MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Batangan



“Tapi ibu ingetin yah Neng, sekarang udah jam sepuluh. Udah di atas batas jam ngapel. Jadi besok lagi aja kalo mau main.” Ucap Pak Harun sambil melirik Ridwan.


“Kalo laki-laki sama perempuan yang lagi pada santai di teras itu mereka suami istri jadi nggak apa-apa.” Imbuhnya.


“Iya,Pak. Aku tau kok.” Jawab Zoya. “Mas Ridwan langsung ke kontrakan aku aja, yang paling ujung. Ini kuncinya.” Zoya memberikan kunci dengan gantungan khas dari loverware.


“Nanti aku nyusul. Ada yang perlu aku jelasin dulu ke bapak sama ibu pemilik kontrakan.” Lanjutnya.


Ridwan berlalu pergi sementara Zoya berbincang dengan Bu Rateni dan Pak Harun.


“Ya Allah beneran itu Neng Zoya?” tanya Pak Harun.


“Ibu nggak nyangka. Ibu turut prihatin Neng.” Ucap Bu Rateni. Keduanya benar-benar percaya dengan omong kosong Zoya. Si sales cantik itu berhasil mengubah keputusan pemilik kontrakan supaya menambah biaya jika menambah anggota yang tinggal bersama jadi berbelas kasihan padanya gara-gara mengatakan bahwa Ridwan menderita kelainan yakni menyukai sesama jenis hingga akhirnya diusir dari rumah supaya introspeksi diri dan berakhir menyusulnya ke kota namun kerampokan dijalan hingga penampilannya acak kadul tak karuan.


“Ibu kira yang kayak gitu tuh cuma ada di film-film gitu Neng, ternyata beneran ada yah. Sayang banget padahal kalo dilihat-lihat orangnya ganteng. Iya kan Pa?”


“Nah itu makanya jangan suka asal ganteng doang bu. Ganteng tapi jeruk makan jeruk.” Ucap Pak Harun.


"Iya, Pa. Padahal kalo normal mah ibu nggak keberatan deh jadiin dia menantu.” Jawab Bu Rateni. “Si Rara pasti suka banget. Wajahnya mirip cowok yang ada di drakor, yang sering di tonton Rara. Sayang ganteng-ganteng nggak doyan cewek.” Lanjutnya.


Bu Rateni melihat ke teras kontrakan Zoya, Ridwan belum masuk. Lelaki itu duduk di kursi teras sambil menatap ke arah mereka.


“Hm sepupu kamu pasti curiga kita lagi ngomongin dia nih.” Ucap Bu Rateni.


“Neng Zoya samperin aja sana. Nanti ibu sama bapak yang ngasih pengertian ke tetangga sekalian lapor ke RT juga supaya kalian nggak digrebeg.” Ucap Pak Harun.


“Iya, Bu. Terima kasih banyak.” Ucap Zoya. Ia lantas menghampiri Ridwan dan membawanya masuk.


Ridwan terbelalak melihat bagian dalam kontrakan Zoya. Kontrakan dua petak tanpa kursi sama sekali, hanya ada kasur yang dialasi karpet. Dapur sederhananya terdapat kulkas dan kompor serta alat masak ala kadarnya. Salah satu pojok ruangan bahkan dipenuhi dengan tumpukan produk loveware andalannya.


“Gue tidur dimana?”


“Terserah Mas Ridwan aja. Yang jelas nanti aku tidur di kasur, Mas Ridwan aku pinjamin karpet deh. Biayanya lima puluh ribu permalam.” Jawab Zoya.


“Buset perhitungan banget lo!”


“Biar cepet lunas utangnya!” balas Zoya.


“Kalo gitu gue tidur di kasur aja. Potong utang seratus ribu semalem juga boleh.”


Saat mereka masih berdebat soal tempat tidur, pintu kontrakan diketuk dari luar. Zoya langsung membuka pintu. Ada teh Ismi dan suaminya berdiri di depan pintu.


“Teh Ismi…” sapa Zoya.


Teh Ismi tersenyum pada Zoya sambil mencuri-curi pandang melirik Ridwan yang ketus di dalam sana. “Teteh udah denger dari Bu Rateni soal sepupu kamu. Teteh ikut prihatin, ini ada baju sama sarung punya si Aa tapi teteh kasih buat sepupu kamu aja. Kasihan euy.” Bisik teh Ismi.


“Hus! Nggak usah dibahas.” Sela suami teh Ismi.


“Tapi dari tatapannya ketara banget A, kalo sepupu Neng Zoya sukanya sama Batangan. Tuh dia liatin akunya aja meuni cuek bebek pisan.” Ucap teh Ismi dengan logat khas sundanya.


Suami teh Ismi penasaran akhirnya melihat ke arah Ridwan, dia langsung bergidig ngeri saat tatapannya dibalas dengan anggukan ramah oleh Ridwan.


“Tuh kan emang sukanya sama batangan.” Teh Ismi yang ikut melihat pun bergidig ngeri dan langsung pamit membawa suaminya pulang.


"Neng, teteh langsung pulang yah. Teteh takut kalo sampai sepupu Neng Zoya suka sama suami teteh. Amit-amit, mana teteh lagi hamil." ucap Teh Ismi sebelum pergi sambil mengusap perut besarnya berulang kali.


Zoya mengangguk sambil menahan tawa, ia kemudian masuk ke dalam dan memberikan pakaian yang ia dapat dari teh Ismi.


Ridwan menerima pakaian itu dan meletakkannya begitu saja. Ia tak terbiasa memakai pakaian orang yang tak ia kenal.


"Kenapa cengar cengir gitu? kamu bilang apa sama mereka?"


"Nggak bilang apa-apa kok." jawab Zoya dengan tawa yang masih ia tahan.


"Aku cuma bilang...."


"Bilang apa?"


"Bilang kalo Mas Ridwan sukanya sama cowok." jawabnya enteng diiringi tawa yang pecah. "Makanya teh Ismi buru-buru pulang, takut suaminya disukain sama Mas Ridwan."


"Zoya!!!" teriak Ridwan. Gadis itu menjulurkan lidahnya dan berlari ke kamar mandi.


Ridwan mengikutinya dan menggedor pintu beberapa kali. "Awas aja lo kalo keluar nanti!" Ridwan memukul pintu kamar mandi cukup keras sebelum pergi.


Merasa kamar Zoya panas ditambah dengan emosinya saat ini membuat Ridwan kian kepanasan dan memutuskan untuk keluar. Namun baru saja ia duduk dengan segelas air putih yang hendak ia minum, mendadak ia merasa seperti sedang diperhatikan, dam benar saja ketika ia menoleh para tetangga kontrakan sedang berkumpul di depan kontrakan Teh Ismi sambil menatapnya dengan aneh.


Ridwan mengepalkan kedua tangannya, geram. "Kinderrjoyy perusak reputasi!!"


"Belum apa-apa gue udah stres duluan kayak gini!" gerutu Ridwan.


.


.


.


jangan lupa like komen sama vote nya para kesayangan🤗🤗