
“Aku kuliah dulu, pulangnya nanti naik angkot aja nggak apa-apa Mas. Nggak usah dijemput, Mas Ridwan kan kerjanya sampe sore. Nanti aku pulang langsung ke rumah Mami, kan ibu sama bapak aku sore ini mau pulang ke kampung dulu.” Ucap Zoya begitu mereka tiba di kampus. Ia langsung melepas sabuk pengaman dan segera turun jika Ridwan tak mencegahnya.
“Apa lagi sih, Mas? udah siang ini. Aku bisa telat sampe kelas, Mas Ridwan juga bisa terlambat ke kantor.”
Tanpa bicara Ridwan mengulurkan tangannya.
“Oh.” Zoya mengangguk dan langsung menyalami suaminya, “maaf belum biasa, Mas. Aku masuk dulu yah.” Pamitnya kemudian.
Zoya kira Ridwan akan segera pergi setelah dirinya turun, tapi lelaki itu malah ikut turun dan menggandeng tangannya.
“Mas Ridwan!”
“Aku anterin sampe depan kelas.”
“Aku bisa sendiri, Mas!”
Tapi nyatanya baru sampai loby fakultas tempat Zoya belajar, Ridwan malah diserbu teman-teman Zoya yang dulu selalu berlangganan membeli aneka produk hanya demi bisa berbalas pesan dengan Ridwan. Menghadapi itu Ridwan tak mau menghabiskan waktu lama, ia begitu acuh dan tak menjawab satu pertanyaan pun. Ia malah terang-terangan mencium kening Zoya sebelum pergi, membuat Zoya dihujani banyak pertanyaan setelahnya.
Melihat Zoya dikerumuni para mahasiswi, Gilang yang sudah datang sejak tadi tak tinggal diam. Dia membubarkan kerumunan dan menarik Zoya ke kelas dengan cepat.
“A Gilang, pelan-pelan jalannya.” Ucap Zoya seraya melepaskan tangan Gilang.
“Sorry.” Gilang segera melepas genggamannya. “Kadang masih nggak percaya kamu udah nikah.” Lanjutnya, canggung.
“Nggak apa-apa, A. Jangankan A Gilang, aku sendiri aja sering lupa.” Zoya menjawabnya sambil tertawa, mencoba mencairkan kecanggungan diantara mereka.
Gilang ikut tertawa meski jauh di hatinya tetap saja belum ikhlas. Secara ia merasa perjuangannya belum dimulai tapi sudah gagal duluan kena tikung atasan. “Tapi kamu bahagia nikah sama dia?”
“Mas Ridwan maksudnya?”
“Iya lah, emang siapa lagi suami kamu.” Gilang tersenyum getir.
“Habisnya A Gilang nggak nyebutin nama. Sejauh ini aku seneng-seneng aja. Mas Ridwan, orang tua, saudara bahkan keponakannya baik banget sama aku. Meskipun dadakan tapi aku seneng kok.”
“Syukur deh kalo gitu aku ikut seneng dengernya. Aku kira kamu nikah gara-gara dipaksa.” Tebak Gilang. Secara tak ada angin apalagi hujan tiba-tiba gadis incarannya sudah berubah status hanya dalam satu malam.
“Awalnya emang dipaksa, A. Tapi aku yakin ini emang udah takdir, tinggal jalani aja.”
Gilang mengangguk pelan mencoba menerima kenyataan, “aku boleh meluk kamu buat pertama sama terakhir kali, Zoy?”
Zoya menggeleng, ia lantas mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Gilang. “Nggak boleh, A. Aku ini udah jadi istri orang. Ini jabat tangan kita yang terakhir. Aku do’ain A Gilang bisa dapatin orang yang benar-benar bisa bikin Aa bahagia. Makasih udah selalu ada buat aku selama ini.” Ucap Zoya.
“Aku bakal jabat tangan A Gilang lagi nanti di pelaminan, kalo A Gilang nikah.” Lanjutnya kemudian meninggalkan Gilang. Ia berusaha berjalan secepat mungkin yang ia mampu meski tubuhnya masih terasa remuk.
Selama perkuliahan berlangsung ponsel Zoya beberapa kali bergetar. Terdapat pesan masuk dari suaminya. Zoya sampai mematikan ponselnya karena benda pipih itu terus bergetar bersamaan dengan rentetan pesan dan panggilan yang tak ada hentinya.
“Huh! Mas Ridwan bener-bener dah! Heran deh, apa di kantor nggak ada kerjaan? Bisa-bisanya ngechat sebanyak ini.” Gerutu Zoya. Ia mengaktifkan kembali ponselnya setelah perkuliahan usai. Ia berjalan menuju depan kampus sambil membaca rentetan pesan Ridwan yang isinya sungguh menggelitik. Dari mulai basa-basi kangen hingga bertanya sudah makan apa belum.
Layaknya orang kasmaran pada umumnya, Zoya pun sama. Ia senyam senyum sendiri membaca puluhan pesan dari Ridwan, sampai tak sengaja menabrak orang hingga ponselnya terjatuh.
“Ma…” kalimatnya terputus saat orang yang ia tabrak lebih dulu mengambil ponselnya.
“Makasih.” Ucapnya seraya menerima ponsel.
“Mas Ridwan?” Ia lumayan kaget saat mendapati orang yang memberikan ponsel adalah suaminya sendiri.
“Ini kan aku lagi baca chat dari Mas Ridwan, belum selesai baca makanya belum dibalas. Mas Ridwan ngapain disini? Kan tadi aku udah bilang bisa pulang sendiri.”
“Jemput istri lah. Aku udah disini dari tadi loh, khawatir kamu kenapa-kenapa soalnya dichat nggak bales, ditelepon malah nggak aktif.”
“Sengaja aku matiin, soalnya Mas Ridwan ganggu banget. Emangnya di kantor nggak ada kerjaan apa?”
“Kerjaan banyak, tapi kangen istri. Jadi pulang aja lah, lagian ada Papi yang handle. Papi bilang kita boleh cuti dulu, bulan madu gitu. Kamu maunya bulan madu kemana, Yang?”
“Aku maunya kerja aja, Mas. Proyek baru tim aku aja belum selesai.”
“Nggak apa-apa sayang, kan ada yang lain. Kita bulan madu aja yah? Mau yah? Bebas kamu yang pilih tempatnya deh.” Bujuk Ridwan.
“Nanti aja deh, Mas. Aku bentar lagi skripsi, pengen focus. Pengen nyelesein kerjaan juga, itu kan proyek pertama tim aku. Sekarang mending kita narik kredit loveware dulu sebelum pulang.” Jawab Zoya.
“Sayang, kamu kan udah jadi istrinya yang punya loveware masa masih narik kreditan aja? Biarin aja lah kreditan yang belum lunas itu toh kamu punya pabriknya.” Ucap Ridwan.
“Nggak bisa gitu dong, Mas. Bisnis yah bisnis, aku nggak mau rugi. Ayo semangat narik kredit kayak biasanya.” Jawab Zoya lalu lebih dulu masuk ke mobil Ridwan.
Ridwan menghela nafas dalam-dalam, “udah jadi istri yang punya perusahaan aja masih mikirin kreditan misting. Istri gue emang unik.”
Ridwan hendak masuk ke dalam mobil saat perempuan yang sangat ia kenali datang menghampirinya sambil bertepuk tangan. Lea, gadis itu menatap sinis pada Zoya sebelum akhirnya melempar senyum penuh keyakinan pada Ridwan.
"Oh jadi sekarang mainnya sama ayam kampus yah?" Sindir Lea. Semalam saat dirinya datang bersama Refan ia melihat Ridwan dan seorang gadis berjalan ke sebuah kamar. Karena kondisinya yang setengah sadar akibat minum-minum, pagi ini ia sengaja mengintai kamar Ridwan. Ia bahkan mengambil vidio keduanya yang baru keluar kamar untuk diberikan pada Mami Jesi. Ia juga mengikuti kemana Ridwan pergi setelah itu.
"Jaga mulut lo kalo ngomong. Murahan!" Balas Ridwan. Istrinya disebut ayam kampus tentu ia tak terima.
"Cewek di mobil Kak Ridwan yang murahan!" Lea tak terima.
"Keluar sini lo dasar murahan!" Lea berusaha membuka pintu mobil Ridwan.
Ridwan mendorong tubuh Lea hingga gadis itu tersungkur sebelum berhasil membuka pintu.
"Jangan pernah muncul di depan gue lagi!" Bentaknya. "Kecuali kalo lo mau gue buka semua kelakuan bejad lo." Lanjutnya.
"Kelakuan bejad apa? Kak Ridwan yang bejad!" Teriak Lea.
"Aku udah punya bukti kalo Kak Ridwan selingkuh. Ini cukup buat bikin keluarga Kak Ridwan malu." Ancamnya kemudian.
"Lakuin apa pun yang lo mau, gue nggak peduli." Balas Ridwan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraannya dengan cepat.
Lea menatap mobil Ridwan yang dengan cepat sudah menjauh dengan tatapan bengis. "Sekarang lo masih bisa bilang nggak peduli. Tapi kita liat aja gimana kalo vidio lo udah nyebar."
.
.
.
Iya kita liat aja gimana nanti wkwkwk
Maaf up lelet, aku nggak tidur 2 hari jadilah tadi pulang dari RS langsung tidur sampe sore.
Kalo vote nya masih ada bolehlah buat Mas Ririd.