
Lea merasa tubuhnya benar-benar tak enak. Sejak pulang dari pesta pribadinya dengan Refan setelah mengunjungi resepsi pernikahan Ridwan dan Zoya empat hari lalu, tubuhnya benar-benar lunglai tak berdaya. Awalnya ia kira efek dari mabuk dan kurang tidur tapi setelah beberapa hari berlalu tetap saja taka da perubahan meskipun dirinya sudah meminum aneka obat dari mulai obat masuk angin hingga demam karena badannya kadang menggigil tak jarang ingin muntah. Ibunya pun sampai berinisiatif membawanya ke dokter namun Lea menolak mentah-mentah hal itu dan lebih memilih istirahat serta meminum obat yang ia beli sendiri hingga akhirnya ia memutuskan membeli tespek. Awalnya ia tak pernah berpikiran kesana karena selama ini dirinya selalu mengkonsumsi Pil KB meskipun tak teratur, seingatnya saja. Ditambah lagi jadwal menstruasinya yang memang tak teratur sejak awal membuatnya yakin dirinya tak akan hamil. Tapi kenyaataan tak sesuai harapan, dua gadis merah terang muncul di beda kecil itu, membuatnya seketika ambruk ke lantai sambil terus memandangi tespek di tangannya.
“Nggak mungkin! Ini pasti salah.” Lea melempar tespek di tangannya. Ia keluar dari kamar mandi dan mengambil tespek lain. Tak tanggung-tanggung sebelumnya ia membeli lima tespek dengan merek yang berbeda.
Lea semakin terkejut saat mendapati kelima tespek yang ia gunakan menunjukan hasil yang sama, positif.
Lea menatap tespek yang bercecer di lantai kamar mandinya. Ia menggelengkan kepala. “Ini nggak mungkin!” namun sedetik kemudian ia tertawa kemudian menangis. “Gila! Nggak bisa kayak gini!”
“Refan! Ya, gue harus kasih tau dia.” Lea keluar dari kamar mandi dan menghubungi patner ranjangnya. Hasilnya tak sesuai yang diharapkan, Refan justru menutup panggilannya dengan sepihak tanpa menunggu dirinya selesai bicara.
“Breng sek! Gue belum selesai ngomong!” umpat Lea.
“Awas aja kalo dia Cuma mau enaknya doang!” lanjutnya kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memunguti semua tespeknya. Memasukan benda itu beserta bungkus-bungkusnya ke dalam tas. Sekacau-kacaunya Lea, dia masih memikirkan cara untuk mengamankan diri. Jangan sampai kedua orang tuanya tau, terutama ibunya.
Siang harinya setelah tubuhnya mulai terasa lebih baik, Lea memutuskan pergi ke dokter kandungan untuk lebih memastikan lagi apakah dirinya benar-benar hamil. Setelah dari dokter kandungan dirinya langsung bertolak ke apartemen Refan karena lelaki itu tak bisa dihubungi sejak pagi terakhir tadi. Lea kesana membawa enam buah tespek dan surat hasil pemeriksaan dari dokter kandungan. Ia benar-benar tak menyangka jika janin di perutnya sudah menginjak enam minggu.
Tanpa menekan bel, Lea langsung masuk dan mendapati Refan sedang duduk santai sambil menghisap rokok. Di depannya terdapat botol wine yang isinya tinggal setengah.
Lea duduk di samping Refan. Menuangkan sedikit wine ke gelas lantas meneguknya. “Gue telpon dari tadi nggak nyambung.”
“HP nya rusak. Gue buang!”
Lea mengeluarkan tespek dan surat hasil pemeriksaan dokter. “Udah enam minggu.” Ucap Lea dengan enteng.
Refan mengambil surat yang berisi hasil pemeriksaan, membacanya sebentar kemudian meletakannya lagi di meja. Ia tak berucap apa pun, hanya mengambil wine kemudian meneguknya langsung dari botol.
“Fan, gue hamil. Enam minggu.” Ucap Lea yang merasa tak di respon.
Refan menengok sekilas, “terus gue harus gimana?”
Lea termenung mendengarnya, “apa? Harus gimana lo bilang?”
“Iya, gue harus apa?”
“Bisa-bisanya lo sesantai itu, Fan. Gue hamil! Hamil!” tegas Lea.
“Lo harus bantu mikir dong, gue harus gimana?” lanjutnya.
“Ini anak lo, Fan! Seenggaknya mikir dong! Tanggungjawab! Kalo lo nggak mau tanggungjawab yah bantu gue gugurin ini anak! Gue nggak mau punya anak.” Sentak Lea yang sudah mulai emosi.
Refan tersenyum licik. “anak gue?” Lea mengganguk.
“Dari mana gue bisa yakin kalo itu anak gue? Gue nggak jamin cewek kayak lo Cuma tidur sama gue aja.” Lanjutnya dengan santai.
“Refan!” teriak Lea.
“Nggak usah teriak-teriak! Gue lagi pusing!” bentak Refan tak kalah keras.
“Kalo lo datang Cuma mau bikin gue tambah pusing mending pergi aja. Nggak usah ketemu lagi juga gue nggak masalah!” lanjutnya.
“Gampang banget lo ngomong kayak gitu setelah bikin gue hamil!”
“Gue nggak pernah minta lo buat hamil. Lagian itu belum tentu anak gue.”
“Tapi gue cuma tidur sama lo, Fan. Kalo lo nggak mau tanggungjawab seenggaknya bantu gue gugurin ini anak.” Ucap Lea yang mulai terisak.
“Soal anak di perut lo nggak ada hubungannya sama gue. Selama ini kita nggak ada hubungan apa-apa, kita Cuma saling menyenangkan. Gue juga nggak pernah nyuruh lo hamil. Lo inget dari awal gue selalu pake pengaman, lo sendiri yang minta nggak usah pake kan soalnya lo minum pil KB, jadi soal hamil bukan urusan gue. Mau lo gugurin atau lo besarin gue nggak peduli.” Jawab Refan yang beranjak mengambil botol wine lainnya.
“Nggak! Refan! Lo nggak boleh kayak gini! Lo mesti tanggung jawab!” rengek Lea.
Refan meletakan botol yang baru saja ia teguk habis isinya. “Tanggung jawab? Gila!”
Refan menarik Lea keluar dari apartemennya.
“Nggak usah ngehubungin gue lagi. Dari awal gue Cuma bantu lo happy aja. Lo seneng gue seneng, kita sama-sama terpuaskan, udah gitu aja.”
“Segila-gilanya gue nggak mau punya istri kayak lo. Tanggung jawab lo bilang tadi? Mimpi. Lo mau gugurin silahkan, nggak ada hubungannya sama gue. Lagian belum tentu juga anak gue. Lo kan tipe disentuh dikit langsung gas.” Lanjutnya kemudian masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
Lea menggedor pintu apartemen Refan dengan brutal. “Refan! Lo nggak boleh kayak gini! Lo harus tanggung jawab!”
“Refan!”
“Refan breng sek!”