padahal nggak usah masuk kerja dulu, di rumah aja.” Tanya Sisil.


“Kemaren pulang kerja gue pengen kesana jengukin lo. Tapi kata Romi nggak usah. Dia bilang paling lo bunting.” Lanjutnya seraya menunjuk Romi dengan tatapannya.


Romi hanya mengangguk, “berapa minggu kata dokter?” tanyanya.


“Apanya woy yang berapa minggu? Zoya nikah baru juga kemaren-kemaren masa udah hamil aja. Nggak mungkin sih menurut gue.” Timpal Sisil.


“Lima minggu.” Ucap Zoya. Gilang dan Sisil seketika melongo, sementara Romi terlihat tetap santai.


“Gue bilang juga apa! Selamat yah, Pak Ridwan jago juga ternyata.” Ucap Romi.


“Serius, Zoy?” Sisil masih tak percaya.


Zoya mengangguk. “Iya. Barusan abis dari dokter. Nih vitaminnya ada.” Zoya mengeluarkan obat yang ia peroleh dari dokter.


“Liat nih kelakuan Pak Ridwan.” Zoya lanjut memamerkan paper bag penuh makanan.


“Semua makanan dia beli, takut aku ngidam. Dari kamaren juga selalu nanyain pengen apa? Ujung-ujungnya maksa aku buat ngidam padahal aku nggak pengen apa-apa.” Zoya tergelak menceritakannya.


“Kalian kalo mau ambil aja. Ada banyak banget. Nanti juga abis meeting di luar pasti bawa makanan lagi. Dia sekarang belanja terus.” Lanjutnya.


Sisil langsung membuka paper pag Zoya, mengambil beberapa makanan dan membaginya ke Romi dan Gilang.


“Idaman banget dah Pak Ridwan. Btw, kalo nanti kesini bawa makanan lo bilang dong pengen pizza jumbo. Gue lagi pengen makan itu soalnya.” Ucap Sisil.


“Lo aja, gue sih nggak.” Ketus Gilang. Ia beranjak pergi padahal masih jam kerja.


“Kenapa sih tuh anak? Aneh banget. Lo aja deh Rom, mau apa?”


“Bebas.”


“Lo mau apa bumil?”


“Aku nggak pengen apa-apa, Sil. Susu kotak vanilla dingin udah cukup banget buat aku.” Jawab Zoya.


“Uh dasar bu bos! Kalo gue jadi lo udah ngidam jalan-jalan ke luar negri deh.” Ledek Sisil.


Sampai jam makan siang tiba mereka semua asik bekerja sesekali meledek bumil yang menjalani kehamilannya dengan enjoy tanpa drama mual muntah lagi. Kini mereka semua tau Zoya anti nasi, hingga untuk makan siang mereka memilih menu selain nasi. Tak hanya itu, kehamilan Zoya membawa berkah untuk tim nya. Karena Ridwan tak hanya membeli makanan untuk Zoya melainkan untuk semua anggota tim nya juga. Semua berkat Sisil yang pandai memanfaatkan keadaan, berkedok bumil ingin berbagi, semua jadi kebagian rejeki.


Semua orang di ruangan itu bergembira kecuali Gilang. Di saat yang lain tengah menikmati makanan, ia malah pergi keluar. Sisil yang menyadari hal itu segera membuntuti Gilang. Rupaya laki-laki itu pergi ke taman belakang perusahaan dan menyumpal kedua telinganya dengan headset. Berharap dengan mendengarkan lagu kesukaannya, ia bisa sejenak melupakan semua obrolan tentang kehamilan Zoya. Bukan tak bahagia mendengarnya, tapi ia belum siap. Mengikhlaskan sudah, tapi segala tentang Zoya di hatinya masih tersimpan apik. Kadang ia tak percaya jika gadis yang selalu berada disisinya sudah menjadi milik orang lain. Apalagi sekarang tengah hamil, rasanya sang pencipta begitu tak adil padanya.


Sisil duduk di samping Gilang. Mengambil satu headset dan memindahkannya ke telinganya. “buset dah galau banget ini lagu.”


Ck! Gilang berdecak lirih. “Gue nggak mau diganggu.” Ketusnya.


“Mohon maaf tapi gue mau ngengganggu nih. Sedih yah denger Zoya hamil?”


“Bukan urusan lo.” Gilang mengambil headset dari telinga Sisil dan memasangnya kembali ke telinganya.


Bukan Sisil namanya jika tak usil. Ia mengambil kedua headset Gilang dan menyimpannya ke saku.


“Sisil! Lo! Please, gue lagi nggak mood.”


“Makanya gue disini buat bantuin mood lo balik.” Jawab Sisil.


“Gue kasih tips supaya cepet ngelupain orang yang kita suka. Lo tuh harus move on! Zoya udah bahagia. Cari orang yang mau nerima lo apa adanya, seenggaknya lo harus punya pasangan lah biar nggak galau mulu.” lanjutnya panjang lebar.


“Gue nggak minat.” Jawab Gilang singkat.


“Tapi gue minat. Gue udah panas liat mantan sama pacarnya. Lo harus jadi cowok gue buat manasin mantan. Biar dia tau kalo gue bisa dapat yang lebih baik dari sampah kayak dia. Lo galau, gue juga galau, jadi cocok kalo kita jadi satu. Simbiosis mutualisme.” Ucap Sisil.


“Gue nggak mau. Gila lo! Udah nggak waras!” tolak Gilang.


"Oke sip gue anggap lo setuju." balas Sisil. "Gue cabut dulu Yang." lanjutnya setelah mencubit gemas pipi Gilang.


"Nggak waras!" gerutu Gilang seraya mengusap pipi bekas cubitan Sisil. "amit-amit. amit-amit... hih!"


.


.


.


selamat lebaran semuanya. mohon maaf lahir bathin.


Aku nggak terima THR, tapi kalo THV mau banget🤭🤭