
“KinderZoy, tunggu!”
“Zoya!” teriak Ridwan karena mantan tunangannya masih terus memegang lengannya dan tak membiarkan dirinya pergi.
“Lepas!” sentak Ridwan.
Lea menatap Ridwan dengan wajah yang dibuat melas, “Kak Ridwan nyentak aku?”
Ck! Ridwan berdecak keras, diakhiri dengan senyuman ilfeel.
“Aku dari pulang dari Surabaya jauh-jauh langsung kesini nggak ke rumah dulu demi nemuin kakak, malah disentak?” ucap Lea.
“Aku bisa aduin sikap kakak ke mami Jesi loh.” Lanjutnya mengancam.
“Aduin aja suka-suka lo. Gue nggak peduli!” ketus Ridwan.
“Kak, aku tau kakak emang biasa nggak peduli ke aku. Tapi jangan kayak gini dong kak. Mau sampe kapan coba kayak gini terus? Aku tuh udah sabar sebagai calon istri yang nggak dapat perhatian, nggak pernah ditanyain kabar, bahkan aku pergi seminggu aja kakak nggak nyariin sama sekali. Sekarang aku ngalah nyamperin eh malah dibentak-bentak.” Ucapnnya sambil tersedu-sedu. Jerimanya bahkan berpura-pura menghapus air mata yang sama sekali tak ada.
“Aku kasih kak Ridwan kesempatan buat minta maaf atau aku aduin semua ke mami Jesi!”
“Ditambah lagi kakak berduaan sama karyawan tadi.”
Lea melirik cincin yang diletakan Zoya di meja, “cincin ap aitu? Kakak selingkuh dari aku?”
“Kak Ridwan jahat!”
“Lanjutin drama lo! Gue nggak ada waktu. Asal lo tau, kita udah nggak ada hubungan apa pun. Lagi pula sejak awal gue emang nggak pernah nganggap cewek kayak lo sebagai calon istri!” ucap Ridwan kemudian berlalu pergi.
“Sial!” gumam Lea. Ia beranjak pergi saat tangisannya tak memberi efek apa pun pada Ridwan.
Lea berjalan dengan angkuh, ia bahkan memarahi beberapa karyawan yang menatapnya dengan teliti. Bukan tanpa alasan, mereka tengah bingung tentang calon istri Ridwan. Baru tadi pagi beredar info jika Zoya merupakan calon menantu direktur, eh sore hari muncul perempuan seksi yang mengakui dirinya sebagai calon istri Ridwan saat meminta akses masuk di resepsionis tadi. Jadi yang mana calon menantu direktur mereka? Zoya si staf marketing atau Lea yang super modis? Seketika grup chat ghibah kantor kembali ramai.
Ridwan mendatangi ruangan tim marketing, “Zoya mana?” tanyanya tanpa basa-basi.
Sisil yang sedang membaca info terupdate terkait hubungan bosnya segera meminimize browser komputernya begitu mendengar suara Ridwan. Ia takut chat ghibah teman-teman sekantor terbaca oleh Ridwan.
“Tadi ke ruangan bapak, disuruh mba Rika buat minta tanda tangan. Tapi sampe sekarang belum kembali.” Jawab Sisil.
“Gilang, coba telpon Zoya. Tanyain dia dimana?” ucap Ridwan pada Gilang.
“Telpon aja sendiri!”
“Udah, nggak diangkat. Coba lo yang hubungin.”
“Gue nggak mau ikut campur!” jawab Gilang. “Gue udah mundur, ngerelain dia buat lo tapi akhirnya kayak gini. Jangan salahin gue apalagi mecat gue dari kerjaan kalo akhirnya Zoya gue ambil lagi.” Lanjutnya seraya pergi setelah menabrak bahu Ridwan secara terang-terangan. Gilang tentu kesal bukan main mendengar gossip terbaru yang dikatakan Sisil sebelum Ridwan datang tadi.
Akhirnya baik Gilang maupun Ridwan sama-sama mencari keberadaan Zoya saat ini. Namun keduanya tak menemukan Zoya. Sama halnya dengan Ridwan, panggilan Gilang pun tak mendapat respon dari Zoya. Tapi keduanya tak lantas menyerah, mereka menyusuri sudut demi sudut perusahaan. Ridwan tak menimpali setiap cacian dan umpatan yang keluar dari mulut Gilang, ia sadar betul jika semua memang kesalahannya yang tak pernah membahas soal Lea pada Zoya. Sebelumnya ia pikir masalah pertunangannya dengan Lea sudah clear saat kedua orang tuanya memutuskan hubungan seminggu lalu, tapi kenapa gadis itu malah datang ke kantor dan masih mengaku sebagai tunangannya?
.
.
.
Segini dulu yah, aku mau otw ke RSUD Banyumas. Mama mertua dirujuk kesana kemaren. Minta do’anya semoga beliau lekas sembuh.
Jangan lupa like sama komentarnya buat yang lagi nyari calon istri.