MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Produktifitas



Malam hari Mami Jesi sudah heboh mengumpulkan semua anggota keluarganya dan memboyong mereka semua ke hotel dimana tempat resepsi akan dilangsungkan besok. Razia dan Raizel bahkan sudah mendapat izin untuk tidak sekolah esok hari karena acara keluarga tersebut.


"Kita berangkat sekarang supaya besok nggak ada alasan terlambat datang." Ucap Mami Jesi.


"Mi acaranya kan jam sembilan, kalo aku sama anak-anak berangkat dari rumah pun nggak akan telat. Lagian kan pengantinnya Ririd sama Zoya, kenapa kita semua yang harus pergi ke hotel sekarang?" Protes Kara.


"Ririd sama Zoya malah jam segini belum pulang." Lanjutnya.


"Udah nggak usah protes jaga-jaga aja supaya nggak telat. Ririd udah Mami chat suruh pulang ke hotel soalnya ditelpon nggak diangkat-angkat. Kayaknya pacaran itu anak sama istrinya."


"Gimana? Gimana, Mi? Pacaran sama istrinya? Bilang aja lagi jalan." Jawab Kara.


"Udahlah pokoknya gitu. Kita berangkat sekarang. Mertua kamu malah udah sampe sana duluan." Mami Jesi langsung menuntun kedua cucunya. Raizel senang bukan main diajak ke hotel, beda hal nya dengan Razia yang malas pergi-pergi. Anak laki-laki itu lebih senang di rumah membaca puluhan komik koleksinya.


Zoya terheran begitu sampai di rumah tak ada seorang pun disana. Keadaan rumah sangat sepi, bahkan asisten rumah tangga mereka pun tak ada.


"Sepi banget, Mas. Pada kemana yah?" Zoya melihat ke sekitarnya.


"Aku telpon Mami dulu deh. Jangan-jangan udah pada ke hotel." Lanjutnya seraya mengeluarkan ponsel.


Ridwan mengambil ponsel Zoya dan memeluk erata istrinya. "Nggak usah ditelpon yang lain udah pada ke hotel. Kita berdua aja di rumah, kangen."


"Seharian bareng kok kangen. Mas Ridwan lebay banget deh. Kita susul ke hotel aja, Mami bisa marah kalo kita telat besok."


"Nggak bakal sayang. Mami nggak bisa marah sama kamu, apalagi kalo kita bilang yang bikin telat tuh gara-gara bikin cucu. Yang ada Mami bakal seneng banget."


"Jangan aneh-aneh deh, Mas. Kita ke hotel sekarang!"


"Tapi nanti kita produktifitas disana yah sayang?"


"Mas aja yang produktifitas sendiri, aku mau tidur aja. Produktifitas terus takut hamil, Mas. Emangnya Mas Ridwan udah siap jadi ayah?"


"Siap banget sayang. Aku udah biasa ngurus anak kecil. Liat aja tuh si Jeli, udah kayak anak aku sendiri."


"Tapi aku belum siap, Mas. Aku belum selesai kuliah, minimal tunggu aku lulus dulu deh." Jawab Zoya. Jeli memang sangat menggemaskan, tapi untuk punya anak sendiri belum masuk list.


"Nggak masalah sayang, kalo kamu belum siap nanti aku yang urus anak kita."


"Mana bisa kayak gitu, Mas. Dimana-mana kalo punya anak yang repot pasti istrinya. Belum lagi sakitnya, serem."


Belum siap, belum siap tapi saja Ridwan selalu berhasil melancarkan aksi produktifitasnya begitu mereka tiba di kamar hotel yang sudah disiapkan Mami Jesi. Zoya kembali menggeliat diiringi de sa han merdu sepanjang malam menikmati setiap sentuhan melenakan yang diterimanya. Hingga mereka kembali bangun kesingan. Ridwan masih memeluk erat istrinya tak peduli di depan sana Mami Jesi sudah menggedor pintu sambil berteriak.


"Mami, Mas..."


"Biarin aja. Masih kangen." Ridwan semakin memeluk erat istrinya.


"Kita harus bangun sekarang, Mas. Pasti udah telat banget ini, mami sampe gedor-gedor." Zoya langsung beranjak bangun sampai hampir terjatuh jika tangan Ridwan tak sigap menjaganya.


Begitu membuka pintu Ridwan langsung kena semprot Mami Jesi. Wanita itu sudah paham betul penyebab mereka bangun kesiangan.


"Semalem aja libur apa nggak bisa? Udah tau mau ada acara masih aja di gas!" Yang kena semprot hanya bisa pasrah.


Sudah banyak tamu yang hadir saat Zoya dan Ridwan memasuki aula. Mereka sengaja datang pagi-pagi untuk menyaksikan ijab kabul meski berujung kena prank karena pengantin sudah sah duluan empat hari kebelakang.


Satu persatu tamu mengular memberikan selamat pada Zoya dan Ridwan.


"Berati waktu kalian ngantet teh Ismi ke rumah sakit udah nikah?" Ucap Bang Ahmad yang hadir bersama ibu dan bapak pemilik kontrakan.


"Udah, Bang. Udah mau goal itu malah gagal." Jawab Ridwan.


"Sorry, nggak tau. Sekarang udah goal belum? Apa perlu gue kasih treatmen lagi?"


"Udah berkali-kali, Bang." Jawab Ridwan yang langsung dihadiahi injakan kaki Zoya.


"Mantap." Bang Ahmad mengacungkan kedua jempolnya.


Beralih pada ibu Rateni yang masih shock mendapati Ridwan dan Zoya sudah menikah. Wanita tua itu alih-alih menjabat tangan Ridwan untuk mengucapkan selamat justru menjewer telingan Ridwan dan Zoya bergantian. "Anak nakal kalian berdua! Bisa-bisanya bohongin ibu sama bapak!"


"Tapi ibu ikut seneng kalian nikah. Meskipun kalo ibu tau lebih awal kamu bukan penyuka batangan udah ibu jodohin sama Rara deh." Lanjutnya.


"Rara sama temen aku aja, Bu. Tuh yang dipojokan, dia jomblo terhormat." Ridwan menunjuk Davin yang sibuk menikmati makanan ditemani Raizel yang nimbrung di sampingnya. Membuat tak ada satu pun wanita yang menghampirinya karena dikira sudah memiliki anak. Davin sudah berulang kali berusaha menjauh dari Raizel tapi gadis kecil terus saja mengikutinya. Ia sampai merasa iri pada salah satu anak saudara Ridwan, Adretama Zein. Putra pertama pasangan Adrian dan Retha yang merupakan cucu dari kakaknya besan Mami Jesi, Om Ardi. Anak itu terus menempel pada semua gadis cantik yang ada disana. Anak SMA itu benar-benar pintar tebar pesona.


Semua orang bersuka cita di pesta hari itu, kecuali Lea yang nampak murung di salah satu sudut aula. Kedua orang tua Lea cukup heran dengan perubahan sikap putrinya yang sangat berbeda. Mereka sampai khawatir Lea akan berbuat onar saat pesta berlangsung hingga mereka berusaha mencegah gadis itu ikut ke pesta. Tapi nyatanya Lea tak membuat masalah dan hanya menatap Ridwan dan Zoya dengan datar dari kejauhan setelah memberikan ucapan selamat pada mereka.


"Mas, mba Lea kok bisa jadi baik gitu? Terakhir kan dia masih ngamuk-ngamuk." Tanya Zoya.


"Kenapa? Kamu pengen diamuk lagi sama dia?"


"Ya nggak, Mas. Cuma aneh aja gitu."


"Nggak usah dipikirin. Mending ke kamar aja yuk! Produktifitas." Ajak Ridwan.


"Mas! Masih banyak tamu." Tolak Zoya.


"Biarin aja, sayang. Ada Mami sama Papi ini. Kebanyakan juga tamu Papi sama Mami."


"Emang boleh yah? Tanya Mami dulu aja."


Ridwan beranjak menghampiri Mami nya yang sedang berbincang dengan beberapa tamu. Ia berbisik minta izin dengan alasan Zoya sudah lelah berdiri terus dan ingin istirahat sebentar di kamar.


"Ya udah sana boleh."


"Yes!" Dalam hati Ridwan bersorak senang.


"Sekalian ajak Jeli, supaya tidur siang. Semalem kurang tidur dia, main mulu." Ucap Mami Jesi yang seketika membuat Ridwan menghela nafas panjang. Ia kian menghela nafas panjang kala Raizel dengan semangat full menghampirinya. Alhasil Ridwan hanya bisa duduk di sofa seraya memandangi istri dan keponakannya tidur siang.


"Om, Jeli pengen minum." teriak Raizel. Gadis kecil itu terbangun dan minta diambilkan air.


"Iya, bentar Om ambilin." dengan malas Ridwan beranjak dari duduknya.


"Gagal produktif malah jagain anak orang gue." gumamnya.