MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Ngambek



Berhubung tadi malam tidak tidur di kontrakan Zoya, pagi ini Ridwan sibuk sekali di dapur. Di belakangnya ada Raizel yang berdiri cukup jauh sesuai instruksi Ridwan. Sejak shalat subuh tadi gadis yang sudah menjadi makmumnya selama enam bulan terkahir setiap akhir pekan itu pagi ini ikut ke dapur, padahal biasanya selesai shalat dia lanjut menggambar di dinding kamar Ridwan. Berhubung Om nya keluar ia jadi kepo dan mengikuti, pasalnya hari ini ia ingin mengajak Om nya main sekaligus membeli boneka besar untuk kado ulang tahunnya besok.


“Om udah belum? Jeli mau cobain. Apa Jeli bantuin aja? Di rumah juga suka bantuin mama kok.” Raizel berusaha mendekat.


Ridwan berbalik sebentar, “Diem. Jeli liatin dari situ aja.”


“Ya udah boleh deh sini.” Tak tega melihat keponakannya cemberut akhirnya ia mengalah. Memasak jadi lebih lama jika dibarengi Raizel, terlebih anak kecil itu minta digendong karena kepo ingin melihat makanan yang sedang masak.


“Ini namanya apa Om?”


“Pedes nggak?”


“Kok airnya banyak sih?”


“Jeli boleh cobain?” dan masih banyak lagi celoteh ponakannya.


“Masaknya banyakin biar mami nggak usah bikin sarapan.” Ucap Mami Jesi yang baru datang ke dapur. Dia sudah mulai terbiasa melihat putranya memasak, walaupun sampai detik ini selalu kebagian sisanya saja. Semuanya masakannya selalu dibawa, sisa bumbu yang menempel di Teflon.


Mami Jesi menghampiri putranya dan melihat apa yang sedang dibuat, “sayur bening pagi-pagi cocok sih. Sekalian bikin tempe mendoan, klop banget kalo di makan bareng.”


“Belum bisa aku kalo masak itu, Mi. Nih tolong si Jeli nih gendong, Mi.”


“Sini sama Oma. Kita nonton kartun aja biar Om Ririd nyelesein masakannya.” Ajak Mami Jesi.


“Jeli mau susu vanilla yah Om, yang dingin. Nanti buatin yah.” Ucap Raizel saat dipindahkan ke gendongan Mami Jesi.


“Iya, nanti Om buatin.” Balas Ridwan. “Lama-lama gue kok kayak bibi yah? Disuruh ini itu.” Gumamnya.


Selesai masak Ridwan segera mengemas makanan untuk dibawa ke kontrakan Zoya. Lebih dari dua puluh empat jam tak bertemu membuatnya ingin cepat-cepat tiba disana untuk sarapan bersama. Jika saja tadi malam Raizel tidak tidur di kamarnya, sudah bisa dipastikan ia akan pergi ke kontrakan Zoya. tapi sayang, setiap akhir pekan keponakannya itu selalu ngungsi ke kamarnya. Kakaknya tiap libur selalu pulang, kadang tidur di rumah mami kadang di mertuanya, maklum lah rumah mertuanya saja tepat di depan rumah mami Jesi. Berbeda dengan Raizel, Razia lebih senang menginap di rumah kakek dari ayahnya, maklum lah dia kan deketnya sama tante Sasa.


“Jeli, ini susu vanilla buat kamu. Om pergi dulu, main sama Oma yah. Kadonya pasti Om beliin.” Ucap Ridwan yang lebih dulu menghampiri keponakan dan mami nya sebelum pergi.


“Tapi Jeli mau ikut belinya.” Rengek bocah kecil itu.


“Iya, temenin Jeli aja.” Sambung Mami Jesi. “Lagian jam segini kamu mau kemana? Mana belum mandi juga!” lanjutnya.


“Ada deh, mami jangan suka kepo! Aku pergi yah.” Pamitnya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Mami Jesi tak memberikan tangannya. “Jawab dulu mau kemana?”


“Ke rumah calon istri, Mi.” jawab Ridwan.


“Calon istri dari mana? Jangan bohong kamu! Paling juga mau ke kosan Davin kan?”


“Masa ke rumah calon istri belum mandi, mana ada yang mau!”


“Mami udah ada calon baru buat kamu. Dijamin yang sekarang nggak salah pilih, Jeli aja suka sama dia.”


“Please, Mi… apa Mami nggak belajar dari kejadian kemaren? Gampang banget mami dapat calon buat aku? Kali ini mami nyomot dimana?” tanya Ridwan. Ia benar-benar tak mau jika harus dijodohkan lagi.


“Kali ini biarin aku nyari sendiri, Mi. Percaya deh, nggak bakal lama mami bakal nambah cucu.” Lanjutnya meyakinkan.


“Mami nggak maksa kali ini, tapi kamu temuin dulu. Anaknya sederhana, mandiri, pinter sama imut. Kamu pasti suka.” Ucap Mami Jesi.


“Mi, udah. Biarin Ridwan nyari pasangannya sendiri.” Sela Papi Rama.


“Tapi, Pi…”


“Jeli ikut, Om Ririd…” Raizel memohon saat bersalaman pada sang paman, ia bahkan nemplok tak mau lepas.


“Jeli sama Opa aja sini sayang.” Panggil Papi Rama.


“Iya sama Opa aja tuh, nanti Opa mau jalan-jalan loh.” Imbuh Ridwan.


Setelah berhasil mengalihkan perhatian Raizel, ia segera pergi ke kontrakan Zoya. Beruntung sampai sana gadis itu belum pergi. Zoya tampak baru saja mengunci pintu kontrakannya, sudah berpenampilan rapi dan siap pergi ke kampus.


“Sarapan! Sarapan dulu!” Ridwan menghampiri Zoya.


“Mas Ridwan ngapain kesini sih?”


“Bawain kamu sarapan lah. Nih, makan dulu yah.” Ridwan menunjukan tas bekal yang ia bawa.


“Aku udah makan, udah hampir telat juga. Minggir!” jawab Zoya dengan ketus. Kesal juga kenapa lelaki di depannya ini muncul dengan wajah tanpa dosa setelah kemarin seharian full tak memberi kabar.


“Makan dulu! Duduk sini bentar! Gue suapin. Pokoknya harus makan! Gue udah cape ini bangun pagi langsung masak buat calon istri masa kagak dihargain sih?” Ridwan membuka bekal yang ia bawa dan mulai menyendoknya, bersiap memberikan suapan pertama untuk Zoya.


“Aaaa…”


Meski kesal Zoya membuka mulut dan mengunyahnya dengan tatapan penuh emosi.


“Kenapa? Nggak enak?” Penasaran, Ridwan menyuapkan satu suapan ke mulutnya menggunakan sendok yang sama.


“Enak kok. Sama yang lo ajarin waktu itu.” Ucap Ridwan.


“Lain kali ajarin bikin tempe mendoan yah, kata mami gue makanan itu cocok kalo dimakan bareng sayur bening.” Ucap Ridwan disela-sela menyuapi Zoya yang masih manyun.


“Males! Belajar aja sendiri. Di youtube banyak!”


“Maunya diajarin calon istri. Kan katanya pengen gue jadi suami idaman, masa ngajarin calon suami masak nggak mau?” ledek Ridwan.


Cih! Zoya berdecih lirih dibarengi senyuman kesal. Ia mengambil alih sendok di tangan Ridwan dan melanjutkan makannya sendiri. “Siapa? Calon suaminya siapa?”


“Gue lah, calon suami Vivantie Zoya.” balas Ridwan. “Minumnya.” Lanjutnya seraya memberikan botol yang sudah ia buka.


“Ngaku-ngaku!” cibir Zoya. “Nggak ada calon suami idaman yang nggak ngasih kabar seharian!”


“Ngambek? Ngomong dong kalo ngambek, masa kalah sama ponakan gue. Dia kalo lagi ngambek ngomong, jadi gue bisa langsung minta maaf.” Ledek Ridwan.


“Nggak! Ngapain aku ngambek, aku bukan siapa-siapanya Mas Ridwan.” Jawab Zoya seraya berlalu pergi.


“Nggak ngambek tapi cemberut gitu.” Ridwan menyusul Zoya. “Gue anter ke kampus.”


“Nggak pelu! Jalan dikit nyampe.” Ketus Zoya.


“Oke gue minta maaf, jangan ngambek yah KinderZoy nya gue…” ucap Ridwan. “Bukannya nggak mau ngabarin, kemaren HP gue lowbat. Malem mau kesini tapi ponakan nempel mulu, kaga tega gue ninggalinnya.” Jelas Ridwan.


“Aku nggak nanya.”


“Maaf, yah… pulang ngampus kita jalan-jalan, beli apa pun yang lo mau gimana?” bujuk Ridwan.


“Aku nggak mau apa-apa. Lagian kalo aku mau sesuatu juga bisa beli sendiri kok. Minggir Mas!” Zoya menginjak kaki Ridwan dan meninggalkannya begitu saja.