MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Sial! sial! sial!



Ridwan dan Zoya baru saja tiba di rumah malam ini. Mereka bertolak dari kampung halaman Zoya sekitar pukul setengah empat sore tadi. Berbeda dengan Zoya yang kembali dengan wajah full senyum dan ceria, Ridwan justru lesu karena kelelahan dan kurang tidur. Perkara kurang tidur sebenarnya sudah bukan hal baru baginya yang setiap hari selalu tidur larut malam sebelum menikahi Zoya. Tapi meski seperti itu ia selalu tidur setidaknya tiga sampai empat jam setiap malam ditambah tidur siang sekitar satu jam. Namun runtutan acara resepsi di hotel yang kemudian esoknya disambung resepsi di kampung halaman Zoya sungguh membuatnya tumbang. Bagaimana tidak? Di kampung halaman istrinya definisi resepsi pernikahan jauh berdeda dengan yang diakan keluarganya. Jika di tempat tinggalnya resepsi hanya berlangsung dalam hitungan jam, di kampung halaman Zoya resepsi berlangsung sehari semalam non stop, di tambah lagi dirinya tak bisa kabur ngamar seperti saat di hotel.


Resepsi pernikahan yang diatur Mami Jesi hanya menghadirkan ratusan tamu, sedang resepsi yang digelar oleh mertuanya bisa Ridwan jamin tamunya lebih dari seribu. Selama acara tamunya benar-benar tak berhenti kecuali saat adzan dzuhur, bahkan setelah ashar tamunya makin menggila. Ridwan kira malam hari dirinya bisa istirahat setelah seharian menyalami tamu. Nyatanya ia tak istirahat sama sekali sampai pagi karena acara malam khusus tamu pemuda yang menghabiskan waktu semalaman disana sambil bermain domino. Jadilah malam itu lagi-lagi hanya Zoya dan Raizel yang beristirahat dengan tenang sementara dirinya mendadak jadi kang domino sampai pagi. Awalnya belum terbiasa namun akhirnya Ridwan bisa menikmati permainan bapak-bapak kala ronda itu. Permainan sungguh berlangsung seru meski hadiahnya hanya beberapa ekor ayam dan peralatan dapur ala kadarnya. Kebersamaan antar warga di kampung memang jauh lebih erat dibandingkan orang-orang yang tinggal di kota dimana Sebagian dari mereka lebih individualis.


“Mas Ridwan, kata Mami kita disuruh kumpul. Makan malam dulu bareng-bareng.” Zoya menggoyangkan tangan Ridwan perlahan. Suaminya langsung terlelap begitu merebahkan diri di ranjang.


“Mas…”


“Aku nggak lapar, ngantuk.”


“Kalo gitu aku ambilin kesini yah? Nanti Mas Ridwan makan.”


“Nggak usah sayang. Aku Cuma mau tidur. Berat banget ini mata sumpah.” Jawab Ridwan lirih.


Zoya membelai rambut Ridwan, “kasihan banget suami aku kecapean yah sampe tepar gini.”


Ridwan menelusupkan wajahnya ke pelukan Zoya, mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan tidurnya.


“Jadi mau tidur aja nih? Btw siapa yah yang ngajakin produktivitas pas di jalan tadi? Katanya kalo sampe rumah mau langsung produktif.” Ledek Zoya.


Mendengar kata produktif seberat-beratnya mata ngantuk Ridwan, ia langsung membuka mata. Mata sayunya menatap Zoya penuh harap. “Mau produktif, sayang.”


Zoya mencium kilas bibir Ridwan. Setelah seminggu lebih bersama sebagai suami istri hubungan mereka berkembang dengan sangat baik. Saking seringnya melakukan produktivitas keduanya sudah sama sekali tak canggung. Zoya justru kian senang meledek suaminya yang selalu super semangat jika terkait urusan yang satu itu.


“Lain kali aja, Mas. Sekarang Mas Ridwan butuhnya tidur yang berkualitas. Besok kan mau ke luar kota jadi sekarang harus tidur yang cukup yah.” Zoya menyelimuti suaminya yang memasang wajah kecewa karena gagal produktif.


Zoya meninggalkan Ridwan yang terlelap dan makan malam bersama kedua mertua dan iparnya, lengkap dengan dua bocil. Razia yang anteng dengan makanannya dan Raizel yang terlihat cukup tenang malam ini. Mungkin karena sudah mulai ngantuk setelah perjalanan jauh, gadis kecil itu tak banyak bicara. Mulutnya hanya terbuka saat menerima suapan dari sang mama.


Selesai makan malam Zoya kembali ke kamar. Sebelum tidur ia mengemas pakaian dan aneka perlengkapan yang perlu di bawa suaminya besok. Ridwan akan pergi ke Surabaya untuk event e-sport game online sabagai salah satu anggota Tim yang utus oleh perusahaan Ardi. Di sela-sela pesta pernikahan kala itu, Om Ardi memintanya ikut bergabung meskipun Ridwan tak lagi bekerja di perushaannya. Tapi mertua dari kakaknya itu tak pernah menghapus namanya dari daftar pemain. Alhasil Ridwan menyanggupinya setelah mendapat izin dari istri dan papi nya. Ia berjanji jika kali ini adalah pertandingannya yang terakhir dan setelah itu akan focus pada perusahaan sang papi. Untuk game, mungkin ia hanya akan membantu sekenanya saja sekirannya diperlukan, sebagai mentor bukan lagi player.


Pagi harinya Zoya sudah bersiap dengan pakaian kerja sementara suaminya menggenakan pakaian santai.


“Buat apa sih Mas? aku udah rapi ini tinggal berngkat.” Tanya Zoya saat tiba-tiba Ridwan memberikan baju padanya.


“Ganti! Ikut ke Surabaya.”


“Aku kerja, Mas. Lagian Mas juga kan eventnya cuma dua hari. Aku banyak kerjaan.” Tolak Zoya.


“Kerjaan kamu bisa dihandle sama yang lain. Masa suami mau tanding nggak disemangatin hm?” Ridwan memeluknya dari belakang dengan dagu yang bersandar di bahu Zoya. Matanya menatap penuh harap pada Zoya melalui pantulan cermin di depan mereka.


“Ayo lah sayang! Meskipun ikut kamu masih tetep bisa mantau kerjaan. Sekarang era 4.0 sayang, nggak semua harus diselesaikan dengan bertatap muka.” Lanjutnya.


Zoya mengikuti Ridwan ke kantor Om Ardi. Sepanjang jalan tangannya selalu digandeng penuh sayang oleh Ridwan, hingga setiap mata memandang iri padanya.


“Beda yah kalo pengatin baru! Nggak mau kalah sama truk, gandengna terus.” Ledek Davin dan Zoya hanya mengangguk malu.


“Ya iya lah. Emangnya lo, kalah sama truk. Truk aja gandengan eh lo sendirian terus!” ejek Ridwan.


“Dasar! Mentang-mentang punya bini lo!”


Zoya menunggu di depan ruang rapat saat suami dan rekan-rekannya melakukan briefing di dalam sana. Tak lama, hanya sekitar sepuluh menit mereka semua sudah selesai dan bertolak meninggalkan kantor. Anggota lain pergi menggunakan mobil perusahaan sementara Ridwan memilih membawa mobil sendiri demi menjamin kenyamanan sang istri.


“Ridwan, kita perlu bicara! Kenapa lo ngelanggar kesepakatan yang udah kita buat?” Refan menghampirinya dengan wajah kesal campur kusut. Ia melemparkan amplop cokelat yang tepat mengenai wajah Ridwan. “Gue dipecat!” lanjutnya.


“Nggak usah kasar, semua bisa diomongin baik-baik.” Jawab Ridwan. “Sayang, kamu tunggu di mobil yah.” Lanjutnya pada Zoya.


Refan sungguh kesal melihat Ridwan yang bisa-bisanya masih pamer kemesraan di depannya yang sedang terbakar emosi. Kedua tangannya mengepal sempurna seraya melihat ke arah Ridwan yang mengantar istrinya hingga masuk mobil.


“Mau ngomong apa?” tanya Ridwan yang kembali menghampiri Refan.


“Lo ngadu apa ke Pak Ardi sampai dia mecat gue hah! Kesepakatan kita buat bikin gue ikut event kenapa malah jadi gini.”


“Reputasi perusahaan itu harus dilindungi. Meskipun ini event terakhir gue tapi Pak Ardi tetep bagian dari keluarga gue. Jelas gue nggak mau dong kalo suatu saat reputasi perusahaan Om Ardi tercoreng gara-gara salah satu pemain terbaiknya ternyata bukan hanya player game tapi player plus-plus juga.” Jelas Ridwan begitu enteng.


“Lo!” Refan menunjuk wajah penuh emosi.


“Masih beruntung gue cuma bilang ke Om Ardi, coba kalo gue upload di internet? Lo bakal jadi sampah masyarakat.”


“Lo!” teriak Refan lagi.


“Udah nggak usah bilang makasih. Gue ikhlas nggak bikin lo jadi sampah masyarakat. Jadi lo masih aman lanjut nambah dosa sama Lea. Asal jangan ketahuan orang tuanya aja, kasihan mereka orang baik.” Jawabnya sambil tersenyum smirk kemudian pergi, tak lupa melambaikan tangannya mengejek.


Refan menendang dinding perusahaan berulang kali, meluapkan kekesalannya.


“Sial! Sial! Sial!” ia kemudian beralih mengambil ponsel yang berdering dari saku celananya.


“Apa?” teriaknya begitu mengangkat telepon dari Lea.


“Hamil? Lo jangan bercanda! Gue lagi nggak mood!” sentak Refan kemudian mematikan ponselnya dan membanting benda pipih itu penuh emosi.