
Zoya keluar dari kamar mandi tanpa mengganti pakaiannya. Dia yang biasanya hanya mengenakan handuk setelah mandi mendadak mengenakan baju yang ada karena kini ada penghuni baru di kontrakannya. Berjalan pelan kemudian mengintip memastikan apakah Ridwan sudah tidur mengingat dirinya dengan sengaja berlama-lama di kamar mandi tadi.
“Eh buset bikin jantungan aja!” teriak Zoya kala matanya bersitatap dengan Ridwan yang berdiri di depan pintu masuk dengan tatapan tajam padanya.
“Kirain udah tidur.” Ucap Zoya seraya berjalan ke arah lemari plastik kecil merk olimpok dan mengambil baju dari sana.
“Kumat deh jadi patung lagi ini orang.” Batin Zoya karena Ridwan hanya meliriknya tanpa bicara. Tapi demi apa pun tatapan Ridwan saat ini sangat menakutkan.
Zoya tak peduli dan kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
“Lo harus klarifikasi ke orang-orang! Nggak terima gue dibilang hm…” bahkan untuk menyebut kata Ho mo Ridwan begitu jijik.
Zoya tersenyum tipis, “nggak mau.” Tolaknya sambil mengosok rambutnya dengan handuk untuk mengeringkan.
“Lo klarifikasi atau gue bikin lo bunting biar jadi bukti!” ancam Ridwan dengan asal ceplos.
“Buntingin aja kucing sana.” Ledek Zoya.
“Lo yah! Kecil-kecil!”
“Apa? Apa?” sungut Zoya. “Aku nih cape yah Mas. Aku ngerasa huh nggak tau lah, males aja diomonginnya. Berasa aku ngeluh padahal Allah udah ngasih banyak nikmat diantara ke si a lan ketemu Mas Ridwan hari ini.”
“Gini aja deh Mas. Aku tuh sebenernya bisa aja nggak peduli sama Mas, bisa aja kabur, bisa aja bodo amat, mau Mas lapor polisi soal HP lima puluh juta itu juga nggak masalah toh nggak ada bukti. Aku tuh udah mikir banyak sepanjang jalan tadi tapi akhirnya hati aku yang selembut kapas ini nggak ngebiarin Mas Ridwan lontang lantung nggak jelas.”
“Bentar jangan dipotong! Aku belum selesai bicara Mas.” Sela Zoya sebelum Ridwan berucap.
“Soal jeruk makan jeruk yang aku karang ke bapak sama ibu kontrakan plus tetangga-tetangga anggap aja angin lalu.” Ridwan sudah melotot mendengar Zoya berucap begitu enteng.
“Sabar dulu! Sabar!”
“Tadi tuh nggak bisa kepikiran apa-apa pas ditanya bu Rateni. Mau bilang kalo Mas saudara aku dari kampung nggak mungkin soalnya mereka tau aku anak tunggal, dulu aja pas pertama datang kesini dianterin keluarga sekalian dititipin ke pemilik kontrakan.”
“Kalo aku bilang sepupu tapi nggak ho mo susah juga, pasti nggak boleh tinggal bareng kalo Cuma berdua. So, alasan yang aku bikin tadi udah paling oke.”
“Kalo Mas keberatan ya udah tinggal keluar aja dari sini. Pulang sana katanya orang kaya.” Pungkas Zoya.
Ridwan hanya diam, ia tak punya pilihan lain saat ini. “Kalo gue pulang keenakan lo dong nggak bayar utang!”
“Gue mau tidur lo nggak usah bawel lagi. Panas kuping gue denger ocehan lo.” Ridwan merebahkan tubuhnya di kasur dan membelakangi Zoya.
“Dimana-mana cewek sama aja, rela bergadang demi drakor nih pasti.” Batin Ridwan. Mengingat bagaimana kakak dan adik dari kakak iparnya juga tergila-gila pada actor negeri gingseng hingga rela kurang tidur.
“Lo belum tidur?” tanya Ridwan dengan suara yang dibuat-buat seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Zoya tak menoleh sama sekali, “Kepo.” Jawabnya singkat. “Tidur tinggal tidur aja. Jangan ganggu!” lanjutnya.
CK! Ridwan berdecak lirih. “Udah kayak Santen sachetan kedua nih, serius banget kalo udah nonton.” Batinnya.
Karena tak bisa tidur Ridwan akhirnya menatap langit-langit kamar sambil memikirkan solusi terbaik untuk masalahnya. Ia tak mau menikah dengan Lea tapi tak mau jadi gembel juga, mana belum apa-apa untuk bertahan hidup sudah dibilang penyuka sesama jenis.
Huft!! Ridwan menghembuskan nafas kasar sambil melirik sekilas ke arah si biang penyebar gossip tak jelas. Gadis itu sudah terlelap dengan kening yang menempel di keyboard laptop.
“Bisa-bisanya tidur posisi kayak gitu.” Gumam Ridwan. Awalnya ia tak peduli namun lama-lama tak tega juga.
Ridwan beranjak menghampiri Zoya dan memindahkan gadis itu ke kasur. “Kecil-kecil berat juga ini anak.” Gerutunya.
Ridwan mengambil bantal Zoya yang hanya satu-satunya dan memindahkannya ke karpet untuk tidur dirinya, sementara Zoya dibiarkan tidur tanpa bantal. Sebelum terlelap Ridwan teringat laptop Zoya yang menganggur. Pikirnya lumayan juga barang kali bisa spesifikasi memenuhi untuk main game online, meskipun dari kejauhan saja Ridwan sudah ragu tapi tak ada salahnya dicoba lebih dulu.
Setelah menekan salah satu tombol, laptop yang semula memang belum dimatikan dan hanya dalam posisi sleep langsung menyala. Ridwan melihat deretan file terbuka disana, daftar keluar masuk barang, kredit barang hingga target penjualan tertera disana. Ditambah dengan file rencana keuangannya yang dibuat unik dan menarik dari mulai pendapatan hingga pengeluaran dicatat dengan detail. Rencana cicilan utang padanya, mengirim orang tua di kampung, dana social, bahkan jajan batagornya tadi saja ada di list.
“Si Kinderrjoyy ternyata keren juga. Mandiri banget sih lo jadi cewek. Keren.” Puji lirih. “Harusnya tuh Mami Jesi nyari mantu yang modelan kayak gini, bukan kayak si Lea.” Gumamnya sambil mengotak atik laptop Zoya.
.
.
.
Harusnya mami Jesi tuh nyari mantu yang kayak author dong😎
Jangan lupa like komennya yah!
Jangan lupa favoritkan juga!
Rawrrrr!!!
😛😛