
Zoya membuka kotak pemberian Ridwan. Ia sudah mencoba mengenakan gaun itu sepulang dari kantor tadi, begitu pas dan membuatnya seperti seorang putri, ditambah dengan sepatu yang memiliki heels lumayan tinggi membuat tubuh munggilnya tampak semampai, tas kecil yang cantik begitu elegan, hanya dari melihatnya saja Zoya tau jika semua itu bukan barang murah.
Sore ini Zoya sudah selesai mandi dan sedang memilah baju di lemarinya. Dari sekian banyak baju yang ia miliki tak satu pun gaun pesta. Maklumlah sepanjang hidupnya tak pernah menghadiri pesta, apalagi membuat pesta. Tapi hari ini mendadak ia harus menghadiri undangan pesta ulang tahun. Zoya bingung harus mengenakan baju seperti apa? Mau tidak hadir rasanya tak enak karena gadis cerewet itu mengundangan secara langsung bersama sang Oma. Ditambah lagi Oma nya sudah membeli banyak dagangannya. Alasan lainnya yang paling utama kenapa Zoya harus hadir adalah demi prospek penjualannya ke depan. Mengingat yang ulang tahun anak kecil sudah pasti tamu udangannya pun pasti anak-anak yang bisa dipastikan akan ditemani oleh orang tuanya. Zoya berfikir dimana ada emak-emak maka itu ladang rezeki untuknya.
“Mesti hadir nih demi cuan, cuan dan cuan.” Ucap Zoya lirih.
“Pake baju yang mana yah?” cap cip cup Zoya menunjuk satu persatu bajunya. Ia beralih menatap kotak besar di kasurnya. “Kalian tuh cantik-cantik banget. Aku pake sekarang aja apa yah? Tapi kan kata Mas Ridwan buat nanti malem.”
Pada akhirnya Zoya memilih baju alakadarnya. Celana Panjang dan kaos pendek yang dilengkapi dengan cardigan rajut oversize. Rambut panjangnya dibiarkan terurai begitu saja. No make up, Zoya hanya mengaplikasikan sunscreen dan lip balm kemudian berlalu pergi, sejak dulu dirinya memang anti dengan make up, selain buang-buang uang menurut Zoya mengenakan make up juga membuang waktu. Zoya tak lupa membawa kado serta katalog loveware untuk ia tawarkan nanti.
“Semangat mencari cuan.” Ucapnya seraya mengunci pintu.
“Teh, nanti kalo Mas Ridwan pulang bilangin aku lagi keluar dulu bentar.” Zoya titip pesan pada tetanggannya yang sedang mengangkat jemuran.
“Siap.” Balas Teh Ismi.
Zoya berlalu pergi setelah memesan ojeg online dan menunggunya di depan gerbang. Namun bukan ojeg online yang datang malah Gilang. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. “Mau kemana jam segini?” tanya Gilang.
“Mau ada perlu, A. Aku diundang ke acara ulang tahun cucu salah satu langganan. A Gilang mau ke kontrakan aku?”
“Iya, tadinya mau bahas tugas kuliah buat sabtu besok.” Jawab Gilang, beralasan. Tujuan utamanya datang ke kontrakan Zoya tentu untuk memastikan apakah Ridwan benar-benar akan melamar Zoya seperti yang dikatakan Sisil siang tadi. Jika kini Zoya malah pergi maka bisa dipastikan ia tak akan menemui Ridwan mala mini.
“Tapi kalo kamu mau ke acara ulang tahun ya udah lain kali aja kita kerjainnya, toh sekarang baru hari senin, masih ada empat hari lagi.” Lanjutnya.
“Iya, A. kalo nggak kan bis akita kerjain di kantor aja pas jam istirahat.” Jawab Zoya. “Ngomong-ngomong maaf yah A nggak disuruh masuk soalnya bentar lagi ojeg aku datang.” Zoya menunjukan layar ponselnya. Terdapat keterangan ojol pesanannya sudah dekat.
“Cancel aja, biar aku anterin.” Ucap Gilang.
“Nggak enak, A. Udah deket ojolnya, nggak apa-apa aku naik ojol aja.”
Pada akhirnya Zoya pergi diantar Gilang karena pemuda itu tetap memaksa mengantar meski tetap harus membayar ongkos Ojol karena Zoya tak tega membatalkan begitu saja.
“Makasih A, udah dianterin. Maaf ngerepotin.” Ucap Zoya begitu mobil Gilang berhenti di depan rumah orang tua Raizel.
“Nggak repot sama sekali, Zoy. Kira-kira acaranya selesai jam berapa? Biar aku jemput nanti.” Tawar Gilang.
“Nggak usah, A. Pulangnya aku naik ojeg aja. Makasih yah.” Pungkas Zoya kemudian turun dari mobil Gilang.
Zoya menyapa satpam yang berjaga di depan sebelum masuk, sekalian menanyakan benarkah alamat yang ia datangi saat ini. Zoya diantar satpam hingga halaman belakang, rupaya pesta di adakan di taman belakang, pantas saja di halaman depan begitu sepi.
Zoya langsung disambut riang oleh Raizel. Gadis yang sedang pamer kue ulang tahun pada teman-temannya langsung berlari menghampiri Zoya.
“Aku kira kakak botol nggak datang. Sini aku kenalin sama temen-temen aku.” Raizel menarik Zoya dan membawanya diantara teman-temannya. Zoya merasa tinggi diantara bocil-bocil di sekitarnya.
“Sore, kakak botol. Mulai sekarang jangan panggil ibu, panggil mami. Anggap saja seperti ibu kamu sendiri." balas Mami Jesi. Ia lantas mengenalkan Zoya pada Kara dan Dirga.
“Yang ini mama nya Jeli, yang ini Papa nya.”
“Nah kalo yang lagi kerumunin bocil-bocil cewek itu kakaknya Jeli, Razia.” Mami Jesi menunjuk anak lelaki yang tampak masa bodoh dengan kehebohan di sekitarnya.
Zoya menyapa keduanya dengan sopan. “Zoya, bu.. eh mba…” ucapnya begitu menyalami Lengkara. Bingung juga harus memanggil wanita muda di depannya dengan sebutan apa? Mau dipanggil ibu kesannya tua padahal masih terlihat begitu muda. Begitu pun dengan Papa nya Raizel, yang bisa ia tebak mungkin umurnya tak jauh beda dengan Ridwan.
“Santai aja, botol.” Jawab Kara, “eh aku lupa Mi, namanya siapa?” lanjutnya pada Mami Jesi.
“Mami juga lupa, keseringan ngikutin Jeli manggil kakak botol.” Timpal Mami Jesi.
Dirga selaku yang paling waras disana hanya menghela nafas Panjang, ia memilih menjauh dari sana.
“Zoya, Bu.” Ucap Zoya. “Nama saya Zoya.” lanjutnya.
“Nah iya itu Zoya.” Mami Jesi mengangguk-ngangguk.
“Oke Zoya. Santai aja, panggil aja aku kak Lengkara. Toh ntar juga kamu bakalan jadi adek aku.” Ucap Kara.
“Mi, kalo ini Kara setuju nih buat si Ririd. Keliatannya nggak neko-neko.” Lanjutnya pada Mami Jesi.
Zoya yang tak paham hanya diam. “Iya, Kak Lengkara.”
“Bu Jesi kalo begitu saya permisi mau menyapa ibu teman-temannya Jeli.” pamit Zoya, jiwa marketingnya surat meronta-ronta.
“Panggil Mami, sayang. Toh nanti kamu bakal jadi anak mami juga.” Jawab Mami Jesi.
Zoya jadi terpaku di tempatnya, yang satu bilang bakal jadi adeknya, yang satu lagi bilang bakal jadi anaknya. Apa-apaan semua ini? Kenapa keluarga Jeli seaneh ini? Tapi Zoya tak mau ambil pusing dan langsung kabur untuk menemui sumber-sumber cuannya.
.
.
.
Mau double nggak?
Like sama komennya dulu mana wkwkwkkwk.