MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Hotel 2



“Mas kalo mau makan di hotel besok-besok lagi aja. Aku janji kalo nanti keterima di LoveWare bakal traktir Mas Ridwan deh, tapi tunggu gajian.” Zoya masih berusaha menahan Ridwan supaya tak masuk hotel, saat ini dirinya benar-benar tak membawa uang lebih.


“Bawel, ikut aja! Nggak bakal ngeluarin duit!”


“Terus mau ngapain?”


“Lo liat aja nanti. Jangan banyak protes, tinggal nurut terus ikutin gue aja nggak usah berisik!” ucapnya penuh penekanan. Melihat eskpresi wajah Ridwan yang super serius membuat Zoya diam dan menurut. Keduanya kini berjalan di belakang Lea dengan jarak yang lumayan jauh. Beruntung tunangannya memilihi menaiki tangga dari pada menunggu lift yang baru saja menutup pintu itu kembali lagi. Bayangkan jika Lea lebih dulu masuk ke dalam lift, bisa dipastikan detik itu pula Ridwan akan kehilangan jejak.


“Kita ngapain ngendap-ngendap gini sih Mas? Udah kayak maling aja.” Bisik Zoya lirih.


“Diem! Lagi misi penting ini.” Jawabnya irit.


“Kita ngikutin mba itu, Mas?”


“Hm.”


“Emang dia siapa Mas? Sampe harus diikutin segala.” Tanya Zoya, “pacar Mas Ridwan yang waktu itu bikin Mas Ridwan hampir bunuh diri kah?” tebaknya kemudian.


“Bukan, gue nggak punya pacar. Yang waktu itu juga bukan mau bunuh diri. Heran gue masih aja lo mikirnya kayak gitu.”


“Terus kalo bukan pacar Mas Ridwan ngapain diikutin. Males lah, balik ke depan aja yuk. Satenya pasti udah mateng ini.” Ajak Zoya.


“Bukan pacar gue, dia tuh pengedar!”


“Pengedar?” Zoya terbelalak kaget, “pengedar sabu gitu? Apa nar ko ba?”


“Pengedar badan.” Batin Ridwan.


“Mas jawab pengedar apa? Kalo narkotika mending langsung lapor polisi aja, kita nggak usah ikut-ikutan.” Ucap Zoya, “Aku telepon polisi sekarang deh.” Lanjutnya sambil membuka kunci ponselnya.


Belum sempat menghubungi polisi, Ridwan sudah mengambil ponsel Zoya kala melihat Lea masuk ke dalam salah satu kamar. “kena lo sekarang!” Gumamnya lirih.


Ridwan menghembuskan nafasnya kasar. Ia nyaris menendang pintu kamar Lea yang tertutup rapat. ia hanya bisa berdiri di depan, mendengarkan sayup-sayup obrolan di dalam sana. Tak mau menyerah, Ridwan pergi ke lobi dan menemui petugas resepsionis.


“Permisi, selamat malam. Bisa saya minta tolong?”


“Mas Ridwan ngapain lagi sih? Kita pulang aja ayo!” ajak Zoya.


“Diem bentar Kinderzoy. Lo duduk di sofa dulu sana nggak apa-apa.” Ridwan menunjuk sofa di sudut lobi.


“Jangan lama!” Zoya mencebik kesal dan berlalu ke sofa yang ditunjuk Ridwan.


“Apa yang bisa saya bantu, Mas? apa Mas mau reservasi kamar untuk dua orang? Kebetulan masih ada beberapa kamar yang kosong. Mba nya sudah kelihatan sangat lelah.” Ucap resepsionis seraya melihat ke arah Zoya yang duduk cemberut seorang diri.


“Tidak, mba. Saya bukan mau pesan kamar, hanya mau minta tolong. Bisakah memberi saya kunci baru untuk kamar nomor empat di lantai dua. Saya baru saja dari sana dan kaluar tanpa membawa key card, sementara key card satu lagi dibawa rekan saya.”


“Mohon maaf tidak bisa Mas, hal tersebut melanggar privasi pelanggan.” Jawab resepsionis.


“Tapi saya juga penghuni kamar itu Mba. Kalo Mba nggak mau ngasih key card baru, temenin saya aja kesana. Hanya mengambil berkas saya yang ketinggalan. Ini urgen karena mau dipakai rapat sekarang juga.” Jelas Ridwan beralasan.


“Sekali lagi mohon maaf, tidak bisa Mas. Saya sarankan Mas bisa menghubungi teman Mas yang membawa key card untuk kembali lebih dulu. Karena pelanggan kamar nomor empat itu incognito guest plus memasang DND, sehingga kami dari pihak hotel benar-benar tak bisa menganggunya sama sekali tanpa dihubungi lebih dulu oleh pemesan kamar. Saya harap Mas dapat memahami peraturan tersebut.” Jawab resepsionis dengan ramah.


“Mba tapi ini urgen. Nanti mba saya kasih tips deh.” Ridwan bernegosiasi.


“Mohon maaf Mas, tidak bisa.”


Ck! Ridwan berdecak lirih. Andai dirinya saat ini memegang uang banyak pasti petugas di depannya ini sudah menurut padanya. “Pas kayak gini aja gue sadar kalo uang emang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.” Batinnya.


“Ya udah mba, makasih.” Ucap Ridwan kemudian berlalu menghampiri Zoya. Baru ditinggal sebentar saja gadis itu sudah terlelap dengan posisi duduk.


“Apa gue langsung ke kamarnya aja yah? Ketuk pintu langsung grebeg gitu?”


.


.


.


segini dulu, like sama komentarnya jangan lupa🤗🤗