MY LOVELY BOSS

MY LOVELY BOSS
Ngidam dong!



“Sayang, abis ini kamu pengen makan apa lagi hm? Bilang sama ayah sini.” Ridwan berucap lirih di depan perut Zoya. Ia berulang kali mencium perut datar istrinya, hingga Zoya sudah mulai pegal karena sedari tadi Ridwan tak mau menyingkir dari perutnya. Dari mulai mengelus, mencium, mengelus hingga kini malah mengajak calon anak mereka bicara.


“Mas…”


Mendengar Zoya memanggilnya Ridwan segera beranjak dan beralih menatap wajah istrinya dengan senyum senang. “Iya, sayang. Anak kita pengen apa lagi? Susu dinginnya mau tambah lagi?”


“Nggak pengen apa-apa, Mas. Aku mau tidur, lemes. Mas Ridwan nemplok di perut terus berat tau.”


“Maaf, sayang. Abisnya aku seneng banget. Sehat terus yah anak ayah.” Lagi-lagi Ridwan mengelus perut istrinya. “Aku temenin tidurnya yah.” Lanjutnya.


Zoya mengangguk. Ditatapnya lekat-lekat wajah Ridwan yang tak sedetik pun kehilangan senyum. semenjak mengetahui akan mengjadi seorang ayah, suaminya itu benar-benar terlihat bahagia. Hingga membuatnya turut senang. Ia yang tadinya tak ingin buru-buru punya anak jadi tak menyesal sama sekali harus hamil saat ini begitu melihat pancaran bahagia dari suaminya, bukan hanya suaminya tapi semua kelurga besarnya.


“Seneng banget yah, Mas?”


“Banget, banget, banget sayang. Makasih yah…” Ridwan mengecup kening Zoya. “Maaf karena udah bikin kamu hamil sebelum lulus kuliah. Tapi aku janji bakal jadi suami dan ayah yang selalu bikin kalian bahagia.”


“Mas Ridwan nggak usah minta maaf, bukan salah Mas kok. Lagian aku juga seneng bisa hamil sekarang, bisa bikin semua orang bahagia.” Jawab Zoya sebelum akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Setelah memastikan istrinya tidur, Ridwan pergi untuk membeli beberapa makanan yang kemungkinan di sukai oleh ibu hamil. Selama menunggui Zoya tadi ia sembari membaca banyak artikel di internet mengenai ibu hamil. Dari mulai cara mengatasi mual muntah hingga aneka ngidam aneh yang kebanyakan di alami ibu hamil.


“Oh harus minum vitamin, obat mual juga.” Ridwan menganggukan kepala memahami isi artikel. “Tapi ini nanti aja minta ke dokter.”


“Kayaknya sekarang mending cari makanan yang asem-asem aja kali yah? Disini katanya ibu hamil suka makanan yang asem-asem, seger. Zoya pasti seneng banget kalo bangun nanti ada yang asem-asem, biar di nggak mual-mual terus.” Gumamnya.


Sebelum pergi Ridwan mencari Mami Jesi untuk menjaga istrinya. Tak menemukan Mami nya dimana pun, Ridwan beralih meminta bantuan asisten rumah tangga mereka. “Nanti kalo Zoya bangun Bibi tanyain yah dia pengen apa. Terus kalo nanyain aku, bilang aja lagi keluar sebentar.”


“Mau keluar kemana? Zoya jangan ditinggal dulu. Kalo hamil muda biasanya pengen deket suami terus.” Ucap Mami Jesi yang datang dengan banyak belanjaan.


“Mami dari mana sih? Aku cariin juga.” Ridwan menghampiri Mami nya yang langsung memberikan satu kantong keresek besar padanya.


“Belanja. Zoya nggak bisa makan nasi kan? Tiap makan nasi mual terus, makanya Mami langsung belanja bahan-bahan special buat Zoya. Dia harus tetep dapat asupan karbo selain nasi. Mami belanja banyak nih, biar nanti dicoba makanan apa yang bisa dia terima.” Jelas Mami Jesi.


“Oh gitu.” Ridwan mengangguk paham. “Makasih, Mi. Mami perhatian banget sama Zoya.”


“Harus lah, Zoya kan anak Mami juga. Bantuin bawa ke dapur. Abis ini Mami mau langsung masak!”


“Iya, Mi. Abis ini juga aku mau ke super market bentar. Mau beli buah-buahan yang asem. Tadi baca-baca di internet katanya ibu hamil suka yang asem-asem. Jadi sebelum Zoya minta bakal aku siapin duluan. Biar dia nggak usah nunggu-nunggu.”


“Nggak usah neko-neko, udah di rumah aja. Tiap orang hamil itu ngidamnya beda-beda nggak bisa disamain. Nanti kalo Zoya minta baru kamu nyari.” Jelas Mami Jesi.


Niatnya hanya membeli makanan yang asam supaya segar dan meredakan mual, tapi nyatanya Ridwan pulang dengan aneka makanan. Dari mulai buah yang asam hingga manis, begitu pun dengan kue-kue manis, ditambah martabak cokelat kismis kesukaan istrinya, lengkap dengan rujak bebek aneka level.


“Mas Ridwan dari mana?” tanya Zoya. Dia sudah lebih baik dan tak terlihat terlalu pucat.


“Belanja buat anak kita. Kamu udah enakan?”


Zoya mengangguk, “udah, Mas. Aku abis makan rawon buatan Mami. Enak banget, seger pake jeruk nipis, pake telur asin juga. Mantap pokoknya.” Zoya mengacungkan kedua jempolnya. Ia awalnya takut ketika mertuanya memintanya untuk makan, mengingat sebelumnya selalu muntah habis-habisan. Tapi melihat daging berkuah hitam pekat itu sungguh menggugah selera. Ditambah lagi tak ada nasi di meja makan, membuatnya bisa menikmati masakan mertuanya dengan nyaman.


“Muntah lagi nggak? Besok kita ke dokter biar kamu nggak muntah-muntah terus.”


“Nggak, Mas. Aku nggak muntah tadi, nggak mual juga. Kayaknya nasi deh yang bikin mual, tadi aku makan nggak pake nasi malah enak.” Jawab Zoya. “Mas Ridwan harus cobain rawon buatan Mami enaj banget.” Lanjutnya.


“Iya nanti aku cobain, sayang.” Jawab Ridwan.


“Tadi kan udah makan masakan mami, sekarang makan makanan yang udah aku beli yah.” Ridwan langsung membuka belanjaannya dan menatanya di meja.


“Sengaja aku siapin nih sebelum kamu minta, biar kalo ngidam nggak pake lama udah ready semua.” Jelasnya yang membuat Mami Jesi yang baru datang geleng-geleng kepala melihat banyak makanan memenuhi meja. Iseng-iseng ia mengambil rujak bebek yang terlihat begitu enak dan langsung menyantapnya.


“Mi, buat istri aku itu.” Ucap Ridwan.


“Buat Mami aja lagian Zoya nggak pengen kan? Apa Zoya mau ini? Rujak bebek.” Mami Jesi menyodorkan satu sendok pada Zoya.


“Nggak, Mi. Buat Mami aja, aku nggak pengen rujak.”


“Kalo gitu kamu pengen apa sayang? Ayo pilih!” tanya Ridwan.


“Aku nggak pengen apa-apa, Mas.” jawab Zoya.


“Sayang ayolah kamu ngidam dong! Pengen apa kek biar aku cariin gitu.” Paksa Ridwan.


“Tapi aku emang nggak pengen apa-apa Mas. Cuma mau susu kotak vanilla dingin, itu juga udah kamu beliin dua showcase kan di dapur. Bahkan di kamar kita aja ada satu showcase.” Jawab Zoya. Bangun tidur tadi ia cukup kaget karena di kamarnya ada showcase berisi susu kotak aneka rasa, tak hanya itu di dapur juga ada. Suaminya memang sangat-sangat berlebihan, dengan susu kotak sebanyak itu bisa ia jualan, lumayan.


“Pokoknya aku nggak mau tau! Kamu harus ngidam sayang. Biar aku sibuk nyari-nyari makanan yang kamu pengen gitu. Nggak apa-apa sampe aku pusing juga. Cepetan ngidam!”


“Sayang, ayo dong ngidam!” rengeknya seraya mengelus perut Zoya.