
“Refan breng sek dimana lo!” Tiba di apartemen Lea masuk setelah membanting pintu dengan kasar.
“Nggak usah teriak-teriak, gue belum budge!” Refan keluar kamar dengan telanjang dada.
Lea semakin sengit saat melihat seorang wanita seksi muncul dibalik tubuh ayah dari bayi yang tengah ada di kandungannya.
Cih! Lea berdecih jijik menatap gadis yang berpakaian begitu minim.
Refan tak peduli, ia malah teran-terangan mencium gadis itu di depan Lea. “Pulang dulu, nanti gue nyusul." ucapnya pada gadis yang mengangguk patuh. Gadis itu melewati Lea dengan penuh bangga, merasa dirinya lebih berarti dibanding Lea.
“Murahan!” cibir Lea.
“Nggak usah ngejek orang lain, lo juga sama kayak dia.” Ucap Refan. “Ngapain kesini? Bukannya dari kemaren nomor gue udah lo blokir? Jangan bilang lo butuh kehangatan. Gue nggak bisa sekarang. Cape!”
Lea menghela nafas panjang. Mau marah-marah tak bisa, energinya sudah habis ia gunakan untuk menangis di rumah sakit tadi. Sang ayah terus mendesaknya untuk mencari orang yang menghamilinya dan harus bertanggungjawab demi menjaga nama baik keluarga.
Lea duduk di hadapan Refan, “gue nggak akan basa-basi lagi. Nikahin gue.”
Refan tertawa, “jawaban gue masih sama. Nggak.”
“Refan! Lo udah keterlaluan. Gue nggak minta banyak, Cuma minta nikahin aja. Setelah anak ini lahir kita bisa cerai. Lagian gue juga nggak mau punya suami kayak lo!”
“Gue juga nggak mau punya istri kayak lo!”
“Refan, please… selama gue masih minta secara baik-baik.”
“Sorry, gue nggak bisa!” tolaknya lagi.
“Setelah semua yang lo lakuin ke gue? Ke keluarga gue juga, lo masih nggak mau tanggung jawab?” Lea mulai terisak. Ia teringat ibunya yang terbaring di ICU dan ayahnya yang begitu kecewa padanya.
“Nggak cukup lo me res gue? Orang tua gue juga?”
“Lo bener-bener breng sek, Fan!”
Refan menatap Lea tanpa iba sedikit pun meski gadis itu sudah berderai air mata. “Kalo lo nggak blokir nomor gue juga nggak bakal gue WA bokap sama nyokap lo. Nggak perlu juga susah-susah gue nyuruh orang ngambil ponsel si Ridwan. So, nyokap lo masuk rumah sakit juga salah lo, bukan salah gue. Kalo aliran dana dari lo lancar gue nggak bakal sampe ngehubungin bokap nyokap lo.” Jawabnya begitu enteng.
“Di otak lo bener-bener Cuma uang, uang dan uang doang Fan. Lo nggak ada rasa kasihan sedikit pun sama gue? Disini ada anak lo.” Lea menunjuk perutnya.
Refan beranjak sambil menaikan kedua bahunya. “Gue nggak peduli. Nggak ada jaminan itu anak gue. Kalo lo udah selesai bisa langsung pergi. Lo udah tau kan pintu keluarnya di sebelah mana.”
“Breng sek.” Umpat Lea. Ia pergi meninggalkan apartemen Refan.
Penolakan Refan membuat hidup Lea berantakan. Selama tiga hari ia tak pulang karena tak berani menghadapi sang ayah. Waktunya ia habiskan seorang diri di hotel. Miris rasanya, tiga hari tanpa kabar tapi orang tuanya tak ada yang menghubungi. Padahal biasanya ia pulang telat saja ayah atau ibunya sibuk menghubungi.
Tiga hari merenung seorang diri membuat Lea sedikit sadar. Ia mulai menyesali kenapa hidupnya bisa sekacau ini. Siap tak siap hari ini ia memutuskan menemuui kedua orang tuanya. Berharap ayah dan ibunya bisa memaafkan kesalahan yang sudah terlewat fatal.
Mengingat terakhir kali sang ibu masih di rumah sakit, Lea menghubungi asisten rumah tanggnya untuk mencari info, ternyata ibunya masih belum pulang ke rumah. Lea putar arah menuju rumah sakit. Sepanjang perjalan menuju rumah sakit pikirannya benar-benar kacau hingga kendaraan yang ia bawa oleng menabrak pembatas jalan.
Mengerjapkan mata, Lea terbangun sudah di rumah sakit. Kepalanya terasa pusing dengan perban yang menempel disana.
Lea menghembuskan nafas lemah, “huh… kirain gue udah mati.” Batinnya.
“Kamu sudah sadar?”
“Ayah…” Lea berusaha bangun.
“Tiduran aja.” Ucap Kohar, lirih. Mendapat kabar putrinya masuk IGD karena kecelakaan menyadarkannya jika ada yang lebih menyakitkan dari pada nama baik keluarga yang tercoreng yakni kehilangan putri semata wayang.
“Ayah, maafin aku…”
“Jangan banyak gerak dulu. Tunggu dokter periksa keadaan kamu.”
“Ayah, dia nggak mau-“
“Jangan bahas itu dulu.” Sela Kohar.
“Maafin aku… aku udah sadar, aku salah. Aku bikin malu keluarga kita. Dia nggak mau tanggung jawab ayah.” Tangis Lea pecah. Sang ayah hanya bisa memeluk putrinya mencoba menenangkan.
“Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting kita bisa menyadari kesalahan kita dan mengambil pelajaran dari sana.” Ucap Ria. Wanita itu nampak tegar menerima kenyataan. Jika bukan dirinya, siapa lagi yang akan menguatkan sang putri?
Ria sudah siuman sehari lalu dan diperbolehkan pulang hari ini. Namun baru sampai parkiran, suaminya sudah di telpon jika Lea masuk IGD karena kecelakaan tunggal. Menerima kenyataan putrinya tak sepolos yang ia kira sangat berat. Tapi kebijaksanaan Kohar dalam membujuk istrinya patut diacungi jempol.
“Ibu… ibu udah sembuh? Maafin Lea, Bu. Lea udah bikin ibu sama ayah kecewa. Udah ngancurin nama baik keluarga kita.” Sejak sadar tadi, tak sedetik pun air mata Lea berhenti menetes.
“Ayah juga minta maaf udah kasar sama kamu tempo hari. Baik banyaknya kesalahan yang kamu perbuat juga merupakan bukti kegagalan ayah sama ibu sebagai orang tua.” Lanjutnya.
Lea menggelengkan kepala. “Ayah sama Ibu nggak salah, aku yang salah.”
“Dia nggak mau tanggungjawab.” Lea terisak. “Aku mau gugurin anak ini aja, sebelum membesar dan bikin kita semua malu.” Lanjutnya.
Ria merangkul putrinya, “jangan membuat dosa kamu semakin banyak, sayang. Anak di perut kamu nggak tau apa-apa, dia nggak salah.”
“Tapi dia nggak mau tanggungjawab, Bu.” Ucap Lea.
“Biar Ayah yang urus.” Ucap Kohar.
“Maafin aku, Ayah…” Kohar mengangguk seraya mengusap kepala putrinya.
Karena luka yang dialami Lea tak parah, sore hari mereka sudah tiba di rumah. Malam harinya mereka menerima kunjungan dari keluarga Ridwan. Rekan bisnisnya itu datang sekeluarga lengkap bersama Ridwan, Zoya dan Raizel yang tak mau ketinggalan.
“Maaf baru sempet jenguk Bu Ria. Saya ikut senang Bu Ria sudah sehat kembali.” Ucap Papi Rama.
“Terimakasih, Pak Darmawan.” Jawab Kohar.
“Loh Lea kenapa itu kepalanya diperban?” tanya Papi Rama saat melihat Lea yang datang bersama asisten rumah tangganya untuk menyajikan minuman dan kue.
"Nggak apa-apa, Om. Kecelakaan kecil.” Jawab Lea yang kini duduk di samping sang ibu.
“Ayo bilang, jangan malu-malu.” Bisik Ria dan Lea mengangguk.
“Aku-“ Lea menatap Ridwan lumayan lama.
“Apa? Mau ribut lagi?” ejek Ridwan yang langsung mendapat sikutan dari istrinya.
“Aku minta maaf buat semuanya. Buat yang kemaren juga. Aku tau aku salah.” Ucap Lea lirih.
“Sebelum Mba Lea minta maaf, kita udah maafin kok. Semoga Mba bisa tetep sabar ngelewatin ujian ini.” Bukan Ridwan malah Zoya yang menjawab.
“Makasih.” Lea tertunduk malu.
“Saya selaku orang tua Lea juga minta maaf, Pak. Kami benar-benar tidak tau jika putri kami… Huft..” Kohar bahkan tak mampu meneruskan kata-katanya.
“Yang sudah berlalu tidak perlu dibahas. Sekarang lebih baik membahas masa depan saja. Bagaimana dengan ayah anak itu? Dia mau tanggung jawab?” tanya Papi Rama.
Kohar menggeleng.
“Wah, Refan bener-bener.” Ridwan ikut menggelengkan kepala.
“Nanti kita cari jalan keluarnya bersama-sama. Pak Kohar sekeluarga harus banyak sabar dan yakin jika dibalik semua ini pasti ada hikmahnya.” Ucap Papi Rama.
“Iya, Pak. Terimakasih.” Balas Kohar.
Papi Rama, Ridwan dan Ayah Lea tampak berbicara serius mencoba mencari jalan keluar untuk masalah Lea. Sementara Lea hanya tertunduk lesu meski Raizel dan Zoya berusaha menghiburnya. Sesekali ia tersenyum terpaksa meski berat. Kali ini senyum terpaksanya bukan karena kesal melainkan menyesal.
Menyesal kenapa ia berbuat begitu buruk pada keluarga Ridwan yang bahkan masih mau membantu keluarganya setelah semua kejahatan yang ia lakukan?
Kenapa pula ia malah bermain api bersama Refan dibalik kebaikan keluarga Ridwan alih-alih sabar menunggu lelaki itu menerima kehadirannya?
Andai ia bisa sabar dan tetap berlaku baik mungkin suatu saat Ridwan bisa menerimanya.
Tapi berandai-andai sekarang tak ada gunanya. Ia tengah menuai apa yang ia semai selama ini. Kini ia hanya bisa menghela nafas panjang berulang kali.
.
.
.
Huaahhh… aku juga menghela nafas berulang kali.
Jangan lupa like sama komentarnya.
Kalian kalo nggak diketongin suka lupa.