
Zoya baru saja keluar dari ruang interview didetik-detik terakhir. Datang paling pagi tapi dipanggil paling akhir, sungguh membuatnya tak tenang sama sekali selama menunggu. Dirinya sampai melewatka makan siang meski Gilang berulang kali membujuknya. Bukan karena tak lapar, tapi karena belum lega jadi lapar pun tak terasa. “A Gilang makan siang duluan aja, aku nggak lapar.” Begitu katanya tadi.
Pelamar di perusahaan besar memang luar biasa, begitu banyak dengan aneka latar belakang, dari mulai fresh graduate hingga yang sudah berpengalaman. Bahkan ada yang masih bekerja di perusahaan lain tapi nekad ikut melamar di Loveware dan akan resign dari perusahaan lama jika diterima di sini. Zoya jadi sedikit pesimis untuk bisa diterima di perusahaan impiannya ini.
Zoya menghembuskan nafasnya dengan berat begitu keluar ruangan. Gilang yang sejak tadi setia menunggu meski dirinya sudah diwawancara sejak pagi langsung menghampirinya.
“Gimana? Bisa kan jawab pertanyaannya?” tanya Gilang.
“Hm.” Jawab Zoya.
“Pasti nggak sesulit yang kamu bayangin kan? Aku bilang juga apa, kalo wawancaranya bakalan mudah.”
“Emang mudah sih, A.”
“Terus kenapa lesu gitu?”
“Ya aku nggak yakin aja bisa lolos.” Jawab Zoya.
“Tapi tadi semua kamu jawab kan?”
“Iya. Tapi kan jawaban pelamar lain yang masuk bareng aku bagus-bagus. Mereka kelihatan lebih meyakinkan.” Jawab Zoya sambil mengingat dua orang yang tadi diwawancara bersama dirinya. Mereka semua berpengalaman sedang dia kuliah saja belum lulus.
“Udah nggak usah dipikirin, yang penting kamu udah usaha yang terbaik. Soal hasil kita serahin aja sama Tuhan. Sekarang mending kita makan aja gimana?”
“Aku makan di rumah aja deh A, udah sore juga.” Jawab Zoya.
“Nggak, kita makan dulu. Nanti aku anterin kamu pulang. Tadi makan siang juga kan kamu nggak makan.”
“Tapi kan…”
“Zoya! kamu kok sekarang susah banget dibilangin sih. Biasanya setiap diajak nggak pernah nolak. Aku tuh Cuma takut kamu kenapa-kenapa, nanti kalo sakit gimana? Ingat yah nanti malam kan langsung ada pengumuman penerimaan, kalo sakit besok nggak bisa kerja dong.” Ucap Gilang.
Zoya mengangguk, “Iya udah ayo A.” jawabnya. Padahal dalam hati ia ingin buru-buru pulang dan lebih baik makan bersama Ridwan. Dirinya juga sedikit khawatir karena seharian patner kontrakannya tak memberi kabar sama sekali.
Gilang membawa Zoya ke salah satu restaurant dan memintanya untuk memesan apapun yang ia inginkan.
“Kalo aku pesen jus aja boleh A?”
“Sama makanannya, masa jus doang. Kamu nggak usah sungkan gara-gara kejadian tempo hari. Sekarang kan nggak ada si benalu dan uang aku juga cukup kalo buat makan kita berdua.” Jawab Gilang. “Apa mau aku pilihin aja?” tawarnya kemudian.
“Nggak usah A. Aku mau jus stroberi aja satu.”
“Makanannya?” tanya Gilang.
Zoya mengeluarkan tas bekalnya. “Makanannya ini…” ia lantas memamerkan mistingnya.
“Kamu bawa bekal?” Gilang tersenyum melihat isi misting Zoya, hanya nasi dan telur dadar. “Gimana kalo bekal kamu buat aku aja? Kamu pesen makanan yang lain.” Lanjutnya. Ia sungguh ingin mencoba masakan Zoya. Sekian lama mengenal Zoya tapi gadis itu belum pernah memasak untuknya, terkecuali pisang goreng yang selalu ada setiap dia main ke kontrakan.
“Nggak mau A. Ini buatan Mas Ridwan jadi harus aku habisin. Dia pagi-pagi banget bikinin aku bekal, katanya takut aku lama nunggu dipanggil wawancara. Eh nggak taunya emang lama beneran.” Zoya tersenyum di sela-sela menghabiskan bekalnya. Tak ada yang istimewa dari bekalnya, rasanya pun biasa saja, tapi mengingat orang yang membuatnya begitu menyenangkan. Setidaknya dibalik semua sikap nano-nanonya Ridwan masih perhatian terhadap dirinya.
“A Gilang kenapa gitu banget ngeliatinnya? Mau nyobain makanan buatan Mas Ridwan?” tawar Zoya. “lumayan enak kok, kan aku yang ngajarin dia masak.” Lanjutnya.
“Nggak, makasih. Buat kamu aja.” Jawab Gilang yang seketika kehilangan selera makannya. “Sorry aja gue makan masakan si benalu. Nggak level!” batinnya.
Selesai makan Gilang mengantarkan Zoya pulang. Sampai kontrakan Gilang tak mampir dan memilih langsung pergi karena melihat Ridwan yang sedang duduk santai dengan tetangganya dan terus focus pada layar HP.
“A Gilang beneran nggak mau mampir? Nanti aku bikini pisang goreng.”
“Nggak, aku langsung pulang aja. Ntar malem siapa yang duluan liat pengumuman langsung kasih kabar yah.”
“Siap, A. Semoga kita diterima yah, supaya bisa kerja bareng-bareng.” jawab Zoya. Dia segera masuk setelah mobil Gilang berlalu pergi.
Baru menutup kembali pagar, Zoya sudah berdecak kesal melihat Ridwan dan Bang Ahmad tartawa sambil menatap layar ponsel.
“Ehm! Seneng banget yah kelihatannya!” baru datang Zoya langsung merebut ponsel Bang Ahmad dari tangan Ridwan.
“Heh?” Zoya terbelalak, dirinya sudah bersiap marah-marah tapi ternyata tak ada video bo kep disana, hanya video banyak orang aneh yang saling menyerah tiang unik serta entah itu hewan atau mahluk apa yang ikut saling menyerang, Zoya tak paham sama sekali.
“Apa? Hah heh hah heh! Dikira gue nonton bo kep?” ucap Ridwan, “balikin! Dikit lagi menang nih.” Ridwan merebut HP Bang Ahmad dari tangan Zoya. Dia melanjutkan permainannya yang hampir usai. Lumayan juga HP Bang Ahmad lumayan bisa mengobati kangennya pada game, meskipun awalnya tetangganya itu hendak memberi treatmen si a lan lagi.
“Tenang aja Neng, sepupu Neng Zoya belum sempet nonton. Baru Abang tawarin tadi sih tapi malah buka game. Paling abis ini kalo menang baru kita mau nonton, supaya cepet normal sepupu Neng Zoya.” ucap Bang Ahmad.
“Bang Ahmad! Aku bilangin teh Ismi loh Abang ngajarin yang nggak bener!”
“Ini demi kebaikan Neng.” Jawab Bang Ahmad.
“Nggak. Mas Ridwan, masuk! Bang Ahmad pulang!” ucap Zoya.
“Bentar Kinderzoy, tanggung ini!” tolak Ridwan.
“Nggak ada tanggung-tanggungan. Masuk sekarang!”
Ck! Ridwan berdecak lirih. “Besok lagi Bang.” Ucapnya sebelum masuk.
Baru saja menutup pintu, Zoya langsung menadahkan tangannya pada Ridwan.
“Apa?” tanya Ridwan.
“Kok apa sih! Setoran mana? Setoran!” ketus Zoya.
Ridwan hanya diam, bingung juga harus menjawab apa. Masa iya dirinya harus jujur jika tadi belum mendapat uang sama sekali bahkan barang jualannya pun ia tinggal dijalan gara-gara dikejar orang mencurigakan yang terus mengikutinya. Beruntung dirinya masih berhasil melarikan diri.
“Mas Ridwan kok diem? Uangnya mana? Ini barang-barang yang aku siapin tadi pagi abis semua yah?” tanya Zoya karena tak melihat sisa dagangan.
“Itu sebenernya…”
“Apa?”
“Barang dagangan ilang pas gue tinggal ke toilet.” Jawab Ridwan, berbohong.
“Mas!!” suara Zoya langsung meninggi.
“Mas Ridwan tuh gimana sih! Mas tau kan itu berapa juta? Ya ampun aku nggak ngerti lagi sama Mas Ridwan! Bisa-bisanya…” dan ceramah Panjang lebar yang mengakibatkan telinga panas pun kembali terjadi.
“Potong utang aja lah gampang.” Jawab Ridwan enteng yang membuat emosi Zoya semakin meluap.
“Mas!!”
“Udah nggak usah bawel, ntar gue ganti sepuluh kali lipat. Kalo perlu gue kasih sama pabriknya sekalian.” Jawab Ridwan yang hanya dibalas tatapan kesal oleh Zoya.
“Tapi kalo mau pabriknya harus jadi bini gue sih, gimana mau nggak? Spesial nih gue berbaik hati nawarin lo, Zoy.” Lanjutnya meledek.
Zoya tersenyum ilfeel. Ia mengambil selimut dan melemparkannya pada Ridwan.
“Mas Ridwan mending tidur dulu deh, baru mimpi. Aku liatnya aneh, ada orang mimpi padahal nggak tidur.”
.
.
.
aku udah setoran up nih.. mana setoran like, komen sama hadiahnya????