
“Mas Ridwan udah pulang yah, Mi?” tanya Zoya saat mertuanya datang ke kamar. Mami Jesi membawa baju-baju cucu mungilnya setelah disetrika oleh asisten rumah tangga mereka dan meletakannya di lemari.
“Barusan Mami dari bawah belum ada tuh. Papi tadi ngabarin katanya mereka bakal pulang telat supaya pas acara aqiqah besok semua pekerjaan penting udah selesai. Kenapa emang? Nggak biasanya nanyain Ridwan. Apa hari ini dia nggak ngasih kabar?”
“Nggak bukan itu, Mi. Tadi Mas Ridwan telpon kok. Tiap dua jam juga selalu video call nanyain anaknya. Cuma ini si dede tiba-tiba tidur, aku curiga ayahnya udah deket rumah nih. Udah beberapa hari aku perhatiin si dede tuh selalu tidur nyenyak kalo Mas Ridwan pulang. Tapi giliran ditinggal ayahnya dia nggak tidur-tidur.” Jawab Zoya.
“Masa sih?”
“Iya, Mi.” jawab Zoya. Ia beranjak berjalan ke balkon untuk melihat halaman rumah mereka dan ternyata benar dugaannya, mobil Ridwan baru saja memasuki rumah.
“Tuh kan Mi bener…” lanjutnya.
Mami Jesi menyusul ke balkon, “eh iya. Kok bisa gitu yah? Kebetulan kali.”
“Nggak, Mi. Udah kebiasaan si dede. Kalo ada Mas Ridwan dia anteng banget, tapi kalo nggak ada Mas Ridwan kan Mami tau sendiri, suka rewel susah bobonya.”
“Anak ayah dia.” Ledek Mami Jesi. “Ayo kita masuk sebelum Ridwan sampe kamar. Bisa bahaya kalo tau anaknya ditinggal sendiri di kasur walaupun Cuma sebentar, bisa ngomel-ngomel dia.” Lanjutnya.
“Iya, Mi.”
Sampai kamar Ridwan menghampiri Zoya dan memeluknya, tak peduli ada maminya disana. Lagi pula sang mami sudah kebal dengan sikap anaknya yang suka main peluk dimana pun. “Si Dede bobo? Anteng banget dia. Aku mandi dulu terus pengen gendong si dede. Kangen.”
“Iya, Mas. Kalo gitu aku siapin baju gantinya.” Zoya beranjak ke lemari untuk mengambil pakaian.
Bukannya pergi ke kamar mandi Ridwan justru memeluk istrinya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Zoya. "Aku bisa ambil sendiri, kamu istirahat aja. Seharian jagain anak kita pasti cape banget kan?”
“Nggak kok Mas, kan aku dibantuin ibu sama mami. Selain ngerawat anak kan aku juga punya tugas ngerawat kamu. Adanya anak kita bukan alasan aku nggak ngelakuin kewajiban aku yang lain.”
“Makasih, sayang. Tapi sekarang biar aku sendiri aja nyiapin bajunya, kamu istirahat sana. Mumpung si dede tidur kamu ikut tidur juga.” Jawabnya seraya mendorong Zoya ke ranjang.
“Jagain anak aku, Mi. Biar Zoya istirahat, kita kan kalo malem gadang.” Lanjutnya ke Mami Jesi.
“Nggak usah disuruh juga mami udah paham.” Jawab Mami Jesi. Ia sudah tak aneh lagi dengan perubahan Ridwan yang sangat signifikan. Dari yang pendiam dan hanya bicara seperlunya hingga menjadi bawel semenjak istrinya hamil, dan kini setelah punya anak bawelnya makin bertambah.
Setiap hari selama seminggu terakhir putranya itu selalu siap siaga menjaga anak dan istrinya. Setiap malam gadang, pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk Zoya kemudian pergi ke kantor dan sepulang dari kantor kembali menemani anaknya.
Pagi ini rumah Ridwan lebih ramai dari biasanya karena semua sanak saudara berkumpul menghadiri acara aqiqah cucu ketiga keluarga Darmawan. Tak hanya sanak saudara, rekan bisnis hingga perwakilan setiap divisi dari kantor juga datang. Kecuali divisi marketing yang hadir dengan formasi lengkap, karena special untuk divisi itu diberi undangan untuk semua anggota.
Tak hanya itu, tetangga kontrakan dan pemilik kontrakan juga turut hadir. Mereka bergantian memberikan ucapan selamat pada Zoya dan Ridwan.
“Ini nih yang dulu katanya jerus makan jeruk eh udah punya jagoan aja.” Ucap Bu Rateni. “Mirip banget sama Ridwan. Ganteng.” Pujinya.
“Siapa dulu dong yang ngasih tutor bikinnya, Bu. Ahmad.” Timpal Bang Ahmad yang hadir bersama keluarga kecilnya. Anaknya Bang Ahmad dan Teh Ismi sudah mulai bisa berdiri meskipun masih sering oleng dan berakhir ambruk.
“Bang Ahmad bisa aja.” Jawab Ridwan.
Selain mereka semua, Davin juga datang bersama rekan-rekan gamers nya. Mereka mengerumuni Ridwan yang menggendong putranya. Mereka turut senang rekannya sudah memiliki putra.
“Padahal lo dulu paling anti cewek. Tunangan aja dicueki, eh setelah bubaran sama mantan langsung sat set punya jagoan. Kita-kita yang udah pacaran lama belum ada yang ke pelaminan.” Ucap salah satu dari mereka.
“Makanya kalian juga sat set dong biar punya jagoan kayak gue. lucu banget kan dia.” Jawab Ridwan.
“Iya, mirip lo. Udah nggak usah diragukan lagi pasti anak lo seribu persen sih.” Timpal Davin.
“Ya pasti anak gue lah.” Jawab Ridwan.
“Haha… kali aja mau kayak Revan yang nolak ngakuin anaknya. “
“Gila lo! Nyamain gue sama dia.” Ridwan menginjak kaki Davin.
“Bercanda gue. kemaren gue ketemu tuh anak, miris. Nggak diterima kerja dimana-mana malah dikejar-kejar dept collector bank sama pinjol.”
“Luar biasa.” Ridwan menggelengkan kepalanya.
“Luar biasa parah sih.” Timpal Davin.
Tak hanya membahas Refan yang hidupnya kacau, kumpulan gamers itu lanjut menceritakan pencapaian mereka setelah ditinggal Ridwan.
“Mas, kesana dulu yuk! Ada A Gilang sama Sisil pengen lihat anak kita.” Ajak Zoya.
“Iya.” Jawab Ridwan. “Gue tinggal dulu yah.” Pamitnya.
Melihat Zoya dan Ridwan berjalan ke arah mereka, Sisil begitu tak sabar dan langsung menghampiri Zoya. “Ponakan gue nih, ganteng banget dah. Kecil-kecil udah kelihatan calon-calon ganteng ini.” Ucap Sisil.
“Mirip Mas Ridwan banget yah, Sil?” tanya Zoya.
Sisil mengangguk. “Iya, Pak Ridwan banget. Gemes-gemes deh. Pengen gendong boleh?”
“Boleh aja.” Ridwan memberikan putranya.
“Ah lucunya, jadi pengen punya anak juga.” Ucapnya seraya menatap si kecil yang berada di gendongannya.
“Kode tuh A Gilang, cepetan dihalalin.” Ledek Zoya.
“Nggak kode-kodean, Zoy. Dua minggu lagi aja kita mau nikah.” Jawab Gilang yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Sisil.
“Serius?” tanya Zoya. “Kok aku nggak dikasih tau sih?” lanjutnya.
“Serius.” Jawab Gilang.
“Sorry nih nggak ngasih tau sejak awal. Takut ngerepotin, soalnya kalo lo tau kita mau nikah pasti bakal ikut sibuk mau bantuin segala hal, sedangkan kita tau kalo lo tuh udah masuk HPL waktu itu. Lo nya juga udah mulai cuti. Sorry yah.” Jelas Sisil.
“Nggak usah minta maaf, Sil. Aku seneng loh dengernya, selamat yah. Finaly kalian nyusul juga. Aku do’ain nanti langsung hamil biar si dede ada temennya.”
Acara aqiqah itu berlangsung hidmat. Kini keluarga Papi Rama berkumpul di ruang keluarga. Raizel dan Razia bermain di dekat anak Ridwan lengkap bersama Naureen, anak pertama pasangan Sasa dan Tama.
“Duren, Jeli mau cokelatnya dikit aja. Bagi dua yah?” Raizel berinisiatif mengambil cokelat di tangan Naureen dan membaginya.
Sasa yang mendengar anaknya di panggil dengan sebutan buah-buahan tak senang, “Kaleng ajarin Jeli yang bener lah. Masa Naureen jadi Duren? Aku nggak mau lah kalo keterusan sampe gede manggilnya kayak gitu. Udah bagus-bagus Naureen masa jadi duren.”
“Udahlah namanya juga anak-anak, Cin. Lo aja manggil anak gue jadi Razia sama Jeli.” jawab Kara tak mau kalah.
“Eh Eh itu makan cokelatnya jangan deket-deket Ciki, ntar banyak semut. Kasihan kalo Ciki digigit semut, ntar dia nangis, terus kalian dimarahin Om Ririd loh.” Ucap Kara yang melihat Raizel dan Naureen makan di dekat Ziqi, anaknya Ridwan.
“Ziqi, Kaleng. Ziqi! Kenapa malah jadi ciki sih? Lo kira anak gue jajanan ciki seribuan apa!” protes Ridwan.
“Narendra Ziqi Darmawan. Please lah panggil nama anak gue dengan baik dan benar. Ziqi.” Lanjutnya.
“Iya-iya deh Ciki.” Ledek Lengkara.
“Anak-anak nama anaknya Om Ririd siapa?” lanjutnya bertanya pada Raizel dan Naureen.
“Ciki… ciki…” jawab mereka kompak. Bahkan Ziqi yang tak tau apa-apa saja ikut tertawa mendengarnya. Sontak orang-orang disekitarnya jadi ikut tertawa bahagia.
“Tuh kan dia aja nggak keberatan di panggil Ciki.” Ucap Lengkara. “sini, sini Ciki sayang Tante gendong yah.” Lanjutnya seraya mengambil Ziqi dari kasurnya.
Ridwan hanya bisa menghela nafas dalam, “keluarga ini tuh selalu kayak gini, udah dikasih nama bagus juga ujung-ujungnya jadi makanan.”
Zoya tersenyum, ia lantas menyandarkan kepalanya di bahu Ridwan. “Biarin lah, Mas. Itu kan panggilan sayang. Mas Ridwan aja manggil aku KinderZoy. Itu makanan juga kan? Hayo?”
Ridwan mengusap sayang kepala Zoya. Ia kemudian mengecup kening istrinya. “Iya deh Ibu KinderZoy, ibunya Ciki. Kayaknya keluarga besar kita tuh harus ganti nama jadi keluarga makanan aja deh. Anaknya Ciki, ibunya KinderZoy, Tantenya Santen sachetan, saudaraan sama penyedap rasa Micin, punya nenek Jas Jus. Ya ampun.” Ridwan jadi tergelak sendiri.
“Satu lagi, Mas. Ciki punya ayah malaikat.” Ucap Zoya. “Makasih udah bener-bener jadi malaikat buat aku sama Ciki, Mas.” lanjutnya.
Ridwan hanya menjawab dengan senyuman. Kedua tangannya memeluk erat sang istri seraya melihat ke arah putranya yang dikelilingi seluruh anggota keluarga. Bagi Ridwan tak ada kalimat maupun rangkaian kata yang mampu menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini.
...TAMAT...
Terimakasih untuk semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan remahanku ini. Terimakasih juga untuk semua dukungan yang telah diberikan baik itu berupa like, komen, vote bahkan tips. Sampai jumpai dikarya aku selanjutnya.
Untuk give away aku umumin besok yah sekalian rilis karya baru.
Salam sayang untuk semuanya.